Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 56: Keyakinan Tidak Masuk Akal


__ADS_3

Ini adalah sebuah ruangan Rumah Sakit, di sana terlihat seorang wanita sedang berbaring dan terlihat tertidur. Di sampingnya, ada seorang Pria yang mengamati dan memantaunya. Dan setelah memastikan jika wanita yang ada di tempat tidur benar-benar tidur, Pria itu segera pergi dari ruangan itu.


Tepat ketika Pria itu pergi, wanita yang awalnya tidur itu segera membuka matanya dan menunjukkan ekspresi tidak senang.


"Sial, bahkan dalam keadaan ini dia masih meninggalkanku sendiri di Rumah Sakit?"


Elena benar-benar merasa kesal, dia memang saat ini tinggal di rumah sakit sementara, sebenarnya dia tidak merasakan apa-apa dan keadaannya baik-baik saja, manusia berusaha keras berpura-pura terlihat sakit agar setidaknya Tristan tetap menjaganya disini dan tidak bertemu Kanaya itu.


Namun ternyata, begitu dia terlihat pura-pura tidur, Pria itu bukannya menjaganya namun malah langsung pergi begitu saja.


Hanya kemarahan yang ada di hati Elena, namun dia cukup puas setidaknya hari ini dia berhasil membuat Tristan tidak bertemu Kanaya itu.


"Hah, aku akan membuktikan pada gadis sialan itu siapa yang akan memiliki Tristan sekarang."


Tepat ketika Elena mau benar-benar tidur, ponsel nya segera berbunyi. Nama yang tertera di ponsel nya itu membuat Elena segera memiliki wajah cemberut namun mau tidak mau dia mengangkatnya.


"Ya, Ayah ada Apa?"


'Elena, bagaimana jika Kamu mengirimkan Uang lagi Bulan ini padaku?'


"Ayah, bukannya aku sudah memberikan cukup uang sebelumnya? Kemana uang-uang itu? Bukankah Kata Ayah, Bisnis Ayah juga berjalan cukup baik? Bagaimana Ayah kekurangan Uang?"


'Kenapa sih kamu banyak tanya? maudy kemana kan uangnya itu terserah padamu kamu hanya cukup memberiku uang lagi, beri alasan dan minta Suamimu itu.'


"Ayah, Suamiku bukankah mesin ATM untukmu! Aku merasa sudah cukup uang yang dia berikan untuk Ayah."


'Elena, kenapa kamu menjadi begitu pelit? Tidak tahukah kamu siapa yang membuatmu menjadi Istri Tristan?'


Elena yang mendengar hal hal itu segera di ungkit mungkin memiliki ekspresi marah sekarang.


"Jangan lagi di ungkit untuk soal hal itu."


'Elena, kamu jangan sok suci. Malam itu, memang bukan Kamu yang memberikan obat dan merencanakan segalanya, namun kamu tidak minum obatnya terlalu banyak kan? Hanya Tristan yang minim, jelas kamu masih dalam keadaan sadar saat itu, jadi berhentilah berpura-pura itu bukan salahmu. Kamu sejujurnya juga menikmati situasi itu kan? Lalu berpura-pura mabuk?'


Ekspresi Elena berubah menjadi pucat ketika mengingat kejadian malam itu. Memang benar, dia tidak pernah merencanakan menjebak Tristan. Namun begitu dia yang awalnya hanya memiliki niat baik untuk mengantar Tristan ke Kamar, tiba-tiba melihat sikap mabuk Tristan yang tiba-tiba menciumnya ketika di kamar.


'Kana Sayang, Aku merindukanmu ... Itulah kenapa sampai Aku memimpikanmu seperti ini.'

__ADS_1


Saat mendegar Tristan saat itu menyebutkan nama wanita lain, yang entah siapa, membuat Elena menjadi marah saat itu. Mungkin dia provokasi oleh hal-hal itu dia tidak melawan sama sekali, dan hanya meminum beberapa minuman di ruangan membuat dirinya menjadi sedikit mabuk


Dia membiarkan semuanya terjadi...


Dia memang tidak merencanakan semuanya namum...


Dia tidak tahu apa-apa namun...


