
Butuh beberapa saat untuk Kanaya bisa menenangkan dirinya dari pemandangan yang dilihatnya itu. Tentu saja hatinya masih sangat sakit ketika melihat Tristan bersama dengan wanita lainnya, terutama dengan Elena.
Seolah-olah janji yang mereka buat sebelumnya adalah sebuah ilusi. Kanaya menatap cincin di tangannya, sambil mengingat hari indah di mana Tristan melamarnya.
Namun ketika melihat Tristan saat ini terlihat sangat bahagia dengan istrinya dan calon anak mereka itu hatinya masih tetap saja sakit. Perasaan seperti ditusuk-tusuk oleh jarum.
Kanaya jadi teringat soal penyakitnya, ada juga salah satu alasan dimana dia tidak ingin Mengikuti pengobatan macam-macam seperti Kemoterapi ataupun Operasi, efek sampingnya salah satunya menjadi sulit memiliki seorang anak.
Kanaya mulai memikirkan, apakah dia nantinya jika bersama dengan Tristan akan bisa membuat Pria itt bahagia?
Bahkan jika nanti dia sembuh...
Lalu bagaimana jika tidak sembuh?
Dia hanya bisa membuat pria yang paling dicintainya itu merasakan kesedihan seumur hidupnya.
Namun bukan berati, Kanaya memutuskan untuk menyerah begitu saja di tempat ini. Dia masih mengiginkan Tristan. Setidaknya, saat ini dia masih memiliki Tristan.
Jadi setelah memantapkan hatinya, Kanaya mulai menghapus air matanya, dan mulai berjalan menuju ke arah keduanya. Sambil berpura-pura memasang wajah tersenyum, Kanaya mendekati Tristan dan merangkulnya.
"Hallo, Sayang."
Sapaan Kanaya tentu saja membuat Tristan kaget, ini jelas sebuah kejutan tidak terduga untuknya, melihat Kanaya disini. Tentu saja, yang terkejut tidak hanya Tristan namun juga Elena yang sekarang ekspresinya menjadi buruk dan terlihat pucat.
"Kana?"
Kanaya memilih untuk mengabaikan Elena dan hanya berbicara dengan Tristan.
"Aku di sini untuk memberikan kejutan padamu, apakah kamu terkejut?"
Tristan segera menatap senyuman Kanaya yang terlihat sekali di buat-buat, benar-benar menunjukkan sisi kemarahan. Disana, Tristan juga menatap kearah Elena yang menujukan ekpersi pucat.
Jujur, Tristan tidak tahu bagaimana untuk mengatasi hal-hal ini. Sebenarnya dia tidak ingin dua wanita itu untuk bertemu satu sama lain.
Dia sedikit tidak enak untuk Elena, juga dia tidak ingin Kanaya mengingat hal-hal sedih setelahnya.
Namun sekarang pertemuan keduanya tidak bisa dihindari.
"Aku-- Aku hanya ... "
Tristan terlihat gugup ingin menjelaskan seperti apa.
Kanaya segera memotong ucapan itu.
"Cukup terkejut melihat kalian berdua bersama, wow kalian berdua terlihat sangat menikmati sesi belanja ini?"
Kanaya jelas melirik kearah Elena tiba-tiba. Elena memilih diam, jika dia berkata macam-macam, nanti malah Tristan akan marah padanya.
"Kamu jangan salah paham, Kanaya. Sungguh, Aku hanya menemani Elena membeli perlengkapan Bayi, kamu tahu sebentar lagi anak itu lahir, dan ... Mau bagaimanapun, bukankan perlengkapan akan dibutuhkan untuk bayi itu nanti?"
"Kenapa kamu harus ikut?" Kata Kanaya lagi.
Namun bukan Tristan yang menjawab melainkan Elena.
"Tentu saja dia harus ikut karena dia adalah Ayah dari anak ini."
__ADS_1
Ekpersi Kanaya berubah menjadi kemarahan,menilai bahwa mungkin Elena sengaja memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati dan mencoba merayu Tristan. Namun karena dia sudah di sini sekarang jelas karena ya tidak akan membiarkannya.
"Jadi Tristan, bagaimana jika kamu sekarang Mecari perlengkapan denganku saja? Aku rasa sebenarnya tidak masalah Siapa yang membeli perlengkapannya bukan?"
"Ini adalah calon anak kami, Nona Kanaya tidak perlu merepotkan diri untuk membeli perlengkapannya, takut itu membuang-buang waktu berharga Nona, Aku dan Mas Tristan saja cukup,"
Kanaya segera menatap tajam ke arah Elena.
"Aku tidak akan repot, lagipula dimana depan anak itu..."
Kanaya belum menyelesaikan kata-katanya namun sudah dipotong oleh Tristan.
"Kanaya, mari Aku akan pergi bersama mu setelah ini, Aku akan mengantar Elena ke Mobil dulu oke?"
Tristan terlihat ingin segera menghindari situasi yang berbahaya segera menarik tangan Elena, ingin membawa dia pergi segera. Dari sana, Tristan akhirnya menyadari juga tatapan tajam Kanaya dimana tangannya dan Elena bersentuhan.
Tristan buru-buru melepaskan tangannya dan berkata pada Elena.
