Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 18: Kemarahan


__ADS_3

Ketika Elena mulai menggali jauh ke dalam ingatannya, ada seorang wanita yang mengenakan sebuah kacamata hitam, mulai mendekati pintu Ruang Pribadi yang Tristan masuki.


Hati Elena terasa cukup cemas ketika melihat hal itu, dan mulai memperhatikan wajah wanita itu lebih dekat.


Elena lalu menjadi ingat, dirinya memang pernah melihat wanita ini sebelumnya.


Walaupun tertutup kacamata hitam, namun dengan kecantikannya itu, akan menjadi aneh jika tidak mengenalinya.


Ini juga wanita yang sama yang pernah datang ke Pernikahannya dulu?


Elena ingat, setelah wanita itu dan temannya datang, Tristan segera pergi lama sekali ke Kamar Mandi, saat itu Tristan memiliki wajah yang terlihat cemas dan buruk.


Namun wanita itu...


Elena ingat bagaimana wanita itu saat itu tersenyum dan berkata padanya,


'Selamat Atas Pernikahanmu. Jaga Suamimu Baik-baik,'


Elena awalnya tidak memperhatikan makna dari ucapan itu karena mengira itu mungkin hanya ucapan wajar.


Namun setelah tahu ini, hati Elena segera bergetar karena merasa tahu tentang situasinya.


Wanita itu ternyata memiliki hubungan dengan Tirstan?


Dan bahkan setelah tahu, jika Tristan sudah menikah, wanita itu tetap memiliki hubungan dengan Tristan suaminya?


Sungguh berani!


Dua orang itu ternyata berselingkuh di belakangnya!!


Hati Elena menjadi begitu sakit ketika dihadapkan dengan fakta ini.


Setelah wanita itu, masuk dengan sisa keberanian yang Elena miliki, Elena lalu mendekati pintu itu, mencoba untuk mengintip hal-hal yang ada di dalamnya.


Namun, ketika melihat hal-hal yang ada didalam, hati Elena menjadi tambah begitu sakit, wanita yang ada di dalam sudah melepaskan kacamata hitamnya. Dan Tristan need wanita itu baru saja berciuman dan berpelukan.


Tepat setelah itu, Tristan segera mengeluarkan kotak hadiah yang dimilikinya, sebuah kalung liontin Ruby yang indah, lalu memakaikan kalung liontin itu pada wanita itu.


Terlihat wajah bahagia, lalu segera mencium pipi Tristan. Tristan suaminya juga segera menunjukkan sebuah senyuman yang tidak pernah Elena lihat.


Sebuah senyuman tulus penuh kesenangan, saat berhadapan dengan wanita itu. Elena tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan karena ruangan kedap suara, dan hanya mengintip lewat kaca kecil di pintu.

__ADS_1


Elena menjadi semakin sakit ketika memikirkannya, tidak mengira Tirstan juga bisa membuat ekspresi yang begitu hangat seperti itu, Namun ternyata ekspresi hangat seperti itu hanya ditunjukkan kepada wanita bernama Kanaya Calestia. Disana, Elena juga melihat bagaimana Tristan memperlakukan Kanaya dengan sangat lembut dan ramah, dia membukakan Kursi untuk Kanaya duduki, dan sudah ada menu di depan mereka, Tirstan bahkan membantu Kanaya memotong stik yang ada di piringnya, dan mulai menyuapinya.


Terlihat sekali, kehati-hatian dan ketulusan disana, juga bagaimana Kanaya menerima perlakuan itu sebagai sesuatu yang wajar, seolah-olah hal-hal itu sering terjadi.


Jadi seberapa lama dua orang itu sudah memiliki hubungan?


Sejauh mana...


Tidak, ini bukan urusan Elena sejauh mana, yang paling penting sekarang dirinya tidak bisa membiarkan Suaminya, Tristan itu terus bersama wanita lain seperti itu. Karena sekarang Tristan adalah suaminya dan calon ayah dari anak yang di Kandungnya.


Elena tengah berpikir Apakah sebaiknya dirinya masuk dan mulai menyergap mereka berdua?


Namun apa yang akan Elena lakukan jika seperti itu?


Tristan mungkin akan semakin marah pada dirinya.


Baik, mari tunggu sampai Tristan pergi, dan berbicara dengan wanita bernama Kanaya itu.


Setelah semua, Kanaya itu masih seorang wanita, Bukankah dia seharusnya juga mengerti posisi dirinya yang saat ini sudah menikah dengan Tristan?


