
Mau, tak mau, Verro harus balik ke apartemen yang ia datangi satu jam lalu untuk mengantar Izza. Akhirnya mereka berdua sudah berada satu mobil.
"Zaa...."
"Verr..."
berbicara bersamaan, membuat suasana menjadi canggung.
"Ehm ... kamu yang ngomong duluan aja deh...?" pinta Verro.
"Oke aku dulu ya."
"Emm Verr, aku mau bilang makasi aja, tadi udah bantu aku, lepas dari cowok berandalan tadi. Kamu hebat juga ya... Dia tadi takut lo sama kamu. Padahal kalau aku perhatikan kamu nggak ada garang- garangnya."
Verro hanya tertawa, mendengar pengakuan Izza." Wajahku cowok idaman ya? Aku ganteng kan..." memutar kemudi pelan-pelan menikmati perjalanan sesantai mungkin.
"Isss... Verro kamu pede banget sih." Ujar Izza sambil memukul lengan Verro dengan gulungan buku.
"Entar rusak lo bukunya, baru beli kan?"
"Habis kamu nggak ada seriusnya sih."
"Iya, Sama - sama. Siapapun yang menemui kejadian seperti tadi, pasti akan melakukan hal yang sama Za."
Saling memandang dan melempar senyum.
Duh, Dia ganteng sekali, jantungku kenapa tiba-tiba berdetak keras seperti ini, apa dia mendengarnya ya? Verro kamu ini manusia apa bukan sih.
"Za, kamu mikirin apa?"
Eh.... Enggak Verr, aku cuma mikirin makan, eh... Kan habis makan baso tadi ya, em ice cream. Iya ice cream. Kita berhenti kalau ada penjual ice cream ya?"
"Oke Nona, pak sopir siap melaksanakan perintah."
Ya ampun Za, bener bener bikin malu, kamu nggak pernah lihat cowok kali ya, Verro itu memang ganteng, tapi nggak mungkin kan cowok seganteng dia belum punya pacar.
"Za, kamu kok bengong lagi sih, katanya mau beli ice cream. Tu buruan beli, aku tunggu disini aja ya... Aku nggak tau selera kamu."
"Iya, aku turun dulu, kamu suka rasa apa?"
" Em Vanilla boleh"
Izza segera membuka sabuk pengaman kemudian dengan gegas turun dari mobil.
Verro mengamati Izza dari belakang, entah kenapa justru sifat sederhana Izza membuat verro memberi nilai plus pada gadis satu ini.
Terlihat Izza memanggilnya dari dekat bok ice cream, sambil menunjukkan beberapa pilihan . "Yang mana Verr..!!"
"Verro menunjuk yang ada ditangan kanan Izza."
Akhirnya Izza memutuskan mengambil pilihan yang sama dengan Verro. Setelah menunjukkan pada kasir dan membayarnya Izza segera kembali.
__ADS_1
"Kita langsung pulang atau jalan- jalan dulu?"
"Em... Pulang aja deh, ini sudah malam. Aku buka'in bungkusnya ya?"
"Hemm boleh. Tapi aku nggak bisa makan sambil nyetir gini, kamu suapin ya..."
"Manja banget sih..."
"Ya udah, aku nggak usah makan aja kalo gitu."
"Yeeee gitu aja .... ngambek si."
"Verro menoleh ke arah Izza dan menggigit bagian ice krim paling ujung."
"Tadi katanya mau ngomong? Ngomong apa?" Tanya Izza teringat Verro hendak mengucapkan sesuatu.
"Ngomong apa ya? Aku sendiri lupa sekarang." sambil terus menerima suapan Ice cream.
"Belum tua aja udah pikun," gerutu Izza.
"He... He... He... Emang aku lupa, terus aku harus ngapain, Oke deh aku bilang. Kamu cantik Za...," ujar Verro terlihat bercanda namun ia berkata demikian itu memang serius dari hati.
Mendengar gombalan Verro, Izza menumpahkan tawanya. "Kamu pinter ngegombal ya Verr, uda berapa banyak cewek yang kamu bilang cantik."
"Ciiiit."
Verro mendadak menghentikan mobilnya. Bersama dengan berhentinya tawa Izza. "Kenapa berhenti Verr."
"Za, aku tadi bilang apa sama kamu?" tanya Verro dengan tatapan yang tiba- tiba sendu.
"Lalu kamu tadi bilang apa?"
" Aku bilang berapa cewek yang udah kamu bilang can...."
Cup.... Verro mengecup bibir Izza secepat kilat. Izza yang mendapat perlakuan dari Verro mendadak menjadi kaku. Bibirnya terasa dingin oleh sentuhan bibir asing yang habis makan ice cream tadi.
