Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 39: Kebohongan


__ADS_3

Pada akhirnya, malam itu Tristan mengantarkan Elena pulang ke Rumah mereka, untungnya perjalanan itu hanya memakan waktu 1 jam untuk bolak-balik, karena tempat mereka Periksa memang tidak begitu jauh dari rumah mereka.


Namun tetap saja, Satu Jam tambahan lagi-lagi terbuang sia-sia. Tristan menatap ke arah jam tangannya yang saat ini sudah menunjukkan hampir setengah sembilan. Sudah hampir dua jam, sejak rencana pertemuan antara dirinya dan Kanaya.


Tristan bahkan tidak berani untuk mengecek ponselnya. Takut jika nanti mendengar kemarahan dari Kanaya. dia memilih untuk buru-buru menuju ke tempat janjian mereka, hanya bisa berharap bahwa kekasihnya itu belum pulang karena marah.


Tadi Tristan hanya sempat mengabari bahwa dia akan sedikit telat. Namun tidak mengira ini sudah hampir 2 jam dirinya telat. Ketika Tristan sampai di restoran itu dia segera buru-buru bertanya kepada pelayan menanyakan apakah ruangan pribadi yang dipesannya masih ada orangnya.


"Masih, Tuan, Nona itu sepertinya menunggu Anda dari tadi,"


Mendengar jawaban itu, Tristan segera buru-buru menuju ke ruang pribadi itu benar-benar merasa bersalah kepada Kanaya. Ketika dia mulai memasuki ruangan itu dia menjadi sangat terkejut.


Ya, karena Tristan melihat bahwa kekasihnya itu saat ini sepertinya tertidur di meja. Di depan meja sudah ada berbagai menu kesukaan mereka berdua.


Tristan benar-benar merasa bersalah melihat kekasihnya itu sampai ketiduran menunggu di sana, karena dirinya terlalu lama mengurusi soal Elena. Dengan perasaan bersalah, dia segera mulai duduk di samping Kanaya, menatap ke arah kekasihnya yang sedang tertidur lelap itu.


Dari sini, Tristan merasa bahwa Kanaya begitu cantik, ekspresi tenang yang dimiliki Gadis itu ketika tidur benar-benar membuat jantungnya berdebar. Tristan masih menyadari bahwa perasaannya pada Gadis itu masih sangat besar.


Rasanya masih tidak sanggup untuk marah padanya, bahkan walaupun dirinya di bohongi, rasanya ada beberapa perasaan yang ada di hatinya untuk tetap bersama dengan gadis itu tidak sanggup untuk pergi darinya begitu saja.


Sekarang Tristan merasa sedikit mengerti bagaimana perasaan Kanaya, Kanaya selama ini menahan perasaan yang begitu berat ketika dirinya berbohong soal Elena. Namun Kanaya masih mencoba bertahan untuk bersama dengannya karena cinta yang gadis itu miliki padanya.


Sebesar itu cinta Kanaya.


"Hmm, jadi kali ini Aku yang harus menunjukkan seberapa besar cintaku padamu?"


Ya, Tristan akhirnya mencoba untuk bersabar menahan emosinya dan tidak lagi marah pada gadis yang ada di hadapannya. Tristan memilih untuk percaya pada gadis yang dia cintai mungkin ada alasan kenapa dia menyembunyikan beberapa hal, ini mungkin untuk membuat semuanya menjadi mudah untuk mereka?


Yah, atau Kanaya memiliki rencananya sendiri, yang jelas Tristan akan memilih untuk percaya dengan semua tindakannya.


Diam-diam Tristan mencium bibir gadis itu, sampai mata Kanaya tiba-tiba terbuka dan menjadi kaget ketika ada sesuatu yang menempel di bibirnya. Dia melihat seorang pria yang begitu dia rindukan tepat ada di hadapannya.


Itu hanya kecupan singkat,

__ADS_1


"Tristan, Kenapa kamu melakukan hal-hal nakal ketika Aku tidur?"


Tristan yang merasa kepergok itu segera mengalihkan tatapannya dan mencoba mencari alasan.


"Apa? Aku tidak melakukan apapun,"


Kanaya tertawa, lalu menggunakan tangannya untuk memegang kedua pipi Tristan untuk menatap ke arahnya dan segera wajah mereka semakin dekat. Kanaya lalu mencium kekasihnya itu, itu ciuman yang begitu dalam untuk melampiaskan kerinduan yang dia simpan selama ini.


Ya, Tristan juga tidak menolaknya dan kemudian terbawa suasana, sampai memperdalam ciuman itu. Itu berlangsung untuk beberapa menit sampai mereka melepaskannya, dan menatap ke arah satu sama lain dengan pandangan sayu, benar-benar terlihat tatapan penuh keinginan dari keduanya, menginginkan satu sama lain.


