Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 26 : Rahasia


__ADS_3

"Za, nanti abis ngampus latihan drama," ujar Fauzi dengan serius.


"Tumben lu, kesambet apa ?" jawabku dengan senyum mencoba meledeknya.


"Gua pikir, kalo kita enggak latihan, kita enggak akan beneran siap, lebih lagi kita kan belum saling kenal," sahut Fauzi yang masih duduk dengan tangan memegang ponsel yang terlihat begitu serius.


"Ehh, beneran serius nih anak ?" tanyaku dalam hati setelah melihat reaksi Fauzi.


"Oke siap, lu instruksi untuk kumpul Zik," jawabku dengan santainya pula.


"Ngomong - ngomong lu nanti pulangnya gimana ?" tanya Fauzi lagi yang kini membuatku tersentak diam.


"Bener juga ya, gua belum kepikiran," jawabku dengan nada datar dan tatapan kosong.


"Sama siapa dong gua nanti," ujarku lagi dengan nada sedikit naik.


"Lu apes bener ya," sahut Fauzi dengan tawa.


"Yang arah ke barat siapa dari sini," tanyaku sedikit panik.


"Siapa ya ? gua kira kalo baratnya ke arah lu enggak ada deh," jawab Fauzi sambil berfikir.


"Apes bener gua, masak harus tidur sini sampe besok," ujarku sambil menepuk jidat dan merebahkan badan ke meja.


"Huahahaha, kalo gua berangkat sendiri gua ajak lu nginep rumah gua, tapi hari ini gua nebeng juga," jawab Fauzi dengan meledek dan tertawa lepas.


"Ehh, kenapa lu Za," tanya Fredi ketika lewat di belakangku.


"Mau nagih utang, yg ditagih lebih galak, hahaha," sahut Fauzi mencoba meledekku.


"Huahahaa, beneran ?" tanya Fredi dengan tawa lepas sambil menepuk pundakku dari belakang.


"Jangan dengerin," jawabku dengan singkat.


"Gua cuman bingung tebengen ke barat nanti," ujarku lagi sambil bangkit dari rebahan di meja.


"Bareng gua aja," jawab Fredi dengan singkat dan santai.


"Ehh, beneran ? bukanya lu kos sini," sahutku sedikit kegirangan.


"Iya gua kos sini, tapi gua juga mau pulang, kalo ke baratnya ke arah lu, cuman dikit," jawab Fredi sengan senyum - senyum sembari menepuk pundakku.


"Enggak apa - apa nih, enggak ngerepotin ?" tanyaku lagi mencoba berbasa - basi.


"Tuwenang aja," jawab Fredi sambil tertawa.


"Tapi gua nanti mau latian drama dulu," ssahutku sembari menaikkan alis ke atas dan tersenyum.

__ADS_1


"Tinggal gua tunggu sampe selesai kan ?" tanya Fredi dengan singkat.


"Eee, ehh iya," jawabku terpatah - patah sambil terbengong.


"Terus apa yang dibingungin ?" tanya Fredi lagi dengan santainya.


"Eee, lu enggak keberatan ?" tanyaku lagi dengan pelan.


"Hahahaha, tenang aja, kalo gua keberana gua tinggalin lu," jawab Fredi dengan tawanya lepas.


"Hahaha, mantab... tos dulu," sahut Fauzi sambil melebarkan telapak tangannya.


"Wahhh, kurang ajar," jawabku sambil tersenyum tipis.


Singkat cerita kini matahari telah menembus lintasannya dari tengah titik kepala setiap manusia, dengan sedikit insan yang menyadarinya kini sengatannya perlahan telah mendekap erat dalam setiap raga yang hinggap dalam ruang.


Waktu berunding untuk kelangsungan kegiatan drama dan latihan telah terealisasikan dengan khitmat dan lancar, tanpa berlama - lama lagi selepas semua tanggungan berceceran terlepas langsung ku sahut tas punggungku dan bergegas menghampiri Fredi yang tengah menunggu di kantin.


"Langsung balik lu ?" tanyan Fauzi yang masih duduk istirahat bersandar di dinding.


"Iyaa, kasihan Fredi udah nunggu lama," jawabku sembari memakai sepatu.


"Yaudah hati - hati," ujar Fauzi sambil mengepalkan tangannya ke arahku.


"Yokk, siap... gua pulang dulu," jawabku menerima tosnya dan langsung beranjak pergi menghampiri Fredi.


Berhubung Fredi akan menempuh perjalanan yang tidak sedikit untuk menembus putaran waktu, sebelum senja mulai melambai kami langsung beranjak untuk memulai menyetrika panjangnya goresan aspal antar kota.


"Gimana apanya ?" jawabku mencoba memperjelas.


"Si Sri, gimana udah mulai bergerak belum lu," tegas Fredi dengan santainya.


"Alah, gimana yaa... masih agak ragu gua," jawabku dengan pelan.


"Ragu gimana, kan udah jelas dia suka elu," jawab Fredi mencoba menyakinkanku.


"Mana ada orang secantik dia nggak punya gebetan," jawabku sambil tersenyum tipis.


"Bener juga sih kalo itu, gua sendiri juga belum tau kalo masalah itu, tapi dari pada lu berspekulasi yang enggak penting, kenapa nggak lu tanya aja langsung, tohh kalian percakapan di dalam grup juga udah punya panggilan kemesraan," sahut Fredi dengan nada sedikit tertawa.


"Lah kalo itu gua cuman ngalir aja, gua sendiri jarang chat pribadi, malah sering - sering chat di dalam grup itu," jawabku dengan santai.


"Kalo lu malu tanya dia langsung, kenapa lu enggak nanya Hulaifi, diakan deket tu sama Sri," sahut Fredi membuatku tercengang beberapa saat.


"Bener juga, kenapa gua enggak kepikiran ya," ucapku dalam hati sambil tersenyum tipis.


"Hahahaha, bener juga lu," tawaku terlepas begitu saja setelah sadar akan hal yang begitu jelas di depan mata tapi tidak ku sadari.

__ADS_1


"Iya kan," jawab Fredi dengan tawanya juga.


"Ehh Za, gua mau cerita dikit masalah hati," ujarnya lagi dengan senyum kesedihan.


"Silahkan bambang," jawabku singkat sambil mendekatkan helemku.


Singkat cerita, dengan merasakan lamanya perjalanan yang berlalu, kini kilometer yang tadinya gagah menjulang tinggi, sekarang tinggallah tertunduk kecil di depan mata. Dengan bermedia pembicaraan yang panjang lebar membuat kami lupa akan durasi yang terbuang untuk menembusnya.


"Yang barusan rahasia kita lo ya," ujar Fredi singkat kepadaku.


"Yang mana Jon," jawabku kebingungan, karena banyaknya pembicaraan yang kami lemparkan.


"Soal pendekar," jawabnya singkat.


"Elahh, pendekar yaa, beres kalo itu mah," jawabku dengan santai.


"Urusan gua cuman sama Sri, masalah pendekar lu, gua nggak tertarik," ledekku sambil tertawa lepas.


"Wahh, kurang ajar, songong setelah dapat pencerahan," jawab Fredi sambil tertawa.


Tidak membutuhkan perselangan waktu yang terlalu lama, akhirnya kini kami telah sampai di depan gerbang tempatku bernaung menuntut ilmu keluhuran budi pekerti.


"Ayok mampir dulu," ajakku kepada Fredi yang masih duduk manis di atas motor.


"Alah, kapan - kapan aja, udah sore juga," jawab Fredi setelah melihat jam tangannya.


"Ntar nginep sini gapapa," sahutku sambil meletakan tanganku di bahunya.


"Hahaha, gua yang nggak kuat," jawab Fredi sambil tertawa kecil garing.


"Gak papa, cepet turun," ujar ku sambil menariknya pelan.


"Enggak - enggak makasih, niat awal gua kan juga mau pulang," jawabnya sambil tersenyum dan mengedipkan mata.


"Yaudah serah lu aja, makasih lo ya," jawabku sambil menepuk pundaknya.


"Makasih apanya," sahut Fredi dengan tawa kecil.


"Seeemuannnyaaa..." jawabku dengan senyum nyengir.


"Kek siapa aja, yaudah gua balik dulu," jawab Fredi sambil menyalakan motornya kembali.


"Iyokk, hati - hati... banyak hati yang terbengkalai ditengah perjalanan," sahutku mencoba melawak.


"Belum ada yang singgah Mas," jawab Fredi dengan wajah memelas dan konyolnya.


"Sudah - sudah, cepet pulang... keburu gelap ni nanti," ucapku sambil tersenyum.

__ADS_1


"Siapp, besok jangan lupa kuliah," ujarnya lagi sambil memutar pedal gasnya.


"Yah, seseorang yang terlihat biasa dan penuh tawa ternyata memendam banyak luka, itu yang aku dapat dari apa yang ia sampaikan kepadaku... Fredi, manusia pertama yang menunjukan masalahnya kepadaku, ditinggalkan pergi kekasih hati dan membawa berjuta materi namun membuang kesetiaan yang benar tulus ia miliki, dengan kerendahan hati sebagai pendekar sejati, ia tetap tersenyum meski terkadang meratapi... gua akan tunggu kapan kesiapan lu. Panggil gua," ucapku dalam hati melihatnya perlahan pergi.


__ADS_2