
"Akhhh.... Izza pasti sudah berangkat ke kampus. Sial sekali aku hari ini pake mimpi segala." Verro berulang kali memukul kemudi, sesekali melirik pada arloji yang melingkar apik di lengannya. Verro melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Karena waktu semakin bergulir kendaraan semakin padat.
"Verro Verro... Woi gue ikut!!" Teriak Revan dari kejauhan. Ternyata Revan sudah lama menunggunya di pertigaan, sedangkan Verro tadi tak melihatnya karena sibuk memikirkan mimpinya pagi tadi.
"Sorry Rev aku tadi sedang galfok." ujar Verro menepikan mobilnya.
"Mikirin apa sih, sampe gue diseberang jalan nungguin kamu udah kaya tiang jemuran, dibilang nggak kelihatan?" Revan terus saja ngedumel sambil menghembaskan pantatnya di jok depan."
"Buruan terlambat masa hari pertama sudah telat aja." ujar Revan lagi.
"Kemana aja sih. Sampe telat, emang tadi malam tidur jam berapa? Atau kamu sengaja ya, biar dapat skorsing."
"Enggak.... Gara gara ngimpi gue kesiangan, lama- lama mulut lo jadi kaya nenek-nenek tau, bawel."
"Biarin, mending lo punya temen bawel daripada gagu."
"Mending gagu biar nggak berisik" ujar Verro
"Sialan, lo sumpahin gue gagu." Terlihat marah namun tak serius.
"Bercanda..., dibilangin gara- gara gue mimpi."
"Mimpi basah? Ya nggak papa berarti sekarang kamu udah baliq." seloroh Revan.
"Sialan lo...gue Normal Van." menoyor kepala Revan pelan.
"Tapi mimpi itu.... serasa nyata, Rev, Kenapa sampai ke bawa mimpi ya?"
"Ya'elah mimpi aja kamu pikirin sih, itu tadi godaan syaiton biar terlambat, kayak sekarang ini. Mending buruan deh nyetirnya." ujar Revan mulai kesal.
Akhirnya mereka sama- sama diam sejenak. tapi bukan Revan namanya kalau tetap betah diam saja.
"Ceweknya di mimpi lo cantik, nggak?" tanya Revan lagi
"Lo pengen tau ?"
"Kalau boleh sih."
"Si mata empat." Verro memantapkan ucapannya dan wajahnya menoleh ke arah Revan.
Revan langsung tertawa terkekeh mendengar kata Verro barusaja. "Kenapa nggak Si Rose aja, dia perfeck banget tau daripada Izza. Tapi kayaknya selera kamu yang kalem- kalem gitu ya."
__ADS_1
"Yah itukan mimpi, mana bisa gue milih."
"Benar juga ya." Revan bersungut sungut.
Sedangkan makluk yang jadi topik pembicaraannya sudah sampai kampus lima menit yang lalu, Izza tadi sempat menunggu Verro, yang ditunggu tak juga datang akhirnya Izza memutuskan untuk semobil dengan Rose saja.
Saat masih di mobil. "Dasar cowok gak bisa dipercaya, nyebelin banget si. Bisa- bisanya gue percaya, jelas- jelas dia cuma PHP in gue doang." gerutu Izza dengan wajah kesal. Rose yang mengemudi mendengar Izza menggerutu jadi penasaran. "Apa Za? Nggak lagi kesambet kan"
"Eh kak Rose, E- enggak kok. Izza lagi ingat film iya Film semalam keren banget."
"Tauk ah, aku nggak lihat. Semalam aku lagi telefon sama Kak Damar sama Kak Gama, eh Kakak Gama keren lho, kakak bisa selesaiin kuliah S1nya cuma tiga tahun.
Andaikan Kak Damar mau kuliah di kedokteran pasti akan jadi satu apartement sama kita, kita akan bertiga" Rose berbicara panjang lebar, sekilas ia menoleh ke Izza.
"Za.... Za, kamu denger nggak sih."
"Apa? ngomong apa Kak Rose barusan?"
Rose melotot "Gule kambing, kamu mau makan siang pake sayur gule kambing?"
"Nggak ah, aku mau pake sate ayam aja."
Rose menggelengkan kepala, menyerah." Izza kamu harus di terapi kayaknya. Cowok itu sepertinya sudah menguasai pikiranmu."
Bukan gangguan jiwa, tapi gangguan cinta, tau nggak sih, kamu itu udah nggak nyambung diajak bicara."
Izza dan Rose sudah sampai di parkiran kampus, mereka berdua turun dari mobil barunya, model baru, keluaran terbaru tahun ini. Banyak mata pria memandang kearahnya dengan tatapan terpesona, Cewek dengan porsi pas tak ada yang lebih, sedap dipandang itu kini menjadi pusat perhatian pria. Sedangkan Izza berjalan dibelakang kakaknya layaknya si upik.
"Suit... Suit..." Beberapa cowok dari kampus sebelah, si pembuat onar mulai menggodanya namun Rose tetap berlalu tanpa menghiraukan.
" Kak Rose, banyak cowok." ujar Izza lirih sambil mensejajari kakaknya agar para pria pengganggu di area parkir tak bisa leluasa memandanginya.
"Udah tenang aja, Dasar putri malu"
"Cewek buru-buru amat sih?" sapa salah seorang cowok yang memiliki rambut paling lebat dan hitam.
"Temenin kita- kita sarapan, cantik... Nanti aku traktir." Salah satu dari mereka menimpali. Kemudian meteka tertawa bersama.
Rose yang tetap cuek membuat satu diantara mereka, tepatnya pria agak gondrong dengan memakai hem motif kotak- kotak,mengikuti langkahnya dan menggandeng dari belakang. " Cantik, jangan cuekin kita donk, boleh tau namanya?"
"Apa apaan sih kalian? Pegang- pegang, emang lo pikir gue cewek apa'an?" Rose mulai berbicara dengan mata melotot dadanya berdegup kencang . Karena pria itu tanpa permisi mengalungkan lengannya di pundak Rose.
__ADS_1
"Dia marah Men.... ha...ha...ha." selorohnya pada temannya yang lain.
"Murid baru Men, masih jaim." ujar si gondrong.
"Hey, sini dulu dong? Kenalan sama kita-kita." mencoba meraih pergelangan tangan Rose.
Rose menepis tangan pria itu dengan kuat. "Apa kalian nggak ada kerjaan? Atau memang kerjaan kalian ini gangguin anak-anak baru seperti kita ini?"
"Cantik, jutek amat sih, kalau lo nggak cantik gue malas juga kali...?" menyentuh dagu Rose, pria yang lainnya memandang Rose dan Izza dengan seksama dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Dengar ya selama ini gak ada satupun cewek yang berani nolak jika kita ajak jalan, jadi kamu jangan coba- coba melakukannya." ancamnya. Namun Rose sekali lagi menepis tangan lancang itu.
"Emang kamu siapa? Berani mengatur kita, Kita mau jalan atau nggak... Sama siapapun itu urusan kita. Kamu saudara bukan, pacar juga bukan, amit amit deh punya pacar berandalan macam kalian.
"Hah berandalan kamu bilang?"Dibilang berandalan cowok itu nampak tak terima. " Awas lo ya... nggak ada yang berani melawan kita di kampus ini, jika kalian mau hidupmu tenang mending lakukan saja apa yang kita minta."
Cowok sangar akhirnya bubar pergi menuju kampus tempatnya menimba ilmu, karena yang jelas dia bukan anak dari universitas kedokteran.
Izza dan Rose lega melihat mereka pergi, setelah kunyuk-kunyuk pengganggu itu enyah dari pandangannya.
Izza dan Rose masuki kelas barunya, Izza dan Rose duduk bersebelahan, dan dibelakangnya ternyata sudah ada Verro dan Revan.
"Haiii..." Sapa Revan dengan senyum manisnya. ketika Rose menoleh kebelakang sekilas.
"He..he.. Hai... "
Siapa lagi ni cowok, sok manis banget.
Tak lama si princes Tiara juga datang. "Hai Verro. Kita ternyata satu kelas. Aduh duduk dimana ya aku?" Tiara mengedarkan pandangannya di bangku sekeliling Verro, namun semuanya sudah terisi.
"Noh di depan sono...." seloroh Revan jengkel, menunjuk ke arah bangku dosen.
Tiara mencebikkan bibirnya, tangannya memukul lengan Revan. "Kamu aja yang disana, aku duduk sama Verro."
"Enak aja." Revan tak mau kalah.
"Heii... Rose, Dan mata empat, pindah sana!" perintahnya ketus.
"Tiara, Jangan! kamu duduk di sini biar aku di depan." Verro pindah di depan Rose Dan Izza. Sekarang Tiara duduk di sebelah Revan. Bukan ini yang diinginkan Tiara. Tapi Verro tak mengerti maksud hatinya. Tiara hanya berdecih kesal. Yang didapat bukan semakin dekat dengan Verro. kini malah semakin jauh.
*****
__ADS_1
Maaf makin gaje aja...
Cerita ini sebenarnya udah tamat. Saat Rin ulang tahun. Namun saya masih ingin menceritakan kisah Verro. Sambil nunggu novel ke tiga launcing.