"Aku rasa ini cukup di sini," kata Tristan mencoba menahan dirinya, karena jika lebih jauh dirinya tidak tahu apakah masih bisa menahannya atau tidak. Ada gadis yang paling dirinya cintai tepat ada di hadapannya.


"Hmm, Aku sebenarnya marah padamu Kenapa kamu datang begitu terlambat?"


Tristan yang mendengar pertanyaan itu segera menjadi gugup, merasa jika dirinya sekarang menceritakan yang sebenarnya tentang bagaimana dirinya mengantar Elena, suasana baik antara mereka berdua pasti menjadi berantakan, Tristan benar-benar tidak ingin itu terjadi terutama setelah atmosfer pertemuan ini menjadi sedikit lebih baik.


"Beberapa rapat mendadak kamu tahu lah,"


"Ah pantas saja kamu tidak bisa dihubungi dari tadi pasti kamu mematikan ponselmu,"


Setelah bercakap-cakap sebentar keduanya lalu memulai makan malam. Tristan setidaknya merasa cukup lega karena Kanaya tidak banyak bertanya tentang apa yang dirinya lakukan tadi saat telat dan percaya padanya.


Namun tetap saja ada sedikit rasa bersalah yang muncul di dalam hatinya, tapi toh ini hanya kebohongan kecil harusnya bukan apa-apa?


Tristan mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Tristan, sebenarnya aku ingin mengatakan hal penting padamu," kata Kanaya tiba-tiba.


"Huh? Apa itu?"


"Aku mungkin akan pergi ke luar kota dalam waktu dekat dan akan tinggal di sana cukup lama,"


Ekspresi terkejut jelas muncul di wajah Tristan. Benar-benar tidak pernah menduga hal-hal yang ingin dikatakan Kanaya adalah itu, dirinya kira Gadis itu akan mengatakan hal-hal soal perjodohannya atau sesuatu.

__ADS_1


"Namun Kenapa tiba-tiba sekali?"


Kanaya tidak tahu harus memulai itu dari mana Jadi dia mulai menceritakannya namun jelas tidak bisa menceritakan segalanya.


"Aku sebenarnya di jodohkan oleh Kakekku, jadi untuk mengulur waktu aku sengaja mengambil proyek di luar kota dan ingin melarikan diri dari Perjodohan itu, Aku sebenarnya ingin mengatakan padamu lebih awal namun aku tidak ingin kamu cemas dengan hal-hal tidak berguna ini, toh aku akan bisa menyelesaikannya,"


Tristan yang mendengar itu entah kenapa merasa cukup lega bahwa gadis yang ada di berhadapannya itu berkata jujur padanya. Ya, Tristan menjadi merasa bersalah telah menuduh kekasihnya itu yang tidak tidak.


"Hal-hal seperti itu benar-benar terjadi? Siapa yang dijodohkan olehmu?"


Kanaya Tentu saja tidak ingin menceritakan tentang kebenaran terutama masalah Azka dan pura-pura berkencan dengannya, karena Trisna pasti akan marah jika mendengarnya. Namun Kanaya masih bisa menceritakan soal perjodohannya dengan Alvaro.


"Kamu ingat, teman SMA kita, Alvaro? Adiknya Kak Azka, Aku dijodohkan dengan orang itu,"


Tristan mencoba menggali ke dalam ingatannya untuk mengingat-ingat siapa itu lalu wajah familiar segera muncul dan beberapa kenangan tidak menyenangkan.


"Apa bagaimana bisa dengan Si Brengsek itu?"


"Benar bukan? Kakek benar-benar menjadi gila bisa-bisanya menjodohkanku dengannya hanya karena masalah bisnis,"


"Benar kakekmu sangat tidak masuk Akal,"


"Dan lagi, Alvaro itu orang yang benar-benar sangat menyebalkan Aku sangat benci dengannya, kenapa harus dia yang dijodohkan olehku dari semua orang?"


Tristan yang mendengar itu segera menjadi serius,


"Jadi, jika itu Kakaknya Alvaro, Kak Azka Apakah kamu akan setuju?"


Kanaya yang mendengar pertanyaan itu jelas menjadi terkejut.


"Kenapa kamu tiba-tiba memiliki pertanyaan aneh? Tentu saja aku tidak akan setuju dijodohkan dengan siapapun, karena hanya ada kamu di hatiku, Tristan,"


Tristan yang mendengar kata-kata itu segera menjadi malu sendiri karena sikap cemburu buta yang dimilikinya. Tidak perlu meragukan cinta gadis yang ada di hadapannya ini.

__ADS_1


Ya, hubungan mereka pasti akan baik-baik saja.


Disisi lainnya, Kanaya sebenarnya merasa tidak nyaman telah berbohong seperti ini Namun mau bagaimana lagi toh nanti acara kencan palsu dengan Kak Azka akan selesai dengan beres bahkan sebelum Tristan tahu. tidak perlu menambah masalah dalam hubungan mereka berdua dengan hal-hal semacam itu.


__ADS_2