
Kanaya yang awalnya berniat kembali ke mobil itu mendengar teriakan di belakangnya jelas saja segera menoleh. Dia segera menunjukkan ekspresi terkejut ketika melihat Elena berteriak dilantai.
Secara otomatis, Kanaya segera berjalan ke arah Elena dengan panik.
"Astaga, Elena harusnya kamu hati-hati, bagian mana yang sakit?"
Kanaya menunjukan ekspresi khawatir, sambil mencoba untuk membantu Elena berdiri, namun Elena yang mendapat bantuan itu menepis tangan Kanaya.
"Lepaskan!! Jangan sok baik!"
Hal itu, malah membuat Elena kembali kehilangan keseimbangan dan sekali lagi terjatuh. Hal itu membuat rasa sakit di perutnya menjadi semakin parah.
"Akhhh ... Sakit .... "
"Astaga, Dasar gila!"
Kanaya tidak berani bersikap implusif dan menyentuh Elena lagi, dia segera menelepon Azka yang kebetulan tidak jauh dari sana, segera Azka datang.
"Kak Azka tolong dia, sepertinya dia terpeleset, dan jatuh, "
Azka dengan sigap segera mendekat kearah Elena, namun begitu wajah pria itu menatap wanita yang jatuh itu ekspresinya segera menjadi buruk. Dia ingat siapa ini, bukankah ini Istri Tristan?
Tentu saja, setelah Azka tahu Kanaya sepertinya memiliki hubungan dengan Tristan, Azka sedikit mencari tahu soal Tristan, dan dari penyelidikannya pria itu sudah menikah dan memiliki Istri yang sedang hamil.
Azka masih tidak mengerti, bahkan setelah mendengar penjelasan Kanaya sebelum ini. Tentang hubungan Kanaya dan Kekasihnya itu.
Dan dari yang Azka tahu, wanita ini Elena keberadaannya saja harusnya menjadi suatu objek kebencian Kanaya, namun Kanaya masih ingin menyelamatkannya?
Semakin, Azka menatap gadis disampingnya yang memiliki ekspresi cemas itu perasaan yang ada di hatinya semakin dalam.
Dia tahu, dia baru saja di tolak oleh gadis itu, namun kenapa perasaan yang ada di dalam hatinya ini bukannya meredup namun malah semakin tumbuh besar?
Bahkan walaupun, Azka tahu dia hampir tidak memiliki harapan.
"Kak Azka bagaimana keadaannya?"
Kata-kata Kanaya barusan segera membuyarkan lamunannya.
Dia segera memeriksa Elena lebih lanjut, dan ekspresinya segera buruk.
"Cepat panggil Ambulance. Aku hanya bisa memberikan beberapa pertolongan pertama namun untuk berikutnya harus segera dibawa ke rumah sakit."
Kanaya buru-buru memanggil Ambulance. Untungnya, daerah itu cukup dekat dengan rumah sakit sehingga ambulans segera datang.
Elena yang dibawa oleh petugas medis itu, masih merasakan rasa sakit yang sangat besar di bagian perutnya, namun tatapannya masih menujukan keheranan ketika melihat Kanaya ada disampingnya, dan menunjukkan ekspresi khawatir.
Bukankah gadis itu harusnya senang dia celaka seperti ini?
Kenapa dia menujukan kekhawatirannya?
Merasa penasaran dia segera bertanya,
"Aku tidak mengerti, Kamu, Kanaya... Kenapa kamu menyelamatkanku?"
Kanaya yang tiba-tiba diberikan pertanyaan itu segera menunjukkan ekspresi terkejutnya. Dia juga barusan bertanya pada dirinya sendiri kenapa dia repot-repot mau menolong Elena. Namun sepertinya jawabannya sudah sangat jelas.
"Demi anak ini, ini adalah anak Tristan setelah semua. Jika terjadi sesuatu padanya, Tristan pasti akan sedih, Aku tidak ingin melihat dia sedih."
Ekspresi tulus itu, membuat Elena bahkan Azka sempat terteguh.
"Kamu tidak membenci anak ini?" Tanya Elena lagi.
