
"Kana, kamu itu sebaiknya Istirahat saja," kata Tristan sambil membawa kembali Kanaya kekamarnya.
"Sungguh, apa yang kamu khawatirkan ini hanya beberapa pusing biasa,"
"Pusing bagaimana? Lihatlah badanmu saat ini demam," kata Tristan lagi sambil meletakkan tangannya di dahi Kanaya.
"Hmm, ini hanya kelelahan biasa,"
"Pokoknya, kamu itu harus istirahat dan berbaring di sini," katanya lagi sambil membaringkan Kanaya di tempat tidur.
"Aku tidak mau kamu kan sudah datang jauh-jauh masa aku Hanya berbaring di sini?"
"Ayolah, Kana Aku tidak akan kemana-mana, Aku akan menemanimu disini, jadi Istirahat saja oke?"
Tristan lalu segera mengambil keluar dari Kamar Kanaya, dan mulai menyiapkan kompresan. Setelah meletakkan Kompresan di dahi Kanaya, Tristan bertanya lagi,
"Apakah kamu sudah makan?"
Kanaya segera menggelengkan kepalanya.
"Astaga, itu berarti kamu bahkan belum minum obat?"
"Hmm, terlalu malas minum obat karena rasanya sangat pahit,"
Tristan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Kekasihnya itu bersikap imut.
"Walaupun itu pahit, kamu tetap harus meminumnya,"
"Baik, baik Aku mau memakannya asal nanti kamu yang membantuku memakannya?"
"Tentu saja,"
"Hey, Tristan, kamu mau memasak untuk ku?"
Tristan segera mengelus pelan rambut Kanaya, dan berkata,
"Tentu saja sayangku, Aku akan melakukan apa saja untuk mu,"
__ADS_1
Kanaya segera mengambil tangan Tristan lalu menciumnya.
"Aku benar-benar rindu dimana olehmu seperti ini,"
"Aku juga sangat merindukanmu,"
Dua orang itu, mulai saling melepaskan rindu satu sama lain dengan beberapa percakapan ringan, sampai Tristan pergi ke dapur dan memasak bubur ayam untuk Kanaya. Tristan sebenanya cukup pandai memasak karena terbiasa tinggal sendiri.
Tidak lama sampai Tristan selesai memasak lalu membawa masakannya itu pada Kanaya.
"Wow, Bubur Ayam? Aku benar-benar merindukan masakanmu, sayang," kata Kanaya dengan manja, mulai bangun dari tempat tidurnya.
"Pelan-pelan saja, Kana,"
Tristan lalu mulai meniup bubur panas itu, dan menyuapkannya pada Kanaya. Kanaya benar-benar menikmati sikap dimanjakan seperti itu.
"Ini benar-benar sangat enak," kata Kanaya sambil mengacungkan jempolnya.
"Tentu saja, ini jelas karena aku membuatnya dengan penuh cinta,"
"Sudah, kamu sebaiknya segera memakannya sampai habis agar cepat sembuh,"
Tristan hari itu merawat Kanaya, menyuapinya dan membantu Kanaya minum obat, sampai berbicara banyak hal dengan Kanaya dan membiarkan Kanaya yang lelah akhirnya tidur.
Tristan yang menatap wajah tidur damai, lalu segera mencium ringan dahi Kanaya.
"Sayangku, semoga kamu cepat sembuh,"
Tristan menemani Kanaya disana, dan perlahan-lahan mulai jatuh tertidur juga.
####
Ketika Kanaya sudah agak baikan keesokkan harinya, dan mulai terbangun dia melihat Tristan tidur di sampingnya, sepertinya baru saja ketiduran seperti kemarin siang setelah merawatnya.
Melihat wajah tampan di pagi hari itu, hati Kanaya terasa sangat senang. Sungguh, menyenangkan kekita ada yang merawat seperti ini, membuat Kanaya merasa tidak lagi merasa sendirian.
Kanaya jadi ingin setiap pagi, bangun, dan di sambut oleh wajah tampan itu, hal-hal itu pasti terasa sangat menyenangkan.
__ADS_1
"Tristan, coba saja kita segera menikah, Aku ingin bisa setiap hari seperti ini,"
Tepat ketika Kanaya mengatakan itu, Tristan segera membuka matanya, barusan pura-pura tidur setelah bangun lebih awal dari Kanaya. Dia hanya ingin tahu, bagaimana respon Kanaya nantinya. Namun segera terkejut dengan kata-kata Kanaya.
"Tentu saja, Aku juga ingin kita segera menikah. Aku sebenarnya ingin menyampaikan kabar baik ini dari kemarin namun belum sempat,"
"Huh? Kabar baik?"
"Benar, Aku berhasil mengambil alih Perusahaan Cabang milik Keluarga ku itu, jadi setelah ini jika Kamu mau, kita bisa segera menikah,"
Kanaya yang mendengar itu, tentu saja merasa sangat senang dan terkejut.
"Sungguh?"
"Benar, Perusahaan itu sudah atas namaku,"
"Eh? Ayahmu benar-benar berhasil kamu bujuk? Aku pikir dia akan keras kepala soal ini, jadi bagaimana kamu bisa membujuknya?"
Tristan yang ditanya itu segera menujukan kebingungannya. Dia jelas tidak bisa mengatakan jika ini bantuan Elena.
"Yah, Ayahku tiba-tiba berubah pikiran semacam itulah, kamu kan tahu orang tua gampang berubah-ubah,"
"Hmm, itu bagus. Kakekku masih sulit di bujuk untuk memindahkan Perusahaan atas namaku dari pada Atas Nama Ayahku,"
"Itu butuh sedikit proses,"
"Yang jelas, kamu benaru sudah berhasil, ini tinggal selangkah lagi,"
"Benar, ketika kamu pulang semuanya harusnya beres?"
"Ya, mari segera menikah setelah itu? Setelah kamu bercerai,"
Tristan yang mendengar itu tentu tidak keberatan, walaupun ada sedikit perasaan tidak nyaman di hatinya.
"Ya, mari berjanji,"
Itu adalah sebuah janji yang mereka buat hari itu, janji yang hanya mereka berdua tahu, tanpa tahu hal-hal apa yang akan terjadi nantinya.
__ADS_1