Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 24: Menyebalkan


__ADS_3

Melihat Kanaya memperlakukan dirinya dengan buruk, Daniel akhirnya berniat melepaskan tangan Kanaya dan mulai berkata dengan ringan,


"Baiklah baiklah jika kamu memang menolak Aku akan pergi, kamu lanjutkan saja makan malammu, semoga hari-harimu indah, Nona Kanaya," katanya lagi mencium tangan Kanaya, melepaskannya segera dan tersenyum pada Kanaya lalu menundukan kepalanya, seolah inisiatif untuk meminta maaf karena membuat keributan.


Kanaya memandangi tangannya jijik, namun tetap mencoba menjaga ekspresinya agar tidak terbawa emosi dirinya tidak mengerti apa maksud pria gila itu tiba-tiba.


Namun melihat gerakan itu dan pria itu segera pergi, Kanaya hanya bisa menghela nafas lega karena masalah sudah beres, Tidak ingin menambah masalah lagi dengan mulai berdebat dengannya.. Ya, Kanaya mau tidak mau berpikir jika Kakak Tertua Tristan itu aneh, sangat aneh, Kenapa dia bersikap seperti itu pada dirinya?


Namun di bandingkan rasa penasaran, Kanaya terlalu malas untuk memikirkannya. Segera kembali duduk, dan sekali lagi mulai menikmati camilan yang ada di depannya, sambil mulai menatap ke ponselnya menunggu pesannya dibalas.


Butuh waktu cukup lama sampai pesan itu, dibalas lebih dari seperempat jam, namun balasan yang ada di sana cukup membuat Kanaya terkejut.


'Kana, sebenarnya aku membutuhkan beberapa bantuan darimu,'


Setelah terdiam sesaat karena menjadi bingung dengan hal itu, Kanaya segera membalas.


'Kenapa?'


Namun, Tristan bukannya menjawab, namun malah mengatakan lokasi Kanaya dimana, kebetulan Kanaya berada tidak jauh dari lokasi Tristan, awalnya Tristan ingin segera langsung ketempat Kanaya.


Namun, Kanaya baru saja ingat jika Kakak tertua Tristan, berada di restoran yang sama akan sangat buruk dan gawat jika mereka berdua bertemu, tidak ada hal baik apalagi jika sampai dirinya dan Tristan bersama dan di ketahui orang ini, ini jelas malah menjadi hal yang bisa menjatuhkan Tristan.


'Tunggu jangan kesini, mari bertemu di Restoran di sebelahnya, di disini ada Kakakmu, Daniel,'


Tristan yang di ujung telepon, jelas segera menunjukkan ekspresi buruk ketika mendengar itu.


"Sialan, kenapa Kak Daniel disana?"

__ADS_1


Tristan selalu tidak menyukai Kakak Tertuanya itu, seseorang yang selalu membuat dirinya jadi kambing hitam sejak kecil, jika dia melakukan kesalahan pasti entah bagaimana dirinya yang disalahkan, agar membuat image Kakak tertuanya itu, tetap sempurna.


Ya, di Rumah itu tidak ada kambing hitam yang sempurna lebih dari Tristan yang saat itu pemberontakan, Kakak Kedua Tristan, cukup hebat dan sempurna untuk tidak bisa disentuh, jadi hanya Tristan akhirnya yang tersisa, yang menjadi kambing hitam.


Tidak mau terlalu memikirkannya, Tristan hanya segera menaiki mobilnya menuju ke lokasi restoran yang direkomendasikan oleh Kanaya. Yah, ada hal-hal yang dirinya lakukan, ini tidak begitu penting namun juga tidak bisa di abaikan, jujur, Tristan masih tidak tahu harus melakukan hal semacam Apa jadi Dia memutuskan untuk Meminta nasehat Kanaya.


Sesampainya di Restoran, tentu saja mereka memesan ruangan pribadi untuk mencegah orang-orang melihat mereka bersama secara tidak sengaja, hal-hal yang akan malah membuat reputasi buruk.


Setelah mengucapkan salam rindu, Kanaya segera langsung bertanya soal tujuan dari Tristan itu untuk mengajaknya bertemu.


"Kenapa kamu malah diam saja? Coba jawab apa hal yang ingin kamu katakan?"


Tristan sebenarnya tidak tahu harus memulai ini dari mana, hanya segera bertanya,


"Kanaya apakah kamu tahu tempat penjual buah yang menjual Delima Merah? Aku sudah mencari di sekitar sini namun tidak menemukan ada yang jual buah semacam itu,"


"Apa? Hal gila apa yang barusan kamu tanyakan padaku? Mana aku tahu siapa yang menjual delima merah,"


"Hah, sial aku yakin ini benar-benar aku dikerjai,"


Kanaya jelas menjadi bingung dengan kata-kata pria yang ada di hadapannya itu.


"Kenapa kamu menanyakan hal semacam itu padaku?"


Tristan terdiam sebentar seolah sedang mengumpulkan tenaganya untuk mengatakan itu.


"Ini permintaan Elena, tadi dia bilang tiba-tiba mengiginkan Delima Merah, sedang ngidam katanya,"

__ADS_1


Ekpersi Kanaya menjadi buruk ketika mendengar itu.


"Jadi kamu benar-benar berniat untuk mencarikan buah yang susah itu demi dia?"


"Bukan begitu, awalnya Aku hanya ingin mencari di toko terdekat namun toh tidak menemukannya, dan itulah kenapa Aku bertanya padamu, Apakah sebaiknya aku menuruti permintaan dia? Maksudku, Aku sebelumnya sudah berjanji untuk menemani dia saat kehamilannya dan mengurus masalah soal kehamilannya,"


Kanaya yang mendengar itu jelas ekspresinya menjadi semakin buruk.


"Sial, dia benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan aku tidak menyukai ini kamu benar-benar berniat dimanfaatkan,"


Tristan yang mendengar itu seolah sudah menduga jika Kanaya akan mengatakannya.


"Baiklah aku tidak akan menuruti permintaan dia, sudahlah seperti yang kamu kira itu tidak penting,"


"Tapi dia sedang ngidam kan? Yah sebenernya Aku kesal juga, namun coba pikir konon katanya, jika ngidam tidak di penuhi, nanti calon bayinya ketika lahir jadi suka ngiler atau ngecas, gitu. Hal-hal itu benar-benar merepotkan jika di pikirkan, nanti siapa yang repot?"


"Aku tidak berpikir jauh sampai sama,"


Kanaya sejujurnya juga merasa kesal merasa jika hal-hal ini mungkin benar-benar dimanfaatkan oleh Elena. Namun sebuah ide tiba-tiba muncul dari benak Kanaya.


Ya, Bukankah ini bisa menjadi pembuktian untuk menujukan Tristan milik siapa?


Mari antarkan saja sendiri, buah itu bersama Tristan untuk menunjukan kebersamaan mereka, agar Elena itu tahu tempatnya!


Jika Tristan hanya miliknya.


Tidak ada tempat untuk wanita lain, bahkan ketika Tristan dalam masalah, dirinya lah orang pertama yang Tristan cari dari semua orang. Kanaya benar-benar menyukai ide dalam benaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2