"Anak itu tidak pernah salah apa-apa. Bahkan walaupun orang tuanya bregsek, seorang bayi tidak bersalah, tidak masuk akal untuk membenci seorang anak yang bahkan tidak tahu apa-apa, dan sangat menyakitkan jika itu terjadi pada anak itu. Seroang anak toh, tidak bisa memilih bagaimana dia akan dilahirkan, tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa."
Ketika Kanaya mengatakan hal itu ada ekspresi kesedihan mendalam dalam kata-katanya. Teringat bagaimana Ayahnya tidak pernah mengharapkan kelahirannya. Dalam hidupnya, penuh dengan kebencian Ayahnya itu. Kanaya juga tidak pernah berhadapan, ketika dia dilahirkan itu membuat Ibunya meninggal, dan memulai semua tragedi ini.
Siapa yang ingin?
__ADS_1
Namun rasa sentimen itu, hanya bertahan sesaat tepat setelah Elena mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.
"Jika kamu peduli dengan anak ini, kenapa kamu tidak meninggalkan Tristan saja? Anak ini butuh Ayahnya setelah lahir."
Kanaya yang mendengar itu, hanya segera tersenyum sambil berkata,
"Elena, Aku bukan malaikat yang berhati baik. Aku hanya seseorang yang cukup egois, Aku mencintai Tristan, dan mengiginkannya menjadi milikku, tidak peduli apa."
####
Sayangnya, ketika tiba di Rumah Sakit, Kanaya yang juga ikut di Ambulans itu, malah jatuh pingsan dan di bawa di IGD lainnya, oleh Azka, dan masalah Elena di urus oleh Perawat dan Dokter lainnya.
Tentu saja, tidak lama setelahnya Tristan sudah tiba di Rumah Sakit setelah menerima kabar dari pihak Rumah Sakit soal Elena.
Tristan jelas saja menjadi panik ketika tiba di rumah IGD. Tepat saat itu, seorang Dokter baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan Elena?"
"Apakah anda Suaminya?"
"Benar, Dokter."
"Saat ini, kondisi Ibu Elena sangat buruk. Karena benturan hebat, membuat kontraksi yang buruk bagi kehamilannya. Dan saat ini, Baik Ibu dan calon bayinya dalam keadaan gawat."
Mendengar itu, Tristan segera menjadi gemetar.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Dia yakin pagi ini semuanya baik-baik saja, Bahkan mereka baru saja Periksa ke rumah sakit kemarin.
Kata Dokter kemarin, calon bayinya tumbuh dengan baik, dalam keadaan stabil, dan akan segera lahir dengan normal nantinya. Dia bahkan masih merasakan bagaimana calon anaknya itu masih bergerak-gerak dalam perut Elena pagi ini.
"Dokter, sepertinya Pasien ingin bertemu dengan Suaminya, Tristan, dia baru saja sedikit mendapatkan kesadarannya."
Seorang perawat tiba-tiba keluar dari ruang pemeriksaan dan memberitahu dokter.
Tristan lalu buru-buru masuk ke dalam bersama dengan para dokter dan perawat yang masih sibuk memeriksa keadaan Elena. Di ruang rawat, Elena memiliki ekspresi pucat dan memiliki wajah kesakitan. Ada berbagai alat di sekitar tubuhnya yang dipasang oleh Dokter.
"M-- Mas Tristan ... Kamu datang ..." Katanya dengan ekspresi lemah.
Tristan mulai mendekat, dan berkata,
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini Padahal tadi baik-baik saja."
Dengan wajah pucatnya, Elena menjawab dengan ekspersi lemah.
"Aku... Aku tidak sengaja bertemu Kanaya ... Dia ... Marah padaku lalu mendorongku... "
Tristan yang mendengar hal itu segera menunjukkan ekspresi terkejut, namun segera berkata dengan tegas.
"Kamu... Jangan bicara omong kosong! Kana tidak mungkin melakukannya!"
"Dia melakukannya!! Karena Aku memiliki bukti tentang perselingkuhannya! Kamu tidak tahu bukan? Jika Kanaya akan bertunangan dengan seorang Pria bernama Azka?"
"Tidak! Tidak mungkin!"
"Aku memiliki rekaman percakapan mereka di ponselku. Bagaimana, Kanaya mengatakan dia menyukai Pria itu! Kanaya marah padaku dan mendorongku!"
"Hah, di saat seperti ini sepertinya kamu pandai mengarang cerita?"
