Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 59: Lelah


__ADS_3

"Apakah kamu ingin membalasku Kana?"


Kata-kata Tristan itu, benar-benar tidak bisa Kanaya mengerti.


"Apa? Apa yang baru saja kamu katakan? Aku tidak mengerti."


Tristan mulai bangun dari tempat duduknya lalu mulai mendekat ke arah Kanaya, dan memegang kedua bahu Kanaya, lalu menatap gadis itu dengan tajam.


"Kamu masih marah padaku bukan? Karena Pernikahanku itu? Kamu ingin membalasku dan membuatku kesal juga bukan? Memberiku harapan lalu ... "


Tristan tiba-tiba menangis bahkan sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya. Mungkin karena saat ini emosinya sedang tidak stabil memikirkan semua hal yang baru saja terjadi.


Tentang Elena dan calon bayinya yang dalam bahaya. Lalu soal bagaimana Kanaya membohonginya soal Pertunangannya dengan Azka bukan dengan adik Azka.


Berapa banyak hal yang Kanaya tidak katakan padanya?


Kanaya yang mendengar kata-kata tidak selesai itu akhirnya mengerti apa maksudnya Tristan. Tiba-tiba seolah hatinya ditampar dan dihancurkan.


"Kamu! Kamu menuduhku yang melakukannya?"


Tristan yang ditanya itu tidak menjawab atau mengatakan apapun.


"Kenapa? Kanaya?"


Segera sebuah tamparan mendarat di pipi Tristan.


"Bisa-bisanya dari semua orang kamu tidak percaya padaku?"


"Lalu katakan, Kanaya. Apa maksudnya Pertunanganmu dengan Kak Azka?"


Kanaya yang mendengar pertanyaan tiba-tiba itu jelas saja menjadi terkejut.


"Kamu ... Dari mana kamu mendegar itu?"


"Apakah yang Aku katakan benar? Kamu masih marah padaku dan ingin membalasku, itulah kenapa kamu melakukan semuanya? Kamu bahkan sampai melakukan itu pada Elena?"


Sekali lagi sebuah tamparan mendarat di pipi Tristan.


"Apakah kamu percaya semua itu?" Tanya Kanaya lagi.


"Aku tidak ingin mempercayai semuanya, Kana. Jadi katakan padaku jika semuanya adalah kebohongan, kamu tidak melakukan semua itu, kamu tidak berbohong padaku ... "


Kanaya mulai terdiam ketika mendengar kata-kata itu. Lalu, mulai teringat banyak kejadian belakangan ini, semua yang terjadi antara mereka setelah Tristan menikah dengan Elena. Bagaimana, Tristan bahkan lebih jarang menghubunginya.


Dan bagaimana pada akhirnya, Pria yang ada di hadapannya ini, akan lebih mementingkan Elena dari pada dirinya.


Dan sekarang, dari semua hal, Tristan tidak lagi percaya padanya?


Apakah ini masuk akal?


Kanaya benar-benar diliputi dengan berbagai macam emosi saat ini. Sebuah kekecewaan yang menumpuk, kemarahan, kesedihan dan rasa putus asa, semua bersatu menjadi satu.


Kanaya jadi teringat, sebuah adegan yang dia lihat hari itu di Mall ketika dia baru saja pulang dari Luar Kota. Dimana Tristan tersenyum bahagia bersama dengan wanita lain.


Sesuatu yang benar-benar sangat melukai hatinya yang Bahkan adegan itu masih menghantuinya dalam mimpi-mimpinya. Membuat dirinya ragu, dan bimbang.


Dan sekarang dari semua hal, Tristan mulai meragukan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Itu artinya kamu ragu padaku?Kamu dari semua orang?" Kata Kanaya dengan nada penuh kekecewaan. Dia masih melanjutkan kata-katanya,


"Aku benar-benar tidak mengerti kamu! Tidak! Aku benar-benar tidak tahu! Apakah pria yang ada di depanku ini, masih Tristan yang Aku cintai dan mencintaiku .... "


"Aku mencintaimu Kanaya, kamulah yang seharusnya paling mengerti tentang fakta ini. Tidak ada wanita lain dalam hatiku selain kamu."


