
Satu setengah tahun kemudian
Ini adalah sebuah ruang sidang yang saat ini sedang di adakan sebuah sidang, Sang Hakim yang memimpin sidang itu saat ini mulai membacakan Keputusannya.
"Dengan ini, saya Syahkan, Perceraian antara Tristan Noriss dan Elena Valentine. Dengan Hak asuh Anak menjadi milik Tuan Tristan berdasarkan Permintaan yang bersangkutan."
Ekspresi Tristan tidak berubah ketika mendengar hasil keputusan sidang itu, sama dengan Elena, yang juga tidak memiliki perubahan ekspresi.
Wanita itu, diam-diam menatap kearah samping, dimana sekarang Tristan berada, yang saat ini sudah resmi menjadi Mantan Suaminya, yang bahkan tidak memiliki perubahan ekspresi sedikitpun di wajahnya.
Elena tahu, bahwa akhirnya akan seperti ini. Toh, dia sudah lelah, lelah menunggu Tristan.
Satu setengah tahun ini, sudah seperti neraka untuknya, tidak lebih tepatnya, dua setengah tahun pernikahannya dengan Tristan.
Awalnya, dia kira sejak anak mereka lahir, dan gadis bernama Kanaya itu pergi jauh dari hidup Tristan, dia akan bahagia dengan Suaminya. Namun sayangnya, semua tidak pernah berubah sama sekali.
Tristan tidak meninggalkannya, dan tetap menjadi Suaminya, dia juga perhatian pada Putra mereka. Namun hanya sebatas itu, selebihnya, sikap Tristan tidak berubah. Suaminya, lebih peduli dengan urusan kantor dan pekerjaannya secara penuh, dan lebih sering pulang terlambat dari biasanya.
Dan ketika pulangpun, Elena tidak bisa terlalu banyak bicara pada Tristan. Dia hanya akan menyapanya dengan sopan, dan akan melihat putranya juga. Hanya saja, Tristan tidak pernah tersenyum lagi, ekspresinya selalu terlihat dingin dan semakin dingin. Dia lebih sedikit bicara, dan apapun yang Elena lakukan, Tristan tidak berkomentar.
Hanya sibuk dengan pekerjaan, pekerjaan dan pekerjaan, tidak ada hal lainnya. Elena masih suka memasak di waktu senggangnya, dan memasak untuk Tristan, apapun yang dia masak Tristan memakannya, dan ketika ditanya dia juga enak. Namun ketika di tanya apa yang paling dia suka, atau maskana apa yang Tristan inginkan, hanya menjawab itu terserah pada Elena saja.
Awalnya, Elena hanya mengira itu akan baik-baik saja dan membaik, namun pada akhirnya mereka berdua menjadi lebih jarang bertemu. Tristan lebih jarang pulang, jika pulangpun dia hanya mengurus anak mereka.
Dan yang paling utama, Tristan tidak pernah menyentuhnya sedikitpun. Bahkan walaupun mereka sudah berada di kamar yang sama.
Tristan sangat pendiam dan pendiam, seolah tidak memiliki energi untuk melakukan kegiatan apapun. Elena juga makin merasakannya dari hari ke hari, terlihat sekali seperti seseorang yang kehilangan jiwanya, dan hanya hidup untuk rutinitas harian, kerja dan kerja.
Sampai suatu hari, Tristan pulang dalam keadaan mabuk, namun apa yang Elena dengar dari mulutnya?
Tristan masih menyebut-nyebut nama Kanaya, bahkan mengagap dirinya sebagai Kanaya saat itu. Elena tidak pernah mengira keberadaan Kanaya sebesar itu di hati Tristan sampai membuat Suaminya seperti itu, menjadi sangat frustasi dan putus asa setelah di tinggalkan.
Elena masih berpikir itu, hanya sesaat, masih mencoba teguh merebut hati Tristan, percaya bahwa waktu akan membuat Tristan perlahan melupakan Kanaya. Namun hari kehari semakin menjadi, Elena kadang terbangun di tangah malam, dan mendegar Tristan mengigau dan memanggil nama Kanaya.
