
"Lihatlah, Elena, Kakak Perempuanku Kanaya itu benar-benar tidak tahu malu, sudah mempunyai calon tunangan seperti itu namun masih main hati dengan Pria lainnya," kata Keisya lagi, dengan ekspresi kesal.
Elena yang mendengar hal-hal itu segera bertanya lagi,
"Eh? Mereka sudah akan bertunangan? Katamu itu masih tahap perjodohan?"
"Entahlah Kakek berencana membuat mereka cepat-cepat bertunangan, namun lihatlah itu, Kanaya itu sepertinya masih saja keganjenan pada Kak Azka,"
Elena lalu jelas penasaran kepada seorang Pria yang tadi disebut-sebut di sukai oleh Kanaya itu.
Siapa dia sebenarnya?
Apakah Tristan tahu jika Kanaya di belakangnya ternyata bermain dengan Pria lain?
"Siapa Kak Azka ini? Kamu belum menceritakan hal-hal ini padaku,"
"Ah, Kak Azka adalah Teman Masa Kecil Kanaya dan Aku, tidak kami sebenanya cukup kenal dengan Keluarga Kak Azka dengan baik, termasuk Alvaro adik Kak Azka, hanya saja Kak Azka memiliki beberapa perselisihan dengan keluarganya beberapa tahun lalu jadi dia pergi dan berkuliah di luar negeri selama beberapa tahun dia baru pulang belakangan ini,"
Elena seolah benar-benar mengerti mulai memikirkan hal-hal atau cerita dibalik itu tentang hubungan antara Azka dan Kanaya. Teman masa kecilnya Kanaya?
Baru pulang dari Luar Negeri?
Apakah ini cinta lama yang bersemi kembali atau sesuatu?
Mungkin saja, Kak Azka itu Kekasih Kanaya sebelum Kanaya dengan Tristan?
Elena yang memikirkan hal itu segera tersenyum hal-hal ini jelas saja cukup baik, entah Kanaya mau bersama Calon Tunangannya atau dengan Pria bernama Azka itu, terserah, asal bukan dengan Suaminya. Sangat beruntung juga, Elena melihat kejadian barusan dan segera merekam Video di ponselnya, dan sepertinya Elena mendapatkan beberapa bidik dan foto yang sangat bagus.
Hal-hal ini, mungkin akan berguna nantinya.
"Sial, hanya melihat Kanaya kegatelan dengan Kak Azka membuatku kesal,"
Elena lalu menatap gadis yang ada di sampingnya itu dan segera bertanya,
"Apakah kamu memiliki beberapa Perasaan pada Kak Azka itu?"
Keisya yang tiba-tiba ditanya itu segera menunjukkan ekspresi malu,
"A... Apa? Apakah itu terlihat begitu jelas?"
Seolah Elena mencoba menggali dalam ingatannya Dia segera teringat sesuatu.
"Ini Kakak tingkat di Sekolah Menengah yang pernah kamu ceritakan?"
"Hmm, sepertinya kamu menebak dengan baik. Sudahlah, Mari kita pergi dari sini saja aku benar-benar terlalu malas melihat drama di depanku itu,"
"Kamu tidak ingin kesana?"
"Aku akan mengurusnya nanti saja,"
Dua orang itu segera memutuskan untuk pergi dari kerumunan itu dan pergi juga dari restoran itu.
Sedangkan saat ini, Kanaya yang baru saja berakting dan mengatakan bahwa dia menyukai Azka, tiba-tiba merasa sangat malu dengan omong kosongnya ini. Kanaya hanya berakting hanya pertunjukan untuk membuat Alvaro marah, Namun sepertinya aktingnya barusan terlihat sangat memalukan.
Ya, Kanaya segera menyeret Azka pergi juga dari sana melewati pintu belakang, saat Alvaro masih syok dengan berita yang barusan didengarnya. Kanaya tidak ingin melihat Azka dipukuli atau berkelahi lagi dengan adiknya. Sebenarnya, Kanaya juga merasa tidak nyaman melihat dua bersaudara itu berkelahi namun apa boleh buat?
__ADS_1
Situasi sudah terlanjur seperti itu.
"Kanaya, maafkan Aku karena Aku mengambil keputusan sepihak dan mengatakan hal-hal itu kepada adikku, soal kita yang sepasang kekasih," kata Azka yang mulai berhenti berjalan dan menatap bersalah pada Kanaya.
