
Saat ini, Kanaya berada di ruang tunggu sendirian setelah Azka baru saja pergi untuk kembali bekerja. Kanaya harus menunggu sekitar satu jam sampai hasil pemeriksaan keluar.
Di saat itu, Kanaya yang bosan mulai mengirimkan beberapa pesan pada Tristan.
'Kamu nanti pulang jam berapa? Jangan terlalu memaksakan diri, dan makan yang teratur,'
Kanaya tentu saja tiba-tiba khawatir dengan keadaan Tristan. Karena Dia tahu kekasihnya itu juga sering bekerja lembur seperti Dia. Jadi nanti bagaimana jika Tristan tiba-tiba sakit?
Siapa yang akan merawatnya nanti?
Hanya membayangkan, Elena merawat Tristan sudah membuat Kanaya kesal. Ketika dia mulai tenggelam dalam pikirannya itu, sebuah panggilan tiba-tiba membuyarkan lamunan Kanaya.
"Nomor 10, Nona Kanaya Calestia,"
Kanaya menjadi cukup terkejut ketika nomornya sudah dipanggil, ini belum satu jam?
Baru kira-kira empat puluh lima menit?
Sepertinya, antriannya tidak cukup banyak sehingga hasil pemeriksaannya bisa keluar dengan cukup cepat. Tanpa membuang waktu, Kanaya segera menuju ke ruangan dokter.
Namun ketika Kanaya memasuki ruangan dokter terlihat ada seorang suster dan juga dokter yang saat ini memiliki ekspresi cemas di wajahnya. Kanaya yang melihat dua orang itu entah kenapa memiliki firasat tidak enak.
"Nona Kanaya sebaiknya duduk dulu," kata Sang Dokter dengan sopan, sambil melihat kearah dokumen hasil pemeriksaan Kanaya.
Kanaya langsung segera duduk sesuai perintah lalu segera bertanya dengan tidak sabar,
"Jadi, Dokter Saya ingin bertanya Bagaimana hasil pemeriksaan saya?"
Dokter itu hanya tersenyum dan bukannya menjawab dia malah segera bertanya,
"Apakah Anda di sini sendiri atau di temani Keluarga?"
Kanaya yang ditanya itu jelas Merasa tidak senang.
"Memangnya itu ada hubungannya dengan Pemeriksaan ini?"
"Jika bisa, Saya ingin bertemu juga dengan Anggota Keluarga Anda."
"Aku datang ke sini sendiri. jadi dokter Aku meminta untuk tidak perlu berlama-lama atau bertele-tele, segera katakan saja kondisi kesehatanku." Kata Kanaya dengan ekpersi tegas, dia benar-benar tidak menyukai dokter yang ada di depannya itu.
Dokter itu segera menunjukkan ekspresi sedikit tidak nyaman, namun tetap mencoba untuk menjaga ekspresinya dan bertanya dengan tenang,
"Baik sebelum itu, Saya ingin memberikan beberapa pertanyaan sederhana pada Nona Kanaya,"
"Ya, tanyakan saja Dokter."
"Sudah sejak kapan anda mengalami keluhan ini? Sesuatu seperti lemah dan merasa lesu, juga kadang mimisan?"
Kanaya yang ditanya itu segera melihat kedalam ingatannya. Jika ditanya tentang hal-hal itu sebenarnya sudah lama dia kadang mengalami hal-hal itu. Namun awalnya itu tidak separah belakangan ini saja, jadi Kanaya tidak terlalu memperhatikannya, karena kesibukannya.
"Hmm, saya tidak begitu tahu juga pastinya. Mungkin sudah lebih dari dua tahun? Dari kecil, kondisi Kesehatan Saya memang tidak begitu baik, jadi saya pikir ini cukup normal,"
__ADS_1
"Apakah anda sering periksa sebelum-sebelumnya?"
"Emm, tidak. Walaupun saat kecil kesehatanku pernah buruk, namun seiring berjalannya waktu, Kesehatan ku sudah normal, jadi aku sudah jarang pergi ke rumah sakit apalagi Perisa, yah karena pengalaman Masa Kecil di Rumah Sakit, saya tidak begitu menyukai pergi ke Rumah Sakit."
Mendengar kata-kata itu, Sang Dokter terlihat menghela nafas, sudah sedikit menduga soal jawaban dari gadis yang ada di depannya itu. Lalu dia segera mulai bertanya lagi,
"Lalu, kalau boleh tahu, apakah di keluarga anda ada yang memiliki beberapa riwayat sakit yang ... Cukup parah?"
