
Pertemuan Keluarga itu, segera berakhir dengan persetujuan Ayah Tristan untuk memberikan perusahaan cabang padanya. Dan setelah beberapa diskusi tambahan akhirnya Tristan dan Elena berencana pergi dari sana menuju kembali ke rumah mereka.
Ketika sampai di mobil, dan sudah duduk, mungkin karena rasa penasaran dia segera bertanya pada wanita yang ada di sampingnya,
"Kenapa?"
Elena yang baru saja memakai sabuk pengaman itu segera menatap heran kepada pria yang ada di sampingnya,
"Apa Yang kenapa?"
Dia terlihat menunjukkan ekspresi heran.
"Kenapa kamu mau membantu dan membelaku di depan Ayahku?"
"Karena Aku adalah Istrimu, bukankah sudah jelas? Tentu saja aku akan berada di sisimu dan membelamu."
Jawaban itu jelas terdengar tidak masuk akal untuk Tristan.
Melihat Tristan terdiam, Elena masih melanjutkan kata-katanya,
"Yah, setidaknya aku menganggapnya begitu, entah kalau kamu, Aku juga tidak tahu, namun untukku, Tristan kamu adalah Suamiku, Calon Ayah dari Anakku,"
Ketika mendengar kata-kata yang terdengar tulus itu ada sedikit kebimbangan dalam hati Tristan. Seolah-olah Dia benar-benar kehilangan kata-kata untuk menjawabnya. Setelah berpikir sejenak akhirnya dia berkata,
"Seharusnya kamu tidak perlu melakukannya, karena tidak ada keuntungan apapun yang kamu dapatkan. Aku sudah memberitahumu ini sebelumnya, Aku tidak bisa membalasnya, Aku hanya mencintai Kanaya,"
Ekpersi Elena berubah menjadi buruk ketika mendengar itu namun wanita itu mencoba untuk menormalkan ekspresinya kembali dan menenangkan diri, tidak boleh terlalu gegabah di saat-saat seperti ini.
"Tidak apa-apa, Aku tidak butuh imbalan apapun,"
"Aku benar-benar tidak mengerti,"
"Lalu, Bagaimana dengan ini? Aku akan sedikit mengambil keuntungan darimu,"
"Apa?"
"Mari makan malam bersama besok di Rumah, dan makanlah masakanku?"
Tristan yang mendengar permintaan itu segera menunjukkan ekspresi terkejutnya,
"Itu permintaan mu?"
"Ya? Bukankah ini mudah?"
Tristan segera terdiam, permintaan itu sebenarnya cukup sederhana bisa dibilang terlalu sederhana malah.
Namun hal-hal itu cukup untuk membuat Tristan menjadi binggung. Terutama karena dia mengingat tentang janji dengan Kanaya. Dia mulai memikirkan hal-hal ini dengan hati-hati.
Apa sekarang yang harus dia lakukan?
__ADS_1
Setelah kejadian sebelumnya, Tristan tahu bahwa wanita yang ada di hadapannya itu mungkin dia kira.
Permintaannya juga cukup sederhana, bukanlah sesuatu yang berlebihan...
Hanya saja...
"Tristan? Apakah kamu tidak ingin mengabulkan permintaanku yang satu ini? Apakah menurutmu ini masih permintaan yang terlalu berlebihan?"
Mendengar kata-kata itu, Akhirnya Tirstan mengambil sebuah keputusan,
"Ya, tidak apa-apa. Mari makan malam bersama."
Sepertinya tidak apa-apa?
Ini hanya satu kali pula.
Dan begitulah, dua orang itu mulai membuat janji makan malam bersama.
####
Malam itu, Tristan menatap kearah ponselnya setelah membalas pesan dari Kanaya sebelumnya. Jujur, Tristan sekarang memiliki beberapa rasa bersalah kepada kekasihnya itu karena akhirnya akan melanggar salah satu janji mereka.
Jadi, Tirstan tidak berani untuk menata ponselnya ataupun mengirimkan pesan kepada kekasihnya itu untuk sementara waktu. Bahkan sampai keesokan harinya, ketika pagi datang, Tristan cukup terkejut bahwa di meja makan sudah ada sarapan yang Elena siapkan.
"Kenapa tidak sarapan dulu? Yah, aku memang meminta makan malam namun selain makan malam Bukankah tidak apa-apa untuk sesekali sarapan bersama juga?"
"Kenapa permintaanmu semakin bertambah?"
Tristan yang tidak ingin berdebar akhirnya menurut, khusus untuk hari ini dia akan bersikap cukup baik kepada Elena, ini semua untuk sedikit membalas budi karena perbuatan baik dari wanita itu.
Setelah semua dia akhirnya bisa mengambil alih perusahaan dan setelahnya hal-hal berikutnya akan lebih mudah untuk bisa lepas dari keluarganya.
