
Akhirnya perdebatan hari itu berakhir dengan Elena mengalah dan memilih setidaknya diantarkan pulang. Tristan cukup senang dengan sikap patuh itu, dimana Elena tidak terlalu lagi memaksakan keinginannya.
Dan malam itu, Tristan segera kekamar pribadinya, lalu menelepon Kanaya. Ada banyak hal yang dua orang itu bicarakan, mereka hanya Video Call beberapa jam, mulai dari kegiatan kantor, sampai topik-topik random.
"Ah, Benar sebentar lagi Ayahmu Ulang Tahun?" Tanya Kanaya dari ujung Video.
"Ya, Dia sebentar lagi ulang tahun,"
"Owh bener, kamu selalu memiliki selera buruk dalam memilih hadiah, biasanya aku yang membantu memilihkannya bukan?"
"Benar sekali, cukup sulit tanpa kamu disini, kau tahu?" Kata Tristan dengan ekpersi terlihat sedih.
"Pfff, kalau begitu Apakah kamu butuh rekomendasi dariku? Aku akan mencoba mencari di Katalog Online, nanti kamu tinggal datang ke tokonya dan mengambilnya,"
Tristan yang mendengar itu, segera memiliki ekpersi gugup, pasalnya dia sudah membeli hadiah untuk Ayahnya bersama Elena, namun jelas saja tidak berani untuk mengatakan hal-hal itu kepada Kanaya. Jadi sekarang bagaimana?
"Emm, memangnya kamu tidak sibuk?" Tanya Tristan lagi.
"Jika untuk kamu tentu saja aku tidak akan sibuk sayang, tunggulah sebentar, Besok akan Aku pilihkah hadiahnya, apakah tidak terlalu buru-buru?"
"Tapi kamu tidak perlu repot-repot tidak apa-apa, Aku tahu kamu begitu sibuk, Aku akan mencoba memilih hadiah sendiri."
Tristan jelas mencoba untuk mencari alasan dan hal itu disambut oleh ekspresi cemberut Kanaya.
"Jadi sekarang kamu tidak membutuhkanku lagi?"
"Bukan begitu sayang, Aku hanya tidak ingin merepotkan mu, lagi pula Ulang Tahun Ayah juga sudah dekat, Aku tidak mau terlalu buru-buru,"
"Baiklah-baiklah, kalau begitu aku akan memilihkannya malam ini jadi besok kamu langsung bisa mengambilnya oke?"
Tristan sepertinya, sudah tidak bisa memiliki cara untuk mengelak dan akhirnya hanya mengiyakan tawaran Kanaya, walaupun Tristan tidak yakin bagaimana nanti.
Apakah hadiah itu akan diberikan pada Ayahnya atau tidak?
Namun Ayahnya selalu suka dengan hadiah pilihan Kanaya setiap tahunnya. Lalu bagaimana dengan hadiah dari Elena?
Tristan terlalu pusing untuk memikirkannya dan memilih untuk menundanya saja.
Malam itu, dua orang itu masih asik mengobrol, sambil Kanaya berselancar di Laptopnya mencari hadiah online, sambil menunjukan pada Tristan.
Kebetulan itu adalah salah satu Jam Tangan Branded Limited Edition terbaru, yang sepertinya baru ada di Grand Mall di kota tempat Tristan berada.
"Bagaimana dengan ini? Ayahmu sepertinya menyukai merk ini,"
Tristan tentu setuju-setuju saja dengan pilihan Kanaya. Sebelumnya, dia dipilihkan oleh Elena sebuah Sepatu untuk hadiah Ayahnya, Tristan hanya menurut saja.
Namun jika dikatakan, pilihan Kanaya jauh lebih baik, Kanaya benar-benar tahu benar selera Ayahnya semacam apa.
"Wow, kamu benar-benar tahu selera Ayahku, terkadang Aku binggung, apakah Kamu yang anaknya atau Aku,"
"Apa? Kamu terlalu berlebihan, hanya saja Selera Ayahmu sedikit sama dengan Ayahku,"
__ADS_1
Namun segera setelah Kanaya mengatakan itu, ekpersi Kanaya berubah menjadi buruk terlihat cukup sedih. Tristan tentu saja tahu, masalah Kanaya dan Ayahnya.
"Kamu tidak perlu memikirkan soal orang itu mengerti?"
"Hmm, Aku tahu, dia bahkan tidak peduli padaku Kenapa pula aku harus memikirkannya?" Kata Kanaya sambil tersenyum.
Tristan tahu, ada hati Kanaya pasti terasa hancur ketika mengatakan hal-hal ini, Tristan tidak ingin membuat kekasihnya itu sedih jadi segera mengalihkan pembicaraan.
