
Saat ini disebuah bandara, disalah satu kursi tunggu disana, Kanaya sedang mengobrol dengan Azka. Mereka pertama-tama menanyakan kabar satu sama lain dan kegiatan belakangan yang mereka lakukan.
Sampai sebuah topik bahasan yang membuat Kanaya terganggu segera di ungkapkan pada Azka.
"Kak Azka tahu tidak? Masa Kakekku berencana menjodohkanku untuk keperluan Bisnis,"
Azka yang mendengar hal itu jelas merasa tidak senang.
"Apa? Perjodohan Bisnis bagaimana bisa di zaman semacam ini masih ada hal-hal kuno semacam itu?"
"Benar kan? Dan Apakah Kakak tahu siapa orang yang dijodohkan olehku itu?"
Azka yang mendengar pertanyaan itu segera menunjukkan ekspresi bingung dan mulai bertanya,
"Siapa? Apakah itu seseorang yang aku kenal?"
Kanaya segera menghela nafas seolah menunjukkan ekspresi benar-benar tidak senang lalu segera menyebut nama adik Azka itu.
"Ini Alvaro, adik Kak Azka sepertinya Orang Tuanya Kak Azka membuat semacam perjanjian dengan Kakekku, untuk rencana Merger Perusahaan dengan membuat kami berdua di jodohkan,"
Azka yang mendengar itu segera menunjukkan ekspresi kesal dan kemarahan karena tidak menerima soal hal-hal itu.
"Apa? Orang tuaku yang merencanakan semua itu? Astaga ini pasti rencana ayah dia benar-benar tidak berubah dan hanya selalu mementingkan urusan bisnis daripada memikirkan perasaan anak-anaknya,"
"Dan Apakah kamu tahu apa yang membuatku paling kesal?"
"Apa?"
"Ini, Alvaro setuju untuk dijodohkan denganku dan dia berniat untuk tidak ingin membatalkan Perjodohan ini hanya memikirkannya saja membuatku kesal, apakah Kak Azka tidak coba berbicara dengannya?"
Azka yang mendengar hal itu ekspresinya semakin buruk, dia dan adiknya memang tidak memiliki hubungan yang baik sampai ada di mana mereka bisa saling menasehati atau berbicara semacam itu tentang hal-hal ini.
"Kamu juga tahu seberapa buruk hubunganku dengan Alvaro, namun aku akan mencoba berbicara dengan orang tuaku Untuk membatalkan Perjodohan kalian,"
Kanaya mungkin menjadi sangat senang, Kanaya segera memeluk Azka dengan gembira.
"Terimakasih Kak Azka, Kakak adalah yang terbaik!!"
Azka yang tiba-tiba mendapatkan pelukan itu merasa jantungnya baru saja hampir copot.
Kanaya...
Kanaya ini benar-benar tidak berubah masih saja seperti ini, kadang bisa bersikap begitu intim, dan tidak mengagap dirinya sebagai seorang Pria.
Kanaya mungkin menyadari bagaimana Azka tiba-tiba diam, dan sadar dengan tindakan Impulsifnya itu, segera menjaga jarak mereka dan berkata dengan malu,
__ADS_1
"Maaf aku hanya sedikit terlalu bersemangat, Kakak tahu betapa aku tidak menyukai Perjodohan itu,"
Azka yang melihat ekspresi malu-malu itu hanya segera kembali mengelus rambut Kanaya dan tersenyum,
"Tentu tentu tidak masalah sama sekali aku tidak keberatan,"
"Tapi aku keberatan Bagaimana kamu dari dulu sangat suka menyentuh rambutku seperti itu, Apakah itu terlihat menyenangkan?"
Azka yang mendengar itu segera tertawa lalu membuat rambut Kanaya menjadi berantakan.
"Ya, ini benar-benar cukup menyenangkan,"
Kanaya segera menujukan ekspresi cemberutnya, lalu menyingkirkan tangan Azka.
"Jangan membuat rambutku berantakan seperti itu Apakah kakak tidak tahu aku sudah repot-repot pergi ke salon untuk menata rambutku,"
"Wow, sekarang kamu benar-benar sudah peduli dengan hal-hal semacam itu sampai repot-repot ke salon? Kamu memang sudah tumbuh dewasa,"
"Jangan berkata seolah aku ini anak kecil atau sesuatu,"
Dua orang itu lalu hanya tertawa riang, dan kemudian setelah beberapa percakapan lagi Mereka pergi dari sana berencana untuk makan siang bersama.
Hari itu adalah akhir pekan setelah semua, dan Kanaya memiliki hari libur yang langka.
####
Jadi terpaksa Tristan pulang ke Rumah dimana ada Elena disana, namun tentu saja mereka berdua ada di kamar yang terpisah.
Tristan yang merasa haus segera keluar dari kamarnya dan menuju dapur.
Yang mengejutkan, disana sudah ada Elena yang saat ini sedang memasak, mungkin karena aroma masakan itu sangat harum dan Tristan lapar, Tristan tiba-tiba ingin makan.
"Kamu sudah bangun? aku kebetulan baru saja memasak beberapa hal kamu bisa mencicipinya jika ingin," kata Elena sambil tersenyum.
Tristan lalu segera menahan dirinya, dan tersadar, ingat kata-kata Kanaya jika dirinya tidak bisa memakan atau meminum apapun hal-hal yang dibuat oleh Elena.
"Tidak perlu repot-repot aku ada acara lain pagi ini dan akan sarapan di luar,"
Tentu saja itu hanya alasan, Tristan memiliki jadwal kosong hari itu dan berencana untuk menghabiskan hari itu bersama Kanaya.
Mungkin nanti dirinya akan ke Apartemen Kanaya dan membawakan sarapan?
Itu hal-hal yang bagus, namun ini sudah cukup siang seharusnya Kanaya sudah sarapan dari tadi.
Mungkin nanti janji bertemu di luar saja?
__ADS_1
"Tapi, Aku sudah memasak, tidakkah kamu ingin mencobanya sedikit?" Kata Elena dengan ekpersi kecewa.
"Siapa memang yang menyuruhmu memasak? Itu salahmu sendiri yang membuat dirimu sendiri repot," kata Tristan lalu segera pergi dari sana setelah mengabil satu gelas air.
Tristan lalu segera mengirimkan pesan pada Kanaya, namun bahkan sampai Tristan selesai sarapan di Luar, Kanaya tidak juga membalas pesannya.
Tristan mungkin sangat bosan seharian, karena Kanaya tidak membalas pesannya.
Sampai kemudian, Tristan akhirnya memutuskan untuk pergi ke salah satu restoran favorit Kanaya, sepertinya membawakan makan siang untuknya adalah hal yang baik.
Mana tahu, ketika Tristan ke Restoran itu, Tristan melihat wajah yang familiar, yaitu Kanaya sedang bersama seorang Pria.
Ekspresi Tristan segera menjadi buruk ketika melihat itu.
Apa-apaan itu Kanaya?
Degan siapa dia?
Apakah Kanaya kesal dan ingin membuat dirinya cemburu?
Sial, ini jelas bukan merupakan sesuatu yang baik.
Tristan lalu mulai mencoba mengenali Pria yang di ajak bicara Kanaya.
Wajah familiar itu, seperti pernah melihatnya di suatu tempat?
Namun Tristan terlalu malas untuk memikirkannya karena hatinya sudah diliputi dengan kemarahan.
Dia segera menelepon nomor Kanaya, namun tidak diangkat.
Jadi, Tristan segera memanggil nomor utama Kanaya, dan sekarang melihat bagaimana Kanaya menatap ponselnya, dan terlihat meminta ijin pergi dan menuju ke kamar mandi, sepertinya ingin mencoba mengangkat telepon.
Tristan melihat itu segera mengikuti Kanaya.
"Kenapa kamu menelepon ke nomor utamaku?" Kata Kanaya dengan ekpersi kesal begitu mengangkat telepon itu.
Tristan, yang mendengar suara sebal itu hanya memiliki perasaan tidak nyaman.
Ini bukan hal yang ingin Tristan dengar.
Tristan, buru-buru mempercepat langkahnya lalu segera menarik Kanaya.
Kanaya begitu terkejut ketika ada seseorang yang tiba-tiba memegang tangannya.
"Tristan?"
__ADS_1
"Siapa Pria yang bersama denganmu tadi?"