Di tempat lainnya, saat ini Kanaya dan Tristan yang ada di dalam sedang menikmati makan malam mereka dengan santai, walaupun ini belum benar-benar malam.


"Tristan, terima kasih atas kalung yang kamu berikan ini benar-benar sangat indah,"


Kanaya yang mendengar itu hanya segera tertawa dan berkata,


"Astaga, Kenapa kamu bersaing untuk hal-hal kecil seperti itu?"


"Ini bukan hal-hal kecil untukku,"


"Pfff, kamu bisa bersikap lucu juga kalau sedang cemburu,"


"Tapi jika kamu yang cemburu, Kana terlihat menyeramkan," kata Tristan terlihat memiliki ekspresi tidak nyaman di wajahnya.


Kanaya yang merasa Tristan lucu, segera mencubit pipi Tirstan.


"Aw, berhenti mencubit pipiku seperti ini!"


"Tapi kamu benar-benar sangat lucu, ini jadi mengingatkanku dengan foto ketika kamu masih kecil, kamu masih bulat dan lucu saat itu, sangat mengemaskan, ini membuatku ingin bertemu denganmu lebih awal saat kamu masih kecil, dan ingin mencubit pipi tembem mu itu,"


Tristan yang mendengar itu segera merasa malu lalu,

__ADS_1


"Ayolah, jangan lagi mengingat foto-foto jelekku di masa lalu,"


"Tapi itu benar-benar lucu, sangat mengemaskan, Aku sebenarnya cukup menyukai anak kecil, ini membuatku penasaran jika kamu memiliki seorang anak laki-laki, apakah nanti anak itu akan mirip denganmu?"


"Ukhh, Aku lebih menyukai anak perempuan, itu pasti akan secantik Kana,"


"Tapi, Aku ingin seorang anak laki-laki yang mirip dengan Tristanku," kata Kanaya lagi sambil mengelus rambut Tirstan.


Ketika Kanaya mengatakan ini, Kanaya jadi ingat tentang sebentar lagi Tristan akan memiliki seorang anak, bagaimana jika itu anak laki-laki dan memiliki wajah yang sama dengan Tristannya?


Kanaya mulai berpikir apakah dirinya sanggup untuk membenci anak itu nanti?


Tristan versi mini, seperti Tristannya.


Benar juga, anak-anak tidak salah apa-apa setelah semua, yang salah orang tuanya, jadi tidak apa-apa jika menyukai anak itu nanti?


Toh pada akhirnya, dirinya akan jadi Ibu sambung anak itu nanti.


Kanaya tidak mau terlalu memikirkan hal-hal itu toh itu masih lama, dan hanya menikmati waktunya dengan Tristan.


Mereka berada disana cukup lama sampai malam tiba, dan setelah merasa cukup puas menghabiskan waktu bersama, keduanya memutuskan untuk berpamitan pulang.


"Aku sebenarnya masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu," kata Tristan terlihat merasa tidak rela harus cepat cepat berpisah dengan Kanaya.


"Mau bagaimana lagi, masih ada pekerjaan yang harus Aku urus,"


"Ya ampun, Kana ini akhir pekan dan kamu masih mengerjakan pekerjaan?"


"Kamu tahu sendiri, Aku kalah Tender sebelumnya, jadi untuk tender berikutnya aku harus mempersiapkan nya lebih baik,"


"Kamu tidak marah padaku?"


"Apa? Hal-hal profesional harus dilakukan secara profesional,"


Dan setelah akhirnya saling setuju, Tristan yang lebih dulu keluar dari tempat itu.


Bagaimanapun juga, dua orang itu cukup hati-hati, setidaknya agar tidak terlihat bersama-sama ketika berada di tempat umum, jadi mereka tidak berani keluar bersama mana tahu jika nanti ketemu kenalan atau sesuatu hal-hal ribet bisa terjadi.


Kanaya menunggu sebentar di Ruangan itu, sambil menatap ponselnya, menunggu Tristan memberi kode, jika Tristan sudah pergi.


Kanaya segera mulai kembali memakai kacamata hitam nya. Namun tiba-tiba, Kanaya titik cup gandengan kedatangan seorang wanita yang tiba-tiba memasuki ruangan itu.

__ADS_1


Kanaya tentu saja mengenali wajah yang familiar itu. Bahkan sebelum Kanaya berbicara, wanita yang datang masuk tanpa di undang itu, segera menampar Kanaya.


"Kamu! Wanita Murahan! Berani sekali kamu berselingkuh dengan suamiku, Tristan! Apakah kamu tidak tahu malu?"i


__ADS_2