Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 36: Jarak antara Kita (Part 2)


__ADS_3

Di tempat lainnya saat ini di sebuah meja makan, Elena baru saja meletakkan kembali ponsel yang dirinya angkat barusan, Elena tentu tahu Tristan memiliki dua buah ponsel dan yang satu ini jelas sekali tujuannya mungkin hanya untuk menghubungi Kanaya yang menyebalkan itu, Kebetulan, Tristan kelupaan membawa ponsel ini karena dirinya suruh untuk membeli sarapan bubur ayam, karena Elena sedang ngidam.


Elena tentu saja tidak bermaksud untuk mencoba mengirimkan pesan atau melakukan apapun dengan ponsel itu pada awalnya, karena Kanaya itu sepertinya tipe yang banyak bicara jika dia tiba-tiba mendapatkan pesan aneh sesuatu dan hal-hal mencurigakan dia pasti akan segera melapor kepadaTristan, dan dirinya yang akan kena masalah.


Namun hal-hal ini berbeda jika dirinya tidak sengaja mengangkat telepon dari gadis itu. Bahkan tidak perlu banyak kata-kata hanya dengan dirinya mengangkat telepon itu sudah memberitahukan bahwa saat ini dirinya bersama dengan Tristan, bahwa Tristan pulang ke Rumah.


Semalam, Tristan memang masih menolak makan malam yang dirinya buat, dan memilih untuk memesan makanan di luar, namun setidaknya Tristan masih minum sesuatu yang dirinya buat. Ya, Elena juga tidak mengerti kenapa pria itu menjadi sangat keras kepala, dan benar-benar tidak ingin memakan satu suap pun sesuatu yang dirinya masak.


Apakah itu perintah Kanaya?


Ketika Elena sibuk dengan pikirannya itu tiba-tiba kali ini ponselnya yang berbunyi, Elena segera memiliki firasat tidak enak ketika menatap siapa yang menelepon itu. Namun mau tidak mau dirinya harus angkat telepon itu, Elena memilih untuk pergi dari ruang makan dan menuju tempat yang sedikit lebih senyi, memastikan jika Tristan datang tidak akan mendengar apa yang dibicarakan lewat telepon.


"Ya, Ayah. Ada apa?"


'Elena, apakah kamu jadi untuk mengurus pinjaman uang untuk perusahaan Ayahmu ini pada suamimu?'


Ekpresi Elena yang mendengar itu jelas menjadi buruk, karena tahu orang tuanya selalu seperti itu hanya meminta dan memikirkan soal uang dan uang.


"Maaf, Ayah... Aku masih tidak bisa meminta sesuatu sebanyak itu,"


'Apa? Suamimu itu jelas kaya aku jelas sudah mengatur susah payah agar kamu bisa menikah dengannya masa kamu itu hanya mengatur untuk meminta beberapa pinjaman atau meminta beberapa uang saja tidak bisa?'


Elena yang mendengar kata-kata itu jelas merasa tidak senang,


"Aku tidak pernah meminta hal-hal semacam itu darimu!!"


'Elena, kamu juga jangan munafik aku tahu kamu juga menyukai Pria itu bukan? Kamu bahkan yang dengan suka rela awalnya membantu dia ke kamar hotel ketika dia pingsan! Dari awal itu adalah keinginanmu,'


"Ini tidak benar awalnya aku hanya benar-benar ingin mengantarnya ke kamar kemudian..."

__ADS_1


'Hah, lalu kamu terbawa suasana begitu? Kamu hanya benar-benar pintar berdalih dan menyalahkan orang lain,'


Elena yang mendengar itu segera terdiam mungkin karena marah segera menutup telepon itu tidak ingin lagi mendengar kata-kata Ayahnya yang serakah itu.


Kejadian malam itu...


Elena mulai tenggelam dalam pikiran, ketika Elena segera mendengar suara seperti pintu terbuka di luar, sepertinya Tristan sudah tiba?


Elena buru-buru mematikan teleponnya, takut jika ayahnya mulai menelepon lagi dan mengatakan lebih banyak omong kosong.


"Tristan? Kamu akhirnya tiba juga apakah bubur ayam yang aku minta ada?"