Kanaya yang mendengar itu segera tersenyum dan berkata,
"Tidak apa-apa aku tahu kakak hanya berniat untuk membantuku, dan tadi situasinya memang sudah kacau jadi apa boleh buat?"
"Emm, namun Apakah benar-benar tidak apa-apa jika kita berdua berpura-pura berkencan?"
Kanaya yang ditanya itu segera merubah ekspresinya menjadi ekspresi berpikir keras, ya Kanaya tiba-tiba memikiran soal Tristan. Bagaimana dengan Tristan?
Yah, mari nanti mencari waktu agar mereka berdua bisa berbicara bersama dan mengatakan soal hal-hal ini.
"Emm, sudah terlanjur seperti ini mau bagaimana lagi? Namun Kak Azka Apakah ini tidak akan membuat beberapa kekacauan dalam keluargamu?"
Azka yang mendengar itu segera berkata lagi,
"Hmm, dari awal Aku dan Ayahku memang memiliki hubungan yang buruk lagi pula, dengan hal-hal ini tidak akan memperburuk hubungan kami menjadi lebih buruk lagi, tidak ada yang salah jika Kita akan memiliki Hubungan? Dan mungkin hal-hal jauh lebih mudah? Bukankah alasan Perjodohan itu akan memantapkan hubungan antara keluarga kita?"
Kanaya yang mendengar itu lalu mulai memikirkan asal muasal Perjodohan itu.
"Tapi ini tidak sekedar itu, ini lebih seperti Perjodohan anatar Para Calon Pewaris Perusahaan, agar nantinya perusahaan bisa berkembang dan menjalin hubungan yang lebih baik, juga ada kemungkinan Merger,"
"Hmm, ini sepertinya masalah bisnis bukan? Hah, Aku bukan Pewaris Bisnis Keluarga pula,"
"Aku tahu, aku juga tidak tahu apakah nantinya ini akan berjalan dengan baik sesuai rencana kita atau tidak,"
Azka yang mendengar itu segera terdiam Lagi berpikir sebentar seolah sedang memikirkan sesuatu yang serius.
Dia mengatakan dengan nada sedikit bercanda, Kanaya yang mendengar itu segera tertawa dan berkata,
"Hmm, Aku tahu kamu tidak menyukai bisnis dari awal kalau tidak kenapa kamu pakai acara minggat dari rumah dan kuliah kedokteran sampai ke luar negeri?"
"Astaga, Kanaya kamu benar-benar tahu Aku namun tidak apa-apa, Aku selalu bisa belajar hal-hal baru, setelah semua Aku masih Putra Tertua di Keluarga, Hak Suksensiku jauh lebih tinggi dari adikku, apalagi mengigat Tradisi Keluarga,"
"Tapi kamu tidak perlu melakukan hal-hal berlebihan atau sesuatu seperti itu, ini toh hanya sementara saja, kami pura-pura perkencan, hanya sedikit mengulur waktu saja,"
"Hanya mengulur waktu? Jadi Apakah kamu sedang menunggu sesuatu?"
Kanaya Tentu saja tidak bisa mengatakan tentang sebenarnya bahwa dia sedang menunggu Tristan bercerai, dan mewarisi bisnis Keluarganya, bukan?
"Yah, sesuatu seperti itu lagi pula aku akan menjadi pewaris perusahaan setelah semua, setelah Kakek menyerahkan saham miliknya padaku,"
"Owh, jadi begitu,"
Dua orang itu segera pergi dari restoran itu memutuskan untuk segera berpamitan, dan tentu saja Azka perlu untuk mengantar Kanaya pulang ke Apartemennya.
Mereka tidak menyadari, ketika tiba di Apartemen, dan menurunkan Kanaya, ada sebuah mobil yang menatap ke arah mereka pria yang ada di dalam mobil itu memiliki ekspresi tidak senang ketika melihat Kanaya keluar dari mobil dengan seorang pria.
"Terimakasih, Kak Azka. Apakah kakak ingin mampir sebentar dan minum?"