Ketika Kanaya ditanya itu, ekspresinya segera menjadi bertambah buruk, terutama ketika dia mulai mengingat beberapa kenangan buruk.
"Kenapa Dokter ingin tahu soal hal-hal itu? Apakah itu ada hubungannya dengan penyakit saya? Sebenarnya saya sakit apa?"
Kanaya tiba-tiba saja merasa tidak sabar untuk tahu, ada perasaan takut di dalam hatinya.
"Begini, sebenarnya saya juga memiliki beberapa kesulitan untuk menyampaikan hal ini,"
Kanaya yang mendengar itu, seolah jantungnya berita berlebih kencang karena merasa semakin cemas dan takut. Memikirkan jangan bilang jika dia terkena pernyakit aneh-aneh?
"Dokter, tolong sampaikan saja hasil pemeriksaan itu."
Dokter yang dipaksa itu segera memberikan hasil pemeriksaan Laboratorium pada Kanaya. Kanaya melihat laporan laboratorium tentu saja cukup binggung. Karena disana hanya ada beberapa angka pengukuran tentang kesehatannya, seperti kandungan dalam darah dan yang lainnya.
"Nona Kanaya, anda terkena Leukemia. Saya mengira, perkembangan penyakit ini berlangsung dengan cukup cepat, biasanya memang sulit di deteksi sejak dini. Terutama jika dalam Keluarga ada yang pernah mengalami penyakit ini juga."
Dokter itu berusaha untuk mengatakan semua kenyataan itu dengan cukup tenang. Namun Kanaya yang baru saja mendengar kabar itu segera menjadi syok dan kaget tangannya menjadi gemetar ketika memegang kertas pemeriksaan.
"Tidak... Dokter Pasti Bohong..."
"Nona Kanaya, Anda harus tenang dulu,"
Namun, Kanaya tiba-tiba segera berdiri dan berkata dengan panik,
"Bagaimana Aku bisa tenang setelah mendengar semua ini? Anda pasti bohong bukan?"
"Maaf, namun dari hasil pemeriksaan lengkap, anda sudah dipastikan terkena Leukemia, dan ini bukan Leukemia biasa, lebih seperti penyakit keturunan, jadi Apakah dalam keluarga anda tidak ada yang menderita penyakit ini?"
Kanaya tentu saja cukup familiar dengan nama penyakit ini. Ibu Kandungnya, menderita penyakit mematikan ini. Kanaya pernah mendengar Sebuah Cerita ini dari Kakeknya, bagaimana Ibunya dulu menikah dengan Ayahnya, dan baru tahu soal penyakitnya itu tidak lama setelah mereka menikah.
Ayahnya, tentu yang sangat mencintai Ibu Kanaya, Tentu saja tidak membiarkan hal itu terjadi begitu saja segera mencoba berbagai alternatif penyembuhan, karena saat itu belum terlalu parah. Ayahnya yang menemani Ibunya, menjalani berbagai macam pengobatan, demi kesembuhan Istrinya tercinta.
Sampai suatu hari, Ibu Kanaya Hamil, buah cinta dari mereka berdua. Karena kehamilan yang tiba-tiba itu, Ibu Kanaya terpaksa menghentikan semua pengobatannya, karena beberapa obat-obatan dan kemoterapi tidak cocok untuk perkembangan Bayi dan bisa membahayakan janin.
Ayah Kanaya, jelas menolak gagasan Ibu Kanaya untuk melanjutkan kehamilan, karena ingin Ibu Kanaya sembuh dan terus menjalani pengobatannya. Namun Ibu Kanaya begitu keras kepala dalam mempertahankan kehamilannya karena ingin memiliki seorang anak dengan Suaminya, apalagi Ibu Kanaya tahu, dengan riwayat penyakitnya dan efek samping pengobatan nanti, memiliki seorang anak akan menjadi begitu sulit.
Jadi, Ibu Kanaya benar-benar menjadi begitu keras kepala dan mencoba membujuk Suaminya yang berakibat dengan kondisinya yang terus melemah dari hari ke hari.
Sampai tiba saat medekati kelahiran Kanaya, mengira setelah melahirkan, nanti Istrinya itu akhirnya bisa melanjutkan pengobatannya. Sayangnya, itu hanya sebuah harapan.
