Cinta Sang Majikan

Cinta Sang Majikan
Part 34.Hati yang gelisah.


__ADS_3

...Sepulang dari kuliah, Rin meletakkan tasnya di lemari, ketika ia melihat teko di kamarnya sudah kosong. kemudian ia melangkahkan kakinya ke dapur....


...Rin mulai memindahkan air dari dispenser ke teko pelan- pelan, tiba -tiba ada tangan halus menepuk pundaknya....


..."Rin!"...


..."Mbak Maira." Rin terjengkit. Karena sejak tadi ia tak melihat ada manusia disekelilingnya....


..."Kamu tau hari ini hasil test DNA akan muncul. Itu artinya... ?"...


..."iya artinya sebentar lagi ayah sang bayi akan segera diketahui, apa ada lagi, Mbak?" Rin masih nampak bingung. Ia memperhatikan gelagat Maira yang mulai berubah....


..."Ho... ho... ho.... Jadi kamu nggak tau, kasian sekali kamu Rin." tersenyum sinis dan berbicara bertele tele menghalangi Rin yang akan kembali ke kamar....


..."Aku dan mas Bima akan semakin dekat dan kamu? Kamu sebentar lagi akan..., hufff...." Meniup telapak tangannya yang kosong. "Tersingkir."...


...Ucapan tersingkir yang begitu tajam dari bibir Maira, mampu membuat mata Rin berkaca-kaca....


..."Selamat ya Mbak."...


...Rin, segera berlari masuk kekamar menaruh teko yang ia bawa tadi ke meja dan segera mengunci pintu dengan memencet tombol remote yang tergeletak di atas bantal....


...Rin menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang, untuk melepaskan kekesalannya....


...Kenapa semua harus terjadi. Apa karena aku takut jika harus berpisah dengan tuan Abimanyu. Apa benar jika anak itu darah dagingnya, Tuan Abimanyu akan melupakan aku. Kenapa aku takut sekali jika kehilangannya....


..."Tuan aku sayang sama tuan, Tuhan tolong jangan jauhkan aku dari tuan Bima." isak tangis Rin pecah disaat ia sendiri....


...Rin mulai merasakan kegelisahan, ia menghapus air matanya berulang kali namun air mata itu keluar lagi dan lagi. Hingga mata yang hitam dengan bulumata yang lentik itu tak nampak lagi keindahannya. Rin lelah ia ingin tidur....


...Baru saja Rin berhenti dari isakannya, memejamkan mata. menghilangkan kegundahan di hatinya, datang sosok suami yang sangat ia sayangi....


...Bima baru saja pulang dari mengambil hasil test DNA yang ia lakukan bersama Maira tempo hari....


...Ia sudah membacanya berulang kali sejak di Rumah Sakit. Namun tulisannya tetap saja sama, Bima mengharapkan ada keajaiban. Namun semua itu tak mungkin terjadi....


..."Maafkan aku sayangku, maafkan aku, aku tak bisa memberimu kebahagiaan yang seutuhnya."...


...Abimanyu memeluk tubuh Rin yang sudah pergi ke alam mimpi. Ia membelai rambutnya yang hitam lurus dengan penuh kasih. Ia juga merebahkan tubuhnya disisi Rin. Namun kedatangan Bima tak mengusiknya dari tidurnya....


...Andai aku mengenalmu lebih dulu, pasti aku akan menanti kehadiranmu. Engkau akan jadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku. Kebahagiaan yang aku janjikan padamu tak akan sebatas janji palsu, sayangku," Bima berkali kali mencium rambut harum Rin yang setiap saat mampu menenangkan jiwanya. "Semua sudah terlanjur." lirihnya....


...Bima bangkit kembali dari tidurnya dan menuang air minum yang baru saja diambil Rin ke dalam gelas. Matanya serasa berat. Namun susah untuk tidur....


...Bima mengamati wajah cantik Rin yang pulas, Rasanya ia ingin menyembunyikan semua ini darinya saja. Tapi apa bisa? Maira pasti berhasrat sekali ingin segera memberitahunya....


...Aaaaarg.... Abimanyu meremas kepalanya, memukulkan kepalan tangannya ke tembok. Ia memilih tembok yang kokoh untuk pelampiasannya, agar tak menimbulkan suara yang berlebihan. Namun menghasilkan luka yang cukup dalam. Luka yang mampu mewakili kegundahan hatinya....


