Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 48: Pertanda Buruk


__ADS_3

"Nona Kanaya, Bagaimana jika anda pulang dulu saja? Saya lihat Anda terlihat pucat Karena kelelahan," kata Asisten Kanaya yang saat ini melihat Kanaya sedang bekerja dengan wajah yang cukup pucat.


Kanaya belakangan ini merasa tidak enak badan, dia sudah beristirahat, juga minum beberapa obat sayangnya hal-hal itu masih tidak mempan. Kepalanya masih sangat pusing dan tubuhnya terasa lemas.


"Tidak apa-apa," kata Kanaya tetap mencoba fokus pada pekerjaannya.


"Tapi, Nona ... "


"Tidak apa-apa, Ini tah benar-benar tinggal sedikit lagi setelah ini aku akan istirahat,"


Asistennya itupun, tidak lagi mengatakan apa-apa dan kembali ke mejanya setelah memberikan beberapa laporan. Kanaya walaupun merasa kepalanya sangat pusing, tetap mencoba fokus mengerjakan dokumen yang ada di depannya.


Hingga jam makan siang dan Asistennya membawakan makan siang. Namun, Kanaya entah kenapa tidak begitu selera makan akhir-akhir ini. Jadi, Kanaya hanya sedikit memakan makan siangnya itu.


Asistennya, yang melihat itu segera bertanya,


"Nona Kanaya, Bukankah sebaiknya Anda Periksa ke dokter? Saya lihat, belakangan anda kurang makan juga lihat sepertinya Anda bertambah pucat dan mudah lelah akhir-akhir ini,"


"Bukankah kamu juga tahu? Aku paling benci untuk pergi ke dokter,"


"Jika seperti itu, itu hanya akan memperburuk kondisi anda Nona, jika anda drop pada akhirnya pekerjaan Anda akan bermasalah,"


"Hah, baik-baik, nanti Aku akan coba ke Dokter dan mengambil cuti lagi,"


"Ya, Itu bagus saya akan mencoba mencarikan jadwal dokter yang cocok untuk check up nanti,"


Melihat Asistennya pergi dari ruangannya, Kanaya segera menuju ke arah kamar mandi, ingin cuci muka agar lebih segar. Mana tahu, ketika dia sedang cuci muka, Dia tiba-tiba merasakan hal-hal aneh mulai keluar dari hidungnya. Awalnya, Kanaya pikir dia terkena Flu, Namun ternyata yang keluar adalah Darah.


"Apakah karena aku terlalu memaksakan diri?"


Tentu saja Ini bukan pertama kalinya Kanaya mimisan, sudah cukup lama kadang-kadang akan terjadi hal-hal semacam ini hanya belakangan ini saja menjadi lebih buruk dan lebih sering.


"Sebaiknya, aku memang segera Periksa ke dokter,"


Kanaya lalu membersihkan wajahnya, dan segera mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.


Berbeda dengan sebelumnya ketika Tristan jarang mengangkat teleponnya sejak kekasihnya itu datang sekarang tiap kali Kanaya menelepon, Tristan akan selalu mengangkat teleponnya tanpa penundaan.


'Hallo, Kana sayang, Apakah kamu sudah begitu merindukanku?'


Sebuah suara maskulin merdu terdengar dari ujung telepon membuat Kanaya mulai tersenyum, suara itu juga yang selalu membuat dia Terus semangat sampai hari ini.


"Ya, Aku benar-benar sangat merindukanmu ... "


'Ini belum satu minggu sejak kita terakhir bertemu,'


"Namun rasanya sangat lama untukku, karena tidak bisa lagi melihatmu,"

__ADS_1


'Itu juga sama untukku rasanya berat tidak bisa bertemu denganmu sesukaku seperti ini,'


"Benar, Aku benar-benar sangat ingin bertemu denganmu,"


'Tentu saja, Aku akan mencoba mengusahakan agar kita bertemu secepatnya,'


"Tristan aku tahu saat ini kamu sedang sibuk jadi tidak perlu memaksakan diri,"


'Bukannya itu kamu yang memaksakan diri? Kamu yang sering bekerja lembur, bagaimana kondisimu saat ini? Apakah sudah baik?'


Kanaya tentu saja tidak ingin membuat pria yang ada di ujung telepon merasa khawatir.


"Tentu saja aku sudah baik-baik saja apa yang kamu cemaskan?"


'Tapi kamu juga harus cukup istirahat Jika kamu sakit siapa yang akan merawatmu nanti? hanya memikirkan kamu sakit dan sendirian di kota yang jauh Itu membuat hatiku terasa sakit,'


"Pffff, kamu benar-benar terlalu berlebihan Aku sungguh bisa menjaga diriku sendiri,"


'Baik, baik, Kana,'


Dua orang itu mulai bercakap-cakap dan ngobrol selama beberapa menit sampai akhirnya telepon berakhir.


Setelahnya, Kanaya yang merasa lebih baik setelah mendengar suara kekasihnya itu segera keluar dari kamar mandi dan mulai mengistirahatkan dirinya di Ruangan Khusus di Kantornya itu.


