Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 61: Keinginan


__ADS_3

Hal yang Tristan lihat ketika dia menemukan keberadaan Kanaya adalah tentang bagaimana Gadis itu saat ini terbaring lemah di rumah sakit. Mengenakan sebuah tutup kepala, wajahnya pucat, bahkan sekarang tubuhnya penuh dengan alat-alat penunjang hidup.


Saat ini, Kanaya sedang tertidur jadi dia tidak sadar jika ada seseorang yang datang.


"Bagaimana menjadi seperti ini?"


Tristan melihat wajah Gadis itu yang saat ini lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. Bibir merah muda lembutnya sekarang pucat, kulitnya sekarang terlihat lebih pucat dan terlihat tidak sehat. Tristan tidak bisa lagi, melihat rambut panjang Kanaya lagi.


Melihat itu, hatinya sakit, sakit memikiran bagaimana Kekasihnya ternyata, dari pada hidup bahagia, namun harus menderita penyakit seperti ini.


Dia mulai menagis.


"Kenapa? Kenapa kamu menyembunyikan semuanya dariku? Tidakkah kamu begitu jahat? Bagaimana ini bisa terjadi ..."


Hanya air mata yang tumpah ketika menatap gadis yang paling dia cintai itu saat ini terbaring di ranjang rumah sakit terlihat sangat tidak berdaya.


Setidaknya, dari semua kemungkinan kabar buruk yang dia dengar, jika gadis itu sudah menikah dan hidup bahagia, setidaknya walaupun hatinya terasa sakit, Tristan masih akan mencoba berbahagia untuknya, dan memberikan selamat.


Karena Kanyanya berhak untuk mendapatkan kebahagiaan bahkan walaupun itu bukan dengan dirinya Tristan sudah menyiapkan hatinya untuk kemungkinan terburuk ini. Namun ternyata kenyataan bahkan lebih buruk dari yang diaprediksi.


Bahwa ternyata Kanaya malah menderita penyakit dan selama ini harus berada di rumah sakit untuk melakukan perawatan. Hati Tristan terasa hancur hanya melihat wanita yang paling dicintainya itu berbaring dan tidak sadarkan diri.


"Kana..."


Dengan keberanian dia mulai mendekati gadis yang terbaring di meja rumah sakit itu. Mulai menggenggam tangan Kanaya, sambil memanggil-manggil namanya.


Namun gadis yang ada di tempat tidur seolah tidak merespon panggilan itu terus saja tertidur dalam damai.


"Kanaya bangun..."


Tristan mulai meletakkan tangan hangat itu dipipinya. Tangan yang saat ini terlihat lebih kurus daripada terakhir dia menyentuhnya.


"Kana ... "


Namun berapa kali pun dia memanggilnya, sang gadis yang ada di tempat tidur tidak juga merespon.


Sampai kemudian, Setelah beberapa lama waktu berlalu, pintu ruang rawat itu dibuka oleh seseorang. Mendengar pintu itu terbuka, Tristan menoleh ke belakang lalu melihat wajah yang familiar.


"Kak Azka."


Pria yang mengenakan pakaian dokter itu menunjukkan ekspresi rumit ketika tatapannya bertemu dengan Tristan. Ada berbagai macam perasaan campur aduk, kemarahan, kekesalan, kebencian, kekecewaan dan kesedihan.


Namun dalam sekejap, Azka mencoba untuk mengendalikan emosinya ketika teringat gadis yang saat ini terbaring di tempat tidur.


Ingin rasanya, Azka memukul Tristan dengan sekuat tenaga. Namun dia merasa hal-hal itu tidak ada gunanya. Jadi dia hanya berkata dengan nada dingin,


"Kamu sepertinya akhirnya ingat, jika Kanaya ada."


Tristan yang mendengar itu segera berkata lagi,


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Kana?"


"Kamu sudah berada di sini seharusnya kamu sudah tahu segalanya bukan? Kenapa kamu perlu bertanya padaku?"


Tristan terdiam ketika mendengar kata-kata dingin itu. dia tidak tahu harus berkata apa dia masih bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.


"Kapan... Kapan dia mulai sakit seperti ini."


Azka yang mendengar itu entah kenapa emosinya menjadi begitu meluap. Dia yang tidak tahan segera memukul pipi Tristan dengan sekuat tenaga membuat Tristan terlempar jatuh ke lantai.


