Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 41: LDR


__ADS_3

Ini adalah sebuah bandara, di pagi yang cerah itu sudah cukup ramai dengan pengunjung. Dan salah satunya adalah Kanaya yang saat ini bersiap untuk pergi ke penerbangan pagi ini ke luar kota. Waktu benar-benar sangat cepat berlalu, dan persiapan Kanaya pergi ke luar kota pun selesai, dia akan berangkat pagi itu. Dan saat ini, di salah satu sudut terpencil Bandara, Kanaya dan Tristan saat ini tengah melakukan perpisahan.


"Kana, kamu jaga diri baik-baik di sana jangan lupa makan teratur dan jangan terlalu banyak lembur,"


"Tentu saja sayang, Aku pasti bisa menjaga diriku. Kamu juga jangan terlalu banyak lembur,"


"Tapi sungguh kamu akan pergi selama 6 bulan?" Kata Tristan dengan ekspresi sedih diwajahnya, benar-benar merasa tidak ikhlas untuk melepas kekasihnya itu pergi ke luar kota walaupun mereka masih bisa bertemu namun tetap saja, jauh.


"Yah, mau bagaimana lagi setidaknya aku harus mengecek project itu sampai pertengahan,"


"Aku pasti akan sangat merindukanmu,"


"Ya, Aku juga, Aku tahu ini cukup sulit untuk kita LDR, namun mau bagaimana lagi,"


Keduanya, lalu saling berpelukan satu sama lain terlihat sekali Jika mereka berdua tidak ingin untuk berpisah. Mereka saling bertatapan setelah pelukan yang cukup lama itu, dan berciuman, benar-benar mengiginkan satu sama lainnya.


Sampai ciuman berakhir, namun Tristan sepertinya masih tidak ingin melepaskan pelukannya dari kekasihnya itu.


"Aku benar-benar akan sangat merindukanmu," kata Tristan, ada ekspresi kesedihan di sana.


"Hmm, datanglah ke sana kalau begitu," kata Kanaya dengan nada cukup tenang.


"Namun ini berbeda, setidaknya jika kita ada di kota yang sama setiap kali aku ingin melihatmu aku langsung bisa menemuimu."


"Ya, kamu benar. Namun mau bagaimana lagi? Aku juga akan sangat merindukanmu, cukup berat untuk tidak melihatmu dalam waktu yang lama bahkan walaupun sebelumnya kita jarang bertemu karena kesibukan,"


"Hmm, yakinlah aku pasti akan ke sana untuk bertemu denganmu," kata Tristan dengan penuh tekad.


"Tentu saja, aku juga akan membuat alasan untuk bisa pulang ke kota ini dan kita bisa bertemu,"


Selanjutnya, keduanya mulai berpelukan lagi kali ini pelukannya cukup lama sampai terdengar pemberitahuan tentang Pesawat yang Kanaya akan naiki. Pelukan itu segera dilepaskan dan Kanaya mulai menatap ke arah jam tangannya,


"Aku rasa ini saatnya aku pergi,"


"Ya, sampai jumpa lagi,"


Kanaya mulai berjalan pergi dari sana dan melambaikan tangannya, namun mungkin karena ada sedikit rasa tidak nyaman di hatinya, Kanaya lalu segera berbalik lagi, dan memeluk Tristan lagi.


"Ukhh, Aku sebenarnya tidak sanggup untuk pergi seperti ini, Aku benar-benar sangat mencintaimu, Aku pasti akan merindukan mu," kata Kanaya lagi, dengan nada penuh kesedihan, karena harus berpisah dengan kekasihnya Mungkin ini memang bukan waktu yang lama namun tetap saja.


"Ya, Kana Aku juga. tidak apa-apa pergilah kita pasti akan segera bertemu setelah ini,"


Dan itu saat dimana Kanaya benar-benar pergi dari sana setelah melambaikan tangannya kepada Tristan, benar-benar merasa tidak nyaman pergi seperti ini. Kanaya segera masuk chek in ke Ruang Tunggu, sampai waktu benar-benar berlalu cukup cepat dan akhirnya dia mulai memasuki pesawat.


