
Saat ini di sebuah ruangan, terlihat sebuah rapat tengah dimulai.
Disana, ada Kanaya yang saat ini mulai memberikan sebuah presentasi, tentang proyek-proyek yang saat ini menjadi tanggung jawabnya, sebagai Direktur Perencanaan Perusahaan.
Namun jelas, di antara orang-orang yang ada di ruangan itu ada yang tidak senang dengan Kanaya, mulai memprotes.
"Aku dengar Perusahaan kita kehilangan project Pembangunan Pusat Perbelanjaan di Distrik H?" Kata seorang wanita muda disana, ya dia adalah Keisya, Saudara Tiri Kanaya, seseorang yang jelas tidak menyukai Kanaya dan selalu bersaing dengannya.
Kanaya yang mendapat protestan itu segera tersenyum dan tetap berusaha menjawab sebisa mungkin.
"Ya, kadangkala tidak apa-apa untuk melepas sebuah proyek lagi pula sebentar lagi akan ada Tender untuk Pembangunan Apartemen di Distrik H, project itu juga cukup menjanjikan sama seperti pembangunan Pusat Perbelanjaan disana, bagaimanapun juga, Distrik H akan menjadi pusat Kota baru nantinya yang akan ramai, dan semua orang jelas butuh tempat tinggal di sana nanti,"
"Tidakkah itu hanya alasan karena kamu kalah Tender?"
Kanaya sebenarnya merasa sangat kesal dengan pertanyaan saudara dirinya itu yang malah menyudutkan dirinya.
Yah, bukan berati dirinya tidak berusaha hanya saja, di Proyek itu malah Tristan yang menang entah bagaimana, Hah dirinya sudah mempersiapkan untuk tender itu dengan baik namun apa dikata jika Tristan yang menang.
Ada sedikit rasa kesal karena kalah, namun hanya sebatas itu, Kanaya tidak benar-benar marah, karena dari awal Perjanjian dengan Tristan untuk tidak mencampurkan urusan pekerjaan dan urusan perasaan harus bersikap profesional.
Namun tetap saja suatu penyesalan muncul apalagi, Kanaya merasa sudah mempersiapkan project itu dengan sangat baik sayangnya gagal.
Untungnya, masih ada Proyek menjanjikan lainnya, dan jelas Karena Tristan sibuk mengurus Proyek Pusat Perbelanjaan itu, dia tidak akan ikut ambil bagian dari Proyek Apartemen, saingan berkurang satu dan sekarang dirinya yakin akan mendapatkan proyek itu.
"Kalah atau menang itu tidak masalah, namanya juga saingan, ada kalanya menang ada kalanya kalah yang paling penting untuk tidak terus terpaku pada kekalahan dan terus menatap ke arah project project menjanjikan lain, misalnya Proyek pembangunan Apartemen,"
Keisya yang mendengar itu akhirnya duduk diam dan tidak bisa berkata-kata memikirkan saudaranya itu benar-benar pintar berbicara.
Rapat itu akhirnya berjalan dengan baik.
Tepat sebelum Kanaya pergi dari ruang rapat, dirinya di tabrak oleh Keisya dan membuat baju Kanaya basah oleh air yang dibawa Keisya.
Itu jelas adalah hal yang sengaja.
__ADS_1
"Upsss, maaf tanganku tergelincir Kakak,"
"Sungguh Apa maumu sih sebenarnya?" Kata Kanaya marah.
"Apa? Bukankah aku sudah minta maaf kenapa Kakak marah seperti itu padaku?"
"Kamu bahkan tadi dirapat sengaja membuat masalah padaku bukan?"
"Astaga, Kakak ini bicara apa?"
Kanaya merasa tidak tahan dengan akting dari saudara Tirinya yang bersikap sok baik, ramah dan polos itu.
Kanaya selalu membenci tiba-tiba seperti ini yang di luar terlihat sangat baik dan kelewat ramah namun aslinya busuk.
Makanya ketika Kanaya menatap Istri Tristan sebelumnya, Elena itu, Kanaya langsung ingat Saudara Tirinya itu.
Ekpersi polos dan ramah itu, Namun siapa yang tahu apa yang ada di baliknya?
"Sudahlah tidak ada gunanya dan berbicara dengan orang munafik sepertimu," kata Kanaya pergi dari sana.
Mungkin karena begitu sibuk, Kanaya sampai tidak sadar jika satu minggu sudah berlalu lagi.
Dirinya hanya sempat makan malam dengan Tristan kemarin, dan sampai lupa untuk membicarakan soal acara perjodohan itu.
Itu mungkin karena Tristan belakangan juga sibuk untuk mengurusi proyek, Tristan saat ini benar-benar tengah ada di persaingan ketat dengan saudara-saudaranya, sebagai Calon Pewaris Bisnis Keluarganya.
Dan malam ini, akan ada Acara menyebalkan yang dijanjikan Kakeknya itu.
Jadi, mari datang saja nanti kesana, dan dirinya akan menolak dengan halus.
Ketika Kanaya sibuk itu, tiba-tiba ponselnya yang biasa berbunyi.
Itu adalah Pesan dari seorang teman lama yang sudah lama tidak ditemuinya.
__ADS_1
'Kana, Besok Aku Akan Pulang,'
Membaca pesan itu, ada nada bersemangat di hati Kanaya, dia segera menelepon seseorang yang mengirimkannya pesan itu.
"Kak Azka? Benarkah kamu akan pulang besok? Aku kira Kamu Praktek Menjadi Dokter Spesialis di Luar Negeri?"
'Ya, aku sudah menyelesaikan praktek di sini lagi pula keinginanku adalah untuk kembali ke negara asalku dan menjadi Dokter yang hebat di sana, agar bisa membantu orang-orang. Aku akan segera di pindahkan ke Rumah Sakit milik Keluargaku,'
"Wow, Pak Dokter kita ini sangat hebat, Aku mengucapkan selamat atas kesuksesanmu,"
'Ya, Terimakasih. Kanaya, Aku juga mendoakan untuk kesuksesanmu aku dengar belum lama ini kamu diangkat menjadi Direktur Perencanaan di Perusahaan? Maaf aku belum sempat memberimu ucapan layak karena belakangan sibuk,'
"Tidak apa-apa sama sekali, nanti saja kalau kita bertemu kapan kamu datang ke bandara? Apakah perlu aku untuk menjemputmu? Sungguh, sudah berapa tahu sejak kita terakhir bertemu? Kamu itu terlalu fokus untuk kuliah S2 sehingga melupakan temanmu,"
'Yah, mau bagaimana lagi, kamu juga tahu bagaimana sebenarnya orang tuaku, tidak menyukai Bagaimana aku memilih menjadi Dokter dari pada untuk meneruskan bisnis Keluarga, Aku tidak suka Bagaimana aku tiba di sana lalu mereka mulai membicarakan hal buruk soal Aku dan membuatku merasa down,'
"Kamu benar, tapi sepertinya melihat kamu pulang kamu sudah mendapatkan beberapa persetujuan dari keluargamu?"
'Benar, itulah kenapa mereka membeli sebuah Rumah Sakit untuk Aku kelola di masa depan, pada akhirnya waktu bisa merubah segalanya termasuk perasaan Ayahku yang keras kepala itu, dia akhirnya luluh dan mengizinkanku,'
Kanaya yang mendengar kata-kata itu entah kenapa tiba-tiba memasuki sebuah Dilema.
Kanaya ingat, Ayah Azka yang paling menentang Putranya itu menjadi Dokter, dulu ada pertengkarannya hebat ketika Azka ingin masuk Fakultas Ke Dokteran, setelah waktu berlalu akhirnya mendapatkan persetujuan, waktu yang akan menjawab.
Namun hal ini membuat Kanaya cemas jika mengigat Hubungannya dengan Tristan.
Kanaya tidak benar-benar selalu disamping Tristan, untuk mengawasi gerak-gerik kekasihnya itu karena dirinya juga sibuk mengurusi perusahaan.
Tidak mungkin juga mengontrol, kapan Tristan pulang atau tidak, walaupun dirinya bisa, namun Kanaya merasa dirinya tidak bisa terlalu mengekang Tristan, jadi Kanaya memilih untuk percaya saja.
Namun bagaimana jika waktu benar-benar menjawab dan membuat hati Tristan luluh?
Pikiran Kanaya penuh dengan hal-hal negatif sekarang.
__ADS_1