"Kamu dulu adalah Kekasihnya dulu! Namun Apakah kamu bahkan menyadari jika Kanaya sakit? Apakah kamu bahkan peduli padanya? Kamu terlalu sibuk mengurusi wanita lain bukan? Dasar Pria Bregsek!!"


Tristan yang mendengar kata-kata itu merasa hatinya baru saja tertusuk oleh sebuah fakta menyakitkan. Beberapa kenangan lama segera kembali padanya.


Hari-hari dimana, dia melihat Kanaya pingsan, dan sakit. Beberapa keluhan yang sering Gadis itu katakan padanya dulu. dan beberapa tanda-tanda kecil seperti bagaimana Gadis itu terlihat lebih pucat dari hari ke hari.


Apalagi setelah gadis itu kembali dari luar kota perubahannya jelas saja terlihat. Namun Kanaya selalu bilang jika dia baik-baik saja dan hanya lelah, jadi Tristan tidak menyadarinya. Dia juga tidak berinisiatif untuk mencoba memaksa Gadis itu Periksa ke dokter.


Atau mencoba mencari tahu kesehatan Gadis itu lebih dalam dan hanya merasa bahwa semuanya baik-baik saja.


"Kana..."


Dia mulai kembali meneteskan air matanya mengingat semua kejadian yang terjadi.


"Kamu tahu? Dia bahkan tidak ingin melihat kamu begitu sedih, jadi dia pergi meninggalkanmu. Kanaya adalah gadis yang sangat lembut dan baik namun bagaimana dia bisa-bisanya jatuh cinta pada pria brengsek dan tidak bertanggung jawab sepertimu? Harusnya dia mendapatkan kebahagiaan setidaknya sedikit saja di masa-masa ini..."


Terdengar nada tidak berdaya dan rasa frustasi ketika Azka mengatakan semua ini. Dia menemani Kanaya selama pengobatannya di Luar Negeri ini. Menemani Gadis itu dari hari ke hari.


Namun gadis itu, walaupun terlihat tersenyum, nyatanya, tidak benar-benar tersenyum dengan tulus. Seolah sebagian jiwanya telah hilang. Dan bahkan semangatnya untuk sembuh menjadi semakin menurun dari bulan ke bulan hingga situasinya menjadi seburuk ini.


Pengobatan sudah dilakukan, namun saat ini hanya bisa memperpanjang hidup Kanaya. Tidak benar-benar menemukan jalan efektif untuk bisa menyelamatkan gadis itu.


Ada sebuah cara, namun prosedurnya sulit.


Tristan mulai bangun dan kembali menatap Kanaya, kembali memegang tangan gadis itu.

__ADS_1


"Kana ... "


Di saat-saat itu akhirnya mata Gadis itu segera terbuka.


Kanaya yang mulai membuka matanya dan melihat sosok wajah yang familiar itu, tiba-tiba menagis.


"Apakah Sekarang aku sedang bermimpi? Mungkin waktuku menjadi semakin dekat sampai akhirnya aku memimpikanmu lagi."


Kanaya mulai menggerakkan tangannya dan mulai menyentuh wajah Tristan. Wajah yang sangat dia rindukan selama satu setengah tahun belakangan.


Wajah yang mungkin tidak akan pernah bisa dia lihat lagi dan hanya bisa dia ingat dalam bayang-bayang.


Ada begitu banyak rasa ketika mengingat wajah ini. Namun lebih dari semuanya perasaan cinta yang ada di hatinya tidak pernah berkurang.


"Kamu tidak bermimpi, ini benar-benar Aku Kana ... " Kata Tristan, sambil memegang tangan Kanaya, lalu mulai mencium tangan pucat dan kurus itu.


Ciuman di tangannya itu mulai menyadarkan Kanaya.


"Kamu... Tristan! Kenapa kamu di sini!"


Kanaya jelas segera menarik tangannya dan mulai mundur ke belakang.


"Karena Aku mencintaimu."


"Tristan, kita sudah tidak memiliki hubungan lagi."


Seolah tidak peduli dengan kata-kata itu, Tristan kembali mendekati Kanaya, dan mulai mengambil tangannya.


"Kana ... Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku selama ini?"


Kanaya yang mendengar itu segera menunjukkan ekspresi kemarahan.