"Kamu selalu mengatakan omong kosong yang sama. Kamu bilang kamu mencintaiku, namun meragukan ku?"


"Aku tidak meragukanmu. Aku ingin Percaya padamu, jadi katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu berbohong padaku? Segalanya ... "


"Apakah sekarang penting untuk mengatakan segalanya?" Kata Kanaya mulai muncul dari hadapan Tristan. Dia lalu kembali melanjutkan kata-katanya setelah menghela nafas,


"Bagaimana jika Aku bilang iya? Aku memang di jodohkan dan akan bertunangan dengan Kak Azka. Aku juga yang membuat Elena sampai seperti itu, karena Aku kesal padamu! Karena Aku ingin membalasmu! Aku ingin membuat kamu merasakan bagaimana rasanya memiliki harapan lalu segera dijatuhkan, seperti bagaimana kamu tiba-tiba menikah dengan wanita sialan itu di saat kamu bilang mencintaiku..."


Seolah Kanaya tidak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya lagi, namun dia masih berusaha melanjutkannya,


"Kamu ... Kamu menyebut nama orang lain saat melakukan Ijab Kabul, bukan namaku ... Kamu memiliki anak dari wanita lain, bukan dariku... Kamu... Melupakan semua janji kita ... Aku sangat membencimu! Kamu bukan lagi Tristan yang Aku kenal! Tristan yang hanya mencintaiku dan menjadi milikku seutuhnya. Kamu, bukan lagi menjadi milikku seutuhnya! Kamu bukan Tristan ku lagi!"


Kanaya mulai menagis ketika mengatakan kata-kata itu, seolah-olah semua ingatan hari itu kembali muncul. Ingatan tentang hari Pernikahan Tristan.


Tristan selalu tidak pernah berbohong padanya, dan mengatakan semua hal padanya. Menceritakan semua hal-hal kecil dalam hidupnya pada Kanaya. Hal-hal yang kadang hanya mereka berdua yang tahu.


Tristan yang selalu jujur padanya, dan hanya menjadi miliknya, tidak pernah berhubungan dengan wanita lainnya, apalagi menyentuh wanita lain.


Namun semua berubah sejak hari itu. Hari Pernikahan Tristan, Pria itu mulai berbohong padanya, mulai memprioritaskan orang lain, mulai menyimpan rahasia darinya, mulai tersenyum dengan wanita lain, dan perlahan-lahan mulai berubah sedikit demi sedikit.


Dan sekarang, Pria itu mulai meragukan dirinya.


Dari sini, Kanaya akhirnya memiliki sebuah penyesalan besar dalam hidupnya.


Sangat menyakitkan ketika melihat semuanya berakhir begitu saja setelah semua usaha besar yang mereka berdua lakukan.


Namun ternyata ada hal yang lebih menyakitkan daripada itu, yaitu melihat Pria yang dulu dia cintai perlahan-lahan berubah tepat di depan matanya.


Kenangan yang seharusnya indah tiba-tiba menjadi sesuatu yang menyakitkan.


Kanaya benar-benar tidak bisa menahannya, dan air matanya semakin menetes. karena luapan emosi kepalanya juga semakin menjadi pusing.


Ini mengingatkan Kanaya tentang penyakitnya.


Yah, pada akhirnya semua akan berakhir.


Kanaya merasa, dia tidak ingin ada dalam semua ingatan sedih Tristan, jika Pria itu tahu penyakitnya, tidak ingin melihat Pria itu menjadi kasihan padanya, dan mulai berubah lagi, seperti Ayahnya yang tidak menginginkannya.


Sekarang, saja melihat Tristan seperti ini, membuat Kanaya tidak tahan.


Dari awal, semuanya memang seharusnya seperti ini.


"Kana, kamu bohong kan?"


