
..."Ren kita mampir ke club dulu, aku ingin menghabiskan waktuku dengan bersenang- senang hari ini." Ketika mobil Bima melintas tepat di depan sebuah club besar yang bernama DELOVE. Tulisan besar itu gemerlap oleh lampu hias yang bergantian padam dan menyala. Tepat terpasang di atas pintu masuk menambah kesan glamour tempat hiburan itu....
...Rendra menuruti keinginan Bima, mungkin saat ini ia sedang membutuhkan minuman haram itu untuk menghilangkan strees di kepalanya. Begitulah batin Rendra....
..."Tuan aku tunggu di luar, jangan minum terlalu banyak," pesan Rendra saat membukakan pintu untuknya....
..."Kamu tak mau ikut?" ucapan yang terlontar saat Bima turun....
..."Bagaimana kita pulang nanti kalau aku ikut serta, Tuan." Rendra menolaknya....
...Bima masuk kedalam, ia hari ini ingin menghabiskan beberapa gelas wiski, agar bayangan lelaki dan wanita yang ia sayangi segera terusir dari kepalanya....
...Bima masuk segera, ia mendekati bartender cantik yang sedang meracik minuman untuk para pengunjung....
...Segera Bima mengambil tempat duduk di depannya, meneguk tiga gelas minuman beralkohol yang mampu membuat matanya kliyengan. Pandangan Bima mulai aneh semua orang yang berada disana seakan wajahnya berubah menjadi wajah Maira yang sedang menertawakan dirinya....
...Melihat semua itu Bima semakin marah. Ia tak henti meneguk lagi dan lagi....
..."Wanita murahan, dasar kau pengkhianat. Selama ini kau telah menipuku dengan wajah cantik mu itu. ha...ha... ha.... Dasar payah kau bisa-bisanya menipu seorang Bima Bagaskara." Bima mulai merancau tak karuan. Sambil sesekali meneguk minuman di gelasnya dan membantingnya kelantai. namun petugas kebersihan dengan sigap membersihkan hingga ruangan kembali aman dari pecahan gelas....
...Berkali kali bima memijat pelipisnya yang mulai semakin berat dan kata- kata rancauan yang keluar dari mulutnya semakin ngelantur tak jelas....
..."Hei kau dasar kau pengkhianat, aku tak akan memaafkanmu, aku akan membunuhmu." Bima mulai mencekik seorang wanita yang memanfaatkan kesempatan mendekati dan menggodanya. Hingga ia terbatuk kesakitan di pangkal rahangnya....
..."To...long, to...long saya." wanita itu meminta agar seseorang menolongnya tangan Bima semakin keras mencekiknya dan berulang kali menyebut nama Maira si pengkhianat. Security segera membantu melepasnya....
..."Dasar pria gila." umpatnya saat tak berhasil menggoda Abimanyu, sambil melangkahkan kaki pergi mencari mangsa yang lainnya....
..."Dia sudah mabuk berat, akan lebih baik kalau sebaiknya dia cepat pulang saja," ucap security yang di dadanya terdapat nama Doni pada seorang temannya....
..."Aku tadi sempat melihat dia bersama sopirnya. Dia sedang menunggu di luar." ucap temannya....
..."Benarkah, dia tidak sendiri." Doni bertanya lagi....
..."Iya aku tadi melihat dan mendengar ia berbicara padanya." imbuhnya lagi...
__ADS_1
..."Kalau begitu kamu panggilkan dia cepat!" perintah Doni....
...Teman Doni segera memanggil Rendra, disaat Rendra sedang asyik menulis sebuah pesan untuk Rin dan menunggu sebuah balasan untuknya....
..."Mas majikan anda sedang mabuk berat di dalam, ia sedang ingin melukai seseorang."...
..."Oh, baik Pak, saya akan segera membawanya pergi." Rendra tergopoh gopoh masuk kedalam, mengikuti langkah security yang berjalan di depannya....
...Segera ia membopong tubuh kokoh majikannya, yang semakin terasa berat saat sedang mabuk. Dengan langkah terseok-seok akhirnya Rendra berhasil membawa Bima masuk ke dalam mobil....
...Ini yang kau inginkan, Tuan. Bukan menyelesaikan masalah, malah membuat masalah baru....
...Rendra mengambil nafas berat saat dirinya berhasil membenarkan posisi Bima di mobil. Segera membawanya pulang disaat hari telah tengah malam....
