Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 45: Rasa Bersalah


__ADS_3

Saat ini, di sebuah ruangan rapat, terlihat beberapa orang berkumpul salah satunya adalah seorang pengacara, dan notaris, disana juga ada Tristan dan Ayahnya. Saat ini mereka sedang mendiskusikan Untuk memindahkan kepemilikan Saham Perusahaan milik Keluarga Norris pada Tristan sesuai dengan rencana awal yang mereka miliki.


"Baik, sekarang ketika semua orang sudah membaca surat-surat saat ini tinggal mengurus tanda tangan persetujuan disini, silahkan Tuan Norris, untuk menandatangani bekas ini," kata Notaris itu pada Ayah Tirstan.


Pria baru baya itu, hanya memeriksa kertas itu sekilas, mengambil pulpennya dan segera membubuhkan tanda tangannya. Disisi lainnya, Tristan jelaskan jam merasa tegang ketika pengurusan dokumen dokumen ini.


"Apakah semuanya sudah selesai dengan ini?" Tanya Ayah Tristan berikutnya.


"Benar, pihak kami akan mengurus suka pemindahan Hak milik ini secepatnya, mohon bersabar," kata Notaris itu dengan tenang.


Dan sekarang tatapan Ayah Tristan menuju ke arah putra bungsu nya itu.


"Apakah kamu sekarang puas?"


Tristan yang diberi pertanyaan ayahnya itu hanya tersenyum penuh kemenangan dan berkata,


"Terima kasih banyak ayah karena telah mengikuti permintaanku yang egois ini,"


"Hpmh, kamu harusnya berterima kasih juga kepada Istrimu. Aku melakukan semua ini karena perkataannya yang cukup masuk akal. Sekarang kamu sudah memiliki keluargamu sendiri dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah, dan dengan Aku memberikan Perusahaan ini, aku harap kamu bisa bertanggung jawab penuh pada perusahaan ini dan juga bertanggung jawab penuh pada keluargamu. Ayah sangat bangga padamu karena kamu akhirnya sudah tumbuh lebih dewasa berbeda ketika kamu masih cukup muda dan nakal dulu,"


Tristan yang mendengar kata-kata itu cukup terteguh, ya dia juga tahu bagaimana Elena sempat membujuk Ayahnya tentang hal-hal semacam ini hingga Ayahnya yang keras kepala itu luluh. Dia masih memiliki perasaan yang tidak nyaman tentang hal-hal ini, carikan bagaimana cara membalas kebaikan Elena?


"Tentu saja, Ayah. Aku pasti tidak akan mengecewakanmu,"


Tristan juga sejujurnya tidak tahu bagaimana akhirnya nanti apakah dirinya akan mengecewakan Ayahnya jika Ayahnya tahu semua rencananya?


Mengambil alih Perusahaan ini hanyalah sebuah awal dari Rencana Besar miliknya. Tristan akan mengembangkan perusahaan ini sepenuhnya, nantinya bersama dengan Kanaya jika Kanaya setidaknya bisa mengambil alih beberapa Perusahaan milik Keluarganya.


Bersama-sama mereka, akan membuat Perusahaan yang lebih hebat dan lebih besar dari sebelumnya, baik dari Perusahaan milik Keluarganya atau Perusahaan milik Keluarga Kanaya.


Dan sekarang setelah berhasil menguasai perusahaan ini rencana berikutnya adalah membuat perusahaan ini menjadi mandiri dan bebas dari tekanan Perusahaan Pusat. Tristan sadar, jika terus bersaing dengan Kakak-kakak untuk mencoba mendapatkan perusahaan utama itu akan menjadi langkah yang sangat lama, dan hanya berakhir membuat dia dan Kanaya semakin lama menikah, jadi langkah-langkah sini adalah cara tercepat agar mereka berdua desa segera meresmikan hubungan mereka.


Bahkan jika nantinya ada bertentangan dari dua keluarga mereka berdua sudah siap menanggung resiko nya dengan persiapan yang matang.


Namun nanti bagaimana dengan Elena dan anak mereka nanti nya?


Tristan memilih untuk tidak memikirkan hal-hal itu sekarang dan segera pergi dari ruangan itu.


Malam itu, Tristan tentu saja kembali ke Rumahnya yang di ujung Kota dimana Elena berada. Elena yang melihat kedatangan suaminya itu jelas manyapanya dengan ramah,


"Mas Tristan aku dengar kamu sudah selesai mengurus hal-hal soal pemindahan kepemilikan Perusahaan?"


"Itu benar-benar, hal-hal semuanya sudah beres sekali lagi Aku berterima kasih padamu karena membantuku sebelumnya," kata Tristan dengan nada ramah.

__ADS_1


"Aku sudah bilang padamu tidak masalah sama sekali. Jadi karena semuanya sudah beres bagaimana jika kita merayakannya?"


"Emm, Aku rasa itu tidak perlu,"


"Tidak apa-apa, bukankah ini hal yang besar? Jelas kita harus merayakan ini, Aku akan masak untuk merayakan hal-hal ini,"


Tristan yang mendengar itu cukup terkejut, namun segera mencoba untuk menolak dengan sopan,


"Sungguh, tidak perlu repot-repot,"


"Tapi, Ayolah hal-hal ini jelas dirayakan bukan? Jika kamu benar-benar berterima kasih padaku setidaknya, mari kita rayakan ini bersama," kata Elena sambil tersenyum.


