Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 16: Bagaimana denganmu?


__ADS_3

Kanaya yang tiba-tiba mendapat pertanyaan semacam itu segera menatap Tristan dengan ekspresi heran.


"Apa maksudmu?"


"Kanaya, jangan aku mengulangi pertanyaanku, Bukankah kamu bersama dengan seorang pria ketika ada di restoran ini? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," kata Tristan dengan ekpersi tidak senang di wajahnya.


Kanaya yang melihat itu segera merubah ekspresinya.


"Apa? Ini hanya Kak Azka, teman lamaku, kamu ingat kan? Kakak tingkat kita ketika di SMA," kata Kanaya dengan nada santai.


Tristan lalu segera menggali ingatannya memikirkan di mana Dia pernah melihat wajah pria yang bersama dengan Kanaya.


Lalu, Tristan segera ingat siapa Azka ini.


Ini adalah sahabat kecil Kanaya, dan cukup dekat dengannya, seseorang yang cukup cukup populer di kalangan siswi-siswi ketika mereka masih SMA.


Azka adalah gambaran dari seorang pria yang cukup sempurna, pintar, dia adalah siswa kesayangan para guru karena rankingnya yang bagus dan segudang prestasi yang dia miliki.


Dia juga tampan, dan hebat dalam olahraga, tidak perlu ditanya soal latar belakang Keluarganya, yang merupakan Tuan Muda pertama dari Keluarga Konglomerat Kaya Raya, calon Sang Pewaris Bisnis Keluarga. Belum lagi, sikapnya yang baik dan ramah membuat dia disukai semua orang.


Azka seorang pria sempurna yang selalu berada di samping Kanaya.


Ini juga yang membuat Tristan merasa sangat rendah diri dulu, ketika berhadapan dengan Azka, karena dirinya tidak sepintar itu, dan saat SMA Tristan hanyalah berandal sekolah.


Itu juga membuat Tristan benci dengan Azka ini, seolah mengatakan begitu banyak jarak antara dirinya dan Kanaya, karena Kanaya yang cantik, pintar dan populer itu sangat serasi dengan seseorang seperti Azka.


"Azka Kakak tingkat kita dulu? Aku pikir kamu bilang dulu dia Pergi ke Luar Negeri dan sudah lama tidak pulang,"


"Itu memang benar dia baru pulang hari ini, aku juga cukup terkejut karena aku juga baru di beritahu kemarin,"


Tristan yang mendengar itu, segera menunjukkan ekspresi tidak suka dan berkata,


"Kenapa kamu tidak bilang padaku jika dia pulang dan kamu ingin bertemu dengannya?"


Kanaya segera menunjukkan ekspresi heran dan bertanya,


"Apakah sekarang aku harus lapor tentang semua kegiatan yang aku lakukan padamu atau dengan siapa aku bertemu?"

__ADS_1


"Bukan seperti itu... Hanya..."


"Hanya apa? Kamu sendiri, kamu juga tidak lapor padaku bukan soal kamu bertemu Elena dulu? Dan bagaimana kalian... Aku pikir kalau aku tidak datang ke acara itu kamu tidak akan pernah memberitahuku bukan?"


Tristan segera menunjukkan ekspresi sedih ketika gadis yang ada di hadapannya mengatakan itu.


"Bukan seperti itu,"


"Kamu hanya membuat alasan Aku bahkan tidak bertanya-tanya padamu Apakah kamu pulang ke rumah istrimu itu atau tidak ataukah kamu menghabiskan waktu dengannya aku tidak menanyakan itu setiap waktu padamu jadi kenapa kamu ingin tahu sekali Aku bertemu dengan siapa? Apakah kamu tidak memiliki kepercayaan padaku?"


Tristan yang mendengar itu, segera merasa hatinya tidak nyaman.


Itu benar, Kanaya selama ini cukup toleran, soal Pernikahannya dan hal-hal itu, Kanaya juga tidak meminta terlalu banyak atau sampai mengawasi dirinya segitunya itu karena Gadis itu memiliki kepercayaan pada dirinya.


Tristan yang merasa bersalah, lalu segera menarik Kanaya dalam pelukannya.


"Aku minta maaf hanya saja..."


Disana, Tristan bisa mencium aroma parfum dari seorang Pria.


Perasaan tidak nyaman memasuki hatinya.


"Lalu bagaimana denganku? menurutmu aku tidak cemburu ketika kamu bersama dengan wanita lain hanya memikirkan kamu bahkan sampai tidur dengannya dan menikah dengannya Bagaimana menurutku perasaanku?"


Tristan segera mempererat pelukannya pada Kanaya.


"Aku benar-benar minta maaf, Kana... Aku minta maaf,"


"Baiklah aku akan memaafkanmu asal kamu Jangan pernah bertanya atau meragukan cintaku lagi, atau berpikir macam-macam soal Aku,"


"Iya, Kana Aku tidak akan seperti itu, aku akan selalu mempercayaimu, wanita yang aku cintai bukanlah seorang wanita semacam itu,"


Dua orang itu berpelukan di lorong yang sepi itu, dan berikutnya mereka berciuman dengan interes, untuk melampiaskan rasa rindu.


Sampai beberapa saat, Kanaya melepaskan pelukan dan ciuman itu.


"Aku rasa aku harus kembali akan sangat aneh jika aku ke kamar mandi terlalu lama,"

__ADS_1


Tristan yang mendengar itu segera menunjukkan wajah cemberut sambil berkata,


"Namun aku masih sangat merindukanmu dan ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu,"


"Tentu saja, nanti ada waktunya oke? Setelah ini, mari habiskan waktu bersama," kata Kanaya sambil mencium pipi Tristan.


"Baiklah,"


Terlihat mereka akan berpisah, namun Tirstan segera kembali menarik Kanaya.


"Apa lagi?"


"Kalung yang kamu pakai, aku pikir aku belum pernah melihatnya,"


"Ah? Apakah indah? Ini hadiah dari Kak Azka, Aku benar-benar menyukai ini, Kak Azka benar-benar tahu seleraku dengan baik,"


Tristan menatap kalung liontin safir di leher Kanaya, ekpersinya semakin gelap.


Ya, Tristan percaya pada Kanaya namun tidak dengan Azka.


"Tidakkah terlalu berlebihan memberikan hadiah semacam itu? Hanya untuk teman lama?"


"Apa maksudmu?"


"Maksudku, bagaimana jika Kak Azka menyukaimu?"


Kanaya yang mendengar itu hanya menghela nafas, dan berkata dengan malas,


"Astaga hubungan kami tidak semacam itu kamu tahu?"


"Oke, oke, aku mengerti hanya kamu jangan terlalu dekat oke? Sekarang kamu punya Kekasih,"


"Iya, Tristan sayangku, bye bye,"


Kanaya segera melambaikan tangannya dan pergi dari sana.


Sedangkan Tristan, memutuskan untuk pergi juga, berniat pergi ke toko perhiasan.

__ADS_1


Tristan merasa tidak ingin kalah dari Azka dengan memberikan hadiah pada Kanaya.


__ADS_2