"Apa? Apa bahkan kamu peduli?"


Kanaya mulai menangis ketika mengingat semua hal yang terjadi. Hal-hal yang dia lihat, bagaimana Tristan bersama wanita lain, terlihat seperti keluarga yang bahagia di mana tidak ada tempat untuknya di antara mereka. Rasanya begitu sakit hanya memikirkan itu saja.


Melihat pria yang paling dicintainya bersama dengan orang lain, menikah dengan orang lain dan memiliki anak dengan wanita lain.


Hal-hal itu terlalu menyakitkan jika diingat lagi.


Tristan yang melihat gadis itu menangis segera memeluknya. Kanaya jelas mencoba untuk melepaskan pelukan itu, sedikit memberontak. Namun berada dalam pelukan yang terasa hangat dan familiar itu negara emosi lain hilang.


Jika dikatakan dengan jujur, Kanaya tidak ingin melepaskan pelukan itu selamanya. Dia selalu ingin berada dalam pelukan ini melihat pria itu hanya menjadi miliknya.


"Pergi!! Kamu memiliki Istri dan anak di Rumah mu! Kamu tidak perlu repot-repot berada di sini!"


Namun, Tristan tidak ingin melepaskan pelukan itu, malah makin memeluk Kanaya.


"Tidak, tidak ada yang seperti itu. Sekarang, Aku bukan Suami siapa-siapa, Aku sudah tidak memiliki Istri lagi. Mungkin karena aku adalah seorang lelaki brengsek, yang bahkan di gugat cerai oleh Istrinya."


Kanaya yang mendengar berita tiba-tiba itu segera menunjukkan ekspresi kaget.


"Kamu ... " Kata Kanaya sedikit ragu.


Azka yang melihat hal-hal yang ada di depannya itu segera keluar dari sana. Memberikan waktu keduanya agar bisa berbicara.


Tristan segera melanjutkan kata-katanya.


"Aku memang bukan tipe laki-laki yang bisa di percaya bukan? Kamu tidak menceritakan hal-hal penting seperti penyakitmu dan bahkan meninggalkanku. Aku juga baru saja di ceraikan. Aku memang laki-laki yang sangat menyedihkan, Aku sadar aku bahkan tidak pantas untukmu... Namun melihat kamu dalam keadaan seperti ini membuat hatiku sangat sakit ... Kana, Aku tahu aku tidak pantas untukmu, namun setidaknya aku berharap kamu bisa bahagia dengan orang lain. Namun nyatanya, apa yang Aku lihat? Kana... Kamu harus mengalami penderitaan seperti ini..."


Trisna mulai menangis ketika mengatakan semua hal itu. Kanaya yang mendengar itu, mulai membalas pelukan Tristan.


"Tidak, kamu bukan pria brengsek Kamu adalah pria paling baik yang aku kenal, Tristan... "


Keduanya, saling berpelukan dalam waktu yang lama seolah-olah melepaskan kerinduan yang mendalam.


Kanaya juga sudah tidak lagi mengendalikan perasaannya atau menahan emosinya. baik tubuh dan perasaannya sudah tidak sanggup lagi. Setidaknya, Kanaya merasa senang sebelum dia pergi dari dunia ini, masih bisa bertemu dengan pria yang dia cintai.


Kanaya tahu, bahwa waktunya mungkin sudah tidak lama lagi.


"Kana, maukah kamu kembali padaku?"


"Apa? Apakah kamu masih mau menerima wanita penyakitan sepertiku? Bersamaku mungkin, kamu hanya akan mendapatkan kesedihan."


"Tapi tidak bersamamu hanya membawa kesedihan lebih dalam... Kana... Aku sungguh tidak sanggup hidup tanpamu..."


"Kamu tidak bisa seperti itu. Kamu harus terbiasa hidup tanpa aku... Nanti jika Aku...."


Tristan lalu melepaskan pelukan itu dan menatap wajah Kanaya.


"Tidak! Kamu tidak bisa bicara hal-hal seperti itu! Kanaya! Kamu akan sembuh! Kamu pasti sembuh!"


"Tapi lihatlah kenyataannya aku sudah berobat selama ini namun..."


"Kana, jangan seperti itu..."

__ADS_1


Pada akhirnya, Kanaya hanya bisa menangis dalam pelukan Pria yang ada di hadapannya itu. Karena dia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.


