
"Alhamdulillah... yang dateng banyak, ya gini dong," sahut Mak Nita sesaat kami tiba di samping gerobak kecil tempatnya membuka angkringan.
"Ehh, ada Bapak Kaprodi juga, silahkan Pak," ucapnya lagi setelah melihat Pak Prapto membuka helem hitam itu.
"Iya Nduk," jawab beliau singkat sembari berjalan ke tikar yang telah disediakan.
"Duduk disini aja Pak," sahut Mak Nita sembari menyodorkan kursi plastik warna biru.
"Disini aja, anak- anaknya duduk dibawah kok bapaknya di atas, bapak macam apaan," jawab beliau dengan intonasi khas beliau.
"Ehh, hehehehe... iya Pak," jawab Mak Nita dengan tawa kecil.
"Ini pada mau pesan apa," tanyanya kembali dengan senyum manis.
"Lee... cepet pesan," tegas Pak Prapto kepada kami semua.
"Kopi, es, susu anget, jahe... " setiap anak mengajukan pemikiran mereka masing - masing.
"Aku bantu nyiapin Mak," sahut Ayu bergegas berdiri.
Dibawah penerangan cahaya lampu kecil berwarna putih keabuan ini tengah terkumpul sembilan insan dewasa yang bersama - sama menghapuskan beberapa detik menit dalam rajutan waktu kehidupan. Hanya dengan bermediakan tawa lepas dari ucapan canda yang saling bersaut tiada henti, seakan kami semua lupa akan hakikat sebagai manusia yang duduk tersimpuh dalam tepian jalan ditengah gelapnya malam.
"Ngapin lu duduk diem disini," tanya Fredi kepadaku yang tengah duduk menyendiri dalam batas kegelapan.
"Alah mainan handphone doang," jawabku singkat sambil memperlihatkan layar ponselku.
"Mumpung ada wifi ya, hahaha," ujarnya lagi dengan tawa begitu lepas.
"Idih, seakan dia lupa dengan perkataanya di jalan tadi," ucapku dalam hati melihat tingkahnya.
"Ehhh, kek gini lu apa juga masih chatingan sama Sri," tanya Fredi kembali dengan serius.
"Tipis - tipis iya sih," jawabku dengan senyum kecil.
"Serah elu dah, gua cuman bisa ngingetin," ujarnya lagi sembari duduk di sampingku dan meletakkan kopinya di hadapanku.
"Hehhh... oke, gua tahan bentar sakit ini, kalo gua dah nggak kuat, gua bakalan mundur deh," jawabku dengan pelan dan lemah lembut sembari meminum jahe susu secara pelan.
__ADS_1
Malam yang begitu bergemuruh itu serasa hening dan sunyi ku rasa, hanya terlihat abu - abu senyum meriah dari para manusia yang dengan ikhlasnya menggores pelan lengkungan tipis pada bahagia mereka.
"Ahhggg... ku rasa ini semua serasa berat untukku ku," ucapku dalam hati sembari membalikkan wajah ke keramaian jalan raya.
"Ku harap malam ini segera berakhir," ucapku kembali dalam hati.
Yah, sekiranya hari sudah mulai berganti dengan esok, segera kami semua bergegas untuk kembali dan meletakan segala hal yang membebani jiwa dalam dekapan halus selimut mimpi.
Dimalam penghujung subuh yang tak pernah ku harapkan itu kami semua terlelap tenang dalam satu atap posko untuk bersiap berangkat di hari esok. Yah, hari esok telah menunggu. Singkat cerita pagi hari pun telah tiba, dengan cahaya mentari yang begitu megah menyinari setiap raut wajah yang sampai saat ini masih terlelap.
"Sekolahh!!" tubuhku langsung tersentak bangun karena ingatan yang menghempas keluar.
"Bangun woi, udah jam tujuh lebih," ucapku dengan keras setelah menatap jam dinding kuno itu.
"Santai aja, hari ini jadwalnya Pak Prapto, beliau juga belum berangkat," jawab Yusro dengan pelan meringkuk bulat dan terpejam erat.
"Ohh... iya, lu bener juga," jawabku dengan pelan seolah kantuk kembali menyerang.
"Mumpung lu udah bangun, lu mandi dulu aja," ucap Yusro lagi sembari menggerakan jempol kaki ke depan dan belakang, Yah... itu adalah kebiasaannya ketika bangun tidur, bisa di bilang itu adalah ritual untuk mengumpulkan nyawanya kembali.
"Gua belum siap di belai air keknya," jawabku pelan sembari kembali tersungkur dalam dekapan kantuk.
"Hehh... masalah kemarin untuk kemarin, dan hari ini gua siap nerima masalah lagi," jawabku dengan lantang dan tersenyum tipis.
"Aamiin," jawab Yusro dengan singkat.
"Ehh, enggak gitu juga konsepnya," sahutku dengan segera lengkap mengenakan intonasi tinggi.
"Dahlah tidur lagi aja, masih ngantuk gua," ucapku dalam hati perlahan ku pejamkan mata, dan...
"Bangun !!! bangun !!! udah siang masih aja pada molor," ujar Pak Prapto keluar dari kamar berteriak keras sembari menebaskan bajunya kepada kami semua yang terkapar di ruangan depan.
"Eemmhhhhh... bentar lagi Pak," jawab Ulul dengan manjanya.
"Anak kelas C segera berangkat, kalo datang dibelakang saya lebih dari satu menit saya anggap telat," ujar beliau lagi dengan tawa kecil cekikikan.
"Yokk !! gass !!" ucap Fauzi kek mumi baru di bangkitkan lengkap dengan raungan bangun tidur.
__ADS_1
"Mandi nggak lu," tanyanya lagi kepada ku.
"Gua belum ikhlas mau mandi," jawabku sembari menyilang kan tangan ketubuh.
"Jadi cowok tu jangan sering mandi, kebanyakan mandi gantengnya bisa luntur," motivasi indah tiba - tiba keluar dari mulut Yusro yang tengah duduk bersila dengan mata tertutup.
"Itu nggak berlaku sama gua," sahut Syarif sembari beranjak menuju kamar mandi.
"Jangan mandi Rif, lu mandi telat kita entar," sahut Fauzi dengan keras, namun lemas.
"Enggak, gua basahin wajah doang," jawabnya terdengar lirih dari belakang.
Kurang lebih lima menit waktu telah berlalu, semua pasukan dari kelas rombongan belajar C sudah siap untuk terjun pada arena pertempuran.
"Gua berangkat dulu Ro sama Fredi," ucapku sembari menjinjing tas punggungku.
"Okee, gua berangkat sama Pak Prapto entar," jawabnya singkat sembari menata rambut di depan cermin kecil.
"Yok, berangkat," ucapku sambil menepuk Fredi yang tengah bermain ponsel.
Dan kamipun terpisah disitu, aku bersama Fredi kembali ke kosnya untuk mengambil ransel dan berganti baju, sedangkan Yusro, Fauzi dan Syarif menunggu Pak Prapto selesai mempersiapkan diri untuk berangkat bersama - sama.
Singkat kata, kini aku sampai di kampus lebih dulu dari kelompok Yusro dan yang lainnya. Sesampainya di tempat parkir sepeda motor, serasa kaki ini semakin berat untuk melangkah, melihat angan ini telah menunjukan spekulasinya siapa yang telah tiba lebih dulu di dalam kelas.
"Gua harus pasang wajah kek apa ya nanti," ucapku dalam hati sembari melihat panjangnya jalan setapak menuju ruang kelas.
"Ayok Za, nunggu apa lagi," ujar Fredi mengajakku untuk beranjak.
"Hehehe... kita enggak nunggu Yusro dan yang lain aja," tanyaku kepada Fredi dengan wajah yang konyol ku rasa.
"Kek anak SMP aja nunggu diparkiran, udah ayok," jawabnya sambil menarik lenganku dengan kuat.
"Oke... oke... gua bisa jalan sendiri," ujar ku sembari melepaskan genggaman Fredi.
"Hufftt... dahlah jalanin aja kek biasa," ucapku dalam hati sembari berjalan menuju ruang kelas.
Yah, rasa yang kurasakan saat ini sangatlah membingungkan ku kira. Dari setengah jiwa masih memberontak keras tetap ingin bertahan dan berjuang, namun disisi lain mengingatkan betapa kejamnya ia mengambil tindakan yang membuat jiwa ini tertekan sakit karenanya, memaksaku menyicipi rasa dengan tahta marah, sedih, kecewa, semua bercampur menjadi satu kata. Dia.
__ADS_1
.