
"Daddy sama bunda nggak ikut belenang?" Verro melambaikan tangannya memanggil Bima dan Rin yang sedang beradu pandang.
"Verro berenang dulu aja ya? Nanti bunda akan nyusul sama Daddy."
"Oc, Bunda. Diitunggu ya sama Vello."
"Ok Sayang, emuachhh, hati-hati ya." Abimanyu memberikan cium jauh untuk Verro, si kecil mulai sibuk kembali dengan air dan bola yang mengapung di sekelilingnya.
Rin dan Bima sedang mengulang nostalgia lima tahun yang lalu, mereka ingin sekali mengulang hari indah itu, dimana hanya ada cinta diantaranya, sekarang sudah ada Verro yang selalu disisinya, jadi aktifitas keintiman mereka sedikit berkurang.
"Beb, aku sebenarnya pengen berenang sama kamu meluk kamu, cium kamu, tapi nggak bisa." Tatapan mesra Bima kembali terlihat.
"Nunggu putra kita bobok dulu." jawab Rin pelan.
"Iya, aku jadinya megendap seperti pencuri," ujar Bima. Mereka memutuskan tak menggunakan jasa pengasuh, karena Rin ingin mengasuh putranya sendiri dengan tangannya.
"Beb, mandiin dulu Verronya entar kedinginan." Pinta Bima sambil merapikan bajunya di depan cermin. Tak lupa Arloji merk terkenal juga ia lingkarkan di lengan. Melihat gelagat Bima sepertinya sebentar lagi akan ada urusan.
"Kamu mau ngapain, kok aku yang mandi'in. Rapi amat pula?" tanya Rin curiga.
"Hari ini aku ada meeting. Aku hampir saja lupa."
"Aku ada urusan sebentar di kantor, kantornya deket tuh kelihatan dari sini." Bima menunjuk tempat yang akan ia datangi dari jendela kaca.
"Jangan lama Yang, habis ini kita akan makan siang bersama"
" Nggak lama, kok." Merapikan rambutnya dan menyemprotkan farfum hampir memutar seluruh tubuhnya.
"Tunggu Daddy balik yah?" mendekati Ferro dan mengecup keningnya yang basah oleh air kolam.
"Bunda belum dicium." menunjuk pada Rin yang berdiri didekatnya.
"Bunda nggak usah, bunda ngambekkan."
"Daddy nggak boleh pelgi kalau belum cium bunda."
"Oke Ini bunda di cium dulu ya sama Daddy."
"Emuuuuach." Bima sengaja menancapkan bibirnya di kening Rin lama- lama.
Verro tertawa riang sambil tepuk tangan. "Holle Bunda sama Daddy sekalang pacalan."
"Idiihhh... anak kecil tau apa soal pacar" Rin tertawa. Gemas melihat tingkah lucu putranya. Melihat si kecil tertawa lepas rasa syukur tak henti-henti untukNya yang telah memberi kesempatan kedua untuk Verro.
"Beb, berangkat dulu, Jagain Verro ya." Memeluk Rin penuh cinta.
__ADS_1
"Emangnya siapa yang jaga setiap hari?" Rin mencebikkan bibirnya malas.
"He... he.... Kamu sih" Mengacak acak rambut Rin dengan gemas.
Tiba-tiba Soni muncul dari balik pintu. "Tuan, Nona Denia sudah menunggu di ruang meeting."
"Baiklah, aku akan segera kesana." Berdiri dari duduknya.
"Denia....?" Rin memastikan kalau sedang tak salah dengar. "O... Jadi kliennya wanita, pantas dandan rapi amat." terlihat kesal.
"Iya Denia klienku, Dulu orang tuanya yang memegang perusahaan dan bekerja sama denganku. Karena sudah tua jadi giliran putrinya yang menggantikan posisinya. Kenapa?"
"Nggak kenapa kenapa!" Raut wajah mulai memerah.
"Kamu seperti takut gitu?"
"Kenapa harus takut." berjalan menjauhi Bima kemudian duduk disofa.
"Cemburu?" Bima bertanya lagi.
"Kenapa harus cemburu, cemburu itu hanya untuk mereka yang tak mampu." Rin makin cemberut.
"Lalu, Ini apa namanya, sayang?" mencium bibir Rin yang mengerucut. " Sudahlah aku terlambat."
"Iya selamat bertemu Denia, Sayang." Rin meneriaki suaminya yang berjalan keluar memunggunginya. Abimanyu hanya mengangkat satu tangannya, tanda ia sudah mendengar.