Mendengar itu, Tristan menjadi terdiam tentang apa yang harus dia lakukan, namun itu memang benar jika semua ini berkat Elena, dan Elena tidak seburuk yang dia kira.


Harusnya tidak apa-apa untuk merayakan ini?


Semua masih berkat bantuan Elena pula.


"Baiklah, namun kamu jangan salah paham, Aku hanya merayakan ini sebagai salah satu ucapan terima kasihku padamu,"


"Tentu saja, Aku mengerti,"


Malam itu, sekali lagi keduanya mulai makan bersama dengan nyaman. Itu adalah awal tari hari-hari damai di mana keduanya mulai tinggal bersama tanpa terlalu banyak pertengkaran.


Tristan kadang akan pulang kesana, untuk sekedar menghormati Elena, namun tetap saja mereka masih berada di kamar terpisah.


Pagi itu, Tristan berpamitan pada Elena jika dia akan pergi ke luar kota untuk perjalanan bisnis.


"Huh? Kenapa ini mendadak sekali?"


"Yah, ada beberapa Klaien yang harus aku urus di luar kota,"


"Owh begitu, berapa hari kira-kira kamu di sana?"


"Ini tidak akan lama mungkin hanya 2 sampai tiga hari," jawab Tristan.


"Baiklah, kamu hati-hati ketika di luar kota dan jangan lupa makan teratur,"


"Ya, kamu juga, jika ada apa-apa segera beritahu pelayan di Rumah,"


"Tentu saja, tidak masalah, saat ini kandungan ku dalam keadaan cukup stabil, lihatlah," kata Elena segera mengambil tangan pria yang ada di hadapannya untuk menyentuh perutnya yang sudah sedikit membuncit.


Tristan yang tiba-tiba merasakan perut Elena, hatinya sedikit bergetar, namun dia segera mencoba untuk menghilangkan perasaan aneh itu dan segera pergi dari sana. Sesuai rencana, Tristan hari ini akan pergi ke luar kota untuk memberikan kejutan kepada Kanaya.

__ADS_1


Jelas ini untuk memberitahu kekasihnya tentang kabar baik, dan merayakannya bersama, bahwa tinggal selangkah lagi sampai rencana mereka berdua berhasil.


Namun ketika Tristan sampai di Apartemen Kanaya hal-hal membuat Tristan terkejut. Ya, itu karena keadaan Kanaya yang terlihat buruk, wajah kekasihnya itu sedikit lebih pucat dari biasanya.


"Tristan? Sungguh? Ini benar-benar kamu?" Kata Kanaya yang begitu terkejut ketika membuka pintu apartemennya itu.


"Ya, ini Aku, siapa lagi? Aku benar-benar merindukanmu," kata Tristan memeluk kekasihnya itu, namun segera dia merasakan suhu panas dari gadis itu.


"Aku juga merindukanmu...."


"Tunggu, Kana apakah kamu sedang demam?"


"Ah... aku hanya sedikit pusing dan demam biasa kamu tidak perlu terlalu memikirkannya," kata Kanaya setelah melepaskan pelukannya itu.


Ekpersi Tristan menjadi buruk,


"Apakah kamu menjadi begitu sibuk belakangan?"


"Yah, mau bagaimana lagi aku harus menyelesaikan hal hal ini dengan baik, untuk mendapatkan dukungan Kakek nantinya,"


"Tapi kamu tidak perlu sampai begitu banyak lembur dan kerja keras semacam ini,"


"Tentu saja tidak apa-apa, bukan kamu juga? Kamu juga sepertinya sibuk akhir-akhir ini sampai jarang menghubungi ku, kamu pasti sering kerja lembur juga, aku hanya tidak ingin terlihat ber malas-malasan di sini di saat kamu sedang berusaha keras untuk membuktikan dirimu pada Keluarga mu," kata Kanaya sambil tersenyum dengan wajahnya yang sedikit pucat.


Melihat senyuman dari Kekasihnya itu, hati Tristan seolah disambar petir, tiba-tiba hatinya dihantui rasa bersalah.


Ya, mengigat alasan sebenarnya dia jarang menghubungi Kanaya, bukan karena benar-benar sibuk tapi...


Karena masalah Elena...


Tristan menjadi ingat bahwa dia belakangan memiliki hubungan yang cukup baik dengan Elena, dan memiliki hari-hari santai belakagan. Yah, karena Tristan masih merasa tidak enak pernah menuduh dan memperlakukan Elena dengan buruk, dia hanya melakukannya karena rasa bersalah.


Namun sekarang ketika mengingat lagi, soal Kanaya, dan tentang bagaimana dia melanggar janjinya pada Kanaya, Tristan tiba-tiba dihantui lebih banyak rasa bersalah.


Sial, apa yang membuatnya ragu belakagan soal Elena?


Kanaya disini menunggunya, berusaha lebih keras demi dirinya dan demi masa depan mereka nanti bahkan sampai bekerja keras lembur, hingga Kanaya sakit.


Lalu apa yang dia lakukan selama ini?


Melanggar satu persatu janji yang dia buat dengan kekasihnya ini. Sudah terlalu banyak hal kebohongan dan penghianatan yang buat.


Padahal Kanaya selalu memaafkan nya dalam berbagai kesempatan, soal pernikahannya bahkan sanggup menerima hubungan tersembunyi mereka sekarang sebagai Selingkuhannya.

__ADS_1


Tidak ada seseorang yang lebih baik dan lebih mencintainya dari pada Kanaya.


Rasa bersalah semakin menghantui Tristan, namun dia masih tidak berani untuk berkata jujur.


__ADS_2