.......


.......


...Tok... tok... tok.......

__ADS_1


..."Permisi tuan." Suara Naya samar-samar dari luar....


..." Nyonya Maira memanggil anda." Pelayan itu menunduk tanpa berani menatap majikannya....


..."Ada apa?"...


..."Tidak tau Tuan, ia membutuhkan anda sekarang, Dimohon untuk segera menemuinya."...


...Dia pasti berulah, inilah yang aku khawatirkan, ia pasti menggunakan kehamilannya untuk membuatku lemah di depannya....


...Bima melepas jaketnya, sebelum ia turun ia memeluk raga Rin kembali, yang masih tidur menelungkup . Berlahan ia membenarkan tidurnya, menyusupkan bantal di bawah kepalanya, tak lupa mengecup kening penuh kasih, setelah itu ia beranjak turun menemui mantan kekasihnya....


...Senyum Maira merekah mendapati Abimanyu memenuhi panggilannya. Wanita itu duduk bersantai di sofa sambil menyalakan televisi....


..."Ada apa memanggilku?" suara Abimanyu datar sedatar ekspresi wajahnya....


...Maira menepuk sofa disebelahnya. Menginginkan Bima duduk di tempat yang ia inginkan....


...Entah kenapa Bima membenci senyum itu, senyum yang dulu memikat hatinya, senyum yang sangat ia gilai pada waktu itu....


..."Bukannya Mas Bima berjanji akan menyayangi anak ini, kemarilah ia ingin sekali dekat dengan ayahnya."...


..."Cihh." Bima kesal. Namun ia menurut duduk di sebelahnya, memalingkan muka tanpa melihat wanita disebelahnya....


..."Mas.... Kau bisa siapkan nama yang sangat indah untuknya. Kau juga bisa menyentuhnya, rasakan gerakannya seperti ini, semua ayah akan melakukan hal seperti ini." ucapnya lembut seakan ia manusia paling layak dikasihani sedunia....


...Maira meraih tangan Abimanyu, awalnya Abimanyu ingin menepisnya. Namun Maira menggenggamnya begitu erat. Membuat ia sedikit luluh....


...Abimanyu membiarkan maira menempelkan tangannya di perut yang mulai membuncit, berlapis daster yang terdapat renda di bagian lengannya....


...Namun semua sudah berubah karena Rindang, pria itu menjadi sulit di taklukkan. seakan cintanya hanya untuk gadis itu seorang....


...Abimanyu benar merasakan gerakan itu, hatinya sedikit tersentuh. Ada gerakan yang sangat pelan. Bayi yang tak berdosa. Tak pantas ia begitu membencinya....


...Abimanyu menarik tangannya pelan, akhirnya bibir yang berbulan telah terkunci untuk Maira seorang, kini bergetar menanyakan perihal bayinya. "Apa dia sehat."...


...Maira mendengar sepatah kata tadi, Seperti mendapat hembusan angin surga, sejuknya mampu mendinginkan sekujur tubuhnya, yang setiap saat memanas melihat kemesraan Rin dan mantannya....


..."Tentu, dia sangat sehat, aku menjaganya dengan sangat baik."...


..."Baguslah." Beranjak pergi, maira kembali mencekal pergelangan tangan Abimanyu....


..."Kau tak ingin memberikan apapun untukku, karena dia pasti akan lebih senang jika kau sedikit saja menyenangkan hati ibunya."...


..."Untuk sekarang aku belum ingin memberikan apapun untuknya."...


...-...


...Rin mengamati mereka berdua dari lantai atas. Ia kembali mengusap pipi yang terakhir ini suka sekali basah tanpa diminta....


...Sakit, kenapa sesakit ini. Aku tidak dihianati oleh suamiku. Dia hanya melakukan yang harus ia lakukan mempertanggung jawabkan yang telah dilakukan hiks.......


...Rin berlari kembali ke kamar tanpa ingin suaminya tahu kalau ia telah melihat semuanya. Ia membiarkan suaminya lebih berguna untuk calon bayinya....

__ADS_1


..."Rin mengalihkan semuanya dengan membuka tasnya, mengamati gambar-gambar pola hasil kerja kerasnya. Sedikit demi sedikit ilmu dalam kelas menjahit berhasil ia serap....


...Rin tersenyum simpul memandangi karyanya. Karya yang baru tergambar pada sebuah kertas....


..."Jika aku ingin membuat baju dengan ukuran yang pas untuk tuan Abimanyu aku harus mengukur tubuhnya."...


...Tak lama Abimanyu telah kembali ia menghampiri Rin yang sedang melingkarkan metlin di lehernya....


..."Tuan aku akan mengambil ukuran tubuhmu, biarkan aku melingkarkan metlin ini pada dadamu, aku akan mulai mengambil ukurannya dari sekarang." Rin beranjak dari duduknya menghampiri Abimanyu....


...Tubuh Abimanyu yang lebih tinggi. Membuat Rin kesulitan ia sedikit menjinjitkan telapak kakinya agar ia dapat mengambil ukurannya dengan tepat....


...Abimanyu merentangkan tangannya dan Rin mulai menghitung besar lingkar dadanya....


...Setelah Rin bilang selesai, Abimanyu mendekap tubuh Rin dengan erat. Abimanyu tau kalau Rin melakukan itu semua karena ia sedang menghibur dirinya....


...Abimanyu tau karena kelopak mata Rin masih basah dan matanya masih merah. "maafkan aku, maafkan aku Baby."...


..."Apa kau sedih dengan semua ini?" menatap sayu...


..."Tidak tuan?" Rin menundukkan kepala menyembunyikan kegelisahannya agar tak terlihat oleh suaminya....


..."Baiklah ikut aku sekarang!" menarik pergelangan Rin dan mengajak ke tempat kerjanya yang berada di lantai tiga. Abimanyu menutup kembali menggunakan Remote control setelah mereka berdua telah masuk dengan sempurna. Ruangan yang nyaman sepi dan sejuk. Tidak banyak pernak pernik di sana. Karena Abimanyu tergolong pria yang simple....


...Rin sibuk mengamati ruang di sekitarnya, ini pertama kalinya ia masuk ke dalam ruang pribadi suaminya....


...Bima mengeluarkan benda dari tasnya untuk Rin, ia membelinya saat pulang dari kerja tadi, yang ia pikir ini akan sedikit menghibur dirinya....


..."Apa yang akan tuan lakukan?"...


..."Menenangkan diri." jawabnya singkat....


..."Pejamkan mata indah ini sebentar saja." Bima membimbing Rin duduk di kursi putarnya yang sangat empuk. Dan memastikan Rin sudah memejamkan matanya....


..."Ah tuan, kita seperti pemain drama saja, pake tutup mata saat kekasih ingin memberi hadiah." celetuknya, sambil tersemat senyum simpul di bibir mungilnya....


..."Kisah cinta kita memang seperti di film drama. Jadi aku ingin kamu menjadi wanita yang paling kuat layaknya wanita wanita di film itu," Bima melingkarkan perhiasan berwarna putih berkilau di leher jenjang Rin yang mulus. Kemudian mengecup tengkuknya....


...Rin meraba raba, ia sudah tau itu sebuah kalung. Tapi kalung seperti apakah yang dibelikan suaminya untuknya. Abimanyu membelikan kalung berlian cantik tanpa cacat....


..."Apa aku boleh buka mata sekarang, Tuan?" ketika Rin rasa Bima sudah selesai....


..."Boleh my Baby...." berbisik lirih....


...Rin segera menghampiri cermin kecil yang menempel di dinding. Wajahnya yang tadi sempat meredup, sejenak bisa tersenyum. Sambil mengelus-elus lembut benda pemberian suaminya....


...Sungguh kalung itu lebih cantik dari yang akan diberikan pada Maira tempo hari....


...Tapi senyum itu hanya sebentar. Ia kembali murung setelah lama berdiri di depan cermin....


...Tuan sungguh aku tak ingin benda mahal ini, andaikan aku bisa memilih, aku ingin kau hanya milikku seutuhnya. Tanpa ada yang menjadi penghalang diantara kita....


__ADS_1


...Visual Abimanyu....


#Terima kasih buat readers telah mampir ke cerita ke dua saya, jangan lupa gerakkan jempolnya dengan tekan Like. agar author tau kalau masih ada yang suka dengan cerita ini.


__ADS_2