Diam, jika dia diam saja, Verro pasti mengira dirinya suka diperlakukan seperti tadi, Marah, iya Izza ingin marah pada Verro.
"Verro, kamu jahat tau nggak...!! Kamu baru saja mengambil ciuman pertamaku. Aku benci kamu Verro," protes Izza.
"Za, maafkan aku, aku nggak sengaja..."
Izza semakin nyalang "Apa...!!! Kamu lakukan hal sebesar itu kamu bilang nggak sengaja? Kamu sengaja tadi..." Izza merajuk dengan mata berkaca kaca.
"Za, itu tadi juga ciuman pertamaku. Asal kamu tau aku ingin kamu yang mendapatkan pertama kali, aku nyaman dekat dengan kamu seperti ini. Aku bahagia Za...."
"Verro, kamu selain suka ngegombal, kamu juga nyebelin tau... Kukira kamu cowok baik- baik. Aku percaya sama kamu. Tapi kamu sama aja dengan berandal itu...."
"Sorry Za, Aku nggak bermaksud buat kamu marah." Izza membuka paksa pintu dan membuang ice cream yang tinggal sedikit."
Verro turut membuka pintu mobil yang sebelah kanan dan mengejar Izza yang lagi kecewa dengan sikapnya.
__ADS_1
"Maaf Za... Jika aku lancang aku cuma ingin kamu tau sejak pertama kali bertemu, aku sudah ada feel sama kamu." Verro mulai berbicara gila tanpa di filter dulu.
No bokis, Apa benar yang dikatakan Verro baru saja. Pasti itu ide gilanya. Siapa dia dan bagaimana kehidupannya aku saja belum tau. Kenapa mudah sekali bilang seperti itu. Sadar Za, kamu jangan terjebak rayu pria, kamu sendiri di kota ini, kamu harus bisa jaga diri. Jangan sampai kamu malah terjebak dengannya.
"Zaa, ayo masuk aku antar sampai Apartement kamu. Sampai rumah kamu juga oke, sekalian aku lamar kamu." kelakar Verro.
Namun entah kenapa Izza menjadi sosok munafik kali ini, sebenarnya ia suka dengan rayuan Verro. Mungkin ini yang disebut jual mahal juga penting.
"Verro apa'an sih, gaje tahu nggak." Izza menunggu taxsi lewat sejak tadi. Namun sepertinya Verro kembali beruntung karena arak- arakan mendung tiba-tiba menghampiri membawa titik-titik hujan yang semakin lama semakin deras.
Verro segera menutup otomatis atap mobilnya, setelah itu ia menyalakan mesin, menghampiri Izza yang terpaku 10 meter dari tempatnya.
"Ayo masuk, jalan ini sepi, kamu tak ada pilihan." ujar Verro setengah berteriak.
Melihat Izza tak bereaksi membuat Verro berfikir keras.
"Jika baju kamu basah jangan salahkan aku jika aku bisa melihat lekuk indahmu itu..!!" ucap Verro sengaja memancing Izza agar buru buru masuk mobil sebelum basah.
Izza kaget dengan ucapan Verro baru saja. Namun ada benarnya juga. Kalau baju yang ia kenakan basah, otomatis semuanya akan tercetak dengan jelas. Izza segera masuk kembali kedalam mobil. Namun dengan wajah mberengut kesal. Verro tersenyum lebar karena usahanya berhasil.
"Akhirnya...." Menghela nafas lega. Verro menjalankan mobilnya pelan- pelan menyusuri jalan yang lengang karena hujan semakin lebat. Bahkan kendaraan didepannya tak nampak dengan jarak lebih dari 7 meter.
Kondisi menjadi sedikit tenang "Besok aku jemput Za."
"Buat apa?"
"Berangkat bareng lah?"
"Nggak usah. Besok mobil aku udah datang."
"Biar dipakai sama Rose, aja."
"Maksa banget sih?"
" Aku calon suami kamu, jadi kamu harus belajar nurut sama aku."
"Hallo.... Berhenti ngehalu Verr..." menggerakkan tangannya didepan wajah Verro berulang kali.
"Emang kenapa? .... Ngehalu itu bukannya bebas..."
"Terserah deh... Suka- suka kamu."
Mobil Verro kembali memasuki lokasi apartement. Izza dengan gegas membuka pintu. Seolah ia sudah jengah bersanding di mobil dengan makluk yang dianggap semakin dekat semakin menjengkelkan satu ini."
"Tunggu Za."
"Apa lagi...."
"Kiss dulu....."
"Gila....!" Izza berlalu pergi tanpa pamit.
__ADS_1
"ha... ha... ha...."
Verro tertawa, Seakan Izza adalah makhluk lucu yang sengaja diciptakan untuk membuat dirinya selalu tersenyum.