
Sebuah kebahagiaan berlalu dalam sekejap, dan ruangan itu segera dipenuhi dengan keheningan ketika dokter melakukan pemeriksaan.
"Saat ini, Kondisi Nona Kanaya sangat tidak baik. Dia dalam kondisi kritis dan kami tidak bisa memastikan Apakah dia bisa bertahan lebih lama atau tidak."
Tristan yang mendengar itu jelas saja menjadi marah.
"Apa yang Dokter katakan? Jangan bicara macam-macam! Cepat selamatkan saja istri saya! Sembuhkan dia!"
Dokter itu terdiam ketika mendengar kata-kata itu.
"Dokter! Anda bisa melakukannya bukan?"
Dokter itu, lagi-lagi menjadi terdiam.
"Dokter!"
"Hanya ada satu cara, untuk menyelamatkan Nona Kanaya, yaitu dengan benar samsung tulang belakang dan melakukan operasi. Namun, sampai saat ini, prosedur ini masih sangat berbahaya baik untuk Pendonor ataupun penerima. Namun ini adalah satu-satunya cara."
"Kalau begitu, kenapa Tidak lakukan? Ambil saja milikku, Aku akan mendonorkannya untuk Kanaya."
"Jika itu semudah, dia pasti sudah lama sembuh. Namun sayangnya tidak semua orang memiliki kecocokan untuk proses mendonorkan ini."
Seolah itu sebuah keajaiban, setelah melakukan berbagai macam prosedur pemeriksaan, ternyata, Tristan cocok sebagai Pendonor.
"Apakah anda yakin?" Tanya Sang Dokter lagi, sebelum melakukan prosedur operasi.
Saat ini di sebuah ruangan operasi, ada Kanaya yang masih tidak sadarkan diri. Dan Tristan yang saat ini berbaring di tempat tidur Rumah Sakit disamping Kanaya.
"Tidak apa-apa, Aku yakin ini akan berhasil."
Tristan lalu mulai menggenggam tangan gadis yang ada di sampingnya itu. Dan disana dia mulai kehilangan kesadarannya.
####
Hal pertama yang Kanaya rasakan ketika membuka matanya adalah bagian punggungnya terasa tidak nyaman.
"Ini ... Ini dimana?"
Ada perasaan pusing, namun orang pertama yang dia lihat ketika membuka matanya adalah Ayahnya.
Kanaya lalu teringat bagaimana dia menikah dengan Tristan.
"Ayah? Kenapa Ayah disini? Mana Tristan Suamiku?"
__ADS_1
Haikal tidak tahu harus berkata apa pada putrinya.
"Kamu baru saja melakukan Prosedur Operasi Cangkok Sumsum Tulang belakang. Sekarang penyakit mu seharusnya sudah sembuh,"
Wajah Kanaya menjadi pucat setelah mendengar itu.
"Tunggu, bukankah tidak ada yang cocok denganku? Dan lagi, Operasi itu berbahaya bagi pendonor."
"Kamu tidak perlu with cemas dan jangan terlalu khawatir."
Kanaya tiba-tiba memiliki firasat buruk.
"Tristan? Mana Tristan?"
"Kanaya, tenang dulu!"
"Katakan di mana dia jangan lagi berbohong! Ayah! Ku mohon!"
Kanaya tiba-tiba mulai menangis memikirkan kemungkinan yang terjadi.
"Benar dia mendonorkan miliknya padamu..."
"Lalu... Lalu dimana dia?"
Sampai kemudian, tiari di samping tempat tidurnya terbuka, dan menunjukkan wajah yang familiar.
"Astaga, Kanaya, apa yang kamu pikirkan? Aku hanya sedang tidur karena begitu lelah."
Kanaya melihat wajah bodoh Tristan yang tersenyum ke arahnya itu.
"Kamu... Melakukan hal yang terlalu bahaya!"
Kanaya ingin marah, namun tidak memiliki energi. Tristan mulai bangun dari tempat tidurnya dan datang ke arah gadis itu, lalu memeluknya.
Seolah mengerti, Ayah Kanaya juga segera pergi dari ruangan itu.
Tristan, lalu mulai mencium lembut bibir Kanaya.
"Apa? Buktinya saat ini aku baik-baik saja dan kamu juga baik-baik saja! Mungkin ini adalah takdir yang aneh bagaimana kita berdua cocok dan memanah di takdirkan bersama."
Tristan sedikit tertawa ketika mengatakan itu.
"Hah, tau begitu operasi dari dulu saja,"
__ADS_1
"Memang, kamu yang aneh karena tidak bercerita padaku."
"Itu benar. Rasanya menyimpan begitu banyak rahasia sangat tidak menyenangkan,"
"Bener. mulai hari ini dan di masa depan sesulit apapun keadaan atau seburuk apapun keadaan kita berdua tidak boleh saling berbohong. Kita harus saling jujur seberapa buruk pun itu."
"Bukan aku yang awalnya berbohong."
Tristan lalu sekali lagi mencium bibir Kanaya,
"Maaf, ini salahku bukan?"
"Ya, ini awalnya salahmu."
Akhirnya, keduanya melewati masa-masa kritis mereka, dan memulai awal kehidupan baru yang bahagia bersama sama. Dengan keyakinan baru, agar tidak saling berbohong satu sama lain dan saling jujur.
Begitulah cara mereka menemukan kebahagiaannya.
####
Di sela perawatan, Tubuh Kanaya semakin membaik. Hari itu, Tristan yang kembali ke Rumah Sakit, membawa kejutan yang tidak terduga. Itu adalah seorang anak kecil.
"Eh? Apa anak itu?"
"Ini Hazel Norris. Mulai sekarang dia akan menjadi Putra kita. Sayang, mari katakan hallo pada, Mama Kanaya?"
Anak kecil itu, sedikit binggung, namun segera keluar dan menyapa Kanaya.
"Allo..."
Suara kecil yang membuat Kanaya sedikit gugup, namun jika memberikan perasaan senang.
Kanaya awalnya juga tidak tahu, apakah nantinya dia akan bisa menerimanya. Namun setelah melihat anak yang begitu lucu itu seolah hatinya baru saja sembuh.
Dan tepat seperti dugaannya, anak kecil itu, memiliki wajah yang sama dengan Ayahnya begitu, lucu dan manis. Seorang anak yang tidak berdosa. Tidak perlu untuk memiliki perasaan benci yang tidak masuk akal.
"Hallo, adik kecil. Mulai sekarang kita adalah keluarga."
...****************...
...TAMAT...
...****************...
__ADS_1