
"Ihh, tumben bener pak Prapto liat kami latihan," ujar ku dalam hati setelah melihat pak Prapto yang berdiri di tengah pintu.
"Zik, itu bener nggak sih pengelihatan gua ?" tanyaku kepada Fauzi sambil menyipitkan mata untuk memperjelas apa yang ku lihat.
"Gua juga kepikiran kek gitu," jawab Fauzi dengan singkat.
"Wahh, latihannya harus serius nih," ucapku sendiri masih berjalan bersama Fauzi.
"Ngapain serius, santai aja," jawab Fauzi dengan santainya.
"Oiya yaa," jawabku singkat sambil tertawa.
Setelah dengan santainya kami berjalan menuju ruang drama, melalui usaha mengayunkan langkah yang memotong jarak dengan indah inci per inci, akhirnya kami berdua telah sampai di depan ruang tujuan kami dengan pak Prapto yang masih berdiri kokoh bersandar pada mulut pintu.
"Pak," sapa ku sembari mengulurkan tangan untuk berjabatan.
"Dari mana aja ini baru sampe," jawab Pak Prapto dengan tegasnya.
"Hehehe, maaf Pak... abis main bola tadi," jawab Fauzi dengan wajah sok polos tanpa salah.
"Kluyuran aja, sudah cepet masuk... ada yang mau aku sampein nanti," ujar Pak Prapto sambil mendorong kami berdua memasuki ruangan.
Setelah kami berdua memasuki ruangan dan melepaskan tas beserta jaket, Bapak Prapto langsung memulai pembicaraan.
"Okee, jadi hari ini kita enggak usah latihan dulu... tapi hari ini kita harus sudah memutuskan bagaimana nanti pemain pertama memasuki panggung," dengan pelan dan santainya Pak Prapto memberikan arahan.
"Ihh, gua kok nggak paham sih," ucapku dalam hati sambil nyengir tipis.
"Enggak paham ya ?" tegas Pak Prapto.
"Mboten Pak," jawab Fauzi dengan kerasnya.
"Baiklah... langsung saja ya... saya ada beberapa opsi untuk pilihan masuk panggung nantinya... yang pertama dengan menari bebas, yang kedua dengan biasa tanpa ada apa - apa, dan yang ketiga dengan berjalan dari luar panggung secara bersamaan sambil berbicara layaknya emak- emak pulang dari jamaah sholat," ujar Pak Prapto menjelaskan maksudnya.
"Ooo, yang seperti itu..." ujar semua pemain dengan pelan.
"Kalau menurut saya, yang menari bebas itu lebih bagus," ucap Pak Prapto lagi dengan santainya.
"Apes dahh, gua nggak bisa nari," ucapku dalam hati sambil menelan ludah.
__ADS_1
"Mantab Pak, saya juga setuju... hahaha," sahut Fauzi dengan riangnya sambil berjoget - joget nggak jelas.
"Hehehehhhh," tawaku dengan pelan dan penuh keraguan.
"Yang enggak bisa berjoget tenang aja, bentar lagi penari - penari cantik akan kesini mengajarkan gerakan yang simpel dan mudah," ujar Pak Prapto sambil tersenyum jahat kepadaku.
"Asli... gua yakin, Pak Prapto pasti udah tau kalo gua nggak bisa nari," ucapku dalam hati sambil tersenyum melihat Pak Prapto yang tersenyum jahat.
"Yaudahlah gua pasrah aja," ucapku lagi dalam hati sambil tertawa pelan menoleh ke arah Fauzi yang tengah berjoget bahagia.
Tidak perlu menunggu terlalu lama, terdengar suara beberapa anak yang tengah ngobrol dengan keras di depan ruangan yang kami duduki. Yah... meski belum terlihat jelas siapa itu, aku sudah berfirasat itu penarinya, dan akan terjadi hal yang merepotkan ku rasa.
Benar saja, terlihat lima cewek yang berjalan berbaris ke belakang dengan tingkat kecantikan masuk dalam kategori rata - rata setiap pria. Terlebih lagi cewek yang berjalan paling depan, dengan berpakaian yang begitu ketat dan pres menutupi badan serta irama berjalan yang ngedrive ke sana ke mari membuat setiap lelaki yang memandangnya mendengar bisikan "Godain aku dong."
"Sungguh merepotkan," ucapku dalam hati sambil menelan ludah dan memejamkan mata secara perlahan.