"Elena, pulanglah aku akan mengantarkanmu ke taksi. Aku akan memesan satu untukmu, Mari kita berbelanja Lain kali saja."
"Mas Tristan, Tapi ini semua sangat penting untuk membeli perlengkapannya!"
"Elena, ini bisa lain waktu cobalah mengerti sedikit."
"Apa! Aku hanya meminta hal-hal sederhana untuk menemaniku beli hal-hal ini kenapa kamu malah marah sekarang dan minta aku mengerti? Apakah aku kurang mengerti untukmu?"
Tristan juga segera menunjukkan ekspresi tidak nyaman, namun dia kembali melirik kearah Kanaya yang masih menatapnya dengan ekspresi kesal.
"Elena, nanti lain waktu saja oke?"
Elena lalu mulai memikirkan beberapa rencana tambahan untuk setidaknya kali ini bisa membawa Tristan pergi.
"Baiklah jika itu yang kamu mau. Aku akan pergi, mari lain waktu saja."
Tatapan Tristan lalu menatap kearah Kanaya, mencoba mencari pengertiannya.
"Kana, Kamu tunggu di cafe sebelah sana aku nanti akan segera kembali."
Kanaya tidak mengatakan apa-apa hanya mengangguk setuju.
Dan disanalah, semua rencana Elena mulai berjalan, dia memastikan masih ada di jarak pandang Kanaya.
"Awww... Mas Tristan perutku sepertinya sedikit sakit..."
Elena berpura-pura untuk memegangi perutnya itu. Tristan tentu saja segera menunjukkan ekspresi panik.
"Kamu... Bagian mana yang sakit?"
"Perutku, bagian ini... Astaga, tiba-tiba saja menyakitkan aku juga tidak tahu kenapa..."
"Bukankah kita baru saja Periksa?
"Mungkin... Mungkin karena efek kelelahan habis belanja. Ukhh, ini sakit sekali..."
Elena kali ini berpura-pura hampir tidak bisa berjalan, dan merangkul Tristan.
__ADS_1
"Elena, tunggu sepertinya kita perlu ke Rumah Sakit..."
"Aku takut jika sendirian kesana, maukah kamu menemaniku?"
Tristan segera menunjukkan ekspresi ragu di sana.
"Mas Tristan, ini bukan demi aku namun demi calon Putramu, apakah kamu tidak peduli padanya?"
Ekpersi Tristan segera bertambah rumit. Namun akhirnya segera mengambil keputusan, dia yakin Kanaya akan mengerti.
Jadi pada akhirnya, Tristan segera mengirimkan pesan pada Kanaya bahwa dia ada urusan sebentar dan harus mengantarkan Elena ke Dokter, pertemuan mereka di tunda.
Kanaya yang melihat adegan antara keduanya, juga melihat pesan dari Tristan, hatinya jelas terasa sakit. Disana, dia juga sempat melihat bagaimana Elena yang berada dalam rangkulan Tristan itu menunjukkan sebuah senyum kemenangan dan senyum mengajak ke arah Kanaya.
Kanaya menjadi kesal soal ini..
"Sialan! Wanita murahan itu!"
Kanaya marah, namun mencoba untuk menahan dirinya. Dia pasti akan memberikan peringatan pada Elena lain waktu.
Karena marah, Kanaya akhirnya memutuskan untuk pulang juga.
Hanya saja, pada akhirnya hari itu dia tidak bertemu dengan Tristan, Tristan sibuk di Rumah Sakit dengan Elena.
Kanaya mencoba untuk mengerti, namun tetap saja, sekarang dia hanya menagis di kamarnya, memikirkan tentang semua yang terjadi.
"Apakah sekarang Aku bukan Prioritasnya?"
Kanaya ingat janji Tristan dulu, bahwa Kanaya akan tetap menjadi Prioritasnya dan menjadi nomor satu untuknya...
Namun sekarang...
Kanaya sekarang mulai merasakan rasa pusing di kepalanya. Tepat ketika itu, dia merasakan ada sesuatu yang kelar dari hidungnya. Dia pikir, itu efek karena dia menangis jadi dia mencoba membersihkan dengan sarung tangan.
Mana tahu, ada noda merah di sarung tangan itu...
Kanaya juga menyadari, semakin hari kondisi tubuhnya terlihat semakin buruk. Mungkin karena suasana hatinya buruk, semua menjadi semakin buruk.
Ini membuat Kanaya berpikir, bahwa lebih baik ada di Luar Kota, setidaknya dia tidak perlu tahu atau tidak perlu melihat Elena dan Tristan, atau tidak perlu tahu apa-apa sekalian.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Ada nada frustasi dari kata-kata itu.
Ketika Kanaya sedang meratapi nasipnya itu, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Awalnya Dia mengira bahwa itu mungkin Tristan.
Namun sebuah nama mengejutkan segera muncul di ponselnya.
"Ayah?"
Kanaya tentu saja menjadi ragu ketika melihat nomor ayahnya menelepon.
Apakah dia tidak salah lihat?
Namun Kanaya tidak mau terlalu berharap mungkin saja ini hanya membicarakan masalah kantor, atau masalah laporan setelah Proyek di Luar Kota itu.
__ADS_1
Kanaya sejujurnya tidak ingin mengangkat telepon itu tapi...