
Ini adalah hari yang baru, namun pagi itu Elena sudah berpakaian rapi seperti berniat untuk pergi.
"Nyonya Elena mau kemana?" Tanya sang pelayan yang di tugaskan untuk merawat dan mengawasi kesehatan Elena.
"Aku hanya ingin pergi sebentar."
"Tapi Nyonya Elena, anda harus lebih banyak istirahat, mengigat kondisi kehamilan anda."
"Ini hanya keluar sebentar, kamu tidak perlu ribut-ribut begitu," kata Elena lagi dengan santai.
"Baik Nona Elena, apakah anda akan pergi dengan supir?"
"Ya, ya, suruh dia bersiap-siap, Aku akan pergi 10 menit lagi."
"Tapi sebaiknya Nyonya Elena hati-hati," kata pelayan itu mencoba untuk menasehati Nyonya rumah.
"Apa yang perlu di khawatirkan?"
Namun Elena terlihat cukup keras kepala dan tidak terlalu memperhatikan kondisinya sendiri dia hanya pergi dari sana, dan mulai menuju ke suatu tempat.
Dan tidak lama sampai Elena tiba disebuah restoran tertentu. Ini adalah tempat yang temannya, Keyla bicarakan sebelumnya, soal saudaranya Kanaya, yang akan mengadakan pertemuan membahas soal pertunangan yang akan saudaranya lakukan dalam waktu dekat itu.
"Hah, Kanaya sialan itu, dia masih bermain-main dengan Tristan padahal dia sudah mau bertunangan, aku benar-benar tidak habis pikir dengannya," guma Elena penuh dengan kemarahan.
Dia mulai melihat kearah jam tangannya, dan benar saja dia melihat mulai naik ke lantai atas, menuju ke tempat duduk yang cukup dekat dengan ruang pribadi. Dia tidak benar-benar bisa mendengarkan apa yang dibicarakan di dalam ruangan itu, Namun karena ada dinding kaca dia bisa melihat hal-hal yang ada di dalam.
Disana, ada Kanaya duduk dengan seorang Pria disampingnya, tepat disana ada juga Pria Parubaya yang sepertinya Ayah Kanaya, ada juga Kakek Kanaya, ada sepasang suami Istri disana. Terlihat sekali sedang diadakan sebuah pertemuan keluarga.
Elena mengawasi tempat itu, sambil mulai mengambil beberapa foto. Dia masih mencoba mengumpulkan beberapa bukti agar bisa dia tujukan pada Tristan. Sebelumnya, rekaman suara dan foto pernyataan cinta sebelumaya juga, pertemuan hari ini.
Namun sayangnya, ternyata pertemuan yang ada di dalam tidak berlangsung cukup lama. Elena tidak tahu kenapa Kanaya yang memiliki wajah marah itu segera keluar dari ruangan itu, disusul oleh seorang Pria yang awalnya duduk di sebelahnya.
Jika di lihat-lihat, sepertinya ada semacam pertengkaran di dalam ruangan itu yang tidak bisa Elena tahu. Namun itu tidak penting, Elena memutuskan untuk mengikuti Kanaya dan Pria itu sampai di tempat parkir.
Elena melihat bagaimana Pria itu mulai memegang tangan Kanaya. Itu adalah sebuah pemandangan yang bagus yang jelas dia foto. Elena masih tidak bisa menjadi terlalu dekat, namun segera dia dikejutkan tentang bagaimana Pria itu tiba-tiba memeluk Kanaya.
"Wow, ini benar-benar hal yang bagus. Tidak sia-sia aku datang ke sini."
Namun pelukan itu tidak berlangsung lama, karena Pria itu segera melepas pelukannya lalu pergi dari sana setelah mendapatkan beberapa dorongan dari Kanaya. Dan sekarang, Kanaya sedang berdiri sendirian di dekat tempat parkir, entah pikirannya menuju ke mana.
__ADS_1
Merasa sudah tidak ada lagi orang yang ada di sekitar Kanaya, Elena segera muncul. Dia memang cukup terkejut ketika melihat wajah Kanaya yang menagis, tapi itu tidak ada hubungannya dengannya.
Tatapan Kanaya segera bertemu dengan tatapan Elena, jelas menunjukkan ekspresi terkejut di sana.
"Kamu ... "
Kanaya jelas binggung tengah kedatangan Elena tiba-tiba, Kenapa wanita itu muncul di tempat ini?
Kanaya tiba-tiba memiliki firasat tidak enak dan benar saja, Elena segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto.
"Kanaya, Aku tahu jika kamu itu wanita tidak tahu malu, selain tidak tahu malu dan terus berhubungan dengan Suamiku Tristan, ternyata kamu juga menjalin hubungan dengan pria lain,"
Kanaya yang melihat foto itu segera menunjukkan ekspresi terkejut segera menghapus air matanya, dan mulai menarik nafas dalam dalam mencoba menormalkan ekspresinya.