"Sebelum diajari menari, coba yang dapat bagian set pertama tunjukan kebolehannya dalam berjoget," ujar Pak Prapto sambil tersenyum.
"San, lu dulu... gua nggak bisa goyang," ucapku kepada Susan dengan mata sedikit melotot.
"Ahh, nggak deh... Bella tu," jawab Susan melemparkannya kepada Bella.
"Asli, parah banget ini... udah gua berperan jadi bencong, ditambah berjoget pula," ucapku dalam hati sambil nyengir penuh keraguan.
"Yookkksss!!!" teriakku dengan keras mencoba mengumpulkan keberanian dan membuang sisi ********.
Yahh... dengan segera aku, Susan dan Bella segera maju dan berjoget alakadarnya dengan sangat terlihat jelas gerakan kaku bak robot, terlebih aku.
"Stopp, parah ini," ujar Pak Prapto menghentikan kami bertiga berjoget kurang sehat.
"Nggak bisa Pak," teriakku dengan keras sambil menutup wajah dan tertunduk ke belakang.
"Hahaha, yaudah... Liana ngajarin Reza, Bella dan Susan sedikit lebih diluweskan," sahut Pak Prapto lagi sambil menunjuk - nunjuk.
"Ehh, Liana? yang mana tuh," ucapku dalam hati sambil memandangi setiap penari.
"Sini Za," ujar wanita tinggi besar, yahh... besar semuanya... melambaikan tangannya kepadaku.
"Ehh, Gua ?" jawabku dengan kebingungan.
__ADS_1
"Ya iyalah, siapa lagi, kita belajarnya ke pojok sana, agar tidak terganggu dengan yang lain," ujarnya sambil menunjuk ke pojok ruangan dekat Pak Prapto.
"Cobaan apa lagi ini," ucapku dalam hati sambil menelan ludah.
Setelah aku dan Liana berada di pojok ruangan, dengan Pak Prapto yang terus melontarkan banyolan pedas kepadaku, Liana menjelaskan dengan pelan dan mempraktikkan sedikit gerakan - gerakan dasar dalam berjoget bebas.
"Na, Liana... kayaknya Reza enggak bakalan paham kalo dijelaskan, apalagi jika ditunjukan hanya setengah - setengah gerakan aja... coba lu perlihatkan gerakan - gerakan yang agak banyak langsung," ujar Pak Prapto dengan tawa kecilnya melihat polah ku yang kebingungan.
"Nahh... gitu lebih enak kayaknya Mbak," imbuh ku.
"Eee, gitu yaa... oke akan aku perlihatakan, diperhatikan lo ya," jawab Liana dengan nada menggodanya.
"Nih anak gimana sih, bodinya sih yes... tapi..." ucapku dalam hati sambil tersenyum ketakutan.
Yahh, yang benar saja... Liana berjoget dengan pelan dan luwesnya di depanku seperti halnya penari yang minta di sawer, dan semakin mendekat, semakin dekat, dan dapat aku perkirakan jarak kami berdua sekarang sudah kurang dari setengah meter.
"Akkhhh... nggak kuat saya Pak" ucapku dengan keras menjauh sambil menutup wajah.
"Huahahaha, gitu aja masak enggak kuat," ujar Pak Prapto dengan tawanya yang begitu lepas.
"Hahaha, Za... Za... sini gantian gua aja," sahut Fauzi dengan segera mendekat.
Dengan segera Fauzi memasang badan dan menari seperti halnya penonton orkes jamannya anak geng dan tak lupa mengikuti irama goyangan dari Liana.
"Nih anak bisa luwes dan tahan amat," ucapku dalam hati terbengong melihat Fauzi yang begitu tahan.
"Nahh, gini lo Za," ujar Pak Prapto sambil tertawa.
"Ampun Pak, saya belajarnya sama Fauzi aja," jawabku dengan senyum - senyum tipis malu.
"Gini lo Za," imbuh Fauzi sambil menikmati jogetannya.
"Kurang ajar, nih anak menikmati amat," ucapku dalam hati sambil nyengir sinis melihat tingkah dan ekspresi Fauzi.
"Udah - udah, besok lagi... kelamaan over dosis gua nanti," ujar Fauzi sambil berhenti berjoget dan menghampiriku tak lupa dengan tawa.
"Sumpah menggoda iman banget," ucap Fauzi dengan berbisik kepadaku.
"Huahahaha, kurang ajar..." jawabku dengan tawa lepas.
__ADS_1