Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 12: Rahasia Masing-masing


__ADS_3

Malam itu, Kanaya menjadi tidak bisa tidur karena memikiran soal kata-kata dari Kakeknya jika dirinya akan dijodohkan.


Terlebih, orang yang akan di jodohkan Kata Kakeknya adalah seseorang yang Kanaya kenal.


Sungguh, Kanaya benar-benar bingung bagaimana caranya menolak Perjodohan itu.


Kanaya tentu saja awalnya sudah berusaha menolak namun kakeknya bersih keras agar Kanaya tetap datang.


Kanaya juga binggung, apakah harus memberi tahu Tristan atau tidak.


Namun, Kanaya berniat untuk jujur kepada kekasihnya itu jadi malam itu segera menelepon Tristan.


Namun, Kanaya dapat respon yang kurang baik, dan tidak di angkat karena kata Tristan Ibunya datang ke Rumahnya, jadi Tristan terpaksa Pulang ke Rumah dimana Elena tinggal.


'Maafkan Aku Kanaya, saat ini aku tidak memiliki pilihan,'


Ekpersi Kanaya jelas menjadi buruk ketika mendengar itu.


"Pastikan, kamu tidak satu kamar dengannya,"


'Itu akan sulit Karena Mama saat ini sedang menginap,'


"Itu hanya alasan saja bukan? Kamu pasti senang bisa bersama dengan istrimu yang cantik itu,"


'Kanaya, sungguh bukan seperti itu.....'


"Buktinya kamu sampai membuat dia hamil? Apakah Aku salah?"


'Kanaya....'


Telepon segera dimatikan oleh Kanaya, beberapa kali Tristan menelepon balik, namun Kanaya sudah melemparkan ponsel ke kasurnya dan mendiamkan ponsel itu benar-benar tidak ingin mendengar alasan Tristan lagi.


"Sial, Tirstan ternyata malah menghabiskan waktu bersama wanita sialan itu?"


Ekpersi Kanaya menjadi buruk setelah mendengar hal-hal itu akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menghubungi Tristan.


Nanti saja menghubungi Tristan, toh waktu masih banyak sampai acara Perjodohan itu berlangsung.


Lagipula, Tristan menyembunyikan hal-hal soal pernikahannya itu dariku Bukankah tidak masalah jika sekarang dirinya menyembunyikan soal Perjodohan itu?


Toh bukan berati dirinya akan menerima perjodohan itu pula.

__ADS_1


Sebelum tidur, Kanaya memeriksa ponselnya dan menerima sebuah pesan dari Tristan.


'Aku setidaknya akan tidur di Sofa, oke? Aku tidak akan satu tempat tidur dengannya, Aku berjanji,'


Melihat pesan itu, Kanaya bahkan terlalu malas untuk membalasnya hanya langsung kembali meletakkan ponsel itu di laci meja dan mencoba untuk tidur.


Malam itu, Kanaya memejamkan matanya, dan mencoba untuk tidur dengan tenang.


Namun Kanaya tidak tidur dengan tenang, dia malah bermimpi buruk.


Di dalam mimpi itu, Kanaya melihat Tristan bersama dengan Istrinya, juga seorang anak yang mirip dengan Tristan di antara mereka.


Itu terlihat seperti sebuah keluarga bahagia di mana tidak ada tempat untuk dirinya.


Kanaya bangun tengah malam, sedikit mengigau memanggil nama Tristan.


Kanaya menjadi berkeringat memikirkan tentang masa depan yang akan terjadi.


####


Saat ini, di sebuah meja makan terlihat ada sebuah Keluarga sedang makan malam disana.


Ya, itu adalah orang tua Tristan, yang berkunjung ke Rumah Tristan.


"Wow, Rumah yang kamu pilih cukup bagus juga," puji Ibu Tristan setelah melihat-lihat ke rumah itu.


"Ya, tentu saja, Aku sudah memilih Rumah ini dengan hati-hati," kata Tristan mencoba menjawab dengan ramah.


"Namun tempat ini kenapa begitu jauh dengan kantor Apakah kamu tidak kerepotan untuk bolak-balik?"


Tristan tentu saja sudah menyiapkan alasan yang logis untuk pertanyaan ini.


"Aku dengar, untuk Ibu Hamil suasana yang tenang dan segar di pinggiran kota seperti ini sangat cocok untuk perkembangan calon bayi dari pada di Kota yang cukup bising dan banyak polusi. Bukankah begitu Elena? Kamu juga menyukai rumah ini bukan?"


Elena awalnya, merasa cukup terkejut dengan kata-kata Tristan, awalnya dirinya sempat berburuk sangka, Tristan sengaja mengirimnya ke pinggiran kota terpencil ini karena Tristan tidak ingin tinggal dengan dirinya dan hanya ingin meninggalkannya di rumah Yang sepi itu, apalagi Tristan jarang pulang karena masalah jauh dari Kantor.


Namun tidak mengira, ternyata ada alasan baik dibalik itu semua, Elena senang memikirannya jika Tristan perhatian padanya, dan Elena bersumpah tidak akan berpikir negatif lagi tentang suaminya, mungkin benar kata Ibu Mertuanya, jika Tristan itu hanya terlihat saja dingin namun aslinya berhati lembut dan baik.


"Ya, itu benar. Aku benar-benar menyukai rumah ini terlihat sangat segar dan aku benar-benar menikmati udara di pagi hari yang menyegarkan,"


Elena mengatakan hal yang sejujurnya yang dia rasakan dari semua hal udara di rumah itu benar-benar sangat sejuk.

__ADS_1


Tristan merasa cukup lega dengan jawaban Elena, setidaknya Elena bisa diajak kerjasama dan tidak bilang macam-macam pada Ibunya.


Suasana malam itu berjalan dengan lancar, sampai Tristan dan Elena kembali ke Kamar mereka.


Ya, tentu saja sebagai Formalitas Tristan sudah meletakkan beberapa barang-barangnya di kamar itu.


Namun memikiran Tristan masuk kekamar itu dengan wanita lainnya, membuat Tristan kesal.


Elena tidak menyadari mood buruk Tristan, malah mendekatinya mencoba untuk membantu melepaskan jasnya.


Tristan yang tiba-tiba disentuh itu segera mundur.


"Apa-apaan kamu! Aku bilang padamu jangan menyentuhku!"


"Aku... Aku hanya ingin membantumu untuk melepaskan jas milikmu," kata Elena gugup.


"Kamu pikir aku tidak punya tangan untuk tidak bisa melepas jas dan pakaianku sendiri?"


"Bukan begitu,"


"Sudahlah aku lelah sebaiknya kamu tidur saja sana, mau ke mana sebaiknya Jangan menggangguku aku akan segera mandi," kata Tristan lagi.


"Apakah perlu untuk aku siapkan Air Panas?"


"Sungguh tidak perlu repot-repot,"


Tristan lalu melepaskan jas miliknya dan meletakannya sembarangan di sofa.


Elena hanya bisa menghela nafas melihat perlakuan dingin itu.


Dan segera, setelah Tristan pergi, Elena mengambil Jas Tristan berniat untuk merapikannya dan menggantungnya di lemari.


Namun, ketika Elena menyentuh Jas itu, Elena merasakan ada aroma seperti aroma parfum wanita?


Entah kenapa Elena tiba-tiba merasa tidak nyaman.


Apa kira-kira yang Tristan rahasiakan selama ini?


Terutama, alasan dia selama ini tidak pernah pulang.


Apakah benar-benar mengurusi pekerjaan di kantor?

__ADS_1


Atau jangan bilang....


__ADS_2