Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 8: Memilih Rumah


__ADS_3

Bahkan tidak lama setelah Kanaya mengirimkan pesan itu dari ponsel Tristan, ada lagi sebuah pesan di sana, sepertinya Elena baru saja membalas pesan.


Elena: Apa maksudmu tidak pulang? Mamamu sedang Mencarimu, Aku tidak yakin bagaimana aku harus menjelaskannya sebaiknya kamu segera pulang saja,


Tristan: Jangan mengaturku, kamu itu bukan siapa-siapaku,


Elena: Maaf jika Aku sedikit menyinggungmu, Aku hanya memikirkan ini demi kebaikanmu sendiri,


Kanaya yang dari tadi menggunakan ponsel Tristan balas pesan dari Elena itu, merasa semakin kesal.


"Ih, dia sepertinya wanita penjilat, lihatlah dj terlihat sekali menunjukkan sok perhatian seperti itu, ih bagaimana jika nanti Tristan malah tergoda?"


Kanaya mulai mengeluh ketika melihat balasan balasan pesan Elena, ya allah menunjukkan ketulusan dan perhatian semacam itu walaupun mendapatkan balasan pesan yang dingin.


Tristan: Jangan mengirim iku pesan lagi kamu terlalu berisik dan soal aku kapan pulang nanti aku akan pulang pada saatnya jangan kamu terlalu banyak bertanya, bilang saja dengan Mama, Aku sibuk,


Elena: Baik, aku akan menunggu kedatanganmu ke Rumah Kita,


Kanaya yang laki-laki membaca pesan itu, segera melemparkan ponsel Tristan ke kasur, mungkin karena begitu ketat dan marah melihat bagaimana Elena itu sok akrab dengan Tristan.


'Rumah Kita katanya?'


Sialan!!


Kanaya mulai memikirkan bagaimana Tristan nanti akan tinggal satu Rumah dengan Istrinya itu, merasa sangat sebal.


Dan lagi, dimana mereka akan tinggal?


Kanaya harus memastikan ini untuk bertanya.


Tidak mungkin mereka akan tinggal di Apartemen Tristan yang itu kan?


Apartemen itu kan sudah di siapkan sesuai dengan selera miliknya dan Tristan, agar suatu saat mereka berdua menikah, mereka bisa tinggal disana setelahnya.


Ya walaupun itu hanya rencana tetap saja, Apartemen itu yang di tinggali oleh Tristan, adalah Apartemen yang mereka berdua pilih.


Tristan mandi cukup cepat, dan ketika keluar dari Kamar mandi, melihat wajah Kanaya yang saat ini menunjukkan ekspresi yang buruk terlihat sedang kesal.


Tristan segera memeluk Kanaya dari belakang, dan berkata,


"Ada apa Kana sayang? Kenapa ekspresi mu terlihat marah seperti itu?"


Kanaya yang mendapatkan perlukan tiba-tiba itu tidak merespon pelukan itu hanya berkata dengan dingin.


"Aku tiba-tiba jadi kepikiran, nanti kamu dan Istrimu akan tinggal dimana?"


Tristan yang tiba-tiba ditanya itu tentu saja diam, karena bingung kirimnya belum memikirkan soal hal hal ini.


"Kenapa memangnya? Aku bahkan tidak memikirkan hal ini,"


"Jika begitu sebaiknya kamu pikirkan saja akan tinggal di mana,"


Tristan selalu segera melepaskan pelukannya, dan duduk disamping Kanaya, sambil berkata,

__ADS_1


"Menurut mu?"


"Kenapa kamu malah bertanya balik kepadaku?"


"Karena, kamu yang memutuskannya?"


Kanaya sekali lagi menunjukkan ekspresi bosan dan berkata,


"Kenapa pula aku yang harus repot repot berpikir? Yang menikah kan kamu,"


Tristan melihat bagaimana gadis yang ada di sampingnya itu jelas memiliki eksekusi yang tidak senang dan kesal seolah apapun jawaban yang dirinya berikan akan membuat gadis yang ada di sampingnya itu marah.


"Aku hanya mempertimbangkan keinginanmu, aku sudah bilang jika aku ingin menurut denganmu,"


Kanaya yang mendapatkan jawaban itu segera diam, seolah sedang memikirkan apa langkah selanjutnya.


"Kalau begitu, jangan tinggal satu Rumah Dengannya,"


Tristan yang mendengar itu, segera menjadi diam, sedang memikirkan apakah hal itu mungkin.


"Tapi, sepertinya tidak mungkin? Kamu tahu, Keluargaku pasti akan bertanya macam-macam jika aku tidak tinggal serumah dengannya,"


"Aku tahu, kamu akan mengatakan hal itu,"


Tristan mendegar Kanaya mulai marah, lalu segera berkata lagi,


"Baik, kami jelas tidak akan tinggal di dalam satu kamar yang sama, dan Aku akan mengatur untuk jarang pulang? Mungkin aku akan memikirkan untuk pergi keluar kota atau sesuatu?"