Elena masih percaya pada dirinya sendiri jika dia tidak bersalah. Lagipula ini rencana orang tuanya, jika orang tuanya tidak berbuat macam-macam dengan memberikan obat aneh semacam itu pada Tristan, jelas hal-hal tidak akan terjadi.


Ini bukan salahnya.


Dia juga hanya korban.


Elena tetap berpegang teguh pada pendiriannya itu.


"Cukup! Jangan hanya mengancam dengan kata-kata omong kosong itu!"


Elena yang kesal segera menutup teleponnya, benar-benar merasa frustasi dengan tekanan dari orang tuanya yang hanya selalu meminta uang. Padahal saat ini posisinya sedang dalam bahaya.


Elena jelas diliputi oleh rasa sedih kita semua itu. Itu karena perasaannya pada pria itu masih tidak berubah, masih mencintainya.


"Tidak, Aku jelas akan memiliki Tristan. Hah, jadi memang sebaiknya aku tidak bisa diam saja pada Kanaya sialan itu."


Elena mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan berikutnya. Sampai akhirnya dia mulai tertidur lelap.


####


Hari-hari berlalu dalam sekejap mata, rencana Elena tetap berada di rumah sakit akhirnya selesai dan dia mau tidak mau kembali pulang. Dan saat ini dia jadi tidak memiliki alasan agar menahan Tristan disisinya.


Sangat susah membuat pria itu tetap ada disisinya, berbagai kesempatan Tristan pasti memiliki ada saja alasan untuk pergi. Dan Elena bahkan sampai repot-repot memanggil Ibu Tristan datang juga, agar Tristan tetap ada disana.


"Mas Tristan, kenapa kamu malam ini tidak tinggal di rumah saja?"


"Aku memiliki beberapa kerja lembur."


Ekspresi Elena segera menjadi buruk.

__ADS_1


"Itu hanya alasan bukan? Itu pasti karena kamu ingin bertemu Kanaya?"


Tristan yang mendengar itu segera menunjukkan ekspresi tidak senang.


"Aku memang benar-benar memiliki lembur gara-gara siapa aku harus cuti kantor beberapa hari ini? Dan apakah Aku bertemu Kanaya atau tidak, jelas itu tidak ada hubungannya dengan mu."


"Tapi, Aku adalah Istrimu."


"Elena, cukup! Bukankah aku sudah memberitahumu sebelumnya soal tempatmu? Kenapa kamu kembali keras kepala?"


"Kamu yang..."


Elena yang menjadi begitu emosional itu ingin marah-marah, namun Tristan sudah pergi lebih dulu masuk ke mobil dan pergi dari sana, benar-benar mengabaikan Elena. Jelas, Tristan memiliki masalah lain yang harus diurus.


Ini sudah Kanaya, sejak Kanaya kembali beberapa hari yang lalu, dia jadi sulit menghubungi Kanaya. Tristan yakin Kanaya masih marah, Tristan ingin mencoba menemui Kanaya langsung, namun karena gadis itu tidak bisa dihubungi itu menjadi sulit. Terutama karena Kanaya tidak di Apartemen, namun sekarang tinggal sementara di Rumah Orang Tuanya.


Mereka masih bertukar pesan sesekali, namun Kanaya selalu menghindar jika diajak bertemu.


"Kana pasti marah kan?"


Tristan benar-benar terasa frustasi ketika memikirkan ini.


Elena disisi lainnya, yang di tinggal oleh Tristan itu segera menjadi marah. Jadi dia mulai mencoba menenangkan dirinya sendiri, melihat ke arah jam tangannya, dan mulai merencanakan sesuatu.


Dia pertama-tama menelepon temannya, Keisya yang juga saudara tiri Kanaya.


"Hallo, Keisya, apakah kamu sedang sibuk?"


'Huh? Ada apa Elena? Aku dengar kamu baru dari Rumah Sakit? Maaf belum bisa menjegukmu belakangan ini aku sedang sibuk,'


"Tidak apa-apa, aku tahu saat ini kamu sedang sibuk untuk mengurus perusahaan bukan?"


'Ya, ya Saudara tiriku itu benar-benar menyebalkan, dan sekarang dia baru saja pulang namun membuat masalah.'


"Masalah apa?"


'Ini soal rencana Pertunangannya.'

__ADS_1


__ADS_2