Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 50: Janji


__ADS_3

Saat ini, disebuah ruangan, terlihat Kanaya sedang duduk disana dengan ekspresi sedih dan keputusasaan di wajahnya.


"Kanaya, kamu minumlah ini dulu untuk sedikit menenangkan diri," kata Azka sambil memberikan secangkir coklat hangat pada Kanaya yang ada didepannya itu. Azka tahu, itu adalah salah satu minuman favorit dari gadis yang ada di depannya itu.


Kanaya, yang saat ini masih tenggelam dalam pikirannya itu setelah tahu tentang penyakit yang dideritanya segera tersadar mendengar suara Azka. Dia segera mengambil minuman hangat itu, menyesapnya. Kemudian, ketika minuman itu memasuki mulutnya, rasa manis dan sedikit pahit, mulai terasa dan entah kenapa hatinya juga Mulai menghangat dan sedikit tenang setelah meminum nya.


"Terimakasih Kak Azka,"


"Aku rasa sekarang kamu sudah sedikit baikan?"


Namun Kanaya yang ditanya itu segera kembali menunduk masih tidak mengatakan apa-apa.


"Kanaya, kamu selalu bisa bercerita apapun padaku,"


Kanaya segera menjadi diam setelah mendengar kata-kata itu bingung, apakah sebaiknya bercerita atau tidak namun saat ini jujur dia ingin sedikit bisa mengurangi beban pikirannya. Namun hal ini bahkan belum diberitahu pada siapapun termasuk Tristan orang yang paling dekat dengannya jadi Apakah tidak apa-apa untuk mengatakannya pada Kak Azka?


Kanaya segera memasuki dalam dirinya ketika memikirkan ini. Namun justru karena hal ini sangat penting, dan juga merupakan informasi yang tidak cukup baik, menjadi alasan untuk Kanaya masih merahasiakannya dari Tristan, jujur, Kanaya sangat tidak ingin membuat kekasihnya itu menjadi sedih.


Terutama, saat ini merupakan saat-saat yang paling penting untuk Tristan yang baru saja mengambil alih perusahaannya masih tahap untuk menstabilkannya jika sampai dia mendengar kabar ini konsentrasinya Mungkin saja akan terganggu, dan hal-hal bisa berantakan.


"Kanaya, apakah ini soal Tes Kesehatan mu?" Tanya Azka lagi, yang saat ini penuh dengan ekspresi kecemasan Mungkin dia juga sedikit menduga setelah mendengar kata-kata Kanaya soal gejalanya tadi.


Kanaya yang lagi-lagi mendengar pertanyaan itu segera mengangkat kepalanya lalu menatap pria yang ada di depannya itu. Kak Azka adalah seorang Dokter, mungkin tidak bisa menyembunyikan hal-hal ini dari deteksi orang itu?


Terutama karena Azka juga bekerja di rumah sakit ini. Jadi Setelah begitu banyak pertimbangan, Kanaya akhirnya memutuskan.


"Aku terkena Leukemia."


Azka yang mendengar itu, wajahnya segera menjadi pucat, lalu mulai memeluk Kanaya lagi, mencoba untuk memberikan kekuatan pada gadis itu.


"Kanaya, kamu jangan takut ... Aku tidak tahu apa yang Dokter katakan padamu, namun percayalah padaku, Kamu pasti akan sembuh, Di Jaman sekarang, pengobatan sudah lebih maju daripada dulu, Aku pasti akan mencoba mencari cara agar bisa membantumu, jadi Kamu jangan sedih dan menjadi putus asa seperti ini oke?"

__ADS_1


Kanaya yang mendengar kata-kata penenang itu tiba-tiba menjadi kembali menagis, mungkin karena tersentuh dengan kata-katanya.


"Aku sangat takut ..."


"Kanaya, yang harus kamu lakukan adalah tetap bersemangat. Percayalah, Aku pasti akan menemukan Dokter terbaik yang bisa menyembuhkan mu, Aku memiliki begitu banyak kenalan orang-orang hebat di Luar sana, jadi kamu jangan takut oke?"


Kanaya masih diam, sejujurnya saat ini dia benar-benar masih takut dan terlalu syok, benar-benar tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar kata-kata dokter sebelumaya.


"Tapi, Kata Dokter ini sudah cukup parah, ini mungkin karena Aku ceroboh dan teledor, tidak memperhitungkan kesehatanku sendiri, padahal Aku tahu, dulu Ibuku juga pernah mengalami penyakit ini, Aku takut ..."


