
Rin melangkahkan kakinya masuk. mata tetap sibuk mengamati sekeliling. Kamar yang begitu indah dan elegant. Rin sangat menyukainya.
"Gimana sayang kamu suka dengan kamar kita yang baru." Suara Abimanyu dari belakang mengagetkan Rin yang tenggelam dalam ke heranan.
"Kau akan bisa melihat bukit disana menjadi lebih indah ketika malam." menunjukkan bukit yang terletak jauh namun karena tak ada pemandangan yang menghalangi membuat tetap terlihat. Abimanyu membuka tirai sutra, dan mengikatnya. Mereka berdua mendekati jendela.
"Pangeran impian...., Tuan kau adalah pangeran yang pernah hadir di mimpiku." Rin mulai berbicara ngelantur.
"Apa, ha... ha... ha... Jadi kau suka menghayal."
"Tidak tuan."
"Berarti kau sedang lelah, sebaiknya sekarang kau harus tidur, dan minum vitaminnya."
"Khayalanmu itu akan aku kabulkan sayang. Mulai sekarang kau dan putra kita, bisa mendapatkan yang kau inginkan tanpa ada yang bisa menyakitimu lagi, ayo istirahatlah badanmu masih sangat lemah."
Abimanyu menggendong Rin ke ranjang. Kemudian menarik selimut yang terlipat rapi dikakinya hingga sebatas perut.
Tak lama Bima menyusul berbaring disebelah Rin. Ia memeluk tubuh istrinya. Tangannya sengaja ia tempelkan diperut, agar saat bayinya bergerak Bima ikut merasakan tendangan bayinya pada perut si ibu.
"Baby kita kasih nama siapa nantinya?" Tanya Bima. Tangannya tak berhenti sambil terus bergerak mengusap perut Rin yang kadang mengencang dan kadang mengendur.
"Entahlah aku belum kepikiran, Sayang"
"Bagaimana kalau aku saja yang cari namanya, aku akan carikan nama yang paling cocok untuknya?"
"Yang bagus ya?"
"Iya... iya. Gatut kaca gimana?"
"Nggak mau ah. Gatut kaca nanti dibunuh oleh raja Karna.
"Kalau begitu Karna saja."
"Karna juga nanti dibunuh oleh Arjuna."
"Ya udah namanya entar saja kita cari pelan-pelan."
"beb"
"Hem"
"Pengen."
"Kan baru pulang dari RS, Sayang kamu kok tega sih."
"Ya udah tidur aja kalo gitu. Selalu dekat seperti ini juga sudah seneng banget kok."
"He,em... Makasi, Sayang." membalikkan tubuhnya menghadap kearah suami dan mengecup keningnya.
"Udah sekarang merem, aja."
"Iya... Iya...."
Tak lama Rin sudah pulas dalam tidur siangnya. Berhari hari di rumah sakit membuat tidurnya tak nyenyak, begitu menemukan kasur yang nyaman ia segera lelap.
Sedangkan dalam ruangan lain ada seseorang yang sedang berdiskusi membahas anggota keluarga barunya. Yang tak lain adalah Mama Freya dan uncle Bram.
"Wanita itu hamil." Ucap Freya.
__ADS_1
"Harusnya kamu senang, bayi itu nantilah yang pertama kali akan memanggilmu oma." Jawab Bram sambil menghembus- hembuskan asap rokoknya ke udara.
"Andaikan saja Abimanyu menikah dengan wanita yang sederajat dengan kita."
"Ha... ha... ha...Kamu kenapa masih berfikir katro begitu, Dia cantik, dia pantas mendapatkan putramu yang kaya." sergahnya.
"Dasar laki laki, kau pasti juga melihat dari kecantikannya saja."
"Karena kamu wanita maka kau bicara begitu, asal kau tau karena kecantikan laki laki akan bertekuk lutut dihadapannya. Bukankah kau sendiri merasakan gimana kakak ipar begitu menyayangimu.
"Jangan kau samakan aku dengan wanita itu, apa jangan jangan karena dia mirip mantanmu itu...."
"Aku tidak bilang begitu, hanya saja biarkan wanita itu menganggapmu orang tua yang baik."
"Baiklah." freya mengangguk setuju.
*****
Semenjak berbicara dengan Bram, hati Freya sedikit melunak. Kali ini ia meminta pada Reni untuk membuatkan minuman yang paling segar dan tentunya mengandung nilai gizi yang sangat baik untuk ibu hamil.
"Nyonya minuman yang nyonya minta sudah siap." Reni menyerahkan nampan berisi satu gelas besar berisi minuman yang telah diminta majikannya.
"Antarkan ke kamar Abimanyu."
"Baik, Nya."
Reni segera pergi ke kamar Abimanyu, mengetuk pintu berulang kali, hingga Abimanyu terpaksa harus bangun dan membukakan pintu untuknya.
"Kenapa kau menggangguku Ren, tak tau apa aku sedang tidur siang." Abimanyu menampakkan diri sambil menggerutu membuat nyali Reni menciut.
Maaf Tuan, Reni mengantarkan minuman ini, Nyonya yang menyuruhnya."
"Buat siapa?" Abimanyu heran tak biasa ibunya begitu perhatian, sejak ia membuat kesalahan Freya seakan sengaja menjauhi dirinya.
"Terima kasih, sebaiknya kau bawa turun saja."
"Tapi tuan... Baiklah." Reni pergi ketika Abimanyu sudah menampakkan wajah tak suka. Reni menaruh minuman tadi di meja makan.
.
Aneka menu sudah tersaji di meja. Sebentar lagi makan malam akan segera berlangsung.
Abimanyu segera membangunkan istrinya. Agar segera mandi, karena makan malam dengan keluarga akan dimulai. "Baby, bangun donk."
"Hemmm." Rin menggeliat malas.
"Apa mau aku menggelitikimu." senjata ampuh untuk Rin yang mudah geli.
"Jangan sayang, nanti perutku sakit, kasian si kecil."
"Kalau gitu bangun donk."
"Baiklah... baiklah..." Rin menyingkap selimutnya dan bergerak malas menuju kamar mandi.
Abimanyu juga ikut ke kamar mandi. "Sayang mau ngapain?"
"Mandi lah mau apalagi emangnya?"
"Tapi aku lagi males mandi bersama."
__ADS_1
"Kita akan mandi sendiri sendiri."
Akhirnya Rin mandi di bathup dan Bima mandi di bawah guyuran air shower. Bima tak ingin Rin tertekan dengan keinginannya. Karena terakhir ini Rin terlihat begitu takut saat diajak berhubungan intim dengan alasan takut menyakiti bayinya.
Selesai mandi Rin dan Bima segera keluar. Bima segera mencari baju untuk istrinya. Karena ia ingin istrinya terlihat cantik saat makan malam nanti.
"Sayang bagaimana kalau hari ini kau memakai gaun ini?"
Rin melihat baju itu memang bagus tapi bagian pundaknya sedikit terbuka hingga menampakkan pundak serta leher jenjangnya.
Awalnya Rin keberatan, tapi ini suaminya yang meminta, Rin akhirnya setuju, toh ini hanya acara makan malam dengan keluarga.
Rin dan Bima keluar dari kamar, semua anggota keluarga sudah berkumpul. Rin nampak canggung dan masih malu- malu menjadi anggota baru di keluarga Bagaskara.
"Kakak ipar kau cantik sekali !" pekik Ziva yang baru pertama kali melihat istri kakak sepupunya.
"Terima kasih Ziva. Kau yang paling cantik disini."
"Iyah, aku nomor satu, kakak nomor dua ya!"
"iya." Rin tersipu dibilang cantik oleh Ziva.
Ucapan Ziva baru saja berhasil membuat Rey dan Freya tersenyum.
"Kakak ipar, saat ini kakaklah yang harus mengambilkan nasi untuk kita semua. Gimana setuju kan?" usulan dari Ziva disetujui oleh semua dengan sebuah anggukan.
Rin mulai berdiri dan mengambilkan nasi untuk semua anggota secara giliran.
"Cukup Nak, papa makannya segini saja." ujar Rey.
"Uncle apa segini cukup." tanya Rin dengan suara merdunya saat menuang nasi dan lauk.
"Oh... Eh... Iya cukup, segini saja."
Setelah semua sudah mendapatkan nasi dan lauk. Rin segera duduk kembali di sebelah suaminya.
Bram yang memulai membuka bibirnya hendak menyuapkan nasi ke mulutnya , sejenak berhenti meneruskan aktivitasnya, duduk Rin ternyata tepat di depannya membuat ia sedikit tak nyaman.
Abimanyu memang tidak salah memilih istri. Wanita itu terlihat begitu anggun. Setelah aku perhatikan kenapa ia mirip sekali dengan keiza ya? Keiza dimana kamu sekarang. Apa kau sudah bahagia dengan yang lainnya. Kau bahkan pergi dihari pertunangan kita tanpa aku tau sebabnya.
Menyadari apa yang difikirkan itu salah, Bram segera mempercepat suapannya. ia ingin cepat-cepat pergi menyudahi makan malamnya hari ini.
"Uncle, apa mau nambah lagi? Ucap Rin saat nasi dipiring Bram sudah habis. Sedangkan yang lainnya masih banyak.
"Em... Tidak, tidak. Aku sudah selesai. Maaf aku akan ke kamar dulu karena aku lebih sibuk hari ini.
"Uncle, kenapa buru- buru sih. Ini kan hari pertama kakak ipar makan bersama dengan kita. Sebaiknya setelah ini kita seru-seruan aja dulu, kita main games." pinta Ziva
"Iya, uncle, ziva benar." imbuh Bima.
"Maaf lain kali saja. Aku permisi dulu." Bram segera meninggalkan semua anngota keluarganya dan kembali kekamar.
Setelah kepergian Bram, Freya melihat gelas berisi minuman untuk Rin masih utuh. membuat freya ingin tau sebabnya kenapa Rin menolak minuman buatan nya.
"Kenapa tidak kau minum, Sayang?"
Apa ? sayang, Mama memanggilku dengan panggilan indah itu.
"Aku yang melarangnya, karena dia tak boleh konsumsi apapun sembarangan."
__ADS_1
"Bima, kamu meragukan Mama?"
"Tidak mungkin Ma, biar Rin meminumnya sekarang" Rin segera meneguk semua minuman buatan Mama Freya, jika itu dapat membuat hati mertuanya lega.