
..."Bima, maaf mama nggak bisa lama disini, Mama harus segera pulang." Terlihat tak nyaman. Rin menyadari mama dari suaminya adalah orang yang tak mudah beradaptasi dengan kaum rendah seperti dirinya....
...Rin dan Bima memaklumi Arogansi Mamanya. Ia yakin suatu saat pasti perempuan itu akan bisa menerima kehadiran Rin dan si kecil dalam keluarganya....
...Rin mengangguk. "iya. Silahkan Mama" ujarnya lirih....
...Abimanyu menutup kembali pintunya, setelah sang mama keluar....
..."Mama masih butuh waktu. Kuharap kamu memaklumi dia. Tapi dia datang saja sepertinya itu sudah kemajuan luar biasa, istriku."...
..."Iyah, Sayang." saling memandang dengan tatapan penuh cinta....
..."Mau aku suapin?" melirik bubur yang masih utuh di atas nakas....
...Menggelengkan kepala." nggak mau."...
..."Jangan bandel, nanti aku...."...
..."Apa??" Melotot....
..."baby, kamu rupanya kamu mulai berani ya.... ?" mencubit hidung Rin dengan gemas....
...Sejenak suasana menjadi hening. Bima teringat bab yang akan ia bicarakan....
..."Kenapa baby? Kenapa kamu anggap aku suami bodoh? Kamu tak harus selalu melindungi orang yang menyakitimu."...
...Abimanyu yang tadi sempat bercanda kini merubah pandangannya kepada Rin dengan tatapan sayu. Ia mencium puncak kepalanya. Dan menggenggam erat tangannya....
..."Kamu tau, apa arti anak ini untukku? Arti hidupmu untukku? Kenapa kamu membahayakan dirimu sendiri, dan mempertaruhkan semuanya Baby." Bima menyandarkan kepala di sebelah Rin, ia terlihat sangat lelah, ada aura kesedihan yang terlintas. Namun setelah melihat Rin ia kembali tersenyum dan mengelus perutnya....
..."Jadi... Tuan tau semuanya?"...
..."Kamu pikir ?" senyum khasnya kembali tersemat dibibirnya yang sensual....
..."Aku tahu semua yang kamu lakukan termasuk saat mandi, sekalipun." mengerlingkan mata....
..."Ja-ja-di Tuan selama ini selalu mengawasiku walaupun saat bekerja." Rin mulai panik. Ia malu jika sampai suaminya tau semua yang di lakukan selama ini, setelah kepergiannya ke kantor....
..."Tuan ayo jawab, apa Tuan melihat?"...
..."Iya aku melihat kau berjalan mondar mandir tanpa memakai... Hap." Rin segera membekap mulut Bima dengan telapak tangannya, rona merah sudah memenuhi wajahnya....
..."Aku belum selesai bicara..." membuka tangan Rin yang menutup mulutnya dengan hati- hati .Bima takut selang infus yang menancap akan mengeluarkan darah....
...Rin memberi isyarat dengan menggelengkan kepala. Agar Bima tak meneruskan kata katanya. Sedangkan Rin sudah tau apa yang akan ia ucapkan....
...Kini Bima beralih, mengeluarkan handpone dan menghubungi seseorang....
__ADS_1
..."Rendra, sebelum pulang, tolong ajak Maira kerumah sakit. Aku ingin dia melihat hasil kerja kerasnya."...
..."Baik, Tuan" ucap seseorang dari seberang....
..."Tuan, jangan lakukan apapun pada Mbak Maira. Kasian Tiara. Dia masih sangat kecil." Rin mulai khawatir....
..."Kau masih membelanya lagi!" mengantongi handponenya kembali....
..."Rin cuma kasian Tiara...."...
..."Sudah waktunya... dia sudah terlalu lama bersenang dalam penderitaanmu, istriku."...
...Mbak Maira maafkan Rin, sepertinya Tuan tau semuanya....
...Rin menghembuskan nafasnya kasar, seperti apapun ia menyembunyikan kejahatan Maira, tapi suaminya sekali lagi bukan pria bodoh....
...Aku sudah membawa Mbak Maira, saat ini kami sedang menunggu di depan....
...Satu pesan singkat dari Rendra....
...Kini Rendra mengajak Maira untuk duduk di depot yang ada di dekat rumah sakit, untuk makan siang. Sambil menunggu Abimanyu datang....
...Tak lama Abimanyu sudah datang. Berjalan Menghampiri Maira yang sedang menyelesaikan makannya....
..."Tuan saya pesankan makan dulu." Rendra beranjak dari duduknya. Ia sudah mengangkat pantatnya dengan posisi setengah berdiri....
...Rendra memilih pergi ke mobil. Di dalam mobil dirinya dengan leluasa bisa bermain game online sambil rebahan di bangku....
..."Ada apa memanggilku kesini?" Tanya Maira dengan wajah yang sengaja ia buat sedatar mungkin....
..."Tidak ada, aku hanya Rindu." mengelus Rambut Maira. Sejenak Maira terbuai oleh sentuhan pria itu....
..."Apa yang kau katakan semua itu benar?" Maira bangkit dan mengecup kening Abimanyu....
...Abimanyu tersenyum mendapat kacupan dari Maira. Ia nampak menikmatinya. Setelah Maira mengecup ia memberi isyarat agar duduk. "Apa kau masih ingin kembali padaku?"...
..."Tentu, Mas. Akhirnya kamu sadar juga, siapa orang yang paling kamu cintai. Itu aku. Hanya aku Mas." penuh percaya diri....
..."Setelah semua yang kamu lakukan?"...
...Deg, "Emangnya apa yang telah aku lakukan." Maira berlagak bingung....
..."Lihat ini?" menunjukkan layar ponselnya....
...Maira sendiri juga kaget. Sejak kapan handpone Abimanyu bisa merekam semua kejadian dirumah. Sedangkan ia sudah lama mematikan Cctv yang tersambung dengan laptopnya....
..."Kau baru saja ingin membunuh bayiku dan istriku."...
__ADS_1
..."Kamu harusnya tau, Mas. Semua itu karena aku masih sayang." Menggenggam jemari Abimanyu yang di lengan tangan tersebut melingkar arloji mahal, menambah kesan Elegant bagi sang pemakainya....
..."Sayang? Seperti ini kau bilang sayang." Abimanyu berusaha menepis....
..."Iya aku hanya cinta kamu, Mas. Sampai kapanpun. Jika aku tak bisa memilikimu, orang lain juga tak akan bisa."...
...Berhenti bicara soal cinta Maira, jika kamu sendiri tak mengerti apa artinya. Kenapa kamu bicara Cinta setelah kau tidur dengan banyak pria....
..."Saat tubuh lelaki itu di atasmu, apa kamu ingat aku?" Abimanyu sengaja membungkam bibir Maira dengan kata- kata pedasnya....
..."Aku sungguh mencintaimu Maira, aku berharap kau akan berubah, dan test DNA itu. Aku sudah tau."...
..."Test itu benar, Mas. Bukankah kau sendiri yang mengambil hasilnya."...
..."Awalnya aku percaya, tapi setelah aku hitung- hitung, tidak mungkin ada orang hamil dengan usia dua belas bulan" sergahnya. Abimanyu ingin tetawa keras sekali, namun melihat wajah Maira sudah pias ia mengurungkannya....
..."Harusnya kau cari pria yang telah menghamilimu, bukan lari kepadaku seperti itu. Maira, Maira. Kau tetap saja bodoh." menggelengkan kepalanya....
...Maira bingung. Mantan suaminya ternyata benar- benar pria yang tak bisa dibuat sembarangan....
..."Aku ingin kau jujur saja, apakah kau bekerja sama dengan Mahesa? Dengan kau jujur mungkin akan meringankan hukumanmu?" ujarnya lagi....
...Mendekatkan dadanya kearah meja. Hingga meja didepannya sedikit mendesak tubuh Maira. Sorot mata tajam membunuh itu mulai tampak dari kedua bola mata yang hampir membulat....
..."Ti- ti- dak, dia tidak tau apa- apa" suara terbata -bata menunjukkan ketakutan yang luar biasa....
...Abimanyu sedikit lega setidaknya. Ia tahu, masih ada sahabat yang bisa dipercaya di dunia ini....
..."Dengan siapa kau melakukannya?"...
..."Ada perawat yang membantuku"...
...Mengangguk angukkan kepala dan jarinya mengetuk meja....
..."Maafkan aku Maira. Aku sudah memberimu kesempatan kedua, dengan menerimamu kembali dirumahku, aku mengharapkan kau berubah, tapi aku tak melihat tanda kau ingin berubah, Jadi aku harus melakukan hal ini"...
..."Dok." jarinya mengetuk meja seakan itu keputusan bulat yang telah ia ambil....
..."Masuklah sekarang!!" Abimanyu memerintahkan seseorang untuk segera masuk. Melalui panggilan selulernya....
..."Mas aku tak mau. Jangan lakukan ini padaku!" Maira mulai histeris....
..."Maafkan aku, Aku tak punya pilihan." Abimanyu berdiri mematung tanpa melihat kebawah. Maira memohon dengan bersimpuh dikakinya. ia membakar hangus rasa malunya....
..."Mas, aku berjanji akan berubah, aku tak akan mengusikmu lagi. Aku akan pergi." Air mata mulai membasahi pipi...
...Terlambat Maira, semua sudah terlambat, banyak kesempatan yang telah aku berikan, namun selalu kau sia- siakan. Kurang sabar bagaimana lagi aku padamu. Aku selalu memaafkan ketidak adilan yang kau lakukan pada Rin istriku. Tapi kali ini tidak ada lagi maaf bagimu....
__ADS_1