Kebetulan dia duduk di dekat jendela, Kanaya menatap ke arah keluar jendela, ketika pesawat itu mulai lepas landas.


Ketika bandara murai terlihat semakin kecil dan semakin kecil, perasaan Kanaya campur aduk.

__ADS_1


'Apakah tidak apa-apa? Tristan sudah menikah, selama aku pergi Bagaimana jika terjadi sesuatu pada hubungan mereka?'


Ya, tentu saja Kanaya diliputi dengan rasa kekhawatiran yang ada di hatinya namun bagaimanapun dia memikirkannya dirinya sudah memilih langkah ini untuk pergi.


'Aku akan percaya padamu, Tristan. Jadi jangan pernah mengecewakan kepercayaan ku lagi,'


Bersama dengan itu, Kanaya pergi ke Luar Kota yang agak jauh dari Kota itu. Ini adalah sebuah awal baru dari hubungan jarak jauh antara Kanaya dan Tristan.


####


Waktu benar-benar tidak terasa, ini sudah satu bulan sejak Kanaya pergi ke luar kota apalagi karena banyak kesibukan saat persiapan project itu, waktu benar-benar terasa cepat. Ini adalah salah satu malam dimana Kanaya berniat untuk menelepon Tristan, satu bulan terakhir ini mereka rutin bertelepon atau melakukan Video Call setiap beberapa hari sekali.


Namun kali ini ada yang aneh, telepon Kanaya tidak diangkat.


"Apakah dia sibuk?"


Kanaya sendiri, merasa begitu lelah malam itu jadi Dia memutuskan untuk segera tidur lebih awal, hanya mengira mungkin Tristan sedang sibuk sampai tidak mengagkat teleponnya. Mungkin besok saja untuk menelepon lagi namun tetap saja rasanya sungguh merindukan kekasihnya itu.


"Ukhh, Aku benar-benar ingin segera bertemu denganmu," guna Kanaya sendiri, benar-benar merindukan Tristan, mereka sudah satu bulan juga tidak bertemu jadi wajar untuk rasanya merasa kesepian.


Sayangnya ditempat lainnya, saat ini Tristan sedang berada di sebuah Restoran Mewah bersama dengan Elena, kebetulan Ponselnya yang satunya tertinggal di Apartemennya, jadi dia tidak menjawab telepon Kanaya.


"Kenapa kamu tiba-tiba mengajakku makan di tempat ini?" Tanya Tristan dengan dingin, yah sebulan ini Elena memang lebih sering mengajaknya makan malam bersama, yah walaupun hanya satu Minggu sekali, namun tetap saja itu merasa cukup mengagu.


"Aku hanya kebetulan sedang ngidam, kamu tahu bukan?"


"Mas Tristan, ini tidak seperti ini, lagipula ini calon anak kita, Mungkin dia ingin melihat orang tuanya bersama bahkan walaupun hanya sebentar tidakkah kamu ingin memantau perkembangan anak ini juga?" Tanya Elena sambil mengelus perutnya.


"Hah, terserah saja,"


Dan tidak lama sampai pelayan datang dan membawakan daftar menu. Sebelum Tristan berbicara, Elena lebih dulu memesan beberapa menu, dan ada beberapa menu yang membuat Tristan cukup terkejut.


"Itu adalah makanan favorit mu bukan?" Tanya Elena setelah memesan salah satu menu favorit pria yang ada di hadapannya itu. Tentu saja, Elena tahu hal-hal yang Tristan suka dan tidak dari Ibunya, perlu untuk mengambil hati seorang pria dengan mengetahui hal-hal yang dihasilkan atau tidak sukai.


"Dari mana kamu tahu?"