Bahkan, Elena menemukan foto Kanaya yang Tristan masih simpan di bawah tempat tidurnya, bahkan setelah satu tahun Kanaya pergi. Elena merasa Tristan makin tidak masuk akal.
Mereka bertengkar hebat, dan puncaknya, ketika beberapa rahasia Elena terbongkar, soal kejadian malam dulu, dimana dia juga yang sebenarnya masih secara suka rela memanfaatkan Tristan yang tidak sadar.
Sampai aksi kebohongan Elena yang di dorong Kanaya adalah kebohongan. Tristan marah, namun hanya itu.
'Toh tidak ada gunanya sekarang. Dia sudah pergi, apa lagi yang bisa Aku lakukan?'
Sikap Tristan menjadi semakin dingin, dia tidak menceraikan Elena walaupun marah demi anak mereka, Tristan ingin bertanggungjawab. Namun sikap Tristan sama sekali terlihat tidak tulus, pada Elena, mengabaikannya semakin buruk.
Elena juga semakin tidak tahan, hingga akhirnya setelah waktu berlalu dan dia lelah. Lelah untuk mengejar Pria yang tidak pernah mencintainya sedikitpun, menangis setiap hari meratapi nasibnya. Dan selalu makan hati setiap hari, ketika Elena mendengar nama Kanaya dari mulut Tristan. Waktu yang dia kira akan memperbaiki segalanya, ternyata salah.
'Apakah jatuh cinta harus semenyakitkan ini?'
__ADS_1
Itu yang Elena pikirkan saat itu, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengambil langkah besar. Dia tidak ingin menderita lagi, atas nama cinta ini lagi.
Tok Tok Tok
Suara palu dari hakim, membuyarkan lamunan Elena, membuatnya tersadar dengan situasi. Dimana dia akhirnya bercerai dengan Pria yang dia cintai, hatinya masih saja sangat sakit, terlebih itu semakin sakit ketika Pria yang dia cintai itu, bahkan tidak bergeming sedikitpun ketika keputusan hakim diberikan.
Setelah semua selesai, dan sidang di bubarkan, Elena juga hendak pergi dari sana, namun tangannya tiba-tiba ditarik oleh Tristan.
"Kenapa?"
Elena yang mendengar pernyataan itu, tiba-tiba menjadi marah. Ya, marah karena bahkan sampai mereka bercerai, Tristan sepertinya seolah tidak mengerti apa yang terjadi.
Elena menepis tangan itu, dan berkata,
"Apa gunanya Pernikahan ini?"
"Bukankah Aku sudah menuruti permintaan mu? Aku sudah berpisah dengan Kanaya, dan memulai hidup baru, demi kamu Dan Putra kita, Aku memberikan semua yang kamu mau selama ini,"
Tamparan segera menuju kearah Tristan.
"Apa gunanya itu? Kamu hanya melakukannya atas dasar Formalitas. Walaupun kamu ada di sisiku, namun tidak dengan hatimu. Aku lelah menjadi wanita kedua dalam hidupmu, tidak, lebih tepatnya Aku bahkan tidak sedikitpun ada di hatimu bukan? Apa gunanya Pernikahan ini?"
"Demi anak kita."
Tamparan sekali lagi menuju pipi Tristan. Karena Pria itu baru saja mengatakan hal-hal itu dengan tanpa ekspresi sedikitpun.
"Aku hanya mencoba bertanggungjawab semampuku."
"Aku muak denganmu yang setengah-setengah! Itulah kenapa Aku memberikan anak itu padamu! Aku harap kamu mau merawatnya dengan benar atas dasar tanggungjawab mu itu. Ini membuatku takut, takut jika anak itu bersamaku, hanya mengingatkanku pada Ayahnya yang Brengsek!"
Elena yang mengatakan itu segera menangis, dia sudah tidak tahan dengan Pria yang sekarang menjadi mantan suaminya itu. Akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.
Dia pernah melakukan segala cara untuk merebut hati dan mendapatkan cinta Pria itu. Melakukan semuanya dengan setulus hatinya.