"Besok Aku akan segera kesana dan memesan ini, Ayahku pasti suka dengan hadiahnya,"
"Tentu saja,"
Setelah memilih hadiah selesai, mereka masih terus berbicara, sampai Kanaya yang merasa begitu lelah itu akhirnya mulai terlelap tidur, sambil masih menyalakan ponselnya.
Tristan yang melihat kekasihnya itu tertidur lelap hanya segera berkata,
"Selamat malam sayangku,"
Kemudian, dia mulai mematikan teleponnya.
####
Saat ini disebuah gedung telah diadakan sebuah Pesta Mewah, dari sebuah mobil sport berwarna putih keluar Tristan dan Elene bersama, mereka mengenakan pakaian berwarna sama, semacam pakaian pasangan yang memang sudah di siapkan oleh Keluarga.
Beberapa pasang mata, menatap ke arah pasangan itu melihat bagaimana dua orang itu terlihat serasi, Tristan yang sangat tampan dengan Jas berwarna biru, dan Elena yang mengenakan ganun pajang berwarna senada terlihat anggun dan elegan.
"Tristan, kamu tidak membawa Hadiah yang Aku pilihkan?"
"Itu ada di mobil, aku tiba-tiba berubah pikiran dan memilih hadiah lain,"
"Itu terserah aku mau memberikan hadiah apalagi pula jika kamu benar-benar ingin memberikan hadiah itu pada ayahku berikan saja sendiri,"
"Baiklah kalau begitu, Aku akan mengambilnya kamu tunggu sebentar, sangat sia-sia jika tidak memberikan hadiah itu pula kita berdua toh sudah memilihnya,"
"Terserah kamu saja, jangan lama-lama atau Aku tinggal," kata Tristan dengan dingin, saat ini mereka berdua masih di dekat tempat parkir jadi cukup dekat untuk kembali ke mobil. Tristan sendiri berdiri disana, lalu mengabil beberapa foto selfi untuk dikirimkan kepada Kanaya. Di tangannya juga ada sebuah kontak hadiah yang sudah dia siapkan, jam tangan pilihan Kanaya.
Sayangnya tidak lama dia menunggu Elena sudah sampai di sana keduanya lalu mulai berjalan masuk. Keduanya langsung saja menuju ke ruangan tempan Ayah dan Ibu Tristan menunggu, keluarga itu memang berencana untuk memulai pesta setelah semua anggota keluarga berkumpul.
Namun pertama, jelas sekali acara pembelian hadiah dari masing-masing Putra Keluarga itu, dimulai dari Kakak Pertama Tristan, yang memberikan sebuah Lukisan pada Ayahnya, salah satu koleksi dari Pelukis Favorid Ayahnya.
"Daniel, hadiah darimu selalu sangat bagus seperti biasanya kamu memang paling tahu seleraku,"
"Terimakasih banyak Ayah, tentu saja sebagai salah satu putra ayah aku harus tahu hal-hal yang ayah sukai,"
Tristan melihat adegan tentang bagaimana kakak tertuanya itu sedang mencoba menjilat dan merayu ayahnya itu merasa sangat tidak senang, cara dia cari perhatian semacam itu, dari dulu tidak berubah. Selanjutnya Kakak Kedua Tristan, Evano Norris dan Istrinya juga segera memberikan hadiah, tidak banyak pesan tentang hadiah dari mereka berdua namun cukup membuat Ayah Tristan puas.
"Pilihan Menantuku ini memang bagus, kamu harus bangga pada Istrimu, Evano,"
"Tentu saja Ayah,"
Dan sekarang giliran Tristan dan Elena yang memberikan hadiah pertama-tama, Tristan memberikan kotak jam tangan itu pada Ayahnya. Ayah Tristan yang membuka kotak hadiah jam tangan itu merasa cukup terkejut dengan isinya.
__ADS_1
"Pffff.... Kamu... Aku hampir lupa untuk membeli ini karena sibuk, dan ternyata terakhir Aku cek sudah habis, jadi bagaimana kamu mendapatkannya?"
"Hanya beberapa keberuntungan,"
Tentu saja butuh banyak usaha untuk Tristan mendapatkan jam tangan limited edition, ini juga berkat Kanaya dia bisa mendapatkannya, Kanaya memiliki beberapa koneksi yang cukup sehingga bisa mendapatkan salah satu barang edisi terbatas ini.
Ibu Tristan yang berada di sana segera berkata,
"Ah, Itu hadiah yang Elena pilihkan, pasti keberuntungan menantu kita ini,"
Ada ekpresi terkejut di wajah Tristan, Elena maupun Ayah Tristan setelah mendengar kata-kata itu.