"Tidak perlu repot-repot lagi pula ini sudah malam, Aku tidak ingin ada rumah-rumah buruk ketika seorang pria mampir ke rumah malam-malam seorang gadis yang tinggal sendirian,"
Kanaya yang mendengar itu hanya bisa tertawa dan berkata,
__ADS_1
"Astaga, Kak Azka bisa saja sih,"
Dua orang itu terlihat tersenyum dan berbicara dengan ramah. Sampai akhirnya mereka berdua berpisah. Kanaya tentu saja segera memasuki apartemennya, tanpa tahu jika Tristan ternyata sedang menunggu di depan Apartemen Kanaya.
Ya, menunggu gadis itu pulang karena sebelumnya ketika dia datang Kanaya tidak ada, dan ponselnya tidak bisa di hubungi.
"Jadi dia sedang bersama dengan Azka sialan itu?" Guma Tristan dengan ekpersi kesal, lalu dia segera menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari sana, tiba-tiba sedang tidak memiliki keinginan untuk bertemu dengan Kanaya. Tristan merasa jika dirinya muncul sekarang dirinya hanya akan marah-marah kepada Kanaya.
Tristan merasa hal-hal itu tidak berguna, dan Tristan ingin menjernihkan pikirannya sejenak. Tristan akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya yang ada di pinggiran kota, menenangkan pikiran sambil menaiki mobil mungkin adalah pilihan yang bagus. Tristan sebelumnya sempat mampir di pinggiran bukit dan berhenti disana, untuk menjernihkan pikirannya.
Sampai waktu berlalu dengan begitu cepat dan malam semakin larut.
Hanya ketika dia memeriksa ponselnya hanya ada balasan dari pesan Kanaya.
'Maaf, tadi aku ada urusan penting jadi belum sempat menjawab telepon mu, Jadi sebenarnya ada apa?'
Tristan yang membaca pesan itu entah kenapa menjadi kesal lagi.
"Urusan penting katanya? Jadi Kak Azka itu lebih penting dariku?"
Tristan hanya mengatakan itu sambil menatap ke arah langit malam dan tentu saja tidak akan ada yang memberinya sebuah jawaban. Tristan juga menjadi terlalu malas untuk membalas pesan itu dan akhirnya segera memutuskan memasukkan ponselnya dan melanjutkan untuk pulang ke rumahnya.
Ketika Tristan pulang, dia terkejut melihat Elena yang saat ini berada di meja makan, dan menyiapkan makanan hangat di meja.
"Ah, kamu sudah pulang? Apakah kamu sudah makan malam? Ini aku sudah menyiapkan beberapa hal Jika kamu ingin makan malam,"
Melihat sambutan hangat itu, ekpersi Tristan entah kenapa menjadi sedikit aneh, dan perasaannya tiba-tiba rumit.
"Kenapa kamu bahkan repot-repot menyiapkan makan malam? Bagaimana jika aku tidak pulang?"
Elena yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum dan berkata,
"Hmm, ini hanya firasat seorang Istri?"
Elena tentu saja tahu, jika Tristan akan pulang, ya dia sudah menelepon Sekertaris Tristan sebelumnya dan bertanya soal jadwalnya dan mendengar bahwa hari ini pria itu tidak memiliki jadwal dan belum lagi pulang lebih awal dari biasanya.
Elena menebak, jika Tristan mungkin ingin bertemu dengan Kanaya, namun Kanaya kan sedang bersama dengan Pria bernama Azka itu?
Elena pikir mood Tristan akan menjadi buruk, dan akan pulang kesini.
"Kamu tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak berguna, Aku tidak akan makan, Aku sudah kenyang,"
Ketika Tristan mengatakan itu perutnya segera berbunyi, keroncongan karena belum makan. Tristan tiba-tiba merasa sangat malu, seolah-olah menjilat kembali apa yang baru saja dia katakan.
Elena tersemyum, dan berkata,
"Makanlah tidak apa-apa, kamu bisa membawanya ke kamarmu Jika kamu tidak senang makan di sini,"
Tristan sekarang di hadapankan dalam situasi rumit, apakah akan makan atau tidak?
Dirinya memiliki janji dengan Kanaya untuk tidak akan menerima kebaikan dari Elena...
Namun sepertinya makan sedikit tidak apa-apa?
Tristan benar-benar merasa sangat lapar Sekarang apalagi setelah, cukup lelah dengan semua hal yang menguras hati dan perasaannya.
__ADS_1
Trisna masih sedikit ragu-ragu untuk memutuskan.