Namun cinta juga memiliki batas kesabaran. Mencintai seseorang yang tidak mencintaimu balik adalah hal yang menyakitkan. Semakin sakit jika di teruskan, yang hanya akan menambah luka.
Lebih baik menyerah sekarang, karena Elena juga ingin bahagia. Dengan Keputusan pengadilan itu, walaupun hati Elena sakit, namun dia juga lega.
Terkadang Cinta juga butuh untuk melepaskan.
Dan sekarang semua berakhir.
Cinta yang menyakitkan ini.
Disisi lainnya, Tristan yang ditinggalkan itu masih diam. Tidak tahu harus berkata apa.
Tidak ada banyak gejolak emosi dihatinya, bahkan setelah bercerai.
__ADS_1
Hanya saja beberapa perasaan tidak nyaman mulai muncul setelah kata-kata terakhir Elena.
'Aku muak dengan mu!'
Ini mengigatkannya pada kata-kata Kanaya saat meninggalnya dulu. Kenangan paling menyakitkan dalam hidupnya, namun bahkan Tristan tidak memiliki keberanian untuk mengejar wanita yang dia cintai itu. Karena Kanaya muak dengannya.
Tristan juga sadar saat itu, bahwa dia sudah terlalu memberi begitu banyak rasa sakit pada Kanaya.
Saat itu, masa-masa kritis, saat Elena jatuh koma setelah melahirkan, dan Putranya ada di Inkubator dan tidak stabil.
Perasaan campur aduk dan segalanya. Sampai dia melihat bayi kecil tidak berdaya itu, dan akhirnya memutuskan untuk bertanggungjawab.
Dia bahkan tidak bisa membahagiakan Kanaya dan hanya memberikan rasa sakit, jadi Tristan mencoba menerima kepergian Kanaya, merasa mungkin ini yang terbaik untuk mereka. Merasa Kanaya mungkin akan lebih bahagia dengan orang lain.
Dia juga berpikir, semua pasti akan baik-baik saja.
Namun nyatanya, bahkan walaupun waktu berlalu, dia tidak pernah melupakan Kanaya satu detik pun. Semua hal, yang dia lakukan selalu mengingatkan nya pada gadis itu. Itulah mengapa dia mulai untuk bekerja lebih banyak agar bisa melupakan segalanya.
Namun semua masih tidak berubah, dia bahkan masih tidak bisa menjadi Suami dan Ayah yang baik, dan akhirnya bercerai karena masih setengah-setengah.
Hatinya yang ragu-ragu...
Dia tidak bisa melupakan Kanaya, namun juga takut.
Sampai sekarang dia bahkan takut untuk mencoba mencari keberadaan Kanaya.
Dia hanya sempat tahu dari beberapa gosip, bahwa Kanaya pergi Ke Luar Negeri setelah bertunangan. Dia tidak ingin mencari tahu, karena takut hatinya sakit.
Dia hanya mencoba melupakannya...
Namun akhirnya gagal.
Dia selama ini mencoba lari dari kenyataan namun akhirnya realita kembali padanya. Kenyataan yang ingin coba dia lupakan.
"Kana... Aku merindukanmu ... Aku masih sangat mencintaimu, namun Aku tahu, Aku tidak layak untukmu ... "
Dan akhirnya setelah satu setengah tahun berlalu, Tristan menagis, baru meratapi kepergian wanita yang dicintainya itu.
Dan hari itu, Tristan juga mulai menghadapi ketakutannya, dan akhirnya memutuskan, untuk mencari keberadaan Kanaya.
"Namun apakah ini sudah sangat terlambat?"
Butuh beberapa minggu sampai Tristan akhirnya mendapatkan kabar tentang Kanaya. Namun dari semua kabar yang dia perkirakan soal Kanaya, hal yang paling tidak terduga muncul.
Sesuatu yang tidak pernah Tristan duga.
"Kanaya ini ... "
__ADS_1
Membaca email di ponselnya, Tristan mulai menagis.