"Astaga, Elena kamu benar-benar tahu seleraku dengan baik aku cukup terkejut hadiah yang kamu kirimkan benar-benar sangat bagus, kamu memang Menantu Keberuntungan Keluarga Kami, kamu bahkan akan segera memberikanku cucu Pertamaku,"
Ada beberapa orang yang sangat tidak senang dengan kata-kata itu, selain Kakak tertua Tristan yang memang tidak menyukai adik bungsunya itu, Kakak kedua Tristan yang sudah menikah 1 tahun namun belum juga dikaruniai anak itu juga merasa tersinggung.
Elena yang mendengar itu merasa cukup canggung namun pada akhirnya menjawab,
"Ya, ini hanya kebetulan juga, Aku pikir hadiah itu memang sangat cocok untuk Ayah, aku juga membawa beberapa hadiah lain karena aku cukup baru dengan keluarga ini sebenarnya aku masih cukup bingung dengan selera dan hal-hal yang Ayah Mertua suka," kata Elena sambil memberikan kotak berisi sepatu itu. Ayah Tristan hanya menerima hadiah itu namun tidak banyak berkomentar, masih hanya memuji soal Jam tangan sebelumnya yang memamg sangat dia sukai.
Tristan sendiri tiba-tiba merasa tidak nyaman di hatinya terutama ada rasa bersalah besar yang ada di hatinya kepada Kanaya, yah Kanaya yang memilihkan hadiah itu dan susah payah mendapatkannya, namun malah orang lain yang mendapatkan pujian. Dan lagi, Tristan merasa tidak berdaya dengan situasi ini. Dia hanya dimiliki rasa penyesalan didalam hatinya.
Dan setelah beberapa percakapan seluruh keluarga itu segera keluar menuju ruangan pesta dan mulai pesta besar itu. Tidak banyak yang terjadi pada awalnya sampai orang tua Elena datang. Elena yang melihat kedua orang tuanya itu merasa tidak nyaman dan segera mengajak keduanya untuk berbicara di tempat yang lebih sepi.
Tristan awalnya sedang menyapa beberapa orang bersama Ayahnya, ketika melihat Elena tiba-tiba pergi bersama kedua orang tuanya mungkin karena rasa penasaran dia segera menyusul Elena, mungkin saja bisa menemukan beberapa kejahatan Elena jadi nanti bisa mengungkitnya untuk masalah perceraian mereka.
Namun apa yang Tristan dengar ketika dia menguping pembicaraan mereka adalah sesuatu yang tidak dapat dia percaya.
"Elena, apa susahnya sih kamu mengatur agar suamimu itu atau ayah mertuamu itu berinvestasi di Perusahaan Ayah?"
"Ayah, bukankah sebelumnya mereka juga sudah memberikan suntikan dana?"
"Itu masih kurang,"
"Tapi Ayah, aku merasa tidak nyaman jika terus meminta seperti itu kepada mereka,"
"Elena, kenapa kamu itu tidak berguna sih? Ayah dan Ibumu sudah repot-repot mengatur agar kamu bisa menikah dengan Tristan, jelas sekarang kamu menjadi Nyonya Keluarga Norris terlebih akan melahirkan cucu pertama mereka,"
"Itu awalnya adalah keinginan kalian sendiri! Kalian bisa-bisa menjual Putri kalian sendiri! Membuatku mabuk dan melakukan hal-hal tercela itu,"
"Kenapa kamu malah menyalahkan kamu itu jelas adalah hal yang bagus kamu sudah menyiapkan sebuah panggung yang baik untukmu agar kamu bisa menjadi Istri Tristan,"
"Namun seharusnya tidak menggunakan cara semacam itu,"
Tristan yang mendengar hal-hal itu secara tidak sengaja jelas saja menjadi syok tidak pernah mengira jika kejadian malam itu, Elena ternyata juga tidak terlibat malah dia juga menjadi korban dari manipulasi orang tuanya.
Tristan yang merasa sangat terkejut dan sok itu segera pergi dari sana untuk mencoba menenangkan dirinya menuju ke balkon. Dia mulai mengingat lagi semua perlakuan kasarnya kepada Elena, padahal Elena tidak bersalah, dan bagaimana Elena selama ini selalu bersikap baik padanya, bahkan setelah perlakuan tidak adil yang diterimanya.
Sebuah tumpukan rasa bersalah dan rasa malu tiba-tiba muncul ketika dia mulai memikirkan berbagai kejadian di masa lalu.
"Namun Apa yang harus Aku lakukan sekarang? Kana... Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang,"
__ADS_1
Tristan tiba-tiba menjadi bimbang dan bingung tentang bagaimana cara dia memperlakukan Elena dimasa depan, Elena yang ternyata juga tidak tahu apa-apa dan hanya korban, Tristan menjadi binggung sendiri, biasanya dia hanya bisa membenci Elena atas semua kejadian ini namun setelah mengetahui kenyataan ini...
Apakah dia masih bisa membenci Elena lagi?