Rin melihat Bima dari balik kaca. Pria itu tampak tak menoleh sedikitpun. Sepertinya Bima memang sudah terlambat bertemu kliennya.
Rin segera memandikan Verro dan menggantinya dengan baju atasan kaos santai dan celana jeans selutut.
Selesai mandi kini Rin menyalakan TV yang menempel pada dinding. Kebetulan yang tampil dilayar adalah film spiderman jadi Verro betah melihatnya.
Tak terasa sambil rebahan dan menonton TV tiba- tiba sudah pukul 2 sore. Perut Rin mulai melilit, dan Verro berulang kali memegangi perutnya mengeluh lapar..
"Bunda lapel."
"Tapi sayang kita tunggu Daddy sebentar lagi ya?"
"Lapel Bunda, Vello mau susul Daddy, daddy lama?" Rengek verro.
"Tapi Verro, Daddy kerja."
"Pokoknya pengen susul Daddy." Verro merengek sudah tak bisa di maklumi lagi.
Tak ada pilihan lagi, Rin tak ingin putra semata wayangnya menangis. Akhirnya Rin memutuskan untuk menyusul Bima, hanya untuk memastikan apakah Meetingnya dengan Denia sudah kelar atau belum.
__ADS_1
Verro berjalan menuju kantor dengan berlari-lari kecil, disusul Rin dibelakangnya.
"Hey anak kecil mau ngapain kesini?" tanya security yang melihat Verro mendekat.
"Vello pengen ketemu Daddy, Daddy ada?"
"Ha...ha.... Emang daddynya kerja disini?"
"Iya Daddy vello kerja disini, minggil vello mau ketemu daddy."
"Eh...eh anak kecil mau kemana, jangan ganggu, Bos kita lagi sibuk, nggak boleh diganggu, anak siapa sih ini?..." gerutu pak security.
"Nyonya tolong jaga putranya jangan di biarin saja, Bos kami lagi ketemu klien penting, dia tadi berpesan agar tak mengijinkan siapapun mengganggu waktu paling berharganya." ujar security. Pria seusia Abimanyu ini memang belum pernah ketemu Rin sebelumnya. Oleh karena itu dia tidak mengenali Rin dan Verro. Karena tugasnya memang hanya menjaga kantor utama.
"Emang sepenting apa sih pak wanita yang sedang bersama Bos kalian itu?"
"Saya kurang tau Non, yang jelas kalau saya lihat, dia ini seperti pasangan kekasih, selain romantis dia juga serasi sekali." ucap security dengan bangga.
"Apa?!" Rin mulai kesal, cemburu dan marah bercampur aduk menguasai hati dan pikirannya. Otak Rin tak bisa berfikir dengan jernih.
Rin tak menghiraukan ucapan security, ia makin kesal, karena suaminya betah di dalam berduaan dengan wanita yang disebutnya anak cliennya, apalagi wanita itu Rin belum mengenalnya sama sekali.
Biarkan saya masuk Pak, atau saya akan berteriak disini.
"Tapi Nona ini pertemuan penting, jadi nggak boleh ada yang ganggu."
"Emang sepenting apa sih wanita itu?" Rin yang kesal nyelonong masuk mendorong tubuh security hingga mundur beberapa langkah.
"Nona tunggu!!"
"Jangan halangi saya pak."
Rin segera menuju ruangan yang dijadikan meeting oleh Bima. Tanpa tunggu waktu lagi Rin segera membukanya karena ternyata pintunya hanya ditutup saja tanpa dikunci.
Rin terperanjat melihat adegan mesra wanita dan laki laki di dalam ruangan tertutup itu.
"Kalian memalukan. Apa apaan ini? Katanya meeting dengan klien penting. Tapi kenapa malah pegang pegangan tangan seperti ini?" Rin berusaha tegar. Rin menunggu Abimanyu mengucapkan kata kata pembelaan dari mulutnya.
"Emmmm... E.... Beb, pergilah nanti akan aku jelaskan."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Tuan Bima aku sudah melihat semuanya tadi." Rin berusaha setenang mungkin
"Beb, semuanya tak seperti yang kamu lihat" Bima mendekati Rin dan Verro. Lalu memeluk keduanya. Namun Rin menepis lengan Bima.
"Bunda jangan sedih, kalau bunda sedih Vello jadi ingin menangis," rengek Verro dalam gendongan Rin.
__ADS_1
"Ayo kita keluar Verro. Kita pergi makan berdua saja. Kita tinggalkan dua orang tak tau malu ini."