####


Walaupun, sedikit tidak nyaman untuk pergi ke Rumah Sakit. Itu mungkin karena ketika dia kecil, Kanaya sering berada di Rumah Sakit karena kesehatannya lemah, namun untungnya ketika tumbuh dewasa kesehatannya sudah normal dan tidak seperti ketika dia muda. Jadi sekarang Ketika Harus dihadapkan untuk pergi ke rumah sakit, Kanaya merasa tidak suka.


Dia benci aroma obat-obatan di rumah sakit. Kanaya saat ini, menatap Rumah Sakit yang ada di depannya itu hanya bisa menghela nafas. Walaupun tidak suka dia harus tetap segera masuk.


Mana tahu, Kanaya yang saat ini sedang cemas, tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.


"Kanaya? Kamu disini?"


"Kak Azka? Kenapa Kakak disini?"


Kanaya baru saja bertemu dengan teman masa kecilnya itu yang saat ini sedang mengenakan jas putih, terlihat seperti dia adalah dokter di rumah sakit ini?


"Ah, kebetulan ada beberapa program di Rumah Sakit utama, dan aku kebetulan sementara ini akan Praktek di Rumah Sakit ini, aku juga baru mulai belakangan ini aku sebenarnya ingin segera bertemu denganmu karena kita berada di tempat yang sama namun hal-hal begitu rumit ketika mengurus perpindahan jadi aku belum sempat mengabarimu,"


"Astaga, tidak masalah sama sekali aku tahu jika Kakak sedang sibuk,"


"Ngomong-ngomong Kenapa kamu pergi ke rumah sakit? Apakah kamu sakit?"


"Tidak, hanya saja belakangan aku sering lelah, sepertinya mengalami beberapa anemia? Asistenku terlalu cemas, jadi dia malah menjadwalkanku untuk ke dokter Jadi mau bagaimana lagi itulah kenapa aku ke sini,"


Azka segera menunjukkan ekspresi tidak nyaman diwajahnya.

__ADS_1


"Astaga, Kanaya kamu itu harus lebih memperhatikan kesehatanmu. Kamu pasti sering lembur dan telat makan,"


"Tidak seperti itu,"


Kanaya mencoba mengelak.


"Lain kali jika kamu sakit kamu bisa bilang padaku, aku nanti yang akan membantumu, Aku tahu kamu pasti tidak senang pergi ke rumah sakit seperti ini bukan?"


Kanaya yang mendengar kata-kata penuh perhatian itu hanya tersenyum dan berkata,


"Ya, Aku benar-benar benci rumah sakit,"


"Jadi kapan jatwal kontrol mu itu?"


"Aku lihat sepertinya masih satu jam lagi?" Kata Kanaya melihat ke arah jam tangannya, dia sengaja datang lebih awal untuk bisa menenangkan diri ketika berada di tempat yang dia benci.


"Umm, Apakah kamu sudah makan? Ah bahkan jika sudah makan Bagaimana jika mampir untuk beberapa camilan? Ada desert enak di Kantin,"


"Owh? Benarkah? Sepertinya boleh juga,"


Kanaya tentu saja merasa lapar karena tadi hanya makan sedikit mungkin saja sekarang dia sudah memiliki selera makan?


Keduanya lalu saling mengobrol dan mulai makan di kantin. Azka melihat bagaimana gadis yang ada di hadapannya itu hanya makan sedikit.


"Apakah ini tidak enak?"


"Bukan seperti itu ini tentu saja enak hanya saja belakangan aku tidak memiliki selera makan,"


"Astaga, Kanaya sepertinya kondisimu terlihat buruk," kata Azka secara refleks mulai mengambil tangan Kanaya, mencoba untuk memeriksa denyut nadinya. Dan Ekpersi Azka menjadi tambah buruk.


"Sepertinya kamu benar-benar sakit,"


"Ini hanya kelelahan biasa,"


"Kanaya, kamu itu tidak boleh menyepelekan kesehatan. Sebentar lagi jadwal kamu periksa bukan? Mari aku akan menemanimu Mungkin kamu akan merasa tidak nyaman pergi sendiri,"


"Eh, Apakah itu tidak merepotkan?"


"Tentu saja tidak,"


Kanaya segera di temani oleh Azka untuk pergi ke tempat pemeriksaan. Di sana Kanaya lebih dulu dites laboratorium seperti cek darah, ronsen dan yang lainnya, untuk mengetahui secara detail tentang kesehatan Kanaya.


Azka yang menunggu di luar entah kenapa memiliki firasat tidak enak. Walaupun dia seorang dokter Tentu saja tidak mungkin untuk mengetahui kondisi atau penyakit pasien secara langsung, masih butuh beberapa hasil laboratorium.


Ada beberapa penyakit yang mungkin saja Kanaya alami, apalagi setelah mendengar beberapa gejala umumnya.


Dia hanya bisa berharap tidak ada penyakit macam-macam yang di derita Kanaya.

__ADS_1


__ADS_2