...Rin mendengar ada mobil berhenti di depan rumah, segera membukakan pintu. Ia kaget mendapati kondisi Bima yang merancau setengah sadar, aroma minuman keras sudah menyeruak masuk ke rongga hidung....
..."Ren apa yang telah terjadi, kenapa kau biarkan Tuan Bima seperti ini?" Rasa khawatir mulai terlihat pada raut cantik Rin, terbaca dari mimik muka dan nada bicara seakan ia menyalahkan Rendra....
..."Nanti aku jelaskan sekarang bantu aku membawanya ke kamar," ucap Rendra dengan suara beratnya....
...Rin dan Rendra sama-sama memeluk Bima mereka masih bersusah payah membawanya ke kamar. Saat ini Bima sudah terlentang di ranjang besarnya. Rin dengan telaten membalur minyak hangat ditubuhnya, membuka jacket dan hem yang dipenuhi aroma minuman keras. Tak lupa melepaskan sepatu yang masih melekat sempurna di kakinya....
...Sudah selesai menyeka tubuhnya Rin segera keluar, karena sudah ada Rendra yang datang menghampiri, "Kamu istirahat Rin sudah malam, biar aku yang menjaganya."...
...Bima menahan tangan Rin yang hendak pergi keluar kamar, Rin melihat kearah Rendra. Ruangan sejenak hening Rin dan Rendra saling bersitatap....
..."Lepaskan tangannya Rin, Dia sedang tak sadarkan diri pengaruh alkohol masih menguasainya." Rendra bergerak cepat melepas tangan mereka....
..."Aku pergi dulu," ucapnya dengan wajah tertunduk....
..."iya," jawab Rendra singkat....
...Rin berlalu pergi menuju kamarnya, Rendra menatap kepergian kekasihnya,...
...Rin, kau menerima cintaku, tapi kenapa aku tak merasakan ada getaran cinta itu dimatamu. Kau bahkan semakin menjaga jarak dengan diriku. Akhhh Rin, Aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku....
__ADS_1
...Jika kau menoleh kebelakang kau mencintaiku jika tidak maka sebaliknya....
...Ayo Rin lihat aku yang sedang memandangmu disini. Aku hitung sampai hitungan ke 5...
...Satu...
...Dua...
...Tiga...
...Empat...
...Lima...
...Rin dan bayangannya hilang saat ia belok menuruni tangga tanpa merasakan suara hati Rendra yang melambai memanggilnya sejak tadi....
...Rendra menempelkan tubuhnya pada dinding. Ia berusaha membuang prasangkanya, dan sikap konyolnya tadi. "Kenapa juga aku mempertaruhkan Rin dengan hal tak masuk akal seperti itu. Rendra meremas rambutnya kasar dan kembali duduk di sofa yang terdapat di kamar Abimanyu....
...Rin kembali kekamarnya. Ia merapalkan Do,a sebelum tidur agar mendapati mimpi yang indah. Tatapannya kosong hanya tertuju pada langit- langit kamar. Malam ini ia dirundung gelisah. Ia gelisah mengingat perlakuan sang tuan terakhir ini. Tangan Rin menyentuh bibirnya ia teringat Sang Tuan pernah menciumnya. Ciuman pertama itu masih begitu terasa nyata hingga saat ini....
...Tanpa sengaja bibir mungil itu mengukir sebuah senyuman. Mengingat semua yang telah terjadi, hingga ia kembali hanyut dan terbuai ke alam mimpi....
...-...
...-...
...*** Pagi Hari ***...
...Rin mendengar suara dencingan merdu yang berasal dari jam Dinding. Rin segera terjaga, waktu ternyata sudah menunjukkan pukul subuh. Ia segera teringat kondisi Sang Tuan tadi malam....
...Selesai mandi ia bergegas ke dapur dan merebus air, membuatkan susu serta menyiapkan vitamin suplemen untuk Bima. Selesai semua Rin segera mengantarkan ke kamar Bima sekaligus mengganti seprei, rutinitas yang harus ia kerjakan setiap hari....
...Tatapan Rin langsung tertuju dimana Sang Tuan berbaring tadi malam. namun sosok tubuh itu sudah tak ada di tempatnya. Ia melihat ke sofa juga sudah kosong. Artinya Rendra sudah sibuk di depan kembali beraktifitas tapi dimana Abimanyu?...
...Rin berlahan masuk. menaruh nampan diatas nakas. Tiba tiba ada lengan kokoh memeluknya dari belakang dan mengecup tengkuknya....
__ADS_1
..."Tuan?"...
...# Bersambung........