Sejujurnya dia begitu takut dengan penyakitnya ini. Takut jika dirinya hanya akan membawa kesedihan pada pria yang paling dia cintai ini.


Namun sepertinya perpisahan seperti sebelumnya bukanlah Sebuah jawaban.


Bagaimana jika Tristan tahu sedikit terlambat setelah dia pergi?


Seberapa menderitanya Tristan nantinya?


Kanaya bahkan tidak sanggup untuk memikirkannya. Awalnya dia kira semuanya akan baik-baik saja ketika mereka berpisah. Tristan akan bahagia dengan Keluarganya. Dan mulai perlahan-lahan akan melupakan cinta yang ada di antara mereka berdua.


Namun nyatanya, Pria itu juga malah diliputi kesedihan selama bertahun-tahun.


Hal-hal ini sudah terlanjur seperti ini.


"Lalu apa yang kamu mau dariku?" Tanya Kanaya lagi.


"Mari menikah Kanaya."


"Apa?"


Tristan segera memberikan sebuah cincin lagi pada Kanaya.


"Mari menikah denganku sekarang dan saat ini."


"Jangan gila."


"Aku serius. Aku ingin menikah denganmu sekarang."


Kanaya yang mendengar itu seolah kehabisan kata-kata. Namun jika dipikir-pikir lagi, hal yang paling Kanaya inginkan adalah menikah dengan Tristan. Setidaknya keinginannya ini tidak terlalu berlebihan?


"Kamu mungkin akan menyesal jika menikah denganku." Kata Kanaya.


"Aku tidak akan pernah menyesalinya. Tidak ada hal lain yang aku inginkan selain menikah denganmu ..."


"Kamu bodoh."


"Aku mencintaimu..."


Pada akhirnya, karena keinginan dan cinta satu sama lain yang begitu kuat. Keduanya segera melakukan keinginan mereka.


Yaitu menikah di Rumah Sakit itu.


Kanaya berdandan seadanya, dan hal yang mengejutkan Tristan adalah Ayah Kanaya yang ternyata juga berada di Rumah Sakit itu. Terlihat sudah tahu kondisi putrinya dan mulai memantau keadaan putrinya.


Tristan untuk pertama kalinya berhadapan dengan Ayah Kanaya.


"Paman Haikal."


Pria itu, menatap Tristan dengan ekspresi dingin.


"Jadi kamu, Putra Bungsu Keluarga Norris?"


"Benar."


"Sudahlah, tidak perlu untuk membahas hal-hal yang merepotkan. Karena ini keinginan, Kanaya, Aku akan memberikan Restu pada kalian berdua. Namun ingat ini kamu jangan pernah meninggalkan, Putriku. Atau kamu akan tahu akibatnya."


"Tentu saja, Aku tidak akan pernah meninggalkan Kanaya."


Tidak lama setelahnya, Acara Ijab Kabul itu dilakukan.


Kanaya yang masih terbaring di tempat tidur itu mulai menangis ketika melihat Pria yang paling dicintainya itu menyebut namanya dalam Ijab Kabul itu. Sebuah mimpi yang sudah lama sangat dia inginkan.


Untuk bisa menikah dengan pria yang paling dia cintai.


Walaupun pernikahan mereka, hanya seadanya di tempat ini dan keadaannya tidak begitu mendukung. Namun, Kanaya merasa dirinya adalah wanita yang paling beruntung di dunia.


"Sah. Kalian berdua mulai sekarang sah menjadi suami dan istri."


Tristan lalu mulai mendekati Kanaya, dan mencium keningnya. Dia juga Mulai menangis terharu karena akhirnya keinginannya terwujud, yaitu untuk menikahi wanita yang paling dia cintai.


"Aku sangat bahagia, Kana... Akhirnya kita bisa bersama-sama."


Namun, hal yang tidak Tristan duga, dia tidak mendengar balasan dari gadis yang ada di dalam pelukannya itu yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.


"Kana?"


Tristan lalu mulai melepaskan pelukannya dan menatap Kanaya saat ini tidak sadarkan diri.


Betapa takutnya Tristan!


Tristan mulai melihat menyadari bahwa nafas Kanaya begitu lemah.


"Dokter! Cepat panggilkan dokter!"

__ADS_1


__ADS_2