Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 38: Setegah-setegah


__ADS_3

'Ya, ada apa?'


Kata-kata yang terdengar sangat dingin dan begitu singkat untuk Kanaya, padahal biasanya kekasihnya itu akan memberikan sapaan hangat ketika dirinya menelepon terlebih mereka sudah cukup lama tidak mendengar suara satu sama lain.


"Tristan, kenapa denganmu?"


'Aku tidak kenapa-napa,'


"Aku merasa kamu belakangan bersikap aneh,"


'Aneh apa? Menurutku sikapku biasa saja,'


Jelas orang di ujung telepon terlihat segera mengelak dari tuduhan Kanaya.


"Namun Aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku,"


Kanaya hanya mengungkapkan hal-hal yang ada di hatinya saja namun siapa yang tahu dia akan mendapatkan respon marah dari ujung telepon,


'Kenapa kamu malah menuduhku tiba-tiba seperti ini kamu benar-benar tidak masuk akal!'


Wajar untuk Tristan berpikir seperti itu setelah semua dia merasa dibohongi oleh Kanaya yang menyebutkan rahasia soal perjodohan dan pertunangan yang direncanakan oleh keluarganya itu, dan lagi malah gadis itu sekarang menuduh dirinya menyembunyikan sesuatu?


"Lihat kenapa kamu tiba-tiba membentakku seperti ini kamu biasanya tidak seperti ini,"


'Lalu bagaimana denganmu kamu sudah lama tidak menghubungiku,'


"Aku jelas sibuk dengan urusan bisnis yang aku kerjakan sekarang aku pikir kamu mengerti,"


'Lalu apakah kemarin sore kamu juga mengurus soal bisnismu itu?'


Kanaya ingat kemarin dirinya sempat bertemu Azka, lalu menjadi sebuah keributan dengan Alvaro, tidak mungkin untuk Kanaya menceritakan segalanya sekarang karena terlalu canggung.


"Benar, kemarin tiba-tiba saja ada panggilan untuk merapatkan proyekku itu,"


Tristan di ujung telepon segera hatinya terasa sakit karena merasa tidak melihat bagaimana gadis itu kemarin pulang diantarkan oleh Azka, dan kenapa Kanaya berbohong?


Tristan merasa dirinya tidak pernah melarang gadis itu untuk bertemu dengan temannya itu, dia tidak pernah menyuruh kekasihnya itu macam-macam, selalu membiarkan kita juga untuk bertemu dengan siapapun yang ingin dia temui.


Jadi kenapa sekarang berbohong?


Tristan menjadi semakin tidak mengerti dengan Kanaya.


"Tristan? Kenapa kamu malah diam saja? Bagaimana jika kita bertemu saja, apa kamu tidak sibuk?"

__ADS_1


'Tentu saja, Mari kita segera bertemu ada beberapa hal yang ingin aku katakan padamu secara langsung,'


"Ya, sudah lama sejak kita bertemu, aku sangat merindukanmu,"


'Aku juga, Mari bertemu malam ini di tempat biasanya,'


Setelah panggilan itu diakhiri, Kanaya kembali untuk pekerjaannya, dia senang karena nanti dirinya akan bertemu dengan Tristan setelah sekian lama, lupakan soal hal-hal yang membuat khawatir, Kanaya akhirnya memutuskan untuk percaya sekali lagi pada pria yang di cintainya itu.


Lagipula, jika Tristan mau hubungan mereka bisa saja sudah diakhiri sejak Pria itu menikah namun pria itu masih mempertahankan hubungan mereka setidaknya Kanaya masih akan mencoba mempercayainya, bahwa cinta Tristan masih miliknya.


####


Itu adalah sore hari ketika Tristan berniat pulang lebih awal ke apartemennya untuk bersiap-siap bertemu dengan Kanaya nanti. Mana tahu, dia tiba-tiba mendapatkan telepon dari Elena,


'Tristan, Mari temani aku ke dokter untuk memeriksakan kandunganku sekarang,'


Tristan jelas saja memiliki ekspresi buruk ketika mendengar itu,


"Apakah harus sekarang kan besok saja bisa?"


'Tapi aku sudah membuat janji pada Dokter untuk periksa sore ini, aku jamin ini tidak akan lama pula,'


"Kenapa kamu tidak bilang dari kemarin-kemarin jika sudah membuat janji pada dokter?"


'Maafkan aku kemarin aku benar-benar lupa untuk memberitahu, kamu mau kan menemaniku lagi pula kamu pergi periksa,'


Nanti dia bisa menyuruh Elena pulang dengan taksi.


"Baik, kamu sebaiknya bersiap-siap aku akan menjemputmu sekarang,"


'Tentu saja, Aku menunggumu,'


Setelah telepon itu ditutup, Tristan segera menuju Rumah, untuk menjemput Elena dan membatalkan rencana untuk pergi ke apartemennya. Hanya berharap jika nanti pemeriksaannya akan berjalan dengan cepat sehingga dirinya tidak akan terlambat untuk pertemuannya dengan Kanaya.


Sampai di rumah, untungnya Elena sudah siap sehingga mereka segera menuju ke klinik tempat Elena biasa periksa. Namun mana tahu, antrian di klinik itu ternyata lebih lama daripada yang Tristan duga.


"Elena, kenapa nomor antrian mu tidak kunjung di panggil juga?" kata Tristan dengan kesal.


"Aku juga tidak tahu hanya saja hari ini benar-benar cukup ramai,"


"Kamu itu harusnya lain kali saja sih kenapa memilih hari ini?"


"Kamu kan tahu jika ini memang sudah saatnya aku melakukan pemeriksaan, jelas tidak boleh terlambat,"

__ADS_1


Tristan saat ini dengan cemas menatap ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, apakah tidak apa-apa ini?


Tristan tentu saja tidak berani untuk mengabari Kanaya dirinya dimana, takut Kanaya nanti jadi cemburu dan marah-marah, walaupun sekarang hubungan mereka tidak begitu baik namun bukan berarti Tristan menginginkan hal-hal menjadi lebih buruk.


Sampai waktu berlalu dalam sekejab, dan jam sudah menujukan pukul setegah delapan lebih saat nomor antrian Elena dipanggil.


Elena jelas saja menyadari tentang bagaimana pria yang ada di sampingnya itu terlihat cemas dari tadi, apakah dia memiliki janji dengan Kanaya?


Jadi Elena memang sengaja untuk menukarkan nomor antriannya dengan yang lebih banyak, yah setidaknya untuk mencegah dua orang itu bertemu jelas adalah hal yang baik.


Sampai selesai pemeriksaan, jam menunjukan pukul delapan.


"Tristan, kamu mau ke mana?"


"Aku sedang buru-buru sebaiknya kamu pulang saja naik taksi,"


Elena yang mendengar itu segera menunjukkan ekspresi kecewa dan berkata,


"Ini sudah malam, Bagaimana jika terjadi sesuatu denganku? Kenapa sih kamu begitu? Kamu tidak peduli padaku boleh, tapi anak ini, ini adalah anakmu,"


Elena jelas sangat pintar untuk membuat alasan.


"Elena, ini naik taksi jelas akan aman sampai tujuan,"


"Tristan, kamu sudah berjanji untuk menemaniku periksa dan tentu saja kamu juga harus mengantarkanku sampai rumah demi keamananku Kenapa kamu seperti ini sih?"


"Elena, aku sudah mengantarkanmu dan menemanimu untuk periksa Apakah itu semua masih kurang? Ini hanya pulang ke rumah sendirian Kenapa kamu begitu mempermasalahkan hal ini?"


"Bukannya ini karena kamu juga lagian Kenapa sih kamu buru-buru sekali?"


"Itu jelas bukan urusanmu kamu sebaiknya pulang saja aku sudah memesankan taksi untukmu,"


Namun Elena terlihat keras kepala dan malah langsung memasuki Mobil Tristan.


"Namun aku ingin pulang denganmu,"


Tristan segera membuka lagi pintu mobil itu menyuruh untuk wanita itu keluar dari sana.


"Elena, kamu keluar sekarang!"


"Tapi ini keinginan anak kita untuk kamu mengantarkan pulang,"


"Kenapa kamu paling bisa membuat alasan?"

__ADS_1


"Ini bukan alasan, ini benar-benar keinginan anak kita,"


Kanaya meletakan tangan Tristan diperutnya. Ekpersi Tristan menjadi rumit.


__ADS_2