"Jika kamu keluar kota, kamu juga akan jarang bertemu denganku,"


"Aku akan lebih sering tidur di kantor, apakah tidak apa-apa dengan itu? Ada sebuah Apartemenku yang dekat dengan kantor yang bisa aku tinggali, dan untuk Elena, Aku akan menyuruhnya tinggal di Rumah lainnya, namun kamu jangan khawatir Aku tidak akan menyuruh dia tinggal di Apartemen kita, oke?"


Kanaya yang mendengar jawaban itu merasa Cukup puas karena setidaknya pria yang ada di hadapannya itu mengerti tentang apa yang dirinya maksud.


Tidak boleh, ada yang menyentuh barang-barang yang mereka siapkan untuk masa depan.


####


Dan hari-hari segera berlalu dalam sekejap mata, Kanaya mau tidak mau harus mengucapkan perpisahan dengan kekasihnya itu.


"Ya, Jangan lupa untuk sering-sering meneleponku," kata Kanaya lagi.


"Tentu saja sayang,"


Kanaya menatap kepergian kekasihnya itu dengan ekspresi tidak senang.


Ya, bagaimanapun juga mereka berdua tidak bisa pergi terlalu lama dan harus kembali ke kehidupan masing-masing.


Kebersamaan singkat mereka akhirnya berakhir dan sekarang memasuki medan perang baru untuk hubungan mereka.


Apakah dirinya bisa percaya 100% pada Tristan?


Kanaya tidak tahu, namun Hanya itu yang bisa dirinya yakini Untuk sekali lagi percaya pada orang yang dirinya cinta itu.

__ADS_1


Di tempat lainnya, Tristan yang akhirnya tiba di Rumah Sakit, mendapatkan omelan dari Mamanya, karena dia yang pergi dan tidak merawat Istrinya itu.


"Mau bagaimana lagi bisnisku juga penting,"


"Dasar kamu itu sama seperti ayahmu saja mementingkan pekerjaan daripada keluarganya," kata Mama Tristan dengan kesal.


"Tidak apa-apa, Mama. Mas Tristan tentu saja harus memperhatikan pekerjaannya lagi pula aku sudah ada mama yang menjagaku di rumah sakit dia pasti percaya pada Mamanya," kata Elena ramah, mencoba untuk menghentikan pertengkaran antara ibu dan anak itu.


"Astaga, Elena kamu memang Menatu yang baik," puji Ibu Tristan dengan ramah, lalu segera menata putranya dengan ekspresi kesal,


"Dan kamu Tristan, sebaiknya kamu segera bereskan barang-barang istrimu itu karena hari ini dia sudah boleh pulang,"


"Ya,"


Lalu Mama Tristan baru saja ingat,


"Lalu dimana kamu dan Istrimu berniat tinggal?"


Ketiak mendegar perkataan tiba-tiba itu, Trisna tidak terkejut karena sudah menyiapkan sebuah rumah, ya rumah yang pastinya cukup jauh dari pusat kota, setidaknya cukup jauh dari perusahaan.


"Aku sudah menemukan rumah yang bagus untuk kita berdua tinggal,"


Elena yang mendengar kata-kata dari suaminya itu benar-benar merasa sangat senang tidak mengira jika suaminya itu sudah menyiapkan rumah baru untuk mereka berdua tinggal?


Dirinya kira, Tristan tidak akan peduli dan mengabaikan detail-detail itu.


Elena merasa sangat gembira diam-diam.


"Eh? Kamu tidak tinggal di Apartemen mu yang biasanya?"


"Aku cukup bosan tinggal di sana,"


"Baiklah-baiklah, itu terserah kamu saja yang memutuskan, yang penting Elena setuju?"


"Tentu saja, Aku setuju saja apa kata Suamiku," kata Elena sambil tersenyum ramah itu.


Namun sayangya, harapan hanya harapan.


Elena yang diajak ke sebuah Rumah Mewah di pinggiran kota itu, awalnya merasa sangat senang, tidak mengira dirinya disiapkan rumah yang begitu megah yang memiliki suasana yang tenang dan sejuk.


"Rumah ini terlihat sangat bagus aku suka tinggal di rumah yang terlihat damai dan sejuk seperti ini,"


Tristan yang mendengar pujian itu hanya berpura-pura tersenyum, dan berkata,


"Ya, itu bagus jika kamu menyukai rumah ini, kamu bisa segera menyuruh para pelayan untuk menempatkan barang-barangmu di kamar atas,"


Elena Tentu saja tidak merasa itu aneh, hanya merasa heran ketika Tristan segera akan pergi dari rumah itu,


"Kamu mau kemana?"


"Aku masihlah orang yang sibuk, jadi nikmati waktumu di rumah ini aku akan pergi ke kantor,"


Ya, rencana Tristan sudah beres, dengan rumah yang ada di pinggiran kota jauh dari perusahaan, dirinya bisa membuat berbagai alasan untuk jarang pulang ke rumah ini karena sibuk dengan urusan kantor.

__ADS_1


Dengan ini pasti, Kanaya akan puas.


__ADS_2