Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 43: Kesepian


__ADS_3

Pagi itu, Kanaya mulai perlahan-lahan membuka matanya, namun rasanya tubuhnya sangat berat dan seolah tidak memiliki energi benar-benar terasa sangat melelahkan, belum lagi kepalanya sedikit pusing. Kanaya lalu mulai mengambil ponselnya dan melihat waktu hari ini, jam ternyata sudah menunjukkan lebih dari pukul 07.00 lebih siang dari biasanya dia bangun. Ketika melihat jam secara kebetulan dia juga mulai melihat ke arah kalender hari ini.


"Sudah dua bulan? Ini benar-benar terasa sangat cepat," kata Kanaya sambil mengingat-ingat lagi itu juga sudah 2 bulan sejak dia bertemu dengan kekasihnya itu. Ketika seseorang sibuk terkadang waktu berjalan begitu sangat cepat, terutama untuk Kanaya yang menjadi begitu proyek di mulai. Mulai dari pengawasan semuanya harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak ada kesalahan dalam proyek itu.


Kanaya ingin mencoba bangkrut sekali lagi merasakan tubuhnya benar-benar terasa tidak nyaman terutama beberapa sendinya terasa pegal.


"Aku pikir ini sudah cukup membaik karena aku istirahat namun ternyata masih tidak nyaman,"


Sebenarnya, Kanaya memang sudah merasa tubuhnya terasa pegal-pegal dan tidak nyaman sejak kemarin, namun karena tuntutan pekerjaan dia memaksakan dirinya untuk tetap bekerja dan mengawasi proses itu berjalan ke sana kemari dan mengurus beberapa dokumen.


Dia pikir ketika kemarin pulang lalu beristirahat tubuhnya pasti akan membaik namun ternyata setelah tidur lelap semalaman bukannya tubuhnya membaik malah kondisinya semakin memburuk. Terutama rasa pusing di kepalanya.


"Sebaiknya Aku Istirahat di Rumah saja, rasanya aku benar-benar tidak sanggup untuk pergi ke manapun sekarang,"


Setelah memikirkan segalanya dia segera menelepon tempat Proyek mengabarkan bahwa dia tidak akan ke sana untuk hari ini karena sakit. Setelah melakukan itu, Kanaya segera mulai kembali tertidur di tempat tidurnya.


Mungkin karena badannya terasa tidak nyaman dia lagi-lagi ketiduran sampai waktu menjelang siang. Dia mulai terbangun karena rasa tidak nyaman di perutnya kelaparan karena tidak makan dari pagi. Namun ketika dia bangun rasa tidak nyaman di tubuhnya masih ada, namun dia tetap memaksakan bangun dan berjalan menuju ke dapur mengambil beberapa air hangat.


Di dapur tentu saja tidak ada apa-apa ataupun ada seseorang. Tiba-tiba ketika memikirkan apartemen itu begitu sepi dan hanya ada dirinya sendiri, di kota yang jauh, Kanaya menjadi ingin menagis. Ini mungkin sebuah perasaan sepi yang sudah lama tidak dia rasakan.


Entah kenapa merasa begitu sedih sekarang tidak ada seseorang di sini yang membantunya ketika dia sakit, di kota yang jauh dan sendirian dan terasa sangat menyedihkan.


"Sial, kenapa aku tiba-tiba menjadi begitu emosional seperti ini?" guma Kanaya mulai mencoba menghapus air mata yang keluar. Setelahnya dia segera meminum habis air di gelas itu dan mulai mengambil bubur instal di lemari juga mengambil beberapa obat yang ada di kotak obat.


Dia membuat dan mulai memakan bubur itu dengan tenang, namun memang dasarnya dia tidak begitu memiliki selera makan dan hanya menghabiskan setengahnya walaupun dia lapar. Mungkin karena badannya terasa tidak nyaman moodnya juga menjadi buruk. Kanaya lalu segera mengambil ponselnya berniat untuk menelepon seseorang, mungkin setelah mendengar suara orang itu duitnya akan sedikit baik dan menjadi sedikit bersemangat untuk makan?


Yang dia panggil adalah nomor Tristan, sudah cukup lama juga Kanaya tidak mendengar suara dari kekasihnya itu. Belakangan, Tristan menjadi sulit dihubungi. Namun setidaknya hari ini dia berharap bisa mendengar suara kekasihnya itu.


Sayangnya setelah beberapa menit menunggu teleponnya tidak juga diangkat, hal itu jelas membuat mood-nya semakin buruk.


"Apakah kamu benar-benar sesibuk itu sampai tidak meneleponku belakangan?"


