
"Maaf, Nona Kanaya. Melihat dari hasil pemeriksaan, tidak ada perkembangan yang berarti selama perawatan beberapa bulan ini di sini, Saya menyarankan agar anda mau melakukan Kemoterapi, atau bisa pergi ke Luar Negeri di mana pengobatan di sana lebih hebat dari disini untuk kesembuhan Nona."
Kanaya yang saat ini sedang melakukan pemeriksaan dan bertemu dengan dokter itu segera menunjukkan ekspresi sedihnya. Dia tidak mengira bahwa setelah hampir 6 bulan melakukan pengobatan, masih tidak ada hasil untuk penyakitnya. Dan sekarang dia bingung apa yang harus dilakukan.
Bahkan dengan Kemoterapi yang memiliki begitu banyak efek samping itu, Kanaya masih tidak yakin. Terutama Kanaya benar-benar tidak ingin terlihat sakit.
"Baik Dokter, Saya akan mencoba memikirkannya lagi."
"Ada baiknya, Nona jangan menunda-nunda pengobatan atau ini akan berakhir dengan parah."
Setelah beberapa percakapan singkat dari dokter, Kanaya mulai keluar dari ruangan itu. Di depan, ternyata sudah ada Azka yang menunggunya. Pemuda itu, yang melihat ekspresi sedih yang ada di wajah Kanaya segera menjadi sedih juga. Mungkin dia bisa menebak apa yang dikatakan oleh dokter yang ada di dalam.
"Kanaya, Apakah kamu tidak apa-apa?"
Kanaya yang mendengar kata-kata penuh kekhawatiran itu hanya mencoba untuk memaksakan senyumnya namun tidak mengatakan apapun. Azka hanya mengikuti kemanapun Gadis itu pergi.
Keduanya, pergi ke tempat yang cukup sepi, agar Kanaya bisa lebih menjernihkan dan menenangkan pikirannya.
Azka yang mulai tidak tahan dengan keheningan itu, jelas segera mencoba untuk memberikan Gadis itu semangat.
"Kanaya, Sebenarnya aku sudah mulai mencari-cari tentang pengobatan penyakitmu di luar negeri, salah satu Kenalanku, bekerja di Rumah Sakit yang cukup hebat, dia bilang disana, ada semacam pengobatan untukmu, tidak ada juga beberapa prosedur Operasi disana, ini mungkin sedikit beresiko namun jika kamu mau mencobanya, Aku yakin kamu akan sembuh."
Kanaya yang melihat bagaimana pemuda yang ada di sampingnya itu sepertinya juga bekerja keras untuk mencoba mencari tempat berobat untuknya itu, merasa cukup kewalahan. Kanaya tahu, bahwa pria itu adalah teman masa kecilnya dan khawatir padanya.
Sejujurnya memiliki seseorang yang begitu perhatian dan khawatir padanya seperti ini membuat Kanaya sedikit bisa merasa lega. Lega untuk setidaknya bisa berbagi beban hidupnya.
Namun..
Kanaya mulai melihat sebuah cincin yang ada di jarinya yang berasal dari kekasihnya. Sampai sekarang, Kanaya masih tidak berani untuk mengatakan apa-apa.
Kapan saat yang tepat?
Kanaya sejujurnya tidak ingin melihat ekspresi sedih Tristan.
"Aku akan mencoba memikirkannya nanti."
__ADS_1
"Kanaya, itu adalah yang terbaik untukmu sebaiknya kamu berobat ke luar negeri jangan menunda-nunda rumah sakit ini pasti akan menyembuhkanmu."
"Aku benar-benar sangat terima kasih karena kamu sudah membantuku namun berikan aku waktu oke?"
Azka yang mendengar itu tiba-tiba merasa tidak tahan dan berkata,
"Apakah alasan kamu tidak pergi karena Kekasihmu itu?"
