
Elena yang mendengar kata-kata Kanaya itu, hatinya jelas aja dipenuhi dengan kemarahan namun saat ini dirinya benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, Elena yang merasa jika bertengkar lebih lanjut tidak ada gunanya hanya sekarang mengambil buah yang ada di tangan Kanaya, dan kembali ke Kamarnya, sambil berkata pada Tristan,
"Mas Tristan, ada baiknya jika di masa depan kamu tidak mengajak wanita itu ke rumah itu benar-benar tidak baik untuk emosi ku hal ini mungkin bisa berpengaruh kepada calon bayiku, setidaknya mengertilah ini, bukankah kamu setidaknya berjanji padaku untuk membantuku menjaga calon anak kita?"
Tristan yang mendengar itu tiba-tiba ekspresinya menjadi rumit tapi segera tidak menjawab apapun hanya segera menatap ke arah Kanaya yang saat ini diliputi dengan wajah kemarahan. Tristan segera mengegam tangan Kanaya, untuk menenangkan gadis itu.
Sedangkan Elena, segera kembali ke kamarnya setidaknya ada sedikit rasa kemenangan dihatinya. Lagipula elena sudah memiliki rencana tambahan untuk mencoba menjauhkan mereka berdua. Informasi berguna, yang mungkin saja membuat sedikit perpecahan pada mereka berdua.
Baik, mari tenangkan diri dulu, dirinya tidak salah sama sekali, dirinya adalah Istri Tristan setelah semua.
Disisi lainnya, sekarang Tristan mencoba menyuruh Kanaya untuk duduk dulu.
"Kana, kamu jangan marah seperti ini sebaiknya kamu abaikan saja kata-katanya,"
"Tapi lihatlah sikap arogannya itu aku benar-benar tidak suka!! Dia berbicara seolah-olah kamu adalah miliknya! Sejujurnya aku tidak suka harus berbagi kamu seperti ini!"
"Kana, kamu tidak berbagi aku kamu hanya tahu bukan? Bahwa Aku hanya milikmu,"
__ADS_1
"Namun dengan status yang kamu miliki aku tidak benar-benar merasa kamu adalah milikku,"
"Kana, tolong jangan seperti ini,"
"Sudahlah aku merasa sangat muak bahkan berada di tempat ini, aku sebaiknya memang segera pergi dari sini,"
Ya, di Ruang Tamu itu bahkan di pajang foto Pernikahan Elena dan Tristan yang membuat Kanaya yang tidak sengaja melihatnya hatinya dipenuhi dengan kekesalan dan kemarahan. Kenapa bisa dirinya harus mengalami semua hal hal ini?
Yang dirinya inginkan hanya terutama dengan orang yang dirinya cintai namun kenapa itu semua bahkan begitu sulit?
Kanaya tidak tahu harus bagaimana. semakin ke sini rasanya dirinya tidak sanggup untuk menghadapi semua ini. Namun Kanaya juga tidak merasa bisa untuk kehilangan Tristan...
"Tidak perlu repot-repot kamu urus aja itu Istrimu! Aku bisa memanggil taksi!" Kata Kanaya kesal.
"Kana..."
"Tristan! Cukup aku membutuhkan waktu untuk sendiri jangan kejar aku,"
__ADS_1
Tristan lalu segera memeluk Kanaya, mencoba menenangkan gadis itu sambil mengatakan kata-kata perpisahan.
"Baiklah aku akan memberimu waktu aku harap kamu hati-hati, dan percayalah bahwa aku selalu mencintaimu dan hatiku hanya milikmu,"
Kanaya yang sekali lagi mendengar kata-kata penuh cinta itu memilih untuk tidak mengatakan apapun, melepaskan pelukan itu dan segera pergi dari sana. Kanaya merasa pilihannya untuk datang ke sini salah dirinya kira dirinya akan kuat bertemu dengan Istri Tristan seolah-olah tidak terjadi apapun namun nyatanya hatinya begitu sakit ketika melihat Rumah ini saja.
Rumah Tristan dan Elena, bahkan walaupun dua orang itu tidak benar-benar tinggal bersama di rumah itu namun rumah itu tetaplah rumah mereka berdua tempat keduanya bisa pulang kapan saja sedangkan dirinya dan Tristan tidak memiliki tempat semacam itu, tempat mereka berdua benar-benar bisa pulang.
Rasanya begitu menyedihkan jika memikirkannya. Kanaya yang merasa lelah itu akhirnya segera memutuskan untuk pergi memanggil taksi. Dan tidak lama sampai taksi datang, untuk mengantarkan Kanaya pulang.
Ketika kanaya sedang melamun di dalam taksi tiba-tiba ponselnya berbunyi ini berasal dari nomor tidak dikenal. Kanaya ingin mengabaikan nomor itu karena merasa kesal namun memberi itu sepertinya tidak menyerah untuk menelepon nomor Kanaya. Akhirnya, Kanaya segera mengangkatnya.
"Maaf anda salah sambung! Jangan mengganggu nomor ini lagi!" Kata Kanaya marah, mungkin melampiaskan kemarahan nya pada nomor tidak dikenal itu.
"Kanaya, kenapa kamu begitu kasar kepada calon tunangan mu?"
Kanaya yang mendengar kata-kata itu jelas menjadi kaget namun segera tahu nomor siapa itu.
__ADS_1
"Siapa yang calon tunangan mu brengsek!!"
"Kenapa kamu begitu galak? Padahal kakekmu sudah merencanakan untuk pertunangan kita lho,"