
Bertemankan bintang dan rembulan yang berpijar dengan gembiranya di gelap malam, kini ku tatap dari depan pintu kamar lantai dua tempatku tinggal bersama Yusro, Mahmud dan beberapa kawan. Dari sekilas tatap mata terlihat hanya hitungan jari beberapa bintang yang berdering di atas awan, namun beda dengan satu tatapan khusus yang fokus dalam gelapnya malam, terlihat begitu banyak beterbaran titik - titik cahaya kecil yang semakin terlihat jelas setelah mata semakin terdiam.
Yah, hampir di setiap malam aku berdiam hanya bersama lamun mengagumi ketenangan alam semesta bersama bintang dan tentunya rembulan. Terlihat dengan samar awan yang perlahan merayap ke utara dan pudar di berbagai bagian tepinya. Meski kondisi seperti ini terlihat begitu menyedihkan, namun jiwa ini tak pernah merasakan kepedihan yang seperti tergambarkan.
"Hey Za, besok mata kuliah apa ?" tanya Yusro dari belakang barusan keluar kamar.
"Apa ya... kalau enggak salah islam nusantara," jawabku sambil mengingat ingat.
"Islam nusantara... bapak Yasin ya," ujar Yusro mencoba mengingat - ingat.
"Kayaknya iya... aku enggak hafal namanya," jawabku singkat.
"Ngomong - ngomong, besok kemana lagi," tanya Yusro sambil nyengir.
"Elah... baru juga sampai, udah mikirin besok mau ke mana," jawabku sambil memalingkan muka.
"Lah, kan planning," ujar Yusro dengan tawa sedikit.
"Kemana ya enaknya," ucapku pelan sambil kembali memandangi langit.
"Tuh kan, mau juga," ujar Yusro dan diteruskan dengan tawa.
"Ya mau lah, cuman jangan kemalaman kembalinya... lapar gua," ucapku sambil menepuk perut.
"Iya iyaa, namanya juga kehabisan jatah... tinggal turun aja beli di warung, kenyang deh," jawab Yusro.
"Iya hari ini makan, besok enggak," jawabku dengan wajah meliriknya.
"lah... kan lu laparnya hari ini," jawab Yusro dengan nada tanpa dosa lengkap dengan tawa di akhir kata.
__ADS_1
"Iya iya... besok pulang agak awal, kita makan sepuasnya," ujarnya lagi sambil menadahkan tangan ke atas.
"Nih anak," ujar ku dalam hati sambil memalingkan muka.
"Terserah lu dah," ucapku singkat.
Singkat cerita, kini pagi pun telah tiba. Masih dengan nuansa yang sama bersama kicauan burung gereja yang beterbangan ke sana - kemari membuat semakin rancunya pikiran gesa - gesa ini untuk bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat.
"Roo!! bangun!!" teriakku membangunkan Yusro yang tengah tertidur lelap.
"Hmmmm..." Wajah yang sangat aku benci di pagi hari. Dengan membuka sedikit mata sambil tersenyum pelan ia hanya menjawab singkat.
"Ini anak, setiap hari kek begini," ucapku dalam hati dengan emosi.
"huft... yok bangun," ku hela nafasku panjang, dan ku tarik kedua tangannya untuk duduk.
"Jam berapa kok buru - buru ?" tanya Yusro dengan kantuk yang masih menerkanya.
"Hahaha, bangun Ro," ucap Mahmud setelah tertawa melihat Yusro yang masih terlelap meski sedang duduk.
"Ayo Ro, Mahmud udah mau berangkat," ucapku sambil menggoyang goyangkan kakinya.
"Iya iya... lu siap - siap sana dulu, gua mau ngumpulin nyawa," ujar Yusro masih sambil menutup mata.
"Oke, awas gua kembali lu masih belum sadar," ujar ku sambil berlari hendak turun tangga.
Yusro hanya menjawab ucapan ku dengan menaikan kedua alisnya sambil tersenyum.
"Ampun dah gua," ucapku dalam hati melihat tingkah teman kurang menguntungkan itu.
__ADS_1
Singkat cerita kini aku sudah menyelesaikan misi membersihkan diri agar terlihat segar di pagi hari meski tanpa adanya kata mandi. Betapa terhentak nya jantung ini setelah ku lihat karpet hijau tempatnya Yusro terduduk tidur kini telah kosong, dan ku lihat Yusro sedang berdiri dengan kostum sudah rapi sambil menyisir rambut di depan kaca yang menempel di dinding.
"Ayo cepat berkemas, ngapain lu bengong di situ," ujar Yusro dengan nada meledek melihatku terdiam di depan pintu masuk.
"Emang bukan manusia lu ya," jawabku singkat langsung meraih baju.
Singkatnya, kini kami telah mulai membelah ruang dan waktu di atas hamparan aspal yang di ukir garis putih terpotong - potong di tengahnya. Tanpa adanya rasa ragu, Yusro langsung menarik mundur stang gas memutar ke belakang.
"Eh Ro, gua rasa ada yang enggak beres di depan," ucapku kepada Yusro dari jok belakang.
"Itu hujan apa embun ?" ucap Yusro sambil mengurangi kecepatan.
Tidak menunggu waktu lama, ribuan bola air langsung menyerbu kami berdua tanpa ragu. Dengan segera Yusro langsung membelokan laju motornya menuju warung di seberang jalan.
"Masuk masuk," ujar Yusro yang masih menepikan motornya di tempat parkir.
"Ehh, lha kuliahnya gimana," tanyaku yang sudah berdiri di depan pintu warung makan.
"Lu mau sampai sana basah kuyup ?" tanya Yusro sambil meledek.
"Ya enggak," jawabku singkat sambil membalikan muka.
"Ehh Ro, yuk..." ucapku lagi sambil melirikan mata ke kiri, setelah melihat menu makanan yang bisa di anggap ramah kantong.
"Beneran enggak nih," ucap Yusro kembali.
"Dari kemarin kan belum makan kita," kataku sambil sedikit menggoda Yusro.
"Iya sih, oke..." jawab Yusro langsung beranjak ke meja pemesanan.
__ADS_1
"Gua pecel aja," ucapku sambil beranjak ke tempat duduk terdekat.
Sesampainya pesanan yang kami pesan sampai, dengan lahap kami berdua langsung menyantapnya tanpa ragu dan tanpa berpikir kembali tentang jadwal kuliah yang sedang berlangsung di kejauhan ufuk timur sana.