Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 10 Hanya pelampiasan


__ADS_3

Bima mengabaikan ucapan Rin, ia masih menolak untuk menghubungi Freya Rasa kesal pada apa yang dilihatnya di TV tadi belum juga hilang.


"Rin aku mau makan, tolong ambilkan untukku"


"Iya tuan ini masih aku siapkan." Rin mengambil kotak makan yang baru saja diantar oleh helper tadi. Rin mulai menyendok nasi dan daging iris di dalam menu itu. Namun sepertinya Rin merasa kesulitan. Dan Abimanyu bisa melihatnya perjuangan Rin memotong daging dengan sendok.


"Rin aku tak mau makan dengan menggunakan alat." ucap Bima sambil mengambil sendok dari tangan Rin. "Aku ingin kau menyuapiku langsung dari tanganmu saja."


"Tapi tuan, tanganku bisa saja ada kumannya." Rin menunjukkan wajah keberatan ia merasa ragu mengabulkan keinginan Bima.


Bukankah hal itu biasa dilakukan oleh sepasang suami istri. Bukan pembantu dan majikan seperti aku dan kamu, Tuan.


"Ayo Rin lakukan saja perintahku." Bima sudah membuka mulutnya. Rin tak enak hati jika majikannya terlalu lama menunggu suapan darinya.


" Aummm, nyam, nyam." Bima mengunyah, suapan pertama dari Rin. Rin tersenyum mengamati majikannya begitu menikmati makannya kali ini. Sesaat ia lupa dengan sakit dikepalanya, karena efek obat penghilang nyeri yang baru saja diberikan dokter.


Sesekali Bima menggoda Rin dengan menggigit jarinya, ketika tangan lentik itu mendarat di mulutnya. Membuat Rin terkadang memekik kesakitan, dan tak jarang pula tertawa bersama. Jika keadaan seperti itu seakan jarak antara mereka semakin memudar.


Setelah beberapa kali suapan, Bima merasa perutnya telah penuh, tanpa diminta Rin segera mengambilkan minum dan membantu membukakan obat untuknya. Dengan telaten Rin merawat Bima. Tak perduli dengan tubuhnya sendiri kini yang terasa letih.


"Rin kamu pasti capek, istirahatlah."Bima memberi izin agar Rin tidur, Bima mencoba memahami kondisi Rin. seharian ini ia sangat merepotkan gadis itu. "Nanti jika aku membutuhkan sesuatu aku pasti bangunkan kamu, "imbuhnya lagi.


Rin mengabulkan keinginan Bima. Ia duduk di kursi kecil sambil menyandarkan kepalanya pada tepian ranjang pasien. Rin sengaja tidur di dekat Bima agar pria itu mudah saat membangunkan dirinya.


Capek yang sudah terkumpul membuat tidurnya lebih cepat. Gadis itu sudah mendengkur lirih. Bima yang mendengar dengkuran Rin menjadi susah memulai tidurnya.


Kenapa tidurmu mendengkur kayak kebo Rin, bagaimana aku bisa tidur jika kamu berisik seperti ini. Tapi walaupun kau mendengkur tetap saja kau terlihat makin cantik.


Bima membagi bantalnya dengan Rin berlahan ia mengangkat kepala Rin dan menyusupkan bantal di bawahnya.

__ADS_1


Lama sekali Bima dalam diam, ia terpaku mengamati makluk lemah di depannya, tangan jahilnya mulai merayap menelusuri wajah Rin yang putih mulus. Bima mulai membelai rambut lembut Rin pelan. melihat Rin tak bergerak dari tidurnya. Bima mulai lebih berani. Ia menyentuhkan jarinya dibibir Rin dan mengusap usapkan ibu jarinya.


Rin kenapa semakin hari aku semakin nyaman saja di dekatmu. Aku tak rela jika Rendra mendekatimu. ha...ha... Apa aku ini sudah gila aku menyukai pembantuku.


Bima mengecup pipi Rin pelan. Bima mengambil selimutnya dan menangkupkan pada tubuh Rin.


gilaaa... kenapa gadis kecil ini membuatku gila. bahkan aku tak bisa menahan menciumnya.


Rin merasakan sentuhan Bima secara samar, namun ia mengira sedang berada dalam sebuah mimpi. Rasa kantuk yang mendera, tubuh yang letih sudah tak mampu membuka kelopak matanya lagi.


Lama kelamaan dengkuran halus itu menghilang. Bima mulai merebahkan kepalanya didekat kepala Rin. Mereka berdua akhirnya tidur pulas dalam satu bantal.


