
Tristan yang tiba-tiba mendengar kata-kata Kanaya menjadi terdiam jelas merasa cukup kaget dengan kata-kata berani yang diucapkan oleh gadis yang ada di depannya itu.
Kanaya sendiri, merasa ucapannya barusan itu cukup gila dan sangat tidak masuk akal, jelas sekali Tristan akan marah, setelah semua itu masih darah daging Tristan, namun dirinya bisa seberani itu mengatakan hal-hal semacam itu.
Oh ini semua hanya untuk melampiaskan rasa marah yang ada di hatinya tidak lebih dan tidak kurang.
Namun yang mengejutkan adalah jawaban yang Kanaya dengar dari Tristan,
"Jika itu yang kamu mau, aku akan melakukannya sesuai permintaanmu,"
Kata-kata itu, dikatakan dengan nada tanpa keraguan sedikitpun seolah-olah hal yang dikatakannya adalah hayata bahwa Tristan benar-benar akan mendegarkan apapun yang Kanaya katakan.
"Tristan kamu.... Kamu benar-benar berani sampai mengatakan hal semacam itu?"
"Aku sudah memikirkan segalanya setelah semua yang paling penting dalam hidupku adalah kamu, jadi aku akan menuruti permintaanmu,"
Kanaya yang mendengar keseriusan dari kata-kata itu segera terdiam, sedang memikirkan hal apa yang harus dirinya katakan sekarang.
Ada keheningan sejenak di antara dua orang itu, sampai Kanaya akhirnya membuka mulutnya,
"Kamu... Jika kamu melakukannya bukankah itu artinya kamu membuatku seolah aku adalah seorang wanita yang tidak punya hati dan jahat?"
Tristan lalu memegang kedua tangan Kanaya, dan berkata,
"Tidak, kamu tidak jahat, ini adalah Aku yang jahat, tidak apa-apa untukku menjadi jahat di depan orang lain, karena Aku hanya akan baik padamu,"
"Jika Elena mendegar itu, dia akan bilang kamu Pria brengsek tidak bertanggung jawab!"
"Sudah Aku bilang, Kana aku tidak peduli apakah aku akan menjadi Pria jahat atau Pria berhati dingin di depan wanita lain, karena Aku hanya akan menjukan sisi baikku padamu," kata Tristan sambil mencium tangan Kanaya yang ada di gengamannya, lalu segera melanjutkan kata-katanya,
"Dan, Aku tahu pasti kamu bukan wanita semacam itu, Kanaya adalah orang yang sangat baik dan lembut selalu penuh kasih sayang,"
Kanaya yang mendengar itu tiba-tiba menangis.
"Ya, kamu benar-benar berani menjawab itu karena kamu benar-benar sangat mengenalku bukan? Ya, Aku tidak akan tega merengut hidup kecil itu, itu adalah sebuah kehidupan kecil yang tidak memiliki salah apa-apa, hanya Ayahnya saja yang Brengsek,"
"Aku tahu, Aku Pria Brengsek, seseorang yang hanya membuatmu terluka, sejujurnya melihat kamu menangis seperti ini membuat hatiku sangat terluka, aku yang hanya membuat bisa menagis,"
"Jika kamu tahu itu, kenapa membuatku menagis? Kamu sungguh tidak mengerti betapa sakitnya hatiku ini, memikirkan kamu akan memiliki seorang anak dengan Wanita lain, bahkan walaupun kamu nanti meninggalkan ibu anak itu, kamu tetap akan memiliki anak dengan wanita itu,"
Tristan yang mendengar kata-kata itu hanya terdiam, jelas merasa sangat bersalah karena semua kekacauan ini adalah sesuatu yang dirinya buat.
__ADS_1
Jika saja malam itu, dirinya tidak datang ke Pesta itu...
Apakah semua kekacauan ini terjadi?
Sampai detik ini penyesalan masih saja muncul di dalam hatinya, rasa bersalah yang dalam, hanya memikirkan kesalahan dan penghianatan yang dirinya buat.
Dirinya tidak pernah berniat berkhianat.
Tristan sampai detik ini merasa dirinya di jebak dan sampai saat ini masih menyelidiki tentang kejadian sebenarnya hari itu.