Begitu Operasi Persalinan berlangsung, selain anak mereka lahir Prematur, Kondisi Ibu Kanaya Drop, dan segera meninggal saat itu.
Itu adalah sebuah Tragedi untuk Ayah Kanaya. Setelah hari itu, Ayah Kanaya begitu hancur bahkan tidak bisa untuk menatap Putri mereka, apalagi setelah kehilangan wanita yang begitu dia cintai. Rasa kehilangan yang begitu besar itu membuatnya buta, sehingga membenci Kanaya, dan menyalahkan atas kehilangan wanita yang paling dia cintai itu.
__ADS_1
Hal itu yang berlangsung selama bertahun-tahun bahkan sampai detik ini.
Kanaya yang mengingat semua kejadian itu dan mengingat kondisinya saat ini hatinya menjadi hancur. Hal pertama yang dia pikirkan adalah, bagaimana dengan Tristan nanti?
Kanaya menjadi tidak tahu harus bagaimana. Penyakit itu terlalu buruk, menjadi sebuah beban yang sangat besar. Membuat Kanaya menjadi takut, takut jika Tristan harus mengalami takdir yang buruk nantinya jika terus bersamanya...
Bagaimana ini?
Kanaya tiba-tiba dipenuhi dengan rasa keputusan yang mendalam. Dokter tentu saja mencoba menenangkan Kanaya, dan memberikan prosedur agar Kanaya segera dirawat. Namun Kanaya segera menolak dan pergi dari ruangan itu bilang pada dokter dia akan kembali lagi besok dia butuh waktu untuk menenangkan diri.
Sekarang, setelah keluar dari ruangan itu dia segera menuju ke arah kamar mandi. Lalu tiba-tiba menagis. Meluapkan semua emosi yang dia miliki.
Disaat itu, tiba-tiba teleponnya berbunyi. Itu adalah Telepon dari Tristan. Kanaya mencoba untuk menstabilkan emosinya dan mulai mengangkat telepon itu dengan tangan gemetar.
Ada suara hangat dari ujung telepon,
'Hallo, Sayangku, Kana. kamu tenang saja hari ini aku tidak akan bekerja lembur dan akan memastikan istirahat yang cukup, Lalu bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah baik-baik saja?'
"Tristan .... "
Kanaya tiba-tiba menjadi tidak sanggup untuk berbicara dengan kekasihnya itu.
'Huh? Kana? Ada Apa denganmu tiba-tiba? Suaramu terdengar sedikit aneh?'
Kanaya mencoba untuk menarik nafas dalam-dalam mencoba untuk menstabilkan emosinya, agar suaranya tidak lagi terdengar seperti orang yang habis menagis. Sejujurnya semua kenyataan yang baru saja dia dengar terlalu buruk.
Dia ingin berbagi kabar ini dengan seseorang hanya untuk sekedar melepaskan sedikit beban, namun hanya memikirkan bahwa hal ini hanya akan membuat seseorang di ujung telepon menjadi sedih, Kanaya menjadi tidak sanggup.
"Hmm, aku baik-baik saja hanya sedikit kurang minum itulah kenapa suaraku begini."
'Kamu ini, harus tetap lebih banyak minum air putih dan jaga kesehatan baik-baik,'
"Tentu saja sayang. Ah benar, Sebenarnya aku sedang akan ada rapat penting, nanti aku akan menghubungimu lagi,"
'Ah, tentu saja, maaf jika tiba-tiba menelepon seperti ini hanya saja tiba-tiba Aku ingin mendengar suaramu, Love you, Kana,'
Kanaya entah bagaimana tiba-tiba ingin menangis ketika mendengar suara itu.
"Ya, Love you too ... "
Kanaya buru-buru untuk menutup telepon itu dan segera menangis. Namun merasa tidak enak ketika berada di kamar mandi, Dia segera buru-buru keluar dari sana, mencoba untuk mencari tempat yang lebih tenang. Mungkin karena dia tidak memperhatikan jalan dia tidak sengaja menabrak seseorang.
"Kanaya? Kenapa kamu menagis?"
Itu adalah sebuah suara yang familiar, Azka yang kebetulan lewat lorong itu.
Mungkin karena Kanaya tidak tahan menanggung semua kesedihan sendirian, Kanaya memeluk Pria itu dengan erat.
"Kanaya? Ada apa? Hey?"
Kanaya mulai menagis, benar-benar tidak bisa menahan air matanya.
__ADS_1