Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan

Cinta Rahasia Yang Membara Bersama Selingkuhan
Episode 51: Waktu Yang Berlalu


__ADS_3

5 Bulan Kemudian


Saat ini, terlihat di sebuah ruang periksa di Dokter Kandungan, terlihat ada sepasang Suami Istri yang baru saja menyelesaikan kegiatan rutinitas periksa.


"Untuk Ibu Elena dan Pak Tristan, saya mengucapkan selamat pada kalian berdua, saat ini calon bayi kalian sudah tumbuh dengan baik, jika semuanya berjalan dengan normal, dalam waktu satu bulan bayi kalian akan bisa lahir dengan normal, keadaan Ibu Elena cukup baik, jadi tidak perlu untuk melakukan Operasi nantinya, dan bisa melahirkan secara Normal," kata Sang Dokter setelah melakukan pemeriksaan kepada Elena dan melakukan USG.


Elena yang mendengar berita itu jelas merasa sangat senang segera memeluk Tristan karena senang.


"Ini sangat baik, Aku selalu ingin bisa melahirkan dengan Normal, untungnya kondisiku baik, jadi Aku bisa melarikan anak kita secara normal, Mas Tristan,"


Tristan yang mendapatkan pelukan tiba-tiba itu, merasa sedikit tidak nyaman, namun sejujurnya dia juga senang dengan berita barusan. Ya, selama hampir delapan bulan ini dia sudah mengawasi perkembangan kehamilan Elena. Dan, calon anaknya nanti akan bisa lahir dengan normal nantinya, perkembangannya pun sangat baik ketika ada didalam kandungan.


Sungguh, hanya melihat hasil USG sebelumnya, Tristan tidak sabar untuk menantikan kelahiran bayi itu nanti.


"Eheemmm"


Dokter itu terlihat sedikit batuk, ketika melihat pasangan itu berpelukan suara itu segera membuyarkan lamunan Tristan. Tristan yang menyadari dirinya dipeluk itu segera mendorong sedikit Elena untuk menjaga jarak.


"Maaf, aku hanya sedikit terlalu bersemangat,"


Tristan memilih untuk Tidak berkomentar dan hanya mendengarkan penjelasan dokter di sana. Tidak lama setelah pemeriksaan, mereka segera keluar dari sana untuk menebus beberapa obat dan vitamin di apotek.


Ketika sedang menunggu panggilan, Elena tiba-tiba berkata pada Tristan,


"Emm, Aku sebenarnya memiliki beberapa permintaan,"


"Aku pikir kamu sudah melewati masa ngidam?"


"Itu memang benar, hanya saja..."


"Cepatlah katakan jangan basa-basi,"


"Bolehkah aku meminjam tanganmu?"


Tristan segera menatap penuh curiga,


"Kenapa?"


Namun Elena tidak menjawab, dan hanya mengambil tangan Tristan, dan meletakkannya pada Perutnya yang saat ini sudah besar, dan dari tangannya Tristan bisa merasakan sedikit gerakan dari sana.


"Hanya, tiba-tiba Aku merasakan jika calon anak kita ini begitu aktif bergerak, Apakah kamu merasakannya?"


Tristan tentu saja merasakan gerakan yang ada di tangannya itu sebuah gerakan halus yang entah kenapa membuat hatinya merasa hangat.


Jika dipikirkan sudah banyak hal yang dilalui selama ini...


Benar-benar terasa tidak nyata, bahwa dirinya akan menjadi seorang Ayah...


"Benar, ini bergerak."


"Benar bukan? Sungguh, bahkan ketika malam hari ini sering bergerak-gerak membuatku sedikit repot,"


"Itu pasti sulit untukmu,"


"Tidak sama sekali, ini tidak sulit, aku malah menikmati ini, melihat kehidupan kecil mulai dalam diriku."

__ADS_1


"Apakah semua wanita akan seperti itu?"


"Tentu saja, ini perasaan yang hanya kami Para Calon Ibu mengerti,"


Tristan segera melepaskan tangannya, dan mengambil obat karena sudah di panggil. Tepat setelahnya, tidak banyak percakapan antara keduanya hanya segera kembali ke mobil.


Tentu saja, Trisna mengawal Elena dengan hati-hati, cukup sulit jika hamil besar untuk berjalan dengan baik, Tristan mau tidak mau membantu Elena sedikit berjalan agar tidak tergelincir.


"Terima kasih banyak telah membantuku,"


"Bukan apa-apa."


"Ah, benar juga, apakah kamu sudah memikirkan nama untuk calon bayi kita?"


Tristan yang ditanya itu tiba-tiba menjadi Sedikit lupa soal itu. Ya, dia belum sempat memikirkan soal nama anaknya nanti.


"Aku akan memikirkannya nanti, namun Apakah tidak apa-apa jika aku yang memberinya nama?"


"Kamu kan Ayahnya,jadi tentu saja tidak apa-apa?"


Itu hanya sebuah kata-kata sederhana, namun tetap menyentuh hati Tristan.


Namun untuk beberapa alasan ada sedikit rasa bersalah di hatinya.


Mungkin karena Tristan tiba-tiba teringat Kanaya. Segera setelah itu, Tristan baru saja ingat akan sesuatu.


Hal-hal soal kelahiran...


Tunggu...


Bukankah hari ini Hari Ulang Tahun Kanaya?


Sial!


Kenapa dia bisa lupa hal itu?


Mungkin karena, keduanya Sudah lama tidak bertemu?


Sial, kenapa dia bisa sampai lupa?


Padahal, hari Ulang tahun Kanaya sangat penting, Kanaya sendiri sangat benci untuk hari ulang tahunnya, hari paling menyedihkan dalam hidupnya karena hari itu juga hari kematian Ibu Kanaya.


Saat dimana Kanaya paling sedih dalam hidupnya.


"Tristan? Kenapa denganmu?"


"Aku tiba-tiba ada beberapa urusan, kamu pergilah nanti naik Taksi,"


"Eh? Kenapa tiba-tiba?"


Tristan tidak mendengarkan itu dan hanya segera memesan taksi online dan pergi meninggalkan Elena begitu saja. Dia tentu sudah mulai mencari tiket penerbangan online.


Ini masih cukup pagi, semoga saja Masih ada tiket untuk setidaknya nanti siang?


Tristan mencoba untuk menelepon Kanaya, namun telepon Kanaya tidak diangkat.

__ADS_1


"Ini aneh, belakangan ini kenapa Aku merasa Kanaya seolah menyembunyikan sesuatu dariku? Dia juga jadi tidak ingin bertemu dulu, namun kenapa?"


Tristan tidak begitu mengerti alasannya, namun dia tetap tidak merubah rencananya untuk kesana dan bertemu Kanaya.


####


Saat ini, di tempat lainnya, ada di sebuah Kursi Roda, Kanaya baru saja keluar dari sebuah Ruang Rawat Inap.


"Kanaya, kamu itu harus mau ikut Kemoterapi. Lihat kamu baru saja pingsan lagi," kata Azka yang membantu Kanaya mendorong kursi rodanya.


"Tidak, Aku tidak mau ikut Kemoterapi, kamu tahu sendiri efek sampingnya? Aku... Aku tidak benar-benar ingin terlihat sangat sakit,"


"Tapi, Kanaya jika seperti ini...."


"Bukankah aku masih meminum beberapa obat? Tidakkah itu cukup?"


Merasa tidak ingin berdebat, Azka segera tidak banyak berbicara lagi, dan terus mendorong kursi roda itu ke suatu tempat.


"Eh? Sebenarnya kamu ingin membawaku ke mana?"


"Coba tebak?"


"Apa-apaan? Kamu baru saja membawa pasien keluar dengan alasan tidak jelas?"


"Bukannya ini tidak jelas,"


"Lalu kenapa?"


Azka memilih tidak menjawab dan terus mendorong kursi itu sampai tiba di sebuah taman. Disana, Kanaya di kejutkan oleh banyak anak-anak disana, dimana mereka membawa sebuah balon dan ada juga yang membawa roti ulang tahun.


"Selamat Ulang Tahun Kak Kanaya!!"


Kanaya jelas kaget, dan menatap kearah Azka dengan binggung.


"Apakah kamu lupa? Ini hari Ulang Tahun mu, Kanaya ... "


"Azka kamu harusnya tahu, jika..."


Ada ekpersi sedikit sedih di wajah Kanaya tiba-tiba, ketika teringat hari ulang tahunnya. Seolah hari di mana semua tragedi dimulai.


"Stttt... Ini adalah hari yang bahagia, jadi rayakan saja? Aku sesungguhnya bersyukur kamu dilahirkan ke Dunia ini, Kanaya..."


"Tapi bahkan aku memiliki penyakit yang sama dengan, Ibuku..."


"Jangan seperti itu, sudahlah lihat lah anak-anak di depanmu? Mereka terlihat sudah tidak sabar menunggu kamu meniup lilin dan potong kue? Bukankah kamu mau menemaniku menghibur mereka?"


"Ukhh, kamu..."


Kanaya mencoba untuk tersemyum, namun tiba-tiba dia mengecek kearah ponselnya, seolah menunggu sesuatu.


Namun tidak ada apa-apa yang di kirimkan ke ponselnya. Mungkin karena kesal dia segera mematikan ponselnya itu.


'Apakah Tristan lupa? Dia bahkan tidak menelepon pagi ini, biasanya, dia yang paling bersemangat memberiku ucapan bahkan bangun di tengah malam...'


Apakah waktu mengubah segalanya?

__ADS_1


Tiba-tiba Kanaya diliputi oleh kesedihan ketika mengingat hubungannya dengan kekasihnya itu.


Bahkan sampai detik ini dia masih tidak berani untuk cerita soal penyakitnya ini...


__ADS_2