Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 26: Batasan


__ADS_3

Saat ini disalah satu toko buah terlihat Tristan dan Kanaya baru tiba di sana dan mulai bertanya pada penjaga toko Dina kentang apakah di sana menjual buah Delima merah atau tidak. Dan sangat beruntung setelah sekian kalinya mencari di berbagai toko buah di kota itu akhirnya menemukan tempat di mana ada yang menjual delima merah itu.


"Pak Beli yang banyak, apakah ada 3 kg?" kata Kanaya bertanya pada penjaga toko itu.


"Tentu saja ada, namun memang kebetulan sekali stok buah delima merah di sini hanya itu saja maklum buah ini cukup sulit untuk dicari dan lebih banyak orang yang kadang mencari buah ini,"


"Ya, itu bagus, ini untuk pembayarannya," kata Kanaya mulai memberikan beberapa uangnya setelah melihat harga yang ada di sana.


Tristan melihat adegan itu dimana Kanaya yang membeli buah itu bahkan membayarnya, perasaan Tristan tiba-tiba merasa tidak nyaman. Jadi ketika penjaga toko sedang mengemas dan menimbang buah itu, Tristan segera bertanya pada Kanaya,


"Kenapa kamu membeli sangat banyak? Ini sampai tiga kilo, sepertinya aku tidak membutuhkan sebanyak itu juga pula,"


Kanaya yang mendengar pertanyaan itu hanya segera menghela nafas dan berkata dengan ekspresi cemberut,


"Apa? Aku membeli banyak untuk jaga-jaga kali nanti Elena mencari buah itu lagi hal-hal aku jadi sulit untukmu juga kan?"


"Aku malah tidak kepikiran,"


"Hah, memang apa sih yang ada di kepalamu?"


"Tentu saja itu kamu, Kana,"


"Berhentilah berbicara omong kosong,"


"Tapi ini benar tidak apa-apa membeli ini untuk...."


"Ini jelas karena ngidam bukan? Kamu tidak usah terlalu banyak berpikir deh, Tristan!"


"Ya, ya Aku mengerti,"


Penjual yang sedang membungkus buah itu mungkin sedikit mendengar beberapa percakapan mereka walaupun tidak begitu jelas namun ada hal-hal yang benar-benar dia dengar dengan jelas jadi dia mulai bertanya kepada pasangan itu.


"Astaga, jadi Istri Tuan ini sedang ngidam? Pantas saja mencari Buah Delima, beberapa orang menyukai ini namun memang sangat jarang untuk mencarinya apalagi di musim-musim ini,"


Tristan yang mendengar kata-kata dari sang penjual buah itu hanya tersenyum canggung.


"Haha, begitulah,"


Penjual buah itu lalu menatap kearah Kanaya seolah sedang mengamatinya mungkin karena penasaran dia segera bertanya,


"Apakah ini masih hamil muda? Saya lihat perut Ibu belum besar,"


Sekarang tatapan Tristan mau tidak mau mengikuti pandangan pejual buah yaitu perut Kanaya yang datar-datar saja.


Kanaya yang ditatap itu segera merasa ricis kemudian memasang senyumannya sambil mengatakan beberapa omong kosong,

__ADS_1


"Ini sudah bulan kedua, begitulah ini belum terlihat, benar bukan sayang?"


Kanaya segera meyengol Tristan yang tiba-tiba merasa malu dengan ucapan Kanaya barusan, memikirkan Kanaya hamil....


"Jadi begitu, semoga calon bayinya tumbuh dengan sehat,"


"Hahaha, Terimakasih," kata Kanaya lagi sambil mempertahankan senyumannya.


"Kalian berdua benar-benar pasangan yang sangat cocok, cantik dan tampan, pasti nanti calon anak kalian juga akan manis dan lucu, setampan ayahnya atau secantik Ibunya,"


"Semoga saja, Aku arap ini anak laki-laki," kata Kanaya lagi.


Sang penjual hanya tersenyum lalu mulai menyerahkan buah yang ada di tangannya yang baru saja di pesan mereka, tidak lupa menambahkan dua buah tampahan yang memiliki vitamin tinggi untuk Ibu hamil.


"Ini, buah ini konon katanya jika dimakan oleh wanita hamil, kemungkinan calon anaknya laki-laki cukup tinggi, anggap saja ini bonus dariku,"


Kanaya menerima bungkusan buah itu dengan senang hati, dan berkata,


"Sampai repot-repot begini terima kasih banyak ya saya senang, benar bukan sayang? Calon anak kita pasti akan tumbuh sehat dan mungkin laki-laki, aku benar-benar menantikannya,"


Tristan yang mendegar itu segera merasa wajahnya merah, mungkin karena Tristan berpikir tidakah terlalu jauh memikirkan soal kehamilan Kanaya?


Prosesnya saja belum, Kanaya masih perawan, astaga...


Dua orang itu segera pergi dari sana dan kembali ke dalam mobil Tristan yang lebih dulu berbicara ketika masuk di dalam mobil.


Kanaya yang mendegar itu segera menjadi kesal dan berkata,


"Diamlah saja, aku hanya berakting pula. Hah, dan jangan membuatku kesal deh, darimana pula kamu tahu Aku masih Virgin?"


Tristan yang mendengar itu segera menunjukkan ekspresi cemberut dan berkata,


"Tidak, Aku yakin kamu masih, aku tidak pernah berpikir kamu pernah dekat dengan pria manapun selain aku,"


"Hahaha, kalau begitu mari coba dan buktikan saja nanti? Apakah aku masih atau tidak?" kata Kanaya dengan nada sedikit menggoda.


Wajah Tristan kembali memerah dan berkata,


"Berhentilah bicara omomg kosong, Aku sudah susah payah menahan diri selama ini oke?"


"Hmph, apakah karena kamu menahan diri terlalu lama? Jadi bisa langsung jebol semacam itu sampai Elena hamil,"


"Ayolah, Kana, jangan mulai lagi,"


Kanaya lalu segera menatap Tristan, dan membawa tangannya ke pipi Tristan sambil berkata,

__ADS_1


"Ah, tahu begitu sebelumnya biar Aku saja duluan yang tidur denganmu, ukh sungguh sialan,"


"Ka.. Kana jangan bicara aneh-aneh,"


"Aneh apa? Aku bertanya padamu? Kamu tidak ingin melakukanya denganku? Melakukan hal-hal nakal, Ah~" kata Kanaya lagi sambil lebih mendekatkan wajahnya.


Tristan mencoba untuk memalingkan wajahnya dan berkata,


"Bukanya tidak mau, tentu saja Aku ingin..."


"Jadi kenapa kamu tidak berani menatapku jika kamu ingin, hmm?" kata Kanaya lagi yang sekarang mulai naik ke pangkuan Tristan, dan membuat wajah Tristan agar kembali menatapnya di sana ada sedikit wajah malu yang terlihat cukup lucu di mata Kanaya.


"Kana... Kamu..."


Kanaya tidak menjawab, hanya segera menarik Tristan lalu segera menciumnya, ciuman itu berlangsung cukup lama seolah keduanya menjadi penuh keinginan satu sama lainnya.


Sampai keduanya mulai melepaskan ciuman itu karena kehabisan nafas, keduanya saling tatap satu sama lain, benar-benar terlihat ada keinginan tertentu di antara tatapan mereka yang saling menusuk itu.


"Tristan, kamu tidak ingin?"


"Kana, apakah kamu mencoba untuk mengujiku?"


"Hmm, entahlah? Wow, tubuhmu benar-benar berkata jujur," kata Kanaya sambil menatap kearah bawah dimana bagian tertentu celana Tristan sedikit mengembung.


Tatapan Tristan segera menatap kearah yang sama, lalu segera menutupinya dengan tangannya, merasa sangat malu sendiri.


"Ukhh, Kana, jangan terus-terusan mengodaku, bagaimana jika aku tidak tahan?"


"Hmm, bagaimana ya? Kamu selesaikan saja urusanmu sendiri dengan tanganmu," kata Kanaya lalu mulai kembali duduk di kursi seolah tidak terjadi apa-apa, sambil tersenyum licik kearah Tristan.


"Sial, Kana kamu itu ya,"


Tristan segera menunjukkan ekspresi cemberut, namun dia tidak benar-benar marah karena cukup tahu dengan watak wanita yang ada di depannya ini, sudah terbiasa dengan ini karena toh mereka sudah bersama selama 5 tahun.


"Owh, lalu mau melakukannya denganku? Mampir ke hotel terdekat?"


Itu dikatakan dengan nada yang main-main.


"Tidak usah, nanti tenang sendiri,"


Kanaya tertawa senang melihat Tristan menderita disana, sambil menyetir mobilnya.


Hanya, Kanaya tentu saja ingin melakukannya, agar bisa mengklaim Tristan benar-benar miliknya, namun ada batasan-batasan tertentu soal hubungan antara mereka berdua sejauh mereka berdua belum menikah. Ya, itu benar soal masalah ini, Keluarga Kanaya dari Keluarga yang cukup menjunjung tinggi hal ini, terutama Kakeknya, kalau sampai di berbagai kemungkinan tertentu dirinya difitnah lalu ada semacam pemeriksaan, ini benar-benar bisa merusak reputasi.


Itulah juga, kenapa Kakeknya tidak suka denga Keisya yang merupakan anak dari hubungan luar nikah Ayahnya entah dengan wanita mana di luar sana, anak haram Ayahnya dan Ibu Keisya juga sudah meninggal, Kakek dan Neneknya dari pihak Ibu lalu melemparkannya pada Ayahnya untuk mengurusnya.

__ADS_1


Hal-hal ada batasan, dan ini juga yang membuat Kanaya masih bisa bertahan, masih merasa Tristan masih memiliki beberapa kesetiaan padanya, dan Tristan yang mencintai dirinya dengan tulus.


__ADS_2