Tristan terkejut dengan nasi goreng buatan Elena, ini nasi Goreng Seafood kesukaannya.
"Apakah enak?" Tanya Elena penasaran Karena untuk pertama kalinya pria yang ada di hadapannya itu mau memasak-masakannya.
Selalu sangat sulit untuk membujuk pria itu mau memasak masakannya dia selalu membuat alasan ataupun menghindar atau bahkan sengaja memesan makanan di luar. Namun ini benar-benar hal yang baik, karena Tirstan setidaknya sudah tidak bersikap dingin lagi padanya.
"Tidak buruk," kata Tristan setelah mencicipi rasa masakan dari wanita yang ada di depannya itu. Jelas saja dia tidak berani mengatakan kebenarannya bahwa masakan Elena enak, benar-benar sesuai dengan seleranya.
Tidak, Tristan mencoba membuang jauh-jauh pikiran itu hanya segera meminum air dan memakan sedikit dari sarapannya itu tidak boleh terlalu hanyut menikmati sarapan itu.
"Baik, sampai jumpa nanti malam Apakah kamu akan pulang tepat waktu atau lembur?"
"Aku akan pulang tepat Waktu Nanti aku akan mengirimkan kamu pesan,"
"Tentu saja,"
Itu menjadi sarapan yang cukup harmonis untuk dua orang itu, Elena benar-benar cukup senang dengan hal itu.
__ADS_1
Bahkan ketika malam tiba, Elena sudah menyiapkan berbagai masakan untuk suaminya itu dan semuanya adalah sesuatu yang akan Tristan sukai, berdasarkan rekomendasi dari Ibu Tristan.
Jujur, ketika Tristan datang ke Rumah mendapatkan sambutan hangat dari Elena, terasa cukup baru, apalagi setelah dia melihat ke arah meja makan di mana Di sana berisi masakan kesukaannya.
"Apakah kamu ingin mandi dulu?"
"Ya,"
"Baiklah, aku juga masih ingin menyiapkan beberapa hal,"
"Emm, aku rasa Bukankah kamu masak terlalu banyak jika hanya untuk kita?"
"Tidak apa-apa karena aku tidak tahu bagaimana seleramu, Coba saja nanti semuanya,"
Malam itu, setelah selesai mandi, Tristan segera kemeja makan dimana Elena berada, lalu mencoba berbagai hidangan yang ada di hadapannya itu.
Selama makan malam itu Elena terus menatap Tristan membuat pria itu merasa sedikit terganggu.
"Kenapa kamu menatapku dari tadi?" Tanya Tristan yang merasa sedikit canggung.
"Aku hanya memikirkan ini pasti akan sangat menyenangkan ketika anak kita lahir nanti, kita akan makan malam bertiga, pasti itu akan menjadi suasana yang sangat baik,"
Tristan yang mendengar itu mau tidak mau mulai sedikit membayangkan hari ketika anaknya lahir dan sedikit lebih besar, mulai makan malam bersama bertiga, suasana benar-benar terasa hangat.
Tristan tidak terlalu banyak berpikir setelahnya. Ketika makan malam itu berjalan dia juga mengobrol dengan Elena, membicarakan berbagai macam hal.
Tentang jenis kelamin anak mereka nanti, sebentar lagi akan bisa diketahui saat USG berikutnya.
"Kamu ingin anak laki-laki atau perempuan?"
Tristan yang ditanya itu segera menjawab tanpa terlalu banyak berpikir,
"Anak laki-laki akan baik-baik saja,"
Tristan ingat, Kanaya selalu mengiginkan anak laki-laki, namun tepat ketika pria itu kembali mengingat wajah kekasihnya yang jauh di sana rasa bersalah segera muncul di hatinya.
Sial, kenapa dia malah makan malam dengan Elena seperti ini saat Kanaya tidak ada?
Dan bahkan memiliki percakapan semacam ini?
Belum lagi, tadi dia membayangkan apa?
Malam malam bersama bertiga dengan Elena, dia dan anak mereka?
Tidak...
Hanya ada dia dan Kanaya nantinya...
Tristan yang tiba-tiba memiliki perasaan tidak nyaman itu segera buru-buru menyelesaikan makan malamnya dan pergi dari sana.
__ADS_1
Ketika sampai di kamarnya, Tristan segera menelepon Sekertarisnya untuk memesankan sebuah tiket ke Luar Kota, meminta Sekertarisnya itu membuat beberapa alasan cuti seperti dinas di luar kota atau sesuatu.
"Aku harus bertemu Kana segera ... Aku mungkin merasa kesepian seperti ini karena sudah lama tidak melihatnya... Aku ingin membuat beberapa kejutan untuknya..."