Kanaya juga tahu, bahwa saat ini juga masa penting untuk Tristan, dia sudah dengar dari kekasihnya itu beberapa hari yang lalu tentang dia yang merencanakan untuk mengambil alih perusahaan cabang agar bisa atas namanya.


"Namun tidak bisakah kamu meneleponku bahkan walaupun satu menit saja?"


Hati Kanaya saat ini memang sedang sensitif, ditambah lagi dengan pikiran-pikiran soal kekasihnya yang tidak menghubunginya itu membuat hatinya semakin sakit, dan sekarang yang sakit tidak hanya tubuhnya dan pikirannya namun juga hatinya terasa hampa dan sepi.


Kanaya tidak mengira, berada jauh dari kekasihnya seperti ini terasa sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Aku benar-benar merindukanmu ... "


Kanaya hanya bisa mengirim sebuah pesan suara pada Kekasihnya itu, memilih segera meletakkan ponselnya dan mencoba memaksakan dirinya untuk kembali makanan. Setelah waktu yang cukup lama, akhirnya Kanaya mulai menghabiskan makanannya dan minum obat.


Sayangnya ketika dia kembali menatap ke arah ponselnya dia masih belum mendapatkan balasan pesan dari Tristan. Namun Kanaya malah mendapatkan sebuah pesan yang lain, ini dari Azka yang menanyakan kabarnya.


Tentu saja, Kanaya segera membalas pesan itu, karena Azka sudah cukup membantunya sampai sekarang, Kanaya tentu bersikap ramah padanya. Mereka sempat bertukar beberapa pesan membicarakan berbagai macam hal, sampai Kanaya akhirnya merasa sangat lelah dan ngantuk, jadi dia kembali tidur.


Dan untuk waktu yang sangat lama, hari itu Kanaya tiba-tiba dihantui dengan sebuah mimpi buruk, sebuah mimpi buruk yang sering dialami ketika masih muda. Dimana dia di tinggalkan oleh semua orang, oleh Ibunya yang sudah meninggal, oleh Ayahnya yang tidak pernah menyayanginya dan lebih memilih untuk menyayagi Keisya, dan sekarang ada sebuah mimpi buruk baru di sana.


Adegan dimana, Tristan menatap dingin kearahnya, lalu berbalik pergi bersama dengan seorang wanita yang dia rangkul, wanita itu jelas sekali Kanaya kenali, yaitu Elena. Membuat Kanaya begitu ketakutan dan sedih.


Namun dia tidak kunjung juga terbangun dari mimpi buruk itu dan malah semakin banyak mimpi buruk mendatanginya, membuat dia semakin berkeringat.


Itu adalah sebuah hari yang panjang untuk gadis itu, dan di malam hari ketika dia merasa tubuhnya cukup baik kan dia tidak bisa tidur karena tidur seharian dan akhirnya melakukan pekerjaannya yang tertunda, mengurus beberapa dokumen.


Tapi sebelum itu dia sempat melihat ke arah ponselnya dan ada juga sebuah balasan dari Tristan yang meminta maaf karena belum bisa menghubungi akhir-akhir ini.


'Love you, Kana,'


Dan ketika mendegar pesan suara itu, Kanaya setidaknya merasa cukup lega, mimpi buruk yang dia alami mungkin karena dia sakit, sampai memimpikan hal-hal yang konyol seperti itu. Kanaya masih yakin, Tristan mencintainya, kalau tidak kenapa dia berusahan ingin segera mengambil alih salah satu perusahaan keluarganya itu?


'Love you too, Tristan, Aku sungguh merindukanmu, Aku ingin bertemu denganmu,'


'Ya, Aku juga, setelah urusanku selesai aku pasti akan berkunjung ke sana,'


Setelah itu, Kanaya mulai melajutkan pekerjaanya, Tristan juga tidak membalas pesannya lagi mungkin karena kekasihnya itu sedang bekerja lembur, Kanaya tidak mempermasalahkannya.


####


Saat ini di sebuah ruang keluarga, terlihat ada beberapa orang berkumpul di sana, salah satunya adalah Tristan dan Elena, saat ini mereka berdua sedang berkumpul denga kedua orang tua Tristan. Sayangnya situasi di ruangan itu terlihat cukup mencekam itu mungkin karena percakapan antara dua pria yang ada di sana terlihat saling bertentangan.


"Ayah, Aku merasa sudah cukup dewasa dan bisa mengelola perusahaan itu sendiri kenapa tidak memberikan perusahaan itu padaku saja atas namaku?" kata Tristan pada Ayahnya itu, namun disambut dengan ekspresi yang buruk.


