
..."Ingat Bima tiga bulan itu sudah batas terakhir Maira membuktikan cintanya padamu." Melotot dan berkacak pinggang....
...Abimanyu mulai lelah mendengar ocehan Freya. Kalau tak ada jarum infus yang menjadi pengganggu kebebasannya pasti ia sudah memilih pergi dan bersenang- senang diluar. Namun saat ini tak bisa melakukan Abimanyu lebih memilih bergelung di dalam selimut....
..."Bima!!! Kau selalu seperti ini jika mama sedang bicara." Freya menarik selimut Bima yang dipakai untuk menutupi sekujur tubuhnya. Ia tak terima anak semata wayangnya bersikap demikian. Bima walaupun angkuh dan keras kepala namun di depan wanita yang melahirkannya, ia tak ada kekuatan sama sekali. Sehingga Freya suka sekali memperlakukannya sebagai jagoan kecil....
..."Berisik ma! Bima mau istirahat! Kepala sudah bonyok begini ditambah lagi mama sejak tadi bicara itu dan itu lagi, Bima bosen Ma, dengernya."...
...Jika sudah bersikap demikian Freya sudah mengerti, itu artinya Abimanyu sudah tak mendengar ocehannya. Walaupun ia bicara sampai keluar busa pasti akan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri....
..."Ingat suatu saat kau pasti akan berterima kasih karena mama sudah ingatkan kamu akan hal ini!"...
..."Ayo Pa, kita pergi saja." Freya meraih tangan suaminya yang sejak tadi duduk di sofa. "Kita tinggalkan anak kepala batu ini."...
...Freya memilih pulang, setelah tau luka pada anaknya tak ada yang perlu di khawatirkan. Apalagi papa Rey berkata sepatah katapun tidak. Abimanyu terlalu dalam menoreh luka dihatinya....
..."Mama dan papa pulang sekarang, kalau tak penting jangan hubungi kami." Akhirnya Rey angkat bicara sambil berdiri dari duduknya. Freya dan Rei segera meninggalkan ruang VVIP tempat Bima dirawat. Baru menuju pintu lift hendak masuk, nampak sosok wanita yang baru saja di bicarakan keluar lift dengan berjalan tergopoh- gopoh...
..."Om, Tante, kapan kalian datang?" Maira meraih tangan Rey dan menciumnya, kemudian beralih pada Freya Ia hendak mencium namun segera ditepis oleh calon mertuanya...
..."Dasar wanita murahan, setelah puas bersenang di luaran sana, sekarang baru menampakkan batang hidungmu." Tatapan sinis dari Freya, hanya kebencian saja yang terpapar dari wajah cantiknya ....
...Tante! apa yang Tante katakan?" Maira menggeleng kepala tidak percaya dengan kata-kata calon mertua barusan....
..."Jangan kau pikir tante, tak tau, Maira. Kau Model dalam majalah Dewasa itu, kau terbiasa memakai baju Minim di depan kamera! Iya kan!...
..."Cukup, Tante" Maira menunjukkan aura tak terima....
..."Tante, jangan asal bicara kalau tak ada bukti." Rendra yang tau saudara sepupunya dihina ia tak terima, Rendra ikut membela Maira....
...Sebenarnya Rendra tadi sedang santai di luar sambil mencari angin segar, begitu tau ada pesan dari Maira ia langsung menjemputnya....
..."Heh kamu, Asisten saja berani ikut bicara!" Emosi kian memuncak. "Minta penjelasannya sekarang! Siapa pria yang selalu bersamanya di stasiun TV itu, hah?" Tegas Freya sebelum ia menutup pintu Lift....
..."Tante." Maira mulai menangis....
__ADS_1
..."Hah air mata buaya." Pintu lift tertutup Freya dan Rey hilang dari pandangan....
..."Sudahlah, Nyonya sebaiknya sekarang kita menemui, Tuan Abimanyu saja, dia pasti senang sekali Nona sudah pulang." Rendra menepuk pundak Maira dan segera menarik tangannya, menjauhi tempat ia berdiri mematung. "Jangan dipikirkan mereka."...
...Maira segera membuka handbag mencari tisu untuk membersihkan airmatanya, mereka berdua segera menemui Bima yang masih tiduran di ranjang pasien....
..."Mas, aku sangat merindukanmu," ucap Maira. Ia segera memeluk tubuh kekasihnya yang sedang terbaring. Kini Bima merubah posisinya menjadi setengah duduk menyangga punggungnya dengan bantal....
...Bima hanya diam membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Maira. Bima tak membalas pelukan itu, tangannya mengambang di udara saat akan menyentuh punggung istrinya....
..."Apa yang terjadi denganmu, Mas? Kenapa ini sampai terjadi?" Maira memeriksa seluruh tubuh kekasihnya, Ia senang ternyata tak ada luka lainnya selain di kepala....