"Bahkan disaat seperti ini kamu tidak percaya padaku?""
Elena yang mulai menjadi emosional itu keadaannya menjadi semakin memburuk.
"Ini ... Ini karena Kanaya ... Dia tidak menginginkan anak ini lahir ... " Kata Elena lagi, sambil memegang erat tangan Tristan.
"Dia... Mana mungkin dia ingin kamu memiliki anak dengan wanita lain? Dia ... Hanya marah padamu, dan ingin membalasmu atas sakit hatinya ... Membuat kamu tidak bahagia, dia bahkan sudah bersama Pria lain!"
__ADS_1
"Berhenti bicara!"
Tepat saat itu, Elena kehilangan kesadarannya, bersama dengan itu, Tristan melihat bagaimana dokter memiliki ekspresi wajah yang buruk.
"Maaf, Pak Tristan sebaiknya anda Keluar dulu. Pasien saat ini memasuki keadaan Koma, dan bayi yang ada di dalam kandungannya semakin melemah."
Tristan bahkan belum sempat bisa marah atas ucapan Elena yang tidak masuk akal itu segera disuguhi oleh kabar buruk.
"Dokter, saya mohon untuk melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan keduanya..."
"Kami masih akan mencoba memantau perkembangan Istri dan anak anda, namun sebaiknya segera dilakukan tindakan operasi."
"Lakukan yang terbaik."
"Namun, Kami masih tidak bisa memberikan jaminan bahwa calon bayi anda bisa selamat, nanti."
"A-- Apa?"
####
Disisi lainnya, saat ini Kanaya baru saja mendapatkan kembali kesadarannya, dia mulai menatap ke arah ruangan putih yang ditempatinya. Merasakan kepalanya pusing.
"Ini... Dimana..."
"Kanaya? Kamu sudah sadar? Saat ini kamu sedang di ruang perawatan, penyakitmu mulai kambuh, kamu harus lebih banyak istirahat."
Namun Kanaya sepertinya tidak terlalu peduli dengan kata-kata itu hanya mencoba segera bangun, dan bertanya,
"Bagaimana keadaan wanita sebelumnya dan bayinya?"
Azka yang mendengar pertanyaan itu segera menjadi marah.
"Kamu ... Kenapa kamu malah memperdulikan orang lain? Harusnya kamu memperdulikan tentang keadaan mu sendiri!"
"Kak Azka, ku mohon ... "
Azka yang mendengar itu akhirnya hanya mengatakan yang sebenarnya, tentang kabar yang baru saja dia dengar dari dokter bahwa, Elena dan Bayinya masuk kondisi Kritis.
"Aku... Aku akan kesana..."
"Kanaya! Kamu tidak melihat keadaanmu sekarang!"
"Aku harus bertemu Tristan. Dia pasti sangat sedih sekarang."
"Kenapa kamu bahkan peduli dengan Pria bregsek yang menghianati mu itu?"
"Kak Azka tidak mengerti ... "
"Kanaya, aku memang tidak mengerti apapun namun..."
Azka belum sempat menyelesaikan kata-katanya, namun sudah di potong oleh Kanaya.
"Kak Azka aku mohon Aku ingin ke sana ..."
Pada akhirnya, Azka mengalah, segera meminta perawat untuk mencabut infus yang Kanaya pakai, dan membantu Gadis itu agar bisa berdiri dan berjalan menuju tempat Tristan berada. Yaitu didepan ruang operasi.
Kanaya yang sudah sampai lorong, segera melepaskan rangkulan Azka yang membantunya berdiri lalu perlahan-lahan menuju ke arah Pria yang saat ini sedang duduk di kursi terlihat menunjukkan keputusan.
"Tristan ... "
Tristan segera mengangkat kepalanya, tatapannya segera bertemu dengan Kanaya. Membuat dia binggung, Kenapa Gadis itu ada di sini?
Tristan saat ini sedang sangat pusing, hatinya dipenuhi dengan kecemasan, kesedihan, kemarahan dan berbagai macam hal.
Dia tentunya ingin percaya pada Kanaya. Namun ada sebuah video di ponsel Elena, dimana disana, Kanaya mengatakan dia mencintai Azka.
Apakah Kanaya benar-benar ingin membalasnya?
__ADS_1