Tristan masih memiliki ekspresi dingin seperti sebelumnya dan segera menyerahkan kantong plastik yang ada di hadapannya.


"Ya, ini adalah sesuatu yang kamu minta jadi segeralah makan, dan kenapa meminta dua? Apakah kamu benar-benar bisa menghabiskan keduanya?" kata Tristan sedikit penasaran, dia berpikir jika wanita hamil mungkin memiliki selera makan yang cukup banyak?


Setelah semua yang diberi makan tidak hanya satu tubuh namun dua, jadi cukup wajar untuk makan banyak.


Tristan yang mendengar permintaan itu jelas saja merasa tidak senang,


"Kamu tidak perlu repot-repot aku nanti akan sarapan di kantor,"


"Tapi ini juga salah satu permintaan dedek bayinya, agar bisa makan sarapan denganmu, aku tidak terbiasa makan sendiri dan rasanya tidak enak makan sendirian seperti ini."


"Elena, jangan mulai membuat alasan yang tidak masuk akal!"


"Tapi ini sungguhan, aku tidak begitu senang makan sendirian terlebih di pagi hari belum lagi belakangan aku merasa mual dan tidak memiliki selera makan jadi aku pikir bisa makan bersama dengan orang lain ini juga akan meningkatkan selera makanku, ini semua juga demi calon anak kita agar sehat, ini jelas bukan demi aku,"


"Kamu terlihat semakin mengada-ada,"

__ADS_1


"Apa sulitnya pula untuk makan di sini bersamaku? Ini demi anak kita, apakah kamu mau nanti anak ini lahir dan kekurangan gizi?"


Tristan akhirnya mulailah berdebat dan memutuskan untuk sarapan dengan Elena, sudah cukup lama sebenarnya untuknya bisa menghabiskan sarapan bersama orang lain seperti ini. Apalagi sejak tinggal sendiri sejak beberapa tahun lalu.


Paling-paling pergi sarapan diluar dengan Kanaya, namun rasanya masih sedikit berbeda ketika sarapan di luar atau sarapan di meja makan di rumah seperti ini, seolah ada sedikit kehangatan ketika makan di meja makan seperti ini.


"Kamu lupa krupukmu," kata Elena yang melihat Tristan hanya memakan buburnya namun tidak dengan kerupuknya.


Tristan yang benar-benar lupa itu hanya berkata dengan dingin,


"Jelas ini bukan urusanmu apakah aku memakan kerupuknya atau tidak,"


"Tapi bubur ayam jika tidak memakai krupuk ada yang kurang tidakkah kamu berpikir begitu?"


Tristan memilih segera diam dan tidak lagi banyak berdebat benar-benar menyesali tentang beberapa pikiran tidak masuk akal barusan. Soal hal-hal sedikit menyenangkan ketika di meja makan.


Sarapan itu benar-benar berlangsung dengan cukup damai dan setelah selesai sarapan Tristan segera kembali ke kamarnya, bersiap ke kantor. Tristan lalu segera mengecek ke arah ponselnya yang adapesan dari Kanaya, selamam pikiran Tristan sedang kacau jadi dia mengabaikan pesan itu, pagi ini juga ada pesan untuk menanyakan di mana dirinya berada. Dan sekarang ketika pikirannya sudah sedikit jernih, Tristan berpikir untuk sebaiknya menelepon kekasihnya itu, namun mana tahu masih sama seperti sebelumnya, teleponnya tidak diangkat, hanya ada nada sambung namun tidak ada yang mengangkat.


Ekpresi Tristan menjadi buruk, mulai berpikir apakah Kanaya sibuk lagi?


Atau Kanaya marah padanya?


Namun bukankah dirinya yang marah karena kekasihnya itu menyembunyikan hal-hal soal Perjodohan nya?


Bahkan sampai detik ini tidak ada tanda-tanda bahwa Gadis itu ingin membicarakan hal-hal ini dengannya.


Dengan siapa pula dia di jodohkan?


Apakah itu seseorang dari Keluarga Kaya Raya dan Terpandang?

__ADS_1


Lebih hebat dari dirinya?


Tirstan yang memikirkan itu segera memiliki ekspresi semakin tidak senang.


__ADS_2