Banyak hal yang terjadi hari ini yang membuat Kanaya sangat pusing. Dia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri perjodohannya, dan menetang Keluarganya. Kanaya tahu, itu semua terdengar buru-buru, namun Apa gunanya sekarang jika memikirkan soal kondisi kesehatannya?
Apa gunanya warisan itu ketika dia akan segera mati?
Tepat ketika itu, Azka malah menyatakan cintanya padanya.
Kanaya benar-benar merasa sangat rumit, tidak mengira seseorang yang dianggap sebagai kakaknya itu memiliki perasaan semacam itu padanya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Azka tahu hubungannya dengan Tristan.
Dan sekarang, Elena tiba-tiba datang?
"Apa maumu berada di sini?" Tanya Kanaya dengan ekpersi kesal.
"Hah, aku jelas di sini untuk memergokanmu sedang berselingkuh dasar wanita tidak tahu diri!"
"Siapa yang kamu bilang berselingkuh?"
"Kamu masih saja menginap setelah aku menunjukkan foto-foto ini bukan? Kenapa kamu benar-benar tidak tahu malu?"
"Kamu tidak tahu apa-apa!" Kata Kanaya lagi dengan nada marah.
"Kamu yang tidak tahu apa-apa! Apakah kamu tidak tahu, bahwa Tristan akan segera menjadi Ayah anakku? Dia suamiku, namun kamu masih saja dekat-dekat dengannya dan menjalin hubungan Apakah kamu tidak tahu malu?"
"Hah, bukannya kamu yang harusnya malu? Dari awal Tristan adalah milikku namun kamu datang tiba-tiba dalam hidupnya menjebaknya dan membuat dia terlibat dalam pernikahan paksa ini!"
Ekpersi Elena segera menujukan wajah buruk.
__ADS_1
"Kamu..."
"Apa? Yang Aku katakan salah? Tristan sendiri, yang bercerita padaku tentang segalanya, kamu yang memang dari awal menjebaknya bukannya kamu yang tidak tahu? Menggunakan trik murahan semacam itu untuk menikahi seorang pria kaya?"
Elena yang mendengar tuduhan itu tanpa segan-segan segera menampar Kanaya.
"Diam kamu!"
Kanaya yang mendapatkan tamparan itu jelas saja tidak diam saja, dan kembali menampar Elena.
"Kamu!!"
Elena jelas saja semakin marah setelah mendapatkan tamparan di bibinya dia berniat memberikan tamparan lagi namun tangannya dipegang oleh Kanaya.
"Aku merasa tidak ada gunanya berbicara dengan wanita murahan sepertimu!" Kata Kanaya menepis tangan itu dengan kasar.
"Cih, Siapa yang murahan di sini? Kamu yang mengganggu rumah tangga orang lah yang murahan! Trisha adalah Suamiku dan ayah dari Anakku!"
Kanaya yang kembali diingatkan kepada fakta itu memiliki perasaan yang tidak nyaman. Dia jelas ingat pemandangan hari itu di mana Elena dan Tristan sedang bersama-sama memilih baju bayi untuk calon anak mereka.
Benar-benar terlihat seperti keluarga yang bahagia.
"Itu karena kamu yang menjebak Tristan! Tristan adalah milikku, hatinya adalah milikku, dia hanya mencintaiku dan bukan kamu!"
"Kanaya, kamu benar-benar tidak tahu diri! Aku jelas akan menyebarkan foto-fotomu dengan pria itu kepada Tristan!"
"Kamu mencoba mengancamku sekarang? Kamu pikir aku takut? Kirim saja semuanya! Tristan lebih percaya apa yang aku katakan dari pada kata-katamu!"
Kanaya sebenarnya merasa sedikit gugup tentang foto-foto itu namun dia jelas tidak menunjukkan rasa gugupnya itu dia masih percaya bahwa pria yang dicintainya itu pasti akan lebih percaya padanya daripada foto-foto itu. Ada banyak hal yang belum dia ceritakan pada kekasihnya namun dia yakin jika kekasihnya percaya.
Kanaya mencoba untuk pergi dari tempat itu segera, terlalu malas menghadapi provokasi dari Elena.
Mana tahu tiba-tiba, Elena meraih tangannya, mencoba mencegah Kanaya untuk pergi dari situ.
"Lepaskan aku kamu menyebalkan!" Kanaya menepis tangan Elena, dan kali ini benar-benar pergi menjauh dari sana.
Elena jelas merasa kesal bagaimana dia diabaikan begitu saja. Dia jelas segera berjalan lebih cepat untuk menyusul Kanaya karena masih ada yang ingin dia bicarakan.
mana tahu karena kehamilannya itu, membuat keseimbangannya buruk hingga dia tiba-tiba terpeleset.
__ADS_1
"Akhhhhh..."