"Kamu sudah pernah meminta ini sebelumnya, bukankah aku juga sudah bilang aku memberimu izin penuh untuk mengelola perusahaan itu kenapa pakai ingin balik nama segala?"


"Ini jelas berbeda, ketika hal-hal ini benar-benar menjadi namaku aku akan merasa lebih lega,"


"Aku sudah bilang padamu jika aku akan menyerahkan perusahaan itu padamu namun tidak untuk sekarang,"

__ADS_1


"Apa lagi? Apa yang Ayah tunggu? Apakah ayah menutup berubah pikiran lalu menyerahkan perusahaan ini kepada salah satu saudaraku setelah aku mengembangkan perusahaan itu dengan cukup baik?"


"Tristan! Jaga bicaramu!"


"Ayah yang tidak mengerti! Aku sudah cukup dewasa, jika itu memang akan diserahkan padaku kenapa mesti menunggu nanti-nanti apa yang sebenarnya ayah tunggu?"


"Tristan kamu itu tidak megerti,"


"Apa yang Aku tidak mengerti?"


Melihat perdebatan antara dua lelaki itu dua wanita yang ada di sana segera saling menatap mencoba untuk memenangkan suaminya masing-masing.


"Tristan tenanglah dulu, aku akan coba membantumu berbicara dengan ayahmu bukankah aku sudah bilang tadi aku benar-benar ada di sisimu dan akan mendukungmu," bisik Elena pada suaminya itu, Tristan cukup terkejut dengan hal itu.


"Sayang, tenangkan diri dulu, mari coba dengar alasan yang lebih logis dari Putra kita,"


"Apa lagi yang ingin di degarkan?"


Elena segera mulai angkat bicara mencoba untuk menengahi pembicaraan antara ayah dan anak itu.


"Maaf jika aku menjadi terlibat dengan pembicaraan Ayah Mertua dan Suamiku Tristan. Sebenarnya aku cukup paham tentang permintaan Suamiku, bagaimanapun juga Tristan Suamiku memang sudah cukup dewasa dan sekarang sudah memiliki keluarga sendiri, memiliki Aku dan juga sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah, dia juga akan memiliki banyak tanggung jawab nantinya aku merasa permintaannya untuk mencoba memiliki perusahaan itu atas namanya benar-benar cukup wajar agar dia nantinya bisa lebih tenang ketika Putra kami lahir, ya semacam perasaan ingin memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan kepada putranya nanti, bukankah begitu sayang?"


Tristan yang mendengar itu benar-benar hanya merasa canggung dan mengaguk ringan,


"Benar, semacam itulah,"


"Lihat sayang, Putra kita ternyata memang sudah memiliki tanggung jawab dan mulai memikirkan soal cucu kita nantinya. Yang di katakan Elena benar, nanti jika Tristan sudah menjadi seorang ayah akankah dia ingin memiliki semacam kebanggaan yang bisa banggakan pada anaknya? Aku rasa semua Pria begitu, bukankah kamu juga begitu dulu kenapa tidak memberikannya saja pada Tristan? Toh bukannya nanti juga akan diberikan padanya?"


Ayah Tristan itu sekarang tiba-tiba terdiam mulai memikirkan soal perkataan menantunya itu dan Istrinya, dan sebenarnya alasan itu cukup logis juga, tentu karena dia juga seorang ayah sedikit mengerti perasaan ingin memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan kepada keluarganya mungkin memiliki perusahaan itu adalah cara putranya untuk bisa memiliki kebanggaan yang bisa dia tunjukkan pada keluarga kecilnya?


"Hah, harusnya kamu mengatakan alasan itu lebih jelas dari awal, Tristan. Jadi kita tidak akan berdebat panjang seperti ini, karena itu Demi Istrimu dan calon cucuku nanti, Baiklah aku akan menyetujui usulanmu. Besok pergilah ke pengacara dan minta lah untuk mengurus balik nama itu,"


Tristan tentu menjadi terkejut dengan keputusan ayahnya itu, tentu saja dia merasa sangat senang karena rencananya berhasil. Dia sejujurnya tidak mengira jika ayahnya akan tiba tiba langsung setuju seperti itu, dia pikir itu akan butuh waktu lama untuk membujuk ayahnya. Tristan diam-diam sedikit melirik ke arah wanita yang ada di sampingnya yang saat ini tersenyum padanya.


Ini...


Tristan benar-benar merasa cukup heran dengan Elena...


Kenapa dia mau membantunya?

__ADS_1


__ADS_2