Kanaya tidak mendengarkan kata-kata itu, mulai melepaskan cincin yang dia kenakan di jadi manisnya, lalu segera berkata lagi,


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Seharusnya, kamu tahu ini akan terjadi sejak kamu menikah dengan wanita itu! Aku benci padamu! Aku tidak ingin menikah denganmu! Mulai hari ini hubungan kita berakhir!"


Kanaya lalu melemparkan cincin itu pada Tristan, cincin yang Tristan gunakan untuk melamarnya.


Tristan yang mendengar itu jelas saja menjadi sangat syok seolah hal-hal yang barusan dia dengar tidak bisa dia terima.

__ADS_1


"Apa yang barusan kamu katakan? Putus hubungan denganku? Kamu tidak bisa seenaknya membuat keputusan begitu!"


"Kenapa tidak bisa? Kamu sendiri menikah dengan orang lain tanpa Aku tahu!"


"Kamu juga tahu jika ini adalah paksaan dan jebakan!"


"Kamu selalu bisa bercerita Padaku dari awal! Lupakan, tidak ada gunanya lagi berbicara padamu seperti ini. Ini sudah berakhir."


Tristan mencoba menarik tangan Kanaya, namun di tepis oleh Kanaya. Hal ini membuat pikiran Tristan menjadi semakin kalut dan tiba-tiba saja menjadi emosi.


"Apakah itu karena kamu memilih bersama Kak Azka?"


Kanaya yang berniat berjalan pergi itu segera menghentikan langkahnya setelah mendengar omong kosong Tristan. Dia lalu berbalik, setelah mencoba menahan perasaannya.


"Lalu ada apa dengan itu? Kak Azka adalah seorang pria yang baik hati hebat, dan pintar, dan yang paling penting, dia bukan Istri orang lain. Aku tidak akan berbagi dengan wanita manapun...."


Kanaya juga tahu, perasaan Kak Azka padanya, namun dia menolaknya, karena Kak Azka terlalu baik untuk wanita sepertinya.


Seorang wanita sepertinya yang dibutakan oleh cinta dan masih bertahan menjadi selingkuhan dari Pria yang beristri.


Dia bahkan lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih baik daripada dirinya.


Dirinya yang tidak layak untuk siapapun yang mungkin sebentar lagi akan segera mati.


Rasanya sangat frustasi.


"Jadi, sana temui saja Istri dan Anakmu! Jangan pernah kamu mengganggu hidupku atau berurusan denganku lagi!!! Aku muak harus hidup seperti ini dalam cinta yang tersembunyi dan menjadi selingkuhan mu! Sudah cukup!! Semua sudah berakhir!"


Setelah mengatakan itu, Kanaya segera pergi dari hadapan Tristan.


Hari itu, menjadi hari terakhir mereka bertemu tahun itu.


Setelahnya, Kanaya memutuskan untuk pergi ke Luar Negeri menuruti nasehat Azka untuk pengobatannya, meninggalkan segalanya, tengah Keluarganya, Ayahnya, Kakeknya, Perusahaan, dan semuanya, termasuk Tristan.


Dia terlalu lelah untuk hidup berpura-pura dan menjadi patuh selama ini.


Menginginkan sebuah kebebasannya.


"Kanaya, tidak apa-apa kamu pergi seperti ini?" Tanya Azka yang menemani Kanaya pergi ke Luar Negeri.


Saat ini keduanya mulai memasuki pesawat yang akan mereka naiki.


"Tidak apa-apa. Tidak akan ada yang mencariku bahkan jika aku menghilang, keberadaanku tidak sepenting itu," kata Kanaya sambil tersenyum.


"Kanaya, kamu tidak bisa bilang begitu."


"Terimakasih, Kak Azka karena masih mau baik padaku setelah apa yang Aku lakukan padamu."


"Hey, Jangan berbicara macam-macam."


Dan begitulah, kepergian Kanaya dari Negara itu.


Dengan begitu banyak kenangan sedih dan pahit yang dia tinggalkan.


Dalam pikirannya, saat lepas landas, Kanaya menatap kota kelahirannya itu dengan ekspresi sedih.


Dia tidak tahu apakah kali ini dia akan bisa kembali atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2