Azka tentu saja tahu tentang kisah masa lalu dari gadis itu.


"Kanaya, tatap mataku ... Aku akan menemanimu untuk melewati semua ini, jangan takut, percayalah semuanya itu masih ada harapan, kamu tidak akan berakhir seperti itu," kata Azka sambil mengarahkan wajah Kanaya untuk menatapnya.


Kanaya saat ini, memiliki wajah yang pucat dan mata yang lebam karena terlalu banyak menagis. Kondisi itu membuat hati Azka terasa lebih sakit.


"Tapi, Aku benar-benar tidak ingin membuat semua orang repot dan terbebani karena Aku,"


"Kanaya, tidak akan ada orang yang repot atau terbebani karenamu,"


"Kanaya, bukankah dulu Aku sudah pernah bilang? Alasan kenapa Aku ingin menjadi Dokter? Aku ingin menyembuhkan mu,"


Kanaya ketika mendengar pertanyaan itu segera mulai teringat dengan kenangan masa lalunya. Itu mungkin sebuah kenangan jauh ketika mereka masih cukup muda, apakah sekitar saat Kanaya masih sering keluar masuk rumah sakit?


Sekitar berumur tujuh atau delapan tahun?


Saat itu, Kanaya yang memiliki kondisi kesehatan yang buruk sering keluar masuk rumah sakit. Azka yang kebetulan tinggal tidak jauh dari Rumah lama Kanaya, sering berkunjung ke Rumah Sakit melihat keadaan Kanaya. Menemani Kanaya bermain.


Sampai suatu hari, ketika Kanaya menjadi sangat sedih karena harus ada di Rumah Sakit, dan ketakutan, terutama setelah mendengarkan kata-kata buruk Ayahnya, soal Kanaya yang hanya merepotkan dan penyakitan.


'Kanaya! Kamu pasti akan sembuh!'

__ADS_1


'Kenapa kamu begitu yakin?'


'Karena aku yakin saja,'


'Astaga, Alasan apa itu?'


'Tapi tenang saja, bahkan walaupun saat ini masih belum sembuh, Aku pasti akan menyembuhkanmu!'


'Bagaimana kamu menyembuhkanmu?'


'Aku akan menjadi seorang Dokter, sehingga bisa menyembuhkan semua orang! Sehingga bisa menyembuhkan mu!'


'Apakah itu benar?'


'Ya, tentu saja! Ini adalah sebuah janji! Aku akan menjadi Dokter yang hebat dimasa depan! Sehingga apapun masalahmu, Aku akan menyembuhkannya! Kamu tidak akan sakit apapun ataupun masuk Rumah Sakit lagi!'


Itu hanyalah kata-kata dari seorang anak kecil, tentu Kanaya kecil juga hanya mengagap nya itu sebagai sebuah lelucon. Namun sekarang, ketika kembali mendengar kata-kata itu dari pria yang ada di hadapannya itu, Kanaya tiba-tiba menjadi sangat kaget.


Dia tidak akan pernah mengira jika lelucon kecil, tidak atau lebih tepatnya janji masa kecil itu benar-benar dianggap begitu serius oleh Pria yang ada dihadapannya ini.


Berbeda dari anak kecil yang saat itu tidak berdaya, Pria yang ada dihadapannya ini sekarang adalah seorang Dokter yang hebat, seseorang yang benar-benar saat ini hampir mengapai mimpinya itu.


"Kak Azka kamu ... "


"Stttt, kamu tidak perlu mengatakan apapun, aku juga melakukan semua ini tidak hanya kamu namun juga demi mimpiku sendiri, sejujurnya aku juga menikmati bisa menyembuhkan orang-orang, kamu juga akan menjadi salah satunya," kata Azka sambil tersenyum, penuh dengan keyakinan di dalamnya.


Entah kenapa, Kanaya yang melihat senyuman itu, hatinya terasa hangat.


Apakah masih ada harapan?


Kanaya benar-benar sangat senang memiliki Azka ada disini sekarang, benar-benar bisa membuat perasaannya yang saat ini penuh keputusasaan menjadi sedikit lebih membaik, dan mulai berharap.

__ADS_1


Apakah akan ini baik-baik saja?


"Ini akan baik-baik, saja, Kanaya," kata Azka lagi, sambil kembali memeluk Kanaya, mencoba sekali lagi menghibur gadis yang ada dalam pelukannya itu, gadis yang paling dia cintai.


__ADS_2