Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 28 : Pertanyaan hati


__ADS_3

"Ehh gimana, jadi futsal enggak nanti," tanya Yusro kepada Fauzi yang tengah berjalan hendak masuk kelas.


"Jadi dong, Hulaifi udah ambil jam," jawab Fauzi dengan santainya sambil berjalan.


"Lha drama lu gimana ?" jawab Yusro kembali melemparkan pertanyaan.


"Abis ini kita futsal, gua kan drama jam satu," jawab Fauzi sambil duduk setelah sampai pada tempat duduknya.


"Beneran pak Wawan nggak hadir ?" tanyaku sambil duduk di belakang Fauzi.


"Aman, PJM udah bilang gua kemarin, katanya ada rapat mendadak," jawab Fauzi.


"Mantab dah kalo gitu, ehhh cewek - cewek suruh hadir, biar sedikit keren gitu," sahut Yusro yang diiringi dengan tawa.


"Mantab juga sih," jawab Fauzi singkat sambil berfikir.


"Jangan lahh... gua malu, gua nggak ahli main gituan," sahutku dengan wajah memelas.


"Biar lu tambah semangat, hahaha," jawab Yusro dengan percaya dirinya sambil menepuk pundak ku keras - keras.


Seketika setelah raga melewati pintu masuk, mataku tertuju pada seseorang yang sudah aku niatkan mengorek informasi darinya, seperti rencana sebelumnya, ketika pembelajaran hendak dimulai perlahan aku berjalan mendekati Hulaifi yang selalu duduk menyendiri di bangku paling belakang pojok.


"Oke, misi pertama jalankan," ucapku dalam hati dengan berjalan pelan mendekatinya lengkap dengan senyum jahat melekat.


"Halo bro," sapa ku pertama sambil duduk di kursi sebelahnya.


"Ehh, Mas Reza... tumben sekali, ada niat jahat ya," jawab Hulaifi dengan nada sok pelan sambil mengulurkan tangan hendak berjabatan.


"Hahaha, bisa aja lu nyet," jawabku dengan tawa kecil.


"Hahaha, gimana - gimana," tanyannya langsung.


"Enggak, enggak kenapa - napa... cuman ingin duduk di sebelah lu aja, nyoba sensasi baru," jawabku dengan pelan dan santai mencoba memberikan pembukaan.


"Eeee, gua kira mau nanya apa," jawabnya sambil tertawa pelan menutupi mulut.


"Ehh, ngomong - ngomong tumben lu sendiri," sahutku dengan segera.


"Huahahaha, udah gua tebak," tawa Hulaifi lepas begitu saja setelah mendengar pertanyaan ku.


"Ehh, jangan keras- keras nyet," ujarku sambil menutup mulutnya.


"Hayooo, ngomongin apa itu," sahut Yusro dari sebrang sudut ruang.

__ADS_1


"Plis Ro, jangan cemburu dulu gua bisa jelasin," jawabku masih dengan membungkam mulut Hulaifi.


"Huaahhhh, udah- udah, iya gua diem," ujar Hulaifi setelah berhasil melepaskan diri.


"Nah gitu dong nurut," jawabku sambil tersenyum.


"Dia bawa motor sendiri, jadi yaaa gua nggak perlu nyamperin," ujar Hulaifi dengan santai sambil bersandar di tembok.


"Langsung aja ya, dia gimana ? masih ada apa enggak ?" tanyaku dengan serius.


"Pacar maksudnya ?" tanya Hulaifi mencoba memperjelas.


"Bukan, tapi monyet... ya iyalah," jawabku lagi.


"Gimana ya, setahu ku dia dulu punya, ya orang daerah sana lah ya... tapi kalo gua perhatiin udah lama enggak ada kontakkan," jawab Hulaifi dengan tenangnya.


"Eee, gitu ya," ucapku sambil bersandar ke kursi dengan pelan.


"Jangan galau gitu dulu dong," sahut Hulaifi sambil menusuk perut sampingku dengan jarinya.


"Kurang ajar, geli woi," jawabku dengan terkaget.


"Tapi lu juga aneh sih ya... udah sedeket ini tapi lu enggak tau kejelasan statusnya," sahut Hulaifi.


"Bener deh, gua kira lu berdua udah jadian loo," ucap Hulaifi membuatku terkaget.


"Hehhh, jadian apanya... gua nggak pakek istilah pacaran - pacaran gitu, yang gua pikir cuman enggak usah jadian, tapi jangan pergi, udah gitu doang," jawabku dengan senyum - senyum tipis.


