Cinta Lintas Kabupaten

Cinta Lintas Kabupaten
BAB 23 : Rumah Unyil


__ADS_3

Masih dengan terpaan dingin air yang bergesekan dengan oksigen, kami mencoba menembus ruang berbalut selimut hujan dengan langit kelabu membeku yang membumbung tinggi tepat di atas kami. Dengan jarum waktu yang telah menghunus pada angka tiga dan sepuluh, kami mengeraskan tekad untuk terus berjalan menuju rumah tujuan tempat kami akan mendekam menghindari kedinginan.


"Masih jauh apa enggak ?" tanyaku dengan keras dari dalam helem.


" Udah bentar lagi sampe," jawab Arini dari belakangku.


"Mantab, agak ngebut ya Nyil," tanyaku sambil menarik stang gas lebih ke dalam dengan ragu.


"Iya, pokok hati - hati," jawab Arini singkat sambil memegang erat jaket hitam levis ku.


Dengan segera ku hempaskan jauh - jauh keraguan dan memutar stang gas semakin ke dalam dengan pasti dan yakin.


Singkat cerita, tepat pukul empat sore kami semua telah sampai di rumah Arini dengan beberapa manusia yang menggigil kedinginan akibat ulah hujan yang memberikan sedikit toleransi atas jadwalnya beraksi.


"Hmhmm... rasanya mantab banget," ujar Jazul dengan mengikatkan tangannya pada tubuhnya sendiri.


"Alah gini aja kok dingin," ledekku sambil melepaskan jaket levis yang agak basah.


"Lu pakek jaket, la gua," jawab Jazul sembari berjalan ke depan pintu.


"Ehhh, Nyil... kopi kopi segera." Langsung berbalik menuju Arini dan berkata dengan nada serius tapi disertai senyum.


"Iya iya, ayok silahkan masuk," sahut Arini sambil mempersilahkan kami masuk.


"Assalamualaikum..." ucap salam dari Fauzi yang melangkahkan kakinya masuk pertama kali.


"Waalaikumsalam...ehh nak Fauzi udah sampe" jawab bapak Arini keluar dari ruang sebelah dengan ramahnya.


"Iya Pak," sahut Fauzi sembari memberikan jabatan tangan dan menciumnya.


"Ya Allah, tangannya duingin," jawab Bapak Arini sambil menepuk pundak Fauzi dan di ikuti anak - anak yang lain berjabat tangan.


"Ehh, kok udah akrab aja," ucapku dalam hati sambil melirik Yusro.


Tanpa ada jawaban kata, Yusro hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.


"Nduk Arini, segera di bikinin kopi, pada kedinginan ini," ucap Bapak Arini dengan nada agak keras menghadap ke dapur.


"Iya, ini lagi di buatin." Terdengar dengan pelan suara jawaban dari Arini.


"Enggak usah repot - repot Pak," sahut Fauzi sambil senyum - senyum malu.


"Alah, enggak repot ini," jawab Bapak Arini sambil beranjak ke belakang menghampiri Arini ku kira.


"Woi Zik, lu kok udah akrab sama sini, kemarin sama Anis juga," tanyaku dengan penasaran dan membuat semua mata tertuju pada Fauzi.

__ADS_1


"Wah parah lu Zik, semua lu embat," ujar Agni sambil menunjuk Fauzi dan menggeleng - geleng kan kepala.


"Hahaha, enggak gitu woi," jawab Fauzi dengan tawa lepas, mencoba menegaskan.


"Enggak gimana, udah jelas Kek," sahut Yusro meledek Fauzi dengan sebutan kakek.


"Kurang ajar lu, mau dilihat dari manapun lebih tua Syarif," jawab Fauzi sambil menunjuk Syarif yang bersantai dengan rokoknya, dan itu mengakibatkan pecahnya tawa anak - anak yang lain.


"Nihh nihh..." jawab Syarif singkat sambil mencari KTP dan mengeluarkannya.


"Hahaha, kurang ajar, tuaan gua." Tawa Fauzi langsung lepas setelah melihat KTP Syarif yang lebih muda dua bulan ketimbang Fauzi.


"Diem enggak lu," ledek Syarif dengan tawannya.


"Ini lu beneran tahun 95, enggak salah nih ?" Tanya Fauzi lagi masih tidak percaya menerima kenyataan yang terjadi.


"Masak KTP gua buat - buat," jawab Syarif sambil menegaskan.


"Huahahaha, gua udah tua bener ternyata," ujar Fauzi dengan tawanya lepas memancing tawa anak - anak yang lain untuk menggema.


"Udah rame aja," ujar Arini yang keluar dari belakang sambil membawa beberapa kopi hitam yang terlihat uapnya mengepul ke atas dan di ikuti Bapaknya yang membawa jajanan pasar khas tanah Jawa.


"Kok repot - repot Pak," ujar Fauzi sambil menerima piring yang di bawa Bapak Arini tadi.