Kanaya tentu saja terkejut dengan kata-katanya, yah Kanaya juga Suga tahu bahwa Azka tahu hubungannya dengan Tristan, mereka pernah membicarakannya sebelumnya, dan Kanaya sempat meminta pria itu untuk merahasiakan segalanya dan untungnya dia mau.
Dan sekarang untuk di ungkit lagi...
"Aku tidak tahu."
"Tapi, Kanaya Kenapa kamu bersikeras dengan dia? Kamu tahu kan bahwa dia sudah..."
"Cukup, Kan Azka. Aku sudah bilang tidak ingin membahas ini lagi. Sudahlah aku ingin bersiap-siap pulang."
Azka sekarang baru saja ingat bahwa gadis yang ada di hadapannya ini akan segera kembali ke kota tempat tinggalnya. Tugas yang dia lakukan di kota ini sudah berakhir.
"Tidak apa-apa. Ini saja sudah cukup untukku, karena merepotkanmu."
Tidak banyak hal yang mereka berdua bicarakan setelahnya. Azka tentu saja menawarkan Kanaya untuk mengantarnya, dan Kanaya merasa tidak keberatan karena paham dengan kondisinya Siapa yang tahu jika dia tiba-tiba pingsan dan menjadi semacam kehebohan nantinya?
Dalam perjalanan, Kanaya memiliki begitu banyak pikiran. Dari semua hal dia merasa sedikit senang karena Akhirnya bisa kembali pulang.
Karena itu artinya dia bisa melihat Tristan setiap hari. Mereka berdua akan lebih sering bertemu setelahnya.
Jujur, Kanaya benar-benar tidak sabar untuk segera kembali...
####
Hari itu, setelah sekian lama Kanaya begitu bersemangat karena akhirnya pulang kembali ke Kota kelahirannya. Hari ini sengaja dia tidak memberitahukan kepulangan nya karena ini membuat beberapa kejutan.
Setelah perjalanan yang panjang, Kanaya yang sudah tiba di bandara segera menuju ke Apartment, bersiap untuk membereskan barang-barang nya. Sejujurnya dia ingin segera bertemu dengan kekasihnya, sampai dia teringat sesuatu.
__ADS_1
"Astaga, karena aku begitu semangat aku sampai lupa untuk tidak memberikan hadiah untuk Tristan."
Dia mulai berguna pada dirinya sendiri. Dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Mall dan membeli hadiah. Dia berniat untuk membagikan sebuah jam tangan.
Kanaya jika mulai membeli begitu banyak hal mengingat dia begitu bersemangat untuk bertemu dengan Tristan.
Namun mana tahu saat Kanaya kebetulan melewati toko perlengkapan bayi dia melihat wajah-wajah yang familiar.
Disana, ada Tristan bersama dengan Elena, dua orang itu terlihat sedang tertawa bersama dan berbicara dengan aku sambil mulai memilih milih salah satu barang yang ada di sana. Kanaya juga bisa melihat bagaimana Tristan menyentuh Perut Elena sambil tersenyum hangat.
Sejujurnya itu adalah sebuah pemandangan yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pemandangan hangat dari Keluarga kecil.
Hati Kanaya tiba-tiba dipenuhi dengan segala macam kesedihan, kecemburuan dan kemarahan.
Dia tidak mengerti kenapa Tristan bisa tertawa seperti itu bersama Elena, bukankah Tristan bilang dia benci Elena?
Dan akan bercerai dalam waktu dekat?
Jadi apa yang sebenarnya dia lihat sekarang?
Apa yang terjadi selama dia pergi selama ini di luar kota?
Berbagai macam perasaan mulai tumbuh dalam dirinya.
Perasaan bagaimana dia sebenarnya tidak memahami Tristan.
Tidak, ini lebih tepat jika dikatakan perasaanku mana dia merasa sangat jauh dengan Tristan.
Tristan bersama Elena, benar-benar terlihat seperti keluarga yang bahagia yang saat ini menantikan kelahiran anak mereka.
Hanya memikirkan fakta itu saja, Kanaya perlahan-lahan mulai menetapkan air matanya.
Kenapa?
__ADS_1