Ya, Tristan juga merasa jijik dengan dirinya sendiri sampai melakukan hal-hal itu, bahkan walaupun itu sebuah jebakan atau sebuah kecelakaan namun tetap saja itu menghancurkan Kanaya.
"Maaf...."
Kanaya yang laki-laki mendengar kata-kata penyesalan itu merasa sangat muak.
"Lalu apakah kamu membenci anak itu nanti?"
Tristan yang mendapatkan pertanyaan itu tiba-tiba segera menatap Kanaya, sedang mencoba mencari tahu maksud pertanyaan itu.
ya, hanya menatap Kanaya, Tristan segera mengerti makna dibalik kata-kata itu.
Kanaya yang mendengar jawaban itu segera tersenyum,
"Ya, Ayahku tidak pernah mencintaiku, aku yang paling mengerti perasaan itu sesuatu yang tidak bersalah apa-apa namun disalahkan dan dibenci, namun jika Aku memikirkannya lagi, ketika anak itu lahir apakah aku sangup untuk tidak membencinya?"
Tristan lalu tersenyum dan berkata,
"Jika kamu ingin kamu tidak perlu untuk melihat atau bertemu anak itu selamanya,"
Kanaya lalu mulai melepaskan tangan pria yang ada di hadapannya itu dan segera duduk di tempat tidur.
"Anak itu belum lahir, kenapa malah membahasnya sekarang? Terlalu pusing bahkan hanya untuk memikirkannya,"
"Ya, kamu benar, lalu apa sekarang yang kamu ingin Aku lakukan?"
Kanaya terdiam, lalu segera berkata,
"Temani, aku malam ini,"
Tristan lalu segera menarik Kanaya, dan segera mencium bibirnya sekilas.
__ADS_1
"Ya, aku akan menemanimu sekarang bahkan nanti, Aku adalah milikmu,"
Malam itu, pada akhirnya Tristan memeluk Kanaya, mencoba menghiburnya dan menenangkannya, meyakinkan jika dirinya adalah milik Kanaya.
Itu bukan malam yang begitu indah, namun Kanaya merasa sangat senang, bahwa Tristan pada akhirnya tetap memilih dirinya daripada Istrinya di Malam Pertama mereka.
Ya, memang seharusnya seperti ini.
Kanaya tahu, ini bukan hal yang bagus untuk menjadi Selingkuhan seperti ini.
Namun, demi bisa bersama dengan orang yang dirinya cintai dirinya rela, rela menjadi tokoh jahat dan dingin dalam kisah ini.
Ya, hanya harus bersabar, sampai mereka bercerai?
Pada akhirnya, Tristan adalah miliknya Tidak ada orang lain yang boleh memiliki Tristan.
Kanaya mengencangkan pelukannya pada Tristan, seolah sedang mengklaim pria itu sebagai miliknya seutuhnya.
####
Di tempat lainnya, di Rumah Sakit, seorang wanita yang terbaring di tempat tidur akhirnya mulai sadar.
Namun yang dirinya rasakan ketika sadar adalah tidak ada siapapun di sampingnya, hanya ada sebuah kertas disana.
'Lihat pesan di ponselmu,'
Wanita itu, menatap isi kertas itu dengan ekspresi tidak nyaman, melihat kata-kata dingin itu dirinya bisa menebak surat dari siapa itu.
Dari, Pria yang barusan dirinya Nikahi.
Tristan Norris
Dia segera mengambil sebuah ponsel di atas meja kemudian mengecek ada sebuah pesan di sana.
'Kamu, buatlah alasan jika kamu yang menyuruhku pergi dari sana untuk mengurus Meeting Penting dan Pekerjaanku di Luar Kota, kamu seharusnya tahu peranmu bukan? yang kamu lakukan hanya perlu menjadi Istriku semesta sampai anak itu lahir, Jangan pernah katakan hal yang macam-macam pada Keluargaku itu jika kamu tidak ingin aku membencimu atau anakmu nanti,'
Elena, wanita itu yang membaca kata-kata dingin di ponselnya itu tiba-tiba merasa hatinya tidak nyaman.
Hanya memikirkan Bagaimana semua ini bisa menjadi seperti ini?
Hal-hal yang tidak pernah dirinya harapkan setelah pernikahan mereka.
__ADS_1