"Jaman sekarang kok pakek sistem kek gitu, kalo enggak cinta bener nggak akan kuat... yang lu adepin tu manusia, bukan kucing nyett," sahut Hulaifi dengan senyum- senyum pelan namun bernada bijak.


"Masalah rasa ya," ucapku pelan menatap langit - langit sambil mencoba mencerna perkataan Hulaifi.


"Tuhh, yang kita obrolin dateng," ujar Hulaifi sambil menunjuk dengan mata.


"Manusia- manusia..." ujar ku sambil menggelengkan kepala dengan pelan.


Tidak lama setelah itu, dosen pengampu, Bapak Prapto telah memasuki ruangan dan memulai pembelajaran. Namun, kami berdua masih asik bertukar cerita dan pengalaman dengan nada samar seperti halnya musim perang gerilya.


Singkat cerita, akhirnya pembelajaran yang diampu oleh Bapak Prapto telah usai namun masih menyisakan ketegangan seperti biasanya. Dengan segera para pasukan pemain futsal segera berkumpul hendak berangkat bersama - sama.


"Ehh, dia enggak merespon di grup ya," ucapku dalam hati sambil menatap layar tatap untuk online itu.


"Gua chat pribadi aja lah," ucapku dalam hati.

__ADS_1


Dengan segera langsung ku cari kontak dengan nama panggilan khusus itu untuk mengirimkan pesan singkat kepadanya.


"Enggak liat anak - anak futsal ?" tanyaku pada pesan singkat yang telah terkirim.


"Enggak, maap ya... tiba - tiba aja perutku sakit, jadi ini aku pulang dulu," jawabnya dengan segera setelah pesanku terkirim.


"Eee, yaudah... ditinggal istirahat dulu aja kalo gitu," dengan segera pula aku menjawab pesannya.


"Hufftt... yaudahlah nggak jadi beraksi," ucapku sendiri dengan pelan.


"Paling enggak, gua nggak perlu terlalu ngotot tampil bagus," ucapku dalam hati sambil tersenyum tipis dan berjalan menghampiri anak- anak pasukan futsal dari Cah Cintah.


Tanpa berlama - lama lagi, kami semua segera berangkat menuju gedung olah raga biasa dipakai futsal anak - anak dari Prodi yang lain. Sesampainya di lokasi di luar perkiraanku, ternyata semuanya sudah mempersiapkan baju ganti khusus untuk futsal. Yah, kecuali aku.


"Apes bener hari ini," ucapku dalam hati sambil menghela nafas dalam - dalam.


"Yok segera dimulai !!" teriak Fauzi yang sudah berada di tengah lapangan.


"Yoosshhh!!!" teriakku dengan keras mencoba membangkitkan tenaga yang sempat terpengaruh oleh suasana hati.


Yahh, akhirnya disitu kami bermain bersama dengan lebih mengedepankan tawa daripada mencetak angka, yahh lebih enak di bilang bermain bola ketimbang futsal menurutku.


Satu jam permainan sudah berlalu, dengan sisa - sisa tenaga yang sudah di ujung tanduk di tambah beban para perokok yang sudah akut menggerogoti setiap hembusan nafas, tiba- tiba perwakilan anak dari Prodi ilmu komputer yang barusan sampai mendekat dan berbicara empat mata bersama Fauzi di sisi gawang yang lain dariku.


Terlihat juga Yusro yang ikut masuk dalam pembicaraan mereka berdua, dan langsung berlari menuju kami yang sudah kelelahan terkapar lemas.


"Wah apa lagi nih," ucapku dalam hati melihat Yusro yang berlari menuju ke arah kami.


"Ehh, geng... main lagi gimana ? kuat apa enggak ?" tanya Yusro langsung setelah sampai dengan nafas yang sudah senin kamis.


"Main lagi gimana ?" tanya Jazul yang tengah terkapar.


"Tuhh, di tantang anak Ilkom, gimana ?" ujar Yusro dengan santainya.


"Ditantang!! siapa takut," Sahut Jazul yang sudah terkapar dengan nada sedikit ngegas.


"Kenapa nih anak jadi terbakar denger kata ditantang," ucapku dalam hati dengan senyum sinis.


"Yokk, kuat - kuat !! paru - paru, ayok semangat !!" teriak Fredi dengan kerasnya.


"Alah kalian aja sana, gua udah lemes," sahutku sambil berebahkan badan ke rumput sintetis itu.


"Cah Cintah, Yokk !!!" teriak Jazul dengan keras sambil berdiri.

__ADS_1


"Hehehehh, cah cintah... " ucapku dalam hati sambil tersenyum tipis.


__ADS_2