..."Kalau kau di rumah pasti kau akan tau apa yang terjadi, karena kau wanita karier jadi bagaimana kau bisa mengerti dengan keadaan ku." ucapnya datar. Ada besar rasa kecewa di hati Abimanyu pada Maira. Ia mengharapkan ekspresi yang berlebihan saat mengetahui dirinya sakit. Namun Maira bersikap biasa saja....
...Kekhawatiran dan ekspresi berlebihan itu hanya ia dapat dari Rin, Bima masih ingat betul begitu melihat dirinya baik saja, Rin segera memeluknya erat dan menangis di pelukannya menumpahkan segala rasa syukurnya....
...Bima, meremas kotak kecil berisi kalung yang ada disakunya, ia urung memberikan benda itu saat pertama melihat calon istrinya pulang....
..."Duduklah, kamu pasti capek." Bima mendorong tubuh Maira agar menjauh darinya. "Biarkan aku istirahat."...
...Bima melihatnya dari balik selimut, ia pura pura diam tak bergerak seakan dikira sedang tidur. Tak lama handpone Maira berbunyi, wajah Maira semakin berbunga mendapat panggilan dari seseorang....
...Maira keluar menerima panggilan dari benda pipihnya. Ia menerima telepon sambil duduk berlama lama di luar. Telepon dari kekasih gelapnya yang diyakini sebagai produser ternama. Dan kabarnya memiliki kekayaan melimpah diatas Abimanyu....
...-...
...-...
...****...
...Dihari pertama kuliah Rin mendapat pelajaran cara membuat pola dasar baju. Namun Rin hari ini kurang konsentrasi. Ia selalu kepikiran soal kecerobohannya menerima Rendra, ia menyesal telah menjadikan pria itu sebagai kekasih bohongannya, hanya demi menutupi kebodohannya, karena Abimanyu selalu menanyakan soal sikapnya yang berlebihan paska kecelakaan itu....
..."Hei.... !! bengong aja," seru Merry gadis seumuran dengannya yang kebetulan duduk satu bangku dengan Rin membuat Rin melonjak kaget. Merry beberes bersiap untuk pulang....
..."Main ke kos yuk! Aku bete setiap pulang kuliah sendirian di rumah, nggak ada kerjaan," pinta gadis itu...
__ADS_1
..."Kapan- kapan pasti main, sekarang belum bisa, maaf." Rin menangkupkan kedua tangannya....
..."Ya udah nggak apa, lain kali aja." menurunkan tangan Rin. "Nggak usah bersalah gitu."...
...Mereka sama-sama keluar meninggalkan kelas. Dan berpisah di parkiran, Merry membawa motor dan Rin masih berjalan menuju jalan raya untuk mencari angkot. Tempat tinggal mereka berlawanan arah jadi tak bisa pulang bersama....
...Rendra tadi berpesan jika pulang kuliah, Rin sebaiknya kirim pesan agar ia segera menjemputnya. Namun Rin tau posisi siapa dirinya di rumah itu, ia tak ingin sebagai pembantu yang dikasih hati malah mintanya jantung, memanfaatkan fasilitas mewah untuk keperluanya sendiri....
...Sampai di Rumah sakit Rin segera menuju ruang tempat Abimanyu dirawat. Ia menaruh tasnya di loker dan duduk di kursi kecil di dekat ranjang....
..."Tuan."sapanya lirih....
...Abimanyu tersenyum melihat Rin di dekatnya. " Baru pulang Rin."...
..."Iya tuan." tersenyum senang....
..."Kamu senang sekali, Emang tadi sudah belajar apa saja?"...
..."Tuan pengen tau aja, Rin tadi baru bikin corat coret gitu, menggambar pesawat dan mobil mobilan." Rin sengaja bercanda. Namun abimanyu suka dengan celotehnya....
..."Wah, anak pintar."Abimanyu mengacak acak rambut Rin yang sudah berantakan....
..."Tuan pasti belum makan?" ketika Rin melihat kotak nasi masih terbungkus rapat diatas nakas....
..."Aku belum lapar." Abimanyu beralasan. Ia ingin tahu bagaimana cara Rin membujuknya agar dirinya mau makan....
..."Tuan, pasti sudah bohong kalau jam segini bilangnya belum lapar." Rin mengambil sendok plastik dan mulai menyuapkan pada Bima sesendok demi sesendok....
..."Tuan kan bisa makan sendiri, walau tanpa Rin."...
..."Rugi dong aku gaji kamu mahal, kalau aku harus makan sendiri." jawab Bima ketus....
...Tuan pikir kerjaan Rin sedikit apa di rumah tuan yang sebesar itu, Kalau bukan karena ayah dan ibu, Rin ingin pulang saja. Ayah... ibu.... kangen sama kalian....
...Tanpa sadar Rin telah melamun, membuat Bima menunggu suapan darinya lagi. Jauh dari keluarganya sering kali membuat Rin tersiksa. Tak jarang ia menangis ketika sedang sendiri dalam sepi....
__ADS_1
..."Rin kamu melamun?" sapa Bima lembut....