"Aku sering melihat ketika kamu senang memesan hal-hal semacam itu,"


Tristan mau tidak mau cukup terkejut tentang bagaimana wanita yang ada di hadapannya itu ternyata memperhatikan sedikit kebiasaannya, namun Tristan mencoba untuk menghilangkan pikirannya itu.


Yah sejujurnya, dalam satu bulan ini Tristan merasa sangat kesepian karena tidak bertemu dengan Kanaya, walaupun mereka sering bertelepon atau Video Call, namun tetap saja itu sedikit berbeda dari bertemu secara langsung.


Benar-benar merindukannya, ingin memeluk Kanaya dalam genggamannya.


Makan malam itu, berjalan cukup lancar, keduanya makan perlahan di mana Elena akan sesekali membuka topik pembicaraan antara mereka agar tidak ada keheningan.


Tristan awalnya ingin mengabaikannya, namun Elena cukup pintar membuka topik, membuat Tristan malah terbawa suasana, dan terus berbicara beberapa hal dengannya.

__ADS_1


"Owh, benar sebentar lagi Ulang Tahun Ayahmu bukan?" Tanya Elena.


"Ya, kira-kira sekitar minggu depan,"


"Jadi begitu, menurutmu hadiah semacam apa yang aku harus belikan untuknya?"


"Kamu tidak perlu repot-repot untuk membelinya,"


"Tidak bisa begitu dong, Aku ingin membeli hadiah untuknya,"


"Kamu bisa membelikan apa saja sesukamu kalau begitu," kata Tristan dengan cuek.


"Kenapa kamu tidak mencoba menemaniku untuk membeli hadiah? Bukankah kamu juga perlu untuk membeli hadiah?"


Tristan jadi ingat, biasanya jika akan membeli hadiah semacam ini, dirinya ditemani oleh Kanaya, Kanaya sangat pandai membeli hadiah untuk orang-orang di sekitarnya jadi rekomendasi darinya adalah hal yang bagus mereka juga bisa sekalian berkencan sambil memberi hadiah.


Tristan sendiri tidak begitu pandai untuk memilih hadiah.


"Aku tidak begitu pandai untuk memilih hadiah," kata Tristan mencoba menolak permintaan Elena.


Sungguh, disaat-saat seperti Tristan sangat merindukan Kanaya, di mana mereka berdua akan pergi bersama dan menghabiskan waktu bersama ketika membeli beberapa hadiah.


"Itulah kenapa kita pergi bersama? Mari kita memilih hadiah sama-sama,"


"Kamu bisa memilihnya sendiri,"


Elena tidak memaksa Tristan lebih lanjut, dan pembicaraan mereka berakhir sampai di sana.


Namun pada akhirnya, Elena bisa menyuruh Tristan untuk pergi membeli hadiah bersama berkat bantuan Ibu Tristan, yang memang menyuruh mereka berdua membeli hadiah bersama. Tristan yang merasa tidak memiliki pilihan daripada kena oceh Ibunya itu, hanya bisa pasrah.


Ketika selesai dengan urusan berbelanja, Tristan menatap kearah ponselnya, disana ada pesan dari Kanaya.


'Aku merindukanmu, Sayang,'


Tristan ingat karena kesibukannya di Kantor juga karena harus mengurus Acara Pesta Ayahnya itu, Tristan menjadi sibuk, apalagi harus mengurusi Elena yang kehamilannya semakin membesar.


Jadi, dia jarang menelepon Kanaya, apaan sudah 3 hari sejak mereka menelepon?


Pantas saja, Tristan sangat merindukannya.


"Tristan? Kenapa kamu diam saja? Mari kita segera mampir ke Restoran M, Aku tiba-tiba ingin makan di sana,"


"Tidak, Aku ada urusan kamu pulang saja sendiri diantar oleh sopir,"


"Kenapa kamu seperti itu?"


"Elena, Bukankah sudah cukup aku menemanimu hari ini?"

__ADS_1


__ADS_2