***


"Tuan Bima, ini saya bawakan baju ganti yang Tuan minta dan baju milik Rin juga ada didalam. Tadi semua ini bi Naya yang menyiapkan semuanya." kedatangan Rendra membangunkan Rin dari tidurnya, sambil menyerahkan baju ganti mereka berdua, Rin segera mengambil miliknya.


"Iya terima kasih, Ren." Masih mengantuk, sambil menguap.


Rin tiba- tiba teringat ini adalah hari pertama ia akan masuk kuliah, Rin segera mandi dan ganti pakaian setelah selesai ia bergegas keluar dari kamar mandi "Rendra tolong jaga tuan, aku ke kampus dulu, rasanya tak mungkin aku harus absent disaat hari pertamaku."


"Tuan Rin berangkat dulu."


"Iya hati hati Sa.... Hati hati Rin." Bima segera melarat ucapannya.


"Rin bagaimana kalau aku antarkan kamu ke kampus?" Rendra dengan semangat melontarkan tawaran kepada Rin. Rendra juga telah selesai membantu Bima mengganti bajunya.


Rin mengangguk tak keberatan, mereka berdua menuju mobil sambil berjalan beriringan.


Tiba di kampus Rendra sengaja menahan Rin sebentar. Ada sesuatu amat penting yang sudah lama ia tahan. Rendra hari ini sudah tak mampu menyimpan perasaan itu sendiri. Rendra pemuda yang belum pernah sekalipun jatuh cinta itu, mengeluarkan keringat dingin sebelum mulai berbicara.

__ADS_1


"Rin, Aku ingin mengucapkan kalau aku sudah lama mencintai kamu, bahkan mungkin aku sudah jatuh cinta saat pertama kali bertemu denganmu?" Rendra mengutarakan dengan sepenuh hati sorot mata penuh permohonan agar cintanya diterima oleh Rin.


Rin mendengar ucapan Rendra hanya diam membisu, Bagi Rin itu bukan hal mengejutkan, karena Rendra sempat ingin mengutarakan tempo hari , Namun semua gagal karena Abimanyu datang mengganggunya pada malam itu.


"Rin apa kau mau menerima aku jadi kekasihmu?" Tanya Rendra lagi.


"Iya aku mau jadi kekasihmu Ren." Rin mengangguk setuju, namun tak tersirat keceriaan diwajahnya. Ia menerima cinta Rendra karena ingin menyangkal kalau hatinya tak ada perasaan dengan Bima. Dengan cara ini Rin bisa menghindari pria yang telah beristri itu.


"Yesss, jadi aku diterima." Rendra hatinya berbunga bunga, ia mengecup tangan Rin berkali kali. Kali ini ia memberanikan diri hendak mengecup bibir. Namun Rin menolaknya.


"Maaf Ren, kamu harus berjanji tak akan melakukan hal ini" ucap Rin sambil mencegah bibir Rendra yang hampir saja mendarat.


"Maaf Rin mungkin aku terlalu bahagia," Rendra mengurungkan niatnya. Ia memilih turun dan membukakan pintu untuk Rin.


Setelah Rin keluar dari mobil, Rendra segera kembali menuju Rumah sakit. Rendra tak ingin membiarkan majikannya sendirian tanpa seorang teman.


-


-


***


Setelah Rendra kembali ternyata disana sudah ada Rey Bagaskara dan Freya. Orang tua Abimanyu. Ia datang membesuk putranya karena Abimanyu yang memintanya datang.


Kedatangan orangtuanya, Abimanyu bukan malah mendapat simpatik dari keluarganya. ia malah semakin disudutkan oleh kesalahannya telah kekeuh ingin menikahi Maira.


"Bima, sudah berulang kali mama ingatkan kamu, agar kamu pulang kerumah saja, tak usah pedulikan wanita itu, diluar banyak yang lebih baik dan sayang padamu, tapi kamu selalu membangkang ucapan mama. Sekarang kamu rasakan saat sakit seperti ini, apa dia ada disampingmu?!" ucapan Freya terdengar marah. Wanita itu kasihan melihat anaknya semakin terlantar ketika hidup sendiri.


"Mama, Maira masih sibuk. Ia akan pulang jika sudah selesai dengan pekerjaannya." Abimanyu masih membelanya di depan orang tuanya. Ia tidak ingin Maira mendapat kebencian dari keluarganya. Walaupun sesungguhnya ia sendiri sangat kecewa.

__ADS_1


"Mama tidak ingin punya calon menantu memiliki pekerjaan jarang pulang seperti itu." Freya begitu menyayangi Abimanyu. Namun karena seorang Maira hubungan mereka menjadi renggang.


__ADS_2