
"Za lu ikut gua pulang enggak ?" tanya Yusro sembari memasukan laptopnya ke dalam tas.
"Eh, ngapain lu pulang ?" tanyaku kembali.
"Agil sama Jhoni mau ke rumah," jawab Yusro yang masih terlihat sibuk dengan tas hitamnya.
"Widih rame nih, ikut dong," jawabku dengan semangat.
"Abis ini langsung, enggak usah berhenti ke pondok," ujar Yusro lagi setelah aku menerima ajakannya.
"Siap dah," jawabku dengan singkat.
Singkat cerita kini aku dan Yusro mulai menyisiri hamparan aspal yang memanjang penghubung berbagai kabupaten di kepulauan Jawa dengan tambahan personil tiga manusia yang salah satunya berkendara sendiri.
"Taqim ikut Ro ?" tanyaku kepada Yusro yang sedang mengendara.
"Iya, tadi coba gua ajak sekalian," jawab Yusro dengan singkat dari depan.
"Eee, eh nanti liat matahari tenggelam Ro," ujar ku lagi dengan nada sedikit menggoda.
"Semoga aja enggak mendung, kalo mendung lu liat lampu kamar gua aja," jawab Yusro dan diikuti dangan tawa lepasnya.
__ADS_1
Yah, di penghujung sore itu kami berlima mengarungi panjangnya jalanan aspal hitam bertabur panas terik matahari yang tak ada hentinya terus berlaga. Namun masih setengah perjalanan kami menjajaki jalan menuju rumah Yusro, terlihat begitu sepi jalanan yang seharusnya ramai kendaraan yang berlalu - lalang, melihat kami sudah akan menembus kota.
"Ada yang enggak beres nih," ucapku dalam hati melihat situasi sekitar.
Dan ya... yang benar saja, terlihat dari depan ada gerombolan polisi yang tengah menjalankan razia sepeda motor di sisi jalanan.
"Apes dah, mana belum ada yang punya SIM," ucapku dalam hati sambil menepuk Yusro dan menunjuk ke arah polisi yang berkumpul.
"Ro puter balik !!" tegas ku pelan kepada Yusro.
"Enggak sempat a*****," jawab Yusro dengan mengucapkan motivasi indah dan menarik remnya dalam - dalam, sangat terlihat kepanikan terbesit di wajahnya.
Yah, dengan segera gerombolan polisi itu langsung menghampiri kami dengan menggunakan sepeda motor dan mengambil kunci motor kami semua.
"Ehh, maksud lu," jawabku dengan kagetnya sambil melotot ke arahnya.
"Gua lupa enggak bawa surat motor," bisik Taqim lagi kepadaku.
"Ro, Taqim enggak bawa surat motor." Bisik ku kepada Yusro yang tengah menuntun motor bersamaku.
"Kayaknya lu punya dua kunci, cepetan kabur woi." Bisik Yusro dengan serius.
__ADS_1
"Gua enggak berani," jawab Taqim dengan wajah yang mulai memerah.
"Huftt... yasudah kalau begitu, coba gua urus nanti," jawab Yusro sambil menghembuskan dalam - dalam nafasnya.
Sesampainya kami semua di tempat pemberhentian razia, terlihat begitu banyak masyarakat yang terciduk akibat tidak kelengkapannya pada surat - menyurat. Dengan jiwa yang sangat tertekan akibat situasi dan kondisi yang sangat mencekam, aku mencoba menenangkannya dengan membuka ponselku untuk bermain permainan.
Masih beberapa detik aku mengeluarkan ponsel, dari tepi jalan ada seorang petugas yang langsung berteriak dan berjalan ke arah ku.
"Apa itu !!! dilarang mengambil gambar !!!" teriak salah seorang petugas.
"Tii... tii... tidak pak," jawabku dengan terpatah - patah akibat bentakannya yang menyerang mental.
"Coba sini !!" bentak petugas itu sambil langsung menyahut ponsel yang ku genggam.
Seperti halnya penjahat, ponselku di buka seluruh aplikasi dan riwayat yang pernah aku telusuri sebelumnya, dari sini aku sadar bahwa mental ku masihlah jauh dari kata cukup untuk berhadapan dengan situasi kejutan seperti ini. Tidak seperti Yusro yang terus - menerus melancarkan kalimat - kalimat pembelaan atas sikap petugas yang dinilai kurang adanya sikap melayani malah terlalu banyak intimidasi.
Singkat cerita akhirnya kami terkena tilang dan motor Taqim dibawa petugas karena tidak membawa surat kendaraan, dan pembelaan serta penjelasan dari Yusro yang tadinya terus di ungkapkan tidaklah membawakan hasil sedikitpun.
"Gua sampai gemeteran," ujar Yusro sambil menyetir motor.
"Gua kira gua doang, ternyata Yusro juga terkena tekanan," ucapku dalam hati setelah mendengar ungkapan darinya.
__ADS_1
Yah, kami tetap melanjutkan perjalanan menuju rumah Yusro, dengan formasi Taqim menjadi satu motor bersama Agil dan Jhoni.
"Pengalaman yang begitu berat ku rasa," ucapku dalam hati setelah melihat wajah murung Agil, Jhoni dan terlebih Taqim yang berada di belakangku.