"Fauzi mau tidur sini katanya tadi Pak," sahut Yusro sambil mengambil rokok di atas meja.


"Enggak apa - apa, nanti sama Bapak apa sama Arini," jawab Bapak Arini sambil bercanda.


"Hahahaha," tawa kami spontan terlepas secara bersamaan.


"Yasudah saya tinggal ke belakang dulu, di lanjutkan ngobrolnya," sahut Bapak Arini setelah tawa kami mulai reda.


"Iya Pak, hehehe," jawab Jazul masih dengan tawanya.


"Ehh, gimana Zik jelasnya," tanya Agni mencoba memperjelas lagi.


"Hahaha, gua itu sering ke masjid depan situ, urusan organisasi... jadi otomatis kan kenal daerah sini juga," jawab Fauzi mencoba menjelaskan namun masih dengan tawa yang terselip.


"Masih ada kesempatan berarti," ujar Agni sambil meminum kopinya.


"Hahaha, apa to Mas Agni," jawab Arini sambil menepuk pundak Agni yang sedang minum kopi yang terlihat panas itu.


"Huahahaha," tawa kami semua kembali terlepas lagi setelah melihat Agni yang kepanasan karena kopi yang muncrat akibat tepukan Arini di pundak.


Singkat cerita, dengan berteman kan lantunan merdu musik rintik hujan, kami duduk manis bersama dengan membagikan beberapa canda dan tawa untuk memperhangat suasana dalam relung waktu berlapis ruang yang bersinar kan lampu putih penerka petang.

__ADS_1


Yang benar saja, kehangatan itu memang benar adanya dan sudah terlihat jelas menyatu dalam atmosfir berbaur dengan udara yang begitu indah terasa. Sampai tidak terasa kini hari benar - benar sudah mulai gelap adanya, karena ketidak hadiran sinar mentari membuat kami hampir lupa akan mengisi daftar hadir di penghujung senja itu.


"Ayok cepet, udah mau maghrib ini," ujar ku sambil keluar rumah menuju masjid dekat rumah Arini.


"Kok enggak ada adzan ya, jadi lupa waktu kan," ujar ku lagi sambil berjalan di samping Jazul.


"Lu aja enggak denger," sahut Jazul dengan sewotnya.


"Ihh... masa tadi ada ?" jawabku dengan terkaget.


"Serah lu bambang," jawab Jazul singkat sambil menuju pagar bertuliskan "tempat wudhu".


" Ehh, ini tempat cuci kaki ?" tanyaku dengan terkaget, setelah melihat hamparan air yang begitu luas tanpa pagar.


"Coba lu ke sana," sahut Fauzi dengan nada yang mencurigakan.


"Ehh, beneran enggak sih," tanyaku kembali setelah melihat ekspresi Fauzi yang mencurigakan.


"Roo, sini coba lu," ujar ku sambil menarik tangan Yusro.


"Woii !! ogah - ogah," bentak Yusro sambil menghempaskan tanganku yang menariknya.


"Nggak apa - apa Ro, ini cuman tempat cuci kaki," sahutku sambil mencoba meraih Yusro yang terus mengelak.


"Gua takut kalo ada buaya," ucap Yusro dengan santainya membuat kami semua tertawa lagi.


"Ini beneran tempat cuci kaki kan Zik," tanyaku lagi mencoba menegaskan, karena di tepian terlihat jeruji besi yang terendam air. Namun semakin di lihat ke tengah, warna air semakin gelap dan menakutkan.


"Itu ada jeruji nya besi kan, udah jelas itu buat cuci kaki," jawab Fauzi dengan tawa pelan.


"Ah, nanti gua injek besinya ambles, kan enggak lucu," jawabku sambil mencoba menginjaknya dengan satu kaki.


"Gimana, aman kan ?" tanya Fauzi setelah aku menginjaknya dengan satu kaki.


"Iya yaa, kuat ini," jawabku dengan kebingungan sendiri.


"Coba lu agak ke tengah," ujar Fauzi sambil menahan tawa.


"Ehh, jeruji nya abis, tengah enggak ada jeruji," sahutku terkaget setelah meraba - raba menengah secara perlahan dengan kaki.


"Jangan ke tengah, itu dalem," ucap Arini yang tiba - tiba sudah berada di belakang kami semua.


"Haaa !!" teriak enam orang lelaki dewasa dengan keras dan bersamaan, terkaget dengan kehadiran Arini yang sudah berada di belakang kami.


Yah terlihat dengan jelas semua sedang berfikir keras menggunakan imajinasi liar masing - masing tentang kolam yang begitu rendah namun tertutup dinding setinggi lelaki dewasa dan terdapat jalan memutar di tepian kolam yang seperti danau namun bertempat di sebelah masjid yang tertuliskan tempat wudhu.

__ADS_1


__ADS_2