
"Kana, akhirnya kamu pulang aku benar-benar sangat merindukan mu." Kata Tristan sambil memeluk Kanaya.
Kanaya yang mendapatkan pelukan itu entah bagaimana merasa sangat senang sekaligus lega, senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Tristan. Mereka masih kadang-kadang bertemu, Tristan akan datang kesana, atau Kanaya akan pulang.
Hal yang membuat Kanaya sangat senang mungkin karena belakangan ini kondisinya sangat buruk, dan harus melalui beberapa pengobatan yang mengharuskan dia berada di rumah sakit sehingga membuat Kanaya merasa buruk.
"Hmm, Aku juga sangat merindukanmu."
Setelah pelukan beberapa saat keduanya lalu saling melepaskan pelukan dan mulai menatap masing-masing, melepaskan kerinduan. Sampai Tristan yang menatap gadis yang ada di hadapannya itu menunjukkan ekspresi tidak senang.
"Astaga, Kanaya Kenapa kamu terlihat begitu pucat? Apakah kamu sakit?"
Kanaya yang mendengar itu jelas merasa gugup namun berusaha menjawab setenang mungkin.
"Siapa yang sakit? Aku baik-baik saja."
"Kanaya, namun lihatlah penampilanmu kamu benar-benar sangat pucat Apakah akhir-akhir ini kamu sering lembur?"
"Ah, kadang-kadang?"
"Astaga, aku sudah sering bilang padamu jangan terlalu banyak lembur, ini tidak baik. dan lihat aku merasa sepertinya kamu sedikit lebih kurus Apakah kamu tidak makan teratur?"
"Aku makan teratur."
"Astaga, Kanaya, kamu tahu aku mengatakan ini karena aku khawatir padamu?"
"Aku juga khawatir padamu, Tristan. Bukankah kamu belakangan ini juga sibuk?"
Tristan yang melihat bagaimana gadis yang ada di hadapannya itu mencoba mengalihkan pembicaraan segera mencubit pipi Kanaya.
"Baiklah, Mari kita segera masuk saja sepertinya kamu terlihat begitu lelah?"
Akhirnya keduanya masuk ke Apartemen, Tristan tentu segera menyiapkan beberapa minuman hangat untuk kekasihnya itu sambil menunggu Kanaya selesai mandi.
"Kamu kenapa datang tiba-tiba seperti ini?" Tanya Kanaya yang baru saja selesai mandi.
"Kanaya, Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat Mari segera bersiap-siap," kata Tristan sambil tersenyum.
"Apa? Kamu malah tidak menjawab pertanyaanku?"
"Astaga, sayang nanti kamu juga akan tahu?"
Kanaya memutuskan untuk tidak banyak bertanya dan segera mulai bersiap-siap. Sejujurnya, Kanaya merasa sedikit pusing, namun dia berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
Kanaya segera meminum obat pereda pusing setelah memakan beberapa Kue di Apartemen yang di siapkan Tristan sebelumnya.
"Kita mau kemana?" Tanya Kanaya ketika sudah berada di dalam mobil bersama Tristan.
"Aku hanya ingin mengajakmu makan Bukankah kamu lapar? Lihat seberapa kamu lahap makan kue tadi,"
"Apa? Kamu bilang aku rakus?"
"Siapa yang bilang kamu rakus?"
Keduanya mulai saling berbicara dan bercanda dengan asyik di dalam mobil. Kanaya sejujurnya benar-benar menikmati momen-momen indah itu. Ya, karena dia tidak tahu Sampai kapan hal-hal ini bisa terus berjalan.
Siapa yang tahu, penyakitnya akan bertambah parah?
Hanya memikirkan kemungkinan itu saja membuat dia merasa sangat sedih. Namun ini bukan saatnya untuk sedih. Kanaya mencoba untuk terus tersenyum bersama kekasihnya itu sambil menikmati malam itu.
Malam itu, Kanaya benar-benar mendapatkan sebuah kejutan ketika Tristan membawanya makan di sebuah Restoran yang sudah di Dekorasi sebelumnya.
Bunga-bunga yang bertaburan sepanjang Kanaya berjalan, lalu hiasan indah yang ada di Restoran itu.
"Selamat Ulang tahun Kana." Kata Tristan sambil menatap Kekasihnya itu.
Kanaya yang mendengar itu, jelas cukup terkejut.
"Bagaimana mungkin aku lupa dengan ulang tahun Kekasihku? Aku memang sengaja ingin memberikan kejutan."
"Astaga, di umur segini kamu masih ingin membuat kejutan?"
"Haha, tentu saja ulang tahunmu harus dirayakan."
"Kamu juga tahu, tidak ada yang baik dengan acara ulang tahun ku."
"Tidak apa-apa, asal bersamaku, semuanya akan baik-baik saja."
Keduanya lalu mulai makan malam bersama. Jika ada yang mengejutkan, itu ketika Kanaya mulai memotong Kue Ulang Tahunnya yang berukuran cukup kecil, dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal ada Kue itu.
"Huh? Apa ini?"
Kanaya melihat sesuatu ditangannya yang dia ambil dari Krim di Kue Ulang Tahunnya. Dan setelah memegang benda itu dia menjadi lebih terkejut. Terutama Setelah membersihkan dan menghilangkan krim-krim itu dengan tangannya.
Tristan sendiri segera mengambilkan sebuah gelas, dan memberikan pada Kanaya agar Kanaya melihat benda itu lebih jelas. Jujur, Kanaya tidak akan pernah mengira jika akan menerima benda semacam itu.
Itu adalah sebuah cincin dengan batu Safir indah, dimana didalam cincin itu ada namanya dan nama Tristan terukir disana.
__ADS_1
"Tristan ini ..."
Tristan lalu segera mengambil cincin itu dari tangan Kanaya, lalu memakaikannya pada Kanaya.
"Ini mungkin terlalu awal? Namun hari ini Aku ingin melamarmu,"
Kanaya yang di pakainya cincin itu, benar-benar begitu terkejut. Mereka dalam sebuah hubungan rahasia selama ini jadi tidak pernah memiliki sesuatu seperti cincin pasangan...
Tristan juga segera memberikan cincin lain pada Kanaya, agar memakaikan cincin itu padanya.
Namun Kanaya tidak menerima cincin itu, malah dia menagis.
"Kana? Kenapa kamu tiba-tiba menagis? Apakah kamu marah? Aku tahu, Aku bahkan belum bercerai, namun sudah membuat hal-hal ini, namun percayalah Aku akan mengurusnya sebentar lagi."
Kanaya bukannya menjawab, namun segera mengambil cincin itu, lalu memakaikannya pada jari Tristan.
"Aku hanya sangat senang dengan kejutan yang kamu buat. Begitu senang hingga membuatku sangat bahagia, ini adalah air mata kebahagiaan..."
"Astaga, kamu hampir membuatku takut aku kira kamu marah?"
"Mana mungkin aku marah?"
"Mulai sekarang kita bisa memakai cincin ini dengan bebas. Sebentar lagi kita tidak perlu menyembunyikan hubungan kita, Aku ingin semua orang tahu bahwa kamu milikku, dan Aku milikmu, kita akan segera menikah, selalu menghabiskan sisa hidup kita bersama selamanya..."
Kanaya tidak berkata apa-apa, hanya saja tiba-tiba hatinya diliputi dengan kesedihan memikirkan kenyataan yang ada. Apakah dia benar-benar bisa bersama Tristan?
Kanaya sungguh takut, bahwa bukan kebahagiaan yang akan dia berikan kepada pria yang ada di depannya, namun itu hanya sebuah kesedihan.
Bagaimana jika Tristan tahu?
Kanaya bahkan tidak bisa memikirkan kemungkinan itu melihat pria yang ada di hadapannya jatuh kepada keterpurukan.
Karena Kanaya tahu seorang Pria yang jatuh pada keterpurukan dan Keputusan, semacam itu.
Ayah nya sendiri yang di tinggal Ibunya.
Walaupun Kanaya ingin bersikap positif bahwa dirinya akan sembuh namun masih ada banyak konsekuensi setelahnya.
Apakah dirinya benar-benar akan bisa bersama Tristan selamanya?
Rasanya, kata-kata itu terlalu jauh untuk dipikirkan.
"Ya, kita akan bersama-sama, Tristan."
__ADS_1
Tanpa mereka tahu, dari ujung Restoran terlihat ada seseorang yang menatap ke pasangan itu